
Praktis, kedatangan Tina membuat kaget semua kurcaci yang menunggunya. Mata mereka terbelalak lebar karena Tina dan salah satu kawan kurcaci menaiki seekor naga api.
Naga itu menurunkan tubuhnya yang membawa serta bayi dalam mulut dan dua penumpang di punggungnya. Tina dan Kurcaci topi jingga turun perlahan dari tubuh naga.
"Ba-bagaimana bisa?" tanya Kurcaci topi ungu heran karena Tina kembali ke tubuh manusianya.
"Semua karena hati mulia Tina sendiri. Hem, aku jadi berpikir jika manusia tak seburuk yang kukira selama ini," jawab Kurcaci topi jingga menilai.
"Ya, aku juga. Namun, tak semua manusia seperti Tina," sahut Naga merah seraya menaiki tebing terlihat siap untuk terbang kembali ke habitatnya.
"Terima kasih," ucap Tina menatap naga merah saksama.
"Aku yang berterima kasih, Tina. Semoga hatimu selalu mulia, meski tak dapat dipungkiri, manusia pasti akan tetap memiliki noda," jawabnya seraya menoleh dengan naga kecil kembali masuk ke mulut Ibunya karena ikut mengantarkan dua penumpang sampai memijak tanah.
Naga merah itu mengepakkan sayapnya kuat dan membuat Tina serta para kurcaci menghindar agar tak terhempas karena terpaan angin dahsyat dari sayap sang naga.
WHUS!
"Bye!" seru Tina seraya melambaikan tangan.
Bayi naga yang berada di mulut sang induk melihat Tina dari celah mulut ibunya. Naga kecil itu berputar-putar di dalam mulut terlihat gembira akan sesuatu.
Tina tersenyum dengan perasaan lega di hatinya. Ia melihat taring serigala yang dijadikan kalung dan menyimpannya kembali dalam baju.
"Tugas kita selesai berkat Tina. Jadi, harus kita rayakan," ucap Kurcaci topi kuning dan semua kurcaci mengangguk setuju.
Tina dan para kurcaci bergegas kembali ke kumpulan walaupun melewati jam makan siang yang dijanjikan karena kejadian menimpa Tina.
Gadis itu menginginkan mandi karena merasa tubuhnya menjadi kaku. Lendir dari naga mulai mengering dan membuat rambutnya seperti sapu ijuk.
Di tempat Timo dan timnya berada.
Terlihat, Timo mencemaskan keadaan Tina. Ia mondar-mandir di tepian sungai seraya bertolak pinggang dan berdecak. Sikapnya, membuat semua orang ikut khawatir.
"Oscar tak kembali, begitupula Tina dan para kurcaci. Jika sampai gelap dan mereka tak datang, kita harus—"
"Itu mereka!" seru Pasha saat melihat para kurcaci datang dari jalan tempat mereka pergi.
"Mana Tina?" tanya Timo cemas karena sosok adiknya tak terlihat diantara mereka.
Para kurcaci terkekeh. Kurcaci topi Biru memanggil Azumi dan Jubaedah untuk ikut dengannya. Dua gadis itu segera beranjak dari tempat mereka duduk dan mendatangi kurcaci tersebut.
"Apakah hal buruk terjadi padanya?" tanya Timo pucat.
"Mana ikan bakar kami? Aku bisa mencium aroma lezatnya," tanya Kurcaci topi Ungu, tapi hal itu malah membuat Timo marah.
"Di mana adikku?!" teriaknya membentak.
"Hei!" panggil Jubaedah dengan senyum terkembang seraya melambaikan kedua tangan di kejauhan.
Semua anak kini menoleh ke arahnya. Seketika, mata remaja lelaki itu melebar saat melihat gadis cantik bermain air di sungai dengan Azumi menciprati tubuhnya tampak gembira.
__ADS_1
"Tina? Tina!" panggil Timo gembira ketika melihat adiknya telah kembali ke wujud manusia.
Semua anak terkejut dan segera berlari menuju ke tepian sungai dengan tergesa. Para kurcaci terkekeh dan duduk berkumpul untuk menikmati ikan bakar jatah mereka yang disisakan oleh anak-anak.
"Timo!" panggil Tina gembira dengan tubuh basah kuyup.
"Hahaha! Hahaha! Kau berubah! Kau jadi manusia lagi!" teriaknya senang dan langsung berlari menceburkan kakinya ke sungai. Namun tiba-tiba ....
