
Di tempat Nicolas dan Harun berada.
Pemuda berambut pirang kecoklatan itu akhirnya membuka mata dan langsung terkejut, saat ia merasa terhimpit dan tubuhnya berada di ketinggian. Nicolas panik seketika.
"Woahhh!" serunya lantang dengan mata melotot ketika mendapati seekor Yeti membawanya.
Nicolas memberontak dan berusaha untuk lepas dari kantung yang membelenggu tubuhnya. Namun, Yeti tersebut menyadari jika penumpangnya sudah bangun dari pingsan.
"Hoarrghhh!" seru hewan itu lantang dan membuat Nicolas berhenti memberontak. Matanya terpejam rapat dan terlihat ketakutan. Ia kembali meringkuk tak berani melawan.
Perlahan, Nicolas mulai menyadari jika tempat yang sedang dilaluinya cukup indah, meski ia terlihat bingung.
Di kejauhan, terlihat seperti ada sebuah bayangan planet dan bulan yang cukup besar di balik gunung.
Ia juga mulai tak merasakan dingin yang menggigil seperti saat ia kabur dari gua. Udara di tempat itu mulai menghangat. Namun, ia masih bingung dengan cuaca di tempat tersebut.
"Ini malam, sore, atau subuh? Kenapa jadi warna keunguan gini ya?" tanya Nicolas berguman di balik kepompongnya.
Yeti tersebut terus berjalan dengan langkah besar hingga akhirnya mereka memasuki hutan di dekat gunung.
Yeti itu meletakkan tubuh Nicolas yang terbungkus kain perlahan. Nicolas terlihat gugup dan menjaga jarak dengan Yeti itu hingga tiba-tiba, tubuh Yeti tersebut menyusut.
"Harun!" pekik Nicolas melotot.
"Lama banget pingsannya. Sengaja ya? Pasti keenakan karena digendong. Kebangetan! Pegel kaki gua!" pekik Harun kesal.
Nicolas terkekeh melihat Harun marah-marah.
"Harusnya kamu bersyukur karena Nico sadar. Bangun-bangun diomelin," jawabnya ikut menggerutu.
Namun tiba-tiba, Harun menyipitkan mata saat melihat mata Nicolas seperti menangkap sebuah pergerakan di belakangnya.
Pemuda berambut pirang kecokelatan itu bergerak ke samping seperti mendekati sesuatu.
Spontan, Harun menoleh dan matanya ikut menangkap seorang anak lelaki berwajah Asia yang terlihat begitu letih hingga wajahnya pucat.
"Who are you?" tanya Nicolas mendekat dengan waspada.
"My name is Kenta ...."
BRUKK!
"Oh!" seru Nicolas dan Harun bersamaan karena remaja pria itu pingsan.
Segera, Nicolas dan Harun berlari mendatangi pemuda yang terlihat kelelahan itu. Nicolas melihat sekitar di mana ia tak melihat anak lainnya dan hanya remaja itu seorang.
"Harun! Ada gua di sana! Berubah jadi Yeti lagi, bawa dia ke sana," pinta Nicolas dan Harun mengangguk siap.
Pemuda yang mengaku bernama Kenta digendong oleh Harun menerobos hutan menuju ke sebuah gua. Nicolas yang berjalan lebih dulu, mengecek gua itu sebelum dimasuki oleh mereka.
"Aman, aman, gak ada penghuninya," ucap Nicolas dan Harun segera meletakkan pemuda itu di dalam.
__ADS_1
Harun kembali berubah menjadi manusia karena gua tersebut tak cukup dimasuki olehnya jika masih dalam sosok Yeti.
"Nico mau cari kayu bakar buat bikin api unggun. Kamu jaga sini ya," pinta Nicolas dan Harun mengangguk.
Harun melihat kawannya yang dengan sigap mengumpulkan kayu di dekat gua. Harun membongkar isi tas dan mencari perlengkapan yang dirasa bisa digunakan selama mereka beristirahat untuk bermalam di gua tersebut.
Nicolas kembali ke dalam gua seraya membawa beberapa kayu yang sebenarnya masih basah karena terkena salju.
Keduanya seperti berusaha untuk mengeringkannya, tapi ternyata membutuhkan waktu lama. Harun menyelimuti tubuh Kenta dengan kain yang digunakan oleh mereka berdua sebelumnya.
Hingga akhirnya, dua pemuda itu berhasil membuat api unggun setelah satu jam bersusah payah untuk bisa menyalakannya menggunakan korek api gas yang mereka dapatkan di dalam tas.
"Kita di mana? Kau tahu?" tanya Nicolas menatap kawannya saksama yang duduk di seberangnya menghadap api unggun.
"Aku masih belum begitu yakin. Namun, pastinya bukan berada di bumi. Beberapa hal memang terasa mirip, tapi terdapat beberapa hal juga yang membedakan. Oia, aku lihat ada danau jika kita terus menuruni wilayah ini. Malam ini, kita tidur di gua ini. Lalu besok pagi, kita turun. Bagaimana?"
"Oke, aku setuju. Ini makanan terakhir kita, Bro. Semoga ... kita berumur panjang. Jujur, Nico gak mau mati di tempat gak jelas ini," ucapnya seraya memberikan sebuah cokelat padanya dari temuan sebelumnya di goa Yeti.
Harun menerima potongan cokelat itu lalu memakannya. Mereka melihat keluar gua di mana suasana begitu sepi seperti tak ada kehidupan kecuali mereka bertiga.
Malam itu, mereka bermalam di gua dan berharap, esok hari akan lebih baik.
Keesokan harinya. Harun dan Nicolas mulai menggerakkan tubuh yang terasa pegal. Kedua hidung mereka bergerak saat mencium aroma lezat seperti makanan yang baru dimasak.
"Oh! Kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja?" tanya Nicolas langsung duduk dan menatap pemuda berwajah Asia itu saksama yang sedang memasak sesuatu dengan cara membakarnya.
"Ya. Terima kasih sudah menolongku," jawabnya dengan senyuman.
Pemuda bernama Kenta mengangguk. Ia terlihat telaten saat menggulung daging seperti sebuah burung dalam tusukan kayu .
"Kamu dapat hewan itu dari mana?" tanya Nicolas heran.
"Aku terbangun karena mendengar suara kicauan burung. Aku keluar dari gua dan mendapati beberapa burung berbentuk aneh di dahan pohon sekitar gua. Aku membuat ketapel dan berhasil menjatuhkan salah satu burung. Dan ... inilah sarapan kita," jawab Kenta lalu mengeluarkan sebuah pisau lipat dan menggunakannya untuk memotong daging tersebut tipis.
Nicolas membuka mulutnya lebar karena Kenta memberikan kode dengan hal serupa. Namun ternyata, Harun seperti latah dan ikut membuka mulut seperti siap untuk menerima suapan.
"Antri, woy!" seru Nicolas saat melihat kawannya mengikuti gerakan mereka.
"Laper buset," jawab Harun menggerutu.
Kenta lalu menyuapi Harun dan Nicolas bergantian menggunakan ujung pisau itu. Keduanya terlihat menyukai daging hewan tersebut. Kenta ikut menyuapi mulutnya yang kelaparan.
Tiga remaja itu tertawa karena mereka bergiliran menerima potongan daging lezat tersebut.
"Biar kutebak. Kau mengikuti kami? Sejak kapan?" tanya Harun setelah daging tersebut ludes karena kerakusan tiga remaja yang kelaparan tersebut.
"Sejak kau bertarung dengan Yeti. Kalian berdua hebat. Maaf jika aku menguntit. Itu karena ... saat aku terlempar dari portal yang menyedotku, aku sudah berada di tempat ini. Tak ada seorang pun bersamaku. Bahkan ... aku terpisah dari adikku," jawabnya sedih.
"Kau berasal dari mana?" tanya Nicolas seraya merapikan barang-barang karena mereka akan kembali menjelajah.
"Aku dari Jepang. Kebetulan, aku mempelajari bahasa Indonesia dan Inggris. Jadi ... aku paham dengan pembicaraan kalian," jawabnya terlihat sungkan dan selalu tersenyum.
"Kulihat, kau sangat terampil. Kau bahkan bisa berburu. Pasti orang tuamu sangat hebat," puji Harun.
__ADS_1
"Ya, begitulah. Ayahku mengajarkanku dengan baik sebelum ia meninggal. Aku kini hidup dengan ibu-ibuku," jawabnya terlihat sedih.
"Oh, maaf," ucap Harun merasa tak enak hati.
"Tak apa. Semua orang pasti akan meninggal. Setidaknya, aku memiliki kenangan indah bersama ayahku sebelum ia tiada. Ia sangat hebat dalam bermain pedang. Ia juga ahli berburu, menangkap hewan, dan mengolahnya. Ia sering mengajakku berpetualang di hutan dekat tempat tinggal kami," jawabnya kembali tersenyum.
"Maaf, kau tadi bilang ibu-ibuku. Memang ibumu ada berapa?" tanya Nicolas bingung.
Kenta tersenyum. "Ayahku memiliki 3 isteri. Mereka berasal dari China, tapi pada akhirnya menetap di Jepang. Aku 7 bersaudara jika digabung dengan seluruh anak-anak dari ayahku."
Praktis, mulut Nicolas dan Harun menganga lebar karena terkejut. Sedang Kenta, malah terkekeh karena ekspresi lucu dua kawan barunya.
"Tiga? Ayahmu beristeri 3? Woah! Keren," sahut Nicolas kagum. "Jika ayahku beristeri 3, aku sangat yakin, jika dua lainnya akan dibunuh oleh ibuku," sambung Nicolas teringat akan kekejaman ibunya Zurna.
"Kau, dari mana?" tanya Kenta menunjuk Harun.
"Oh. Aku dari Jeju, Korea Selatan. Namun, aku dulu pernah tinggal juga di Jepang saat masih kecil. Sayangnya, aku tak ingat kenanganku di tempat itu. Hingga akhirnya, keluargaku pindah karena kebetulan, ayahku dan ayah dari Nico berkawan akrab," jawab Harun menjelaskan.
"Kalian berdua berasal dari Korea Selatan?" tanya Kenta terlihat bingung. Nicolas dan Harun mengangguk. "Namun, maaf bukan bermaksud rasis, tapi ... wajah kalian bukan seperti orang Korea," sambung Kenta.
Nicolas dan Harun tersenyum lebar terlihat tak tersinggung dengan pemaparan kawan baru mereka.
"Ayahku bernama Seif. Ia sebenarnya berasal dari Timur Tengah, berkulit hitam. Lalu ibuku bernama Durriyah, dia campuran. Namun sepertinya, gen ayahku lebih mendominasi jadi ya ... seperti inilah wujudku," jawab Harun menjelaskan. Kenta mengangguk paham. "Lalu ... kenapa orangtuaku bisa tinggal di Jeju? Itu karena mereka bekerja pada seorang pengusaha kaya yang memiliki banyak hunian. Kata kedua orangtuaku, mereka diberikan tempat tinggal di Jeju. Meski sampai sekarang, aku belum pernah berjumpa dengan bos dari kedua orangtuaku itu," sambung Harun menjelaskan.
"Hem. Begitupula dengan kedua orangtuaku. Mereka mendapatkan rumah di Seoul yang dulunya milik bos yang sama dengan kedua orang tua Harun. Jujur, di zaman sulit seperti sekarang, masih ada orang dermawan yang sudi memberikan asetnya. Sebuah rumah mewah, lengkap dengan isinya, bahkan ada kendaraan juga. Wow," kagum Nicolas.
"Orang tua ku juga demikian."
"Oh ya?" sahut Nicolas dan Harun ikut terkejut.
"Malah ... bukannya sombong. Rumahku sebuah Kastil. Kalian tahu, seperti Istana. Sangat, sangat besar. Hanya saja, tempat itu tak menjadi hak milik orang tuaku. Tempat itu hanya diizinkan untuk di tempati oleh kami seumur hidup. Katanya, sebagai balas jasa atas kesetiaan keluargaku," ucapnya memaparkan. Harun dan Nicolas terlihat antusias mendengarkan.
"Ketiga isteri ayahku menjaga Kastil itu selama belasan tahun. Katanya, pemilik Kastil itu masih bersaudari dengan ketiga isteri ayahku. Sekarang, Kastil itu dimiliki oleh anak dari bos yang mempekerjakan ayahku dulu," sambungnya menjelaskan.
"Siapa pemiliknya sekarang?" tanya Harun penasaran.
"Hem ... kalau tidak salah namanya ... Kim Arjuna. Ah, ya. Kastil itu milik Kim Arjuna. Namun, tuan Kim jarang berkunjung. Rumahnya juga sangat banyak, tapi aku pernah bertemu dengannya. Dia sangat keren, tubuhnya dipenuhi tato dan ia terlihat begitu berkarisma. Seperti ... sangat berkuasa," tegasnya dengan mata berbinar.
"Woah. Menurutku, orang yang memiliki tato itu memang sangat keren," sahut Nicolas mengangguk diikuti oleh Harun.
Ketiga pemuda itu terlihat mengobrol akrab di tengah cuaca dingin bersalju pagi itu dalam gua. Hingga akhirnya, ketiganya siap untuk melanjutkan petualangan.
"Oke! Kita tak boleh mati di tempat aneh ini. Kita harus temukan jalan pulang, dan ... seperti janji kita. Jika kita bertiga selamat keluar dari tempat ini, kita harus saling berkunjung ya. Kita 'kan tiga sahabat," ucap Nicolas semangat.
Harun dan Kenta mengangguk mantap. Ketiganya berjalan berdampingan menuruni bukit menuju ke danau seperti yang dilihat oleh Harun saat masih berada di puncak bukit.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya😍 Udah mulai ketauan kan anak-anak siapa aja. Makanya, sabar dong.
__ADS_1