MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
SARANG NAGA*


__ADS_3

Di tempat Tina dan para kurcaci berada.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi.


"Tina, kami percaya padamu karena kau sudah membuktikan dengan wujud Lady Wolf," ucap Kurcaci topi kuning memulai pembicaraan saat mereka melangkah melewati jalan berliku menuju sarang naga.


"Terima kasih," jawab Tina sopan.


"Sarang naga, adalah pusat dari Planet Mitologi. Ada berbagai macam cuaca di kawasan itu. Oleh karena itu, para naga berkumpul di sana. Jadi, bersiaplah untuk cuaca ekstrim yang akan kaurasakan ketika tiba di sana nanti," ucap Kurcaci topi merah menjelaskan.


"Oh, maksudmu ... seperti adanya musim salju dan panas dalam waktu bersamaan di satu wilayah?" tanya Tina tampak terkejut.


"Ya, begitulah. Sarang naga sangat luas. Wilayah mereka dipetakan berdasarkan jenis. Selain itu, telur-telur yang kita temukan berada di berbagai musim dan kultur beragam. Seharusnya, misi ini tak bisa diselesaikan dalam beberapa jam sebelum makan siang," jawab Kurcaci topi biru.


Praktis, Tina terkejut usai mendengar penjelasan itu. Langkahnya terhenti dan menatap kelima kurcaci yang menggendong tas ransel berisi telur.


"Lalu kenapa kalian bisa mengatakan jika misi ini hanya membutuhkan waktu singkat? Mereka pasti cemas jika kita tak segera kembali," tanya Tina merasa dibohongi.


"Kau sepertinya lupa dengan kemampuan yang dimiliki," ucap Kurcaci topi ungu menunjuk kedua sayapnya.


Tina baru menyadari jika kedua sayap besarnya bisa membawanya terbang. Para kurcaci tersenyum dan mengangguk seperti meminta Tina untuk mencoba mengepakkan sayapnya.


"Apakah aku sungguh bisa terbang di angkasa seperti burung?" tanya Tina cemas.


"Jika tak dicoba, mana tahu. Itu anugerah untukmu, jangan sia-siakan," jawab Kurcaci topi jingga.


Tina tampak gugup saat ia merentangkan sayapnya. Para kurcaci menyemangatinya. Wilayah yang sedang dilalui oleh mereka cukup luas untuk belajar terbang.


Tina menarik napas dalam dan perlahan, ia mengepakkan sayap besarnya. Para kurcaci sampai memegangi topi mereka ketika Tina berusaha untuk membuat tubuhnya melayang.


"Berlarilah, lalu kembangkan sayapmu. Terus kepakkan hingga tubuhmu melayang. Ayo, Tina!" seru Kurcaci topi ungu memberikan dukungan.


Tina mengangguk paham. Ia lalu berlari kencang ke hamparan padang rumput luas di hadapannya. Tina merentangkan sayapnya hingga terbentang lebar.


Planet yang tak memiliki angin, membuat Tina berusaha keras agar tubuhnya bisa terbang ke angkasa.


"Ergh, agh!"


WUZZ!


"Wohooo!" seru para kurcaci saat Tina berhasil terbang ke angkasa meski masih belum stabil dalam bermanuver.


Tina mengalami kesulitan mengendalikan laju terbangnya. Namun, ia terus berusaha dengan mengepakkan sayapnya agar tubuhnya tak jatuh. Perlahan, ia mulai bisa terbang semakin tinggi ke angkasa menuju ke langit yang selalu berubah warna.


"Yeah!" serunya gembira saat tubuhnya menembus awan.


Tina terlihat takjub dan takut karena ia berada di tempat yang tinggi, tapi ia bisa melihat semua dengan jelas. Tina terus mengepakkan sayapnya dengan sorot mata tajam memindai sekitar.


"Oh! Itu Timo dan lainnya!" seru Tina saat mendapati kelompok kakaknya berkumpul untuk menikmati ikan bakar.


Tina dengan sigap menukik menuju ke tempat kawan-kawannya berkumpul. Vadim yang sibuk meniup daging ikan dalam tusukan kayu hasil bakarannya merasakan kehadiran makhluk menuju ke arahnya.

__ADS_1


Seketika, WHUZ!


"Woah! Apa itu tadi?! Oh! Ikanku! Ikanku diambil!" teriak Vadim kaget setengah mati saat tiba-tiba saja tubuhnya disambar hingga ia jatuh terlentang di atas tanah.


Ikan dalam genggamannya raib diambil oleh makhluk tak dikenal.


"Oh! Itu Tina! Dia bisa terbang. Hei!" seru Jubaedah menunjuk sosok serigala Tina yang terbang berputar kembali ke arah mereka dengan ikan bakar di mulutnya.


"Huhu, ikanku," tangis Vadim tanpa air mata.


Pasha terkekeh saat melihat Vadim menjilati tangannya yang baru ingin mencubit daging ikan bakar itu.


Tina kembali terbang menuju ke para kurcaci yang menunggunya. Timo terlihat bangga dan senang karena Tina akhirnya bisa terbang. Semua anak tampak kagum dengan kemampuan tersebut.


Kenta yang ditunjukkan oleh Timo wajah asli Tina di ponselnya, tersenyum tipis ketika menyadari jika gadis itu sangatlah manis.


"Hahaha! Kau pasti mengerjai kawan-kawanmu ya? Dasar anak-anak," tanya Kurcaci topi jingga saat Tina kembali pada mereka. Serigala putih itu mengangguk.


"Makanlah ikan itu. Kau butuh energi ekstra untuk mengantarkan dari kami satu per satu agar tiba lebih cepat ke sarang naga mengembalikan telur-telur ini. Sebentar lagi, mereka akan menetes, Tina," ucap Kurcaci topi biru dan Tina mengangguk paham.


Tina segera memakan ikan bakar itu hingga habis. Tingkah laku Tina perlahan berubah seperti serigala. Ia menjilati bulu dan telapak kakinya yang kotor. Para kurcaci saling memandang terlihat iba.


"Oke. Kau antarkan aku dulu. Kita akan pergi ke sarang naga kristal. Mereka naga yang baik, hanya saja penakut. Jadi, jangan membuat gerakan tiba-tiba atau kita bisa berubah menjadi batu kristal dan tak bisa pergi ke mana pun," ucap Kurcaci topi merah yang membuat Tina tampak gugup.


Kurcaci itu naik ke punggung Tina dan memeluk lehernya erat. Tina mengepakkan sayapnya seraya berlari kencang.


Tina yang mulai terbiasa dengan kemampuan terbangnya, terlihat tak kesulitan saat membawa beban di punggungnya.


Tina takjub dengan keindahan langit yang berubah seperti pelangi dengan warna-warna cantik.



"Nah, itu di sana! Kau lihat batu-batu berkilau itu? Turunkan aku di sana, dan ingat, jangan membuat gerakan tiba-tiba," ucap Kurcaci topi merah seraya menunjuk.


Tina mengangguk paham dan matanya kini terfokus ke wilayah batu kristal yang memancarkan sinar seperti pelangi di daratan.


Tina perlahan mendarat perlahan agar tak tergelincir setelah tahu jika daratan itu seperti sebuah kaca, tapi terbuat dari batuan kristal. Kurcaci topi merah turun dengan hati-hati agar telur dalam tas yang digendongnya tak pecah.


"Oke. Ikuti aku," ucap manusia kerdil itu melangkah perlahan.


Tempat itu tampak sepi. Namun, Tina bisa merasakan keberadaan naga di kawasan itu. Ia melihat sekitar dan mendengar raungan panggilan para naga seperti memanggil pasangannya tanda telur yang ia erami segera menetas.


"Bagaimana kau tahu jika telur yang kaubawa itu milik naga tersebut?" tanya Tina heran.


Kurcaci itu terkekeh saat ia membawa satu buah telur naga berwarna putih bercahaya.


"Kaulihat topi yang kugunakan?" tanyanya menunjuk topi lucunya. Tina mengangguk seraya mengikuti kurcaci itu di belakang. "Topi ini bukan sebagai penutup kepala saja, tapi ada fungsi pentingnya. Topiku ini memiliki semacam sensor yang menggiringku ke induk naga dari telur yang kupegang. Seperti ... sebuah antena jika kaummu menyebutnya," ucap Kurcaci itu yang mengejutkan serigala putih tersebut.


"Oh ya? Wow!" sahut Tina kagum. Tiba-tiba, "Oh! Topimu menyala!" pekik Tina terkejut saat topi yang dikenakan oleh kurcaci itu menyala terang.


"Hohoho, seperti yang kubilang. Semacam sensor. Oke, kita segera tiba, telur yang menggemaskan. Oh, aku bisa merasakan jika kau sebentar lagi akan menetas. Semoga, kaubisa ikut melihat keajaiban itu, Tina," ucap Kurcaci tersebut yang semakin cepat melangkah dengan gembira.

__ADS_1


Tina terlihat tak sabar ketika mereka memasuki sebuah gua besar dengan banyak kristal warna putih di sekelilingnya. Tempat itu tampak begitu indah.


Hingga akhirnya, Tina melihat seekor naga yang sedang mengendus telur-telurnya. Tina tampak tegang saat berjalan mendekat meski masih menjaga jarak.


"Hai, ini aku, Merah! Apa kabar, Kristal Putih?" sapa Kurcaci itu dengan senyum terkembang.


"Goarrr!" jawab induk naga menyambut kedatangan pria kerdil itu.


Naga itu mengendus telur warna putih yang diletakkan kurcaci ke kumpulan telur-telur lainnya yang memiliki bentuk serupa.


Tina gugup dan tak berani mendekat. Ia memilih untuk mengamati dari jauh. Kurcaci topi merah meletakkan dua telur naga sejenis kembali ke habitatnya.


"Hei, kemarilah. Tak apa, ayo!" panggil kurcaci itu dan Tina kembali melangkah perlahan.


Naga kristal putih itu menatap Tina lekat seraya mengendus baunya. "Goarr!"


Tina langsung memejamkan mata dan menghentikan langkah saat naga itu meraung di hadapannya. Tina ketakutan dan mematung di tempatnya.


"Kau disambut baik oleh Ibu naga, Tina. Kemarilah," ucap Kurcaci tersebut dan Tina mengangguk paham meski keempat kakinya gemetaran.


"Oh! Telurnya bergerak!" seru Tina saat melihat lima telur itu mulai bergoyang.


Tina segera mempercepat laju larinya. Tina melebarkan mata saat melihat telur-telur putih itu retak sedikit demi sedikit. Jantung Tina berdebar kencang menantikan momen ajaib itu.


KRAK!!


"Eeekkk!"


"Oh! Telurnya menetas. Lucu sekali," ucapnya bahagia saat melihat kepala bayi naga itu muncul dari telur yang pecah.


"Lihatlah cara sang induk yang membiarkan naga-naga itu berusaha untuk keluar dari cangkang yang menghimpitnya. Hidup itu penuh perjuangan, dan para bayi itu kini harus berjuang agar bisa terus hidup," ucap Kurcaci topi merah serius saat melihat induk naga menjilati anak-anaknya yang baru menetas satu per satu.


Seekor bayi naga yang sudah bersih dari selaput lendir mulai melangkahkan kaki keluar dari sarang.


Tina terlihat gemas saat naga itu mendekatinya dengan merangkak meski jalannya masih sempoyongan.


Tina melihat naga mungil itu memeluk kaki berbulunya lalu menjilatnya, tapi seketika naga kecil itu bersin.


Kurcaci topi merah mengambil bayi naga itu lalu meletakkan di atas batu sebagai tempatnya berpijak. Tina tampak kagum saat melihat naga-naga itu menetas dengan sempurna dan tampak sehat.



"Tugas kita selesai, Tina. Kau melakukan hal mulia untuk Planet Mitologi. Ayo, masih ada 8 telur naga yang harus kita kembalikan kepada induknya," ucap Kurcaci dan Tina mengangguk siap.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Maap ya naga, lele gak bisa kasih tips koin. Hiks sedih😩

__ADS_1


__ADS_2