"Woah!" seru Tina terkejut saat melihat Timo kini harus merangkak mendekatinya karena kakinya berubah menjadi ekor.
Aliran sungai dangkal, membuat Timo tak bisa berenang. Mata Tina melebar melihat wujud Merman Timo yang kini tampak jelas di matanya.
"Oh, syukurlah kau baik-baik saja. Kau membuatku cemas. Aku bingung jika kita kembali ke Bumi dan kau tak ada, apa yang harus kukatakan pada ayah dan ibu?" ucapnya sedih seraya memeluk adiknya erat.
Tina terharu karena Timo mencemaskan keadaannya. Tina membalas pelukan Timo dengan senyum terkembang.
Namun, Tina langsung melepaskan pelukannya saat melihat para anak lelaki menghampirinya terlihat kagum.
"Kau Tina? Woah, kau menjadi manusia lagi. Selamat ya," ucap Ryan seraya mengajak berjabat tangan.
Tina mengangguk dan menyambut jabat tangan itu. Satu per satu, anak-anak mendatanginya. Kini, mereka berkenalan secara formal dalam wujud manusia Tina.
Hingga akhirnya, giliran Nicolas yang malah tampak gugup saat tinggal dia dan Kenta yang belum memperkenalkan diri. Tina menatap Nicolas saksama yang menggaruk kepala terlihat ragu.
"Aku minta maaf jika membuatmu takut saat itu, Nicolas. Aku terpaksa melakukannya. Kau mau memaafkanku, 'kan?" tanya Tina merasa bersalah.
Nicolas mengangguk dengan pandangan ke bawah melihat kakinya yang terendam air sungai.
"Nico, yang serius dong. Masa gitu, si Tina-nya dicuekin?" sahut Jubaedah sebal.
Praktis, Nico makin salah tingkah. Ia kesal dan mengejar Harun yang berlari dengan tawa menggelegar karena berhasil memergoki sahabatnya yang marah karena rahasianya terbongkar.
Semua anak ikut tertawa saat Nicolas melempari Harun dengan kerikil yang ia dapat dari tepian sungai.
Tina perlahan bangun dan berjalan mendekati Kenta. Remaja yang ikut tertawa karena melihat keakraban dari dua kawannya itu, tak menyadari saat Tina sudah berdiri di sampingnya.
"Oh!" kejutnya saat ia merasakan tangannya dipegang dan mendapati Tina tersenyum manis padanya.
"Apa kau memaafkanku?" tanyanya menggenggam tangan kiri Kenta erat.
Remaja itu memandangi tangannya di mana ia bisa merasakan kehangatan dan ketulusan Tina padanya. Kenta menaikkan pandangan dan tersenyum.
"Hem. Aku menyadari satu hal. Kau yang menyembuhkan mataku 'kan? Terima kasih," ucapnya menatap Tina lekat dan gadis cantik itu membalasnya dengan senyuman.
"Gitu dong! Jadi, udah gak ada dendam dan benci diantara kita ya?" sahut Azumi mendekati keduanya. Tina dan Kenta mengangguk bersamaan dengan senyum terkembang.
Tibq-tiba, Pasha dan Vadim mendekat. Mereka menunjukkan pada Tina jika keduanya memiliki baju yang bisa ia pakai sebagai ganti meski bukan baju perempuan.
Hanya sebuah kaos dan celana selutut yang diperkirakan muat jika dipakainya.
"Ya, aku mau. Terima kasih, Vadim, Pasha," ucapnya dengan senyum menawan dan dua pemuda bertubuh gemuk itu mengangguk terlihat malu.
Tina menyelesaikan mandinya dibantu oleh Timo, Jubaedah dan Azumi seraya menceritakan kisahnya.
__ADS_1
Sedang para lelaki, duduk di tepi sungai melihat keindahan dari tiga bidadari cantik sedang bercengkerama terlihat akrab.
"Kau kenapa, Gib?" tanya Rex heran karena hanya Gibson yang tampak sedih.
"Padahal aku suka sekali dengan wujud serigala putih, Tina. Eh, sekarang jadi manusia serigala bulu hitam. Bulu Tina halus banget, berasa pakai jaket tebal saat peluk dia. Hempf," keluhnya sedih.
Semua orang terkekeh karena Gibson lebih menyukai Tina berwujud serigala putih ketimbang manusia serigala berbulu hitam.
"Bukannya ada jenis anjiing mirip Tina? Siberian Husky. Ayahku memiliki rekanan yang mengembangbiakkan jenis anjiing itu. Kau bisa memintanya kepada orang tuamu saat pulang ke Bumi nanti," sahut Mandarin.
"Ah, kau benar. Kenapa tak terpikirkan? Aku bisa memintanya sebagai hadiah ulang tahunku. Wah, ini keren!" seru Gibson kembali ceria.
Semua anak remaja yang duduk di pinggir sungai ikut gembira. Hingga tiba-tiba, mereka mendengar suara dengkuran cukup kencang.
Anak-anak itu menoleh dan mendapati para kurcaci tertidur lelap usai menikmati makan siang.
Selesai mandi, Tina diajak oleh Jubaedah dan Azumi untuk berganti pakaian. Timo segera kembali ke kawanannya untuk menyiapkan ikan bakar karena milik Tina sudah dihabiskan oleh para kurcaci.
"Aku saja yang membakarnya," ucap Kenta sembari menerima ikan dalam dua genggaman tangan Timo.
Kakak dari Tina tersenyum dan terlihat senang karena Kenta sudah tak menaruh kebencian pada adiknya.
Namun, Oscar belum juga kembali. Timo mulai cemas, tapi anak-anak lain seperti masa bodoh dengan kondisi anak lelaki itu.
"Aku sangat yakin, jika Oscar kembali ke kelompoknya. Sudah kubilang, dia itu mencurigakan. Seharusnya, kita waspada. Oscar sudah tahu lokasi kita berada. Kita tak bisa di tempat ini lebih lama lagi. Aku khawatir, mereka akan menyerang kita seperti tempo hari," tegas Harun dan kali ini, anak-anak setuju dengannya.
"Oke, kita bersiap. Kita pergi begitu Tina menyelesaikan makan siang dan memberikan waktu bagi para kurcaci untuk istirahat sejenak. Aku rasa, kita akan bermalam di wilayah lain," sahut Gibson dan anak-anak itu mengangguk.
Tiba-tiba, Kurcaci topi ungu bangun. Semua anak terkejut karena merasa jika manusia kerdil itu mendengar pembicaraan mereka.
"Maaf. Namun sepertinya, kami tak bisa ikut dalam petualangan kalian. Kami harus kembali," ucap Kurcaci tersebut dan ternyata, para kurcaci lainnya mengangguk sepemikiran.
Gibson dan semua anak terlihat sedih karena harus berpisah dengan para kurcaci yang mulai akrab dengan mereka karena sebuah kesalahpahaman pada awalnya.
"Terima kasih atas bantuan kalian hingga kami sampai sejauh ini, Tuan Kurcaci," ucap Vadim seraya mendekat.
"Aku sudah mendengar dari Hihi jika kalian memiliki rumah pohon. Jangan khawatir, kami akan menjaganya. Kami rasa, rumah jamur kami tak aman lagi karena para Goblin sudah mengetahuinya. Sedang rumah kalian, aku rasa lebih menjanjikan. Apa kami diizinkan tinggal?" tanya Kurcaci topi kuning.
Vadim dan Pasha mengangguk setuju tak keberatan. Anak-anak memeluk para kurcaci itu bergantian terlihat sedih karena harus berpisah.
Tina, Jubaedah dan Azumi yang telah kembali untuk mengantarkan adik Timo berganti pakaian, ikut bersedih.
"Kita akan berjumpa lagi. Aku yakin itu. Hati-hati," ucap Tina saat ia melepaskan pelukan dari Kurcaci topi jingga.
"Ya. Semoga misi kalian sukses. Senang bertemu dengan kalian semua. Kalian, anak-anak baik. Semoga kalian selalu dilindungi. Sampai jumpa," jawab Kurcaci topi jingga seraya melambaikan tangan lalu berjalan menjauh dari kumpulan.
Anak-anak balas melambai. Tina tampak sedih sampai meneteskan air mata. Timo segera memeluk adiknya erat yang merasa kehilangan karena memiliki kenangan tersendiri dengan para kurcaci itu.
Ternyata, para kurcaci juga merasa demikian. Mereka yang sudah berjalan memunggungi, ternyata meneteskan air mata dalam tiap langkah kembali ke habitat asalnya.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE