MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MEMBOCORKAN RAHASIA MASA DEPAN


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Anak-anak itu sepakat agar tetap merahasiakan ingatan masa lalu agar para orang tua tak curiga. Sayangnya, Lysa yang menyadari gerak-gerik aneh dari kumpulan remaja itu tak bisa dibohongi.


"Hei," sapanya ramah saat membawa sebuah kotak berisi banyak souvernir dari tempatnya bekerja—Jerman.


"Oh, Tante Lysa. Hampir aja Juby gak ngenalin karena make up," jawab Jubaedah yang langsung membenarkan dudukkan karena wanita cantik itu mendekat.


"Kalau tidak salah, kau Kenta bukan?" tanya Lysa seraya menyodorkan kotak berisi banyak benda agar dipilih oleh remaja dengan rambut dicukur tipis karena tak menepati janji pada Azumi.


"Iya, Nyonya Lysa," jawabnya gugup seraya mengambil sebuah gantungan kunci dari dalam kotak.


"Bagaimana keadaan Kastil Hashirama?  Apakah kaubetah tinggal di sana?" tanya Lysa yang kini menyodorkan kotak kepada Azumi. Gadis manis itu segera mengambil salah satu hadiahnya.


"Ya. Tuan Kim Arjuna sangat baik karena mengizinkan kami tinggal di sana," sahut Azumi, dan Kenta mengangguk.


"Apakah kalian masih mengunjungi rumah di Suga Island milik Souta? Apakah peninggalan Oma Vesper masih dijaga dengan baik oleh para pengurus di tempat itu? Sudah lama aku tak berkunjung," tanya Lysa yang kini menyodorkan kotak kepada Rex.


"Ya, masih. Ranjang yang dulu dipakai oleh Oma masih utuh bahkan sering dibersihkan," jawab Kenta dengan senyuman.


Lysa melirik Azumi dan gadis itu ikut mengangguk. Lysa tiba-tiba meletakkan kotak tersebut di meja dan menatap anak-anak itu tajam.


"Bagaimana kalian bisa ingat dengan nama Vesper?"


Praktis, senyuman di wajah dua orang itu sirna. Paras para remaja berubah tegang. Ditambah, muncul pria dengan tubuh dipenuhi tato ikut mendekat memasang wajah tengil. Semua orang terpaku. Namun, Nicolas seperti mengenal lelaki itu.


"A-Anda mirip dengan pria bernama Jonathan Benedict," ucap putera James.


Putera ketiga Vesper mengangguk. Nicolas langsung menarik tangan karena tadi menunjuknya. Para remaja semakin ketakutan saat datang pria lain dengan wajah dingin dan memiliki tato tak kalah seramnya ikut mendekat seolah mengepung mereka.


"Mengenaliku?" tanya Kim Arjuna dengan dua tangan masuk ke dua saku celana. Anak-anak itu mengangguk.


"Pastinya kalian juga ingat siapa aku," sahut Sandara yang kini duduk di tepi meja dan menatap Bara lekat. "Jadi ... bagaimana bisa kalian mengingat kami? Apakah ... efek dari gas halusinasi sudah lenyap? Jadi ... ingatan kalian pulih? Bisa jelaskan padaku, bagaimana hal itu bisa terjadi secara serempak? Apakah ... kalian menggunakan semacam obat atau teknik khusus? Hem?" tanya Sandara penuh penekanan.


"Akan kami jelaskan, tapi berjanjilah jangan tertawa. Kami serius dan tak bohong. Kami tak membual karena hal itu benar adanya," ucap Gibson mantap.


"Oh ... sebuah pengakuan ya. Baiklah," sahut Jonathan lalu menarik kursi meski benda itu ia duduki dalam kondisi terbalik.


Jonathan memeluk sandaran kursi dengan dagu diletakkan pada bagian atas benda berkaki empat tersebut. Siapa sangka, cerita anak-anak itu didengar oleh semua orang dewasa dalam ruangan. Para mafia dewasa diam meski beberapa dari mereka terkekeh karena dianggap konyol.


"Ha! Hahahaha! Jadi ... kalian melawan para monster dan bisa berubah wujud seperti mereka? Wow! Aku ... suka imajinasi kreatif itu. Sayangnya, aku lebih suka dengan hal nyata seperti memodifikasi mobil agar mendapatkan uang. Aku pergi," ucap Jonathan lalu beranjak.


"Papi! Apa yang dikatakan Gibson benar! Kami tak mengarang!" seru Hihi yang tiba-tiba muncul bersama Sierra.


"Hihi?" panggil anak-anak Demon Kids yang sudah hadir lebih dulu.

__ADS_1


"What? Hihi?" tanya Jonathan berkerut kening.


"Tiga belas anak berhasil sampai ke level 10 dan memenangkan permainan Maniac. Aku kalah, tapi aku hanya mati sementara. Selama kami terperangkap di Planet Mitologi, tubuh asli kami disimpan, dan hanya tubuh replika yang bermain dalam permainan sampai didapatkan pemenang," imbuh Hihi yang membuat Jonathan mengedipkan mata.


Pria bertato itu mendekati anak perempuannya lalu meletakkan tangan kanan di dahi. Hihi berkerut kening dan melepaskan tangan sang Ayah dengan wajah cemberut.


"Apa kau memberikan Eren wine atau alkohol?" tanya Jonathan pada isterinya.


"Kau gila?" pekik Sierra melotot.


"Apa kau ingin dibelikan sesuatu hingga mengarang bebas seperti ini? Jangan membuat Papi semakin pusing dengan banyaknya pesanan, ditambah namamu yang berubah menjadi Hihi dan ... entahlah apa yang kauucapkan tadi," jawab Jonathan menatap anak gadisnya saksama.


Hihi yang marah karena sang Ayah tak percaya malah memukulinya. Jonathan terkejut karena Serenity tak pernah bersikap bar-bar seperi itu. Sierra dan lainnya ikut terkejut dan mencoba menenangkan gadis kecil tersebut.


"Kalian orang dewasa menyebalkan!" teriak Serenity marah saat ia berhasil ditarik oleh Clack.


"Sierra! Apa yang kau ajarkan pada Eren? Dia tak seperti gadis manis layaknya puteri bangsawan yang kukenal," tanya Jonathan menatap puterinya lekat keheranan.


"Kau menyalahkanku?" tanya Sierra melotot. Sekejap, Jonathan malah terkejut dengan ekspresi garang sang isteri.


"Lepas! Jangan ikuti aku!" teriak Serenity marah seraya melirik tajam ke arah orang-orang dewasa saat melangkah pergi.


"Hihi!" panggil Gibson ikut mengejar diikuti anak-anak Demon Kids lainnya.


Jonathan masih terlihat takut pada isteri keduanya yang tinggal di Perancis karena ditatap tajam. Cassie menahan senyum saat mengajak saudarinya untuk berkumpul bersama para wanita sosialita dalam jamuan meninggalkan Jonathan sendirian.


Sedang Lysa, Arjuna dan Sandara saling memandang dalam diam.


"Biar kuurus. Kalian fokus saja pada jamuan," ucap Sandara dengan mata tertuju pada segerombolan anak-anak yang terlihat akrab padahal baru bertemu kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Itu pun dalam kondisi tak saling mengenal karena ingatan dihapus.


"Oke. Aku tunggu kabar baik darimu," sahut Arjuna, dan diangguki Sandara.


Arjuna dan Lysa beranjak untuk berkumpul bersama mafia lain. Sandara keluar dari ballroom untuk mencari tahu kebenaran dari firasatnya. Jordan mengawasi dari lantai dua di teras saat melihat isterinya mendatangi para remaja yang berkumpul di halaman belakang.


"Sudahlah, Hihi. Kita sudah diperingatkan oleh sosok seperti malaikat dan Oag jika tak mudah membuat para orang dewasa percaya pada cerita kita," ucap Czar mencoba memberikan pengertian pada puteri Sierra yang masih menangis.


"Hah ... apa kita melakukan kesalahan ya saat membuat permintaan? Apakah ... benda-benda ini akan menjadi bingkisan saja? Padahal ... aku sangat yakin jika darah para makhluk Mitologi diterapkan, kita bisa menciptakan manusia unggul dan mungkin bisa menolong ketika bencana menerjang Bumi," keluh Lazarus saat memegang botol berisi darah warna putih dari misi level 9. Tiba-tiba, "Oh!"


"Darah? Warna putih? Darah apa ini?" tanya Sandara yang tiba-tiba mengambil tabung berisi darah tersebut dari tangan Lazarus.


Anak-anak kembali dibuat terkejut akan kemunculannya. Tiba-tiba, suara siulan terdengar dari atas. Kepala anak-anak mendongak dan mendapati Jordan memberikan kode dengan sentakan kepala seperti meminta mereka untuk ikut dengannya.


"Ayo," ajak Sandara seraya menggenggam darah itu dan mengajak anak-anak meninggalkan halaman termasuk Hihi.


Arjuna dan Lysa mengawasi dari kejauhan dalam diam di balik jendela. Para remaja itu masuk ke sebuah ruangan yang tampak sepi dan ada dua tabung dalam ruangan kaca di sana.

__ADS_1


"Oh! Ada manusia di dalamnya!" pekik Bobby terkejut.


"Ya. Kalian ingat? Dia adalah Vesper, ibuku. Lalu di sebelahnya adalah papaku, Kai. Keduanya telah meninggal. Papaku membuat sebuah tabung untuk mengawetkan mayat agar tak busuk. Tujuannya, agar jasad dari mayat itu bisa selalu dijenguk untuk dikenang," ucap Sandara yang berdiri di balik dinding kaca.


"Ya. Aku ingat tentang Kai dan Vesper. Aku ingat saat Oma sakit dan kepalanya menjadi gundul. Kita menghabiskan waktu bersamanya dan ikut berpindah-pindah tempat. Sampai akhirnya, kita tahu jika keempat anak Oma ingin membunuhnya," ucap Rangga seraya melirik Sandara.


"Sudah kuduga. Kalian sudah ingat semuanya. Ingatan kalian pulih dan hal itu, sangat mustahil bisa terjadi. Jadi ... katakan padaku bagaimana caranya kalian bisa mengingat semua," tanya Sandara menatap anak-anak itu tajam.


"Oag melihat dalam ingatan kami saat ditidurkan jika terdapat kenangan terpendam. Kami meminta agar dikembalikan dan dia melakukannya," jawab Boas terlihat gugup.


"Oag? Siapa Oag?" tanya Sandara berkerut kening.


"Alien yang kini menjadi pemimpin Planet Mitologi," jawab Mandarin yang membuat Sandara mengedipkan mata untuk beberapa saat.


"Hem. Baiklah, anggap aku percaya. Entah kenapa sejak kalian datang, bercerita, dan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan, kalian terlihat jujur akan hal itu," ucap Sandara heran.


"Itu karena kami memang mengatakan yang sebenarnya. Memang itulah yang terjadi. Untuk apa kami berbohong? Apa untungnya?" tanya Jimmy yang membuat Sandara kembali diam dengan wajah serius.


"Akan kubuktikan cerita kalian dari sampel aneh ini. Jika benar, kalian harus ikut ke perusahaan farmasiku di Italia. Oke?" tegasnya, dan semua anak mengangguk setuju.


Sandara mengizinkan anak-anak itu untuk pergi dan meminta mereka agar tak bercerita lagi kepada siapapun tentang petualangan di Planet Mitologi. Anak-anak itu setuju dan berjanji hanya menceritakan secara detail pada Sandara nantinya ketika darah putih itu berhasil dibuktikan.


"Dara?" panggil seseorang yang membuat wanita cantik itu menoleh seketika.


"Yu Jie. Maaf merepotkan. Namun, bisakah kau cek kandungan dalam cairan aneh ini? Aku minta segera. Apapun temuanmu, informasikan padaku. Gunakan saja laboratorium milik Paman Jeremy yang sudah kuakuisisi di Rusia," pinta Sandara seraya menyerahkan tabung kaca itu.


"Oke!" jawab Yu Jie lalu bergegas pergi melalui pintu lain.


Ternyata, Jordan sudah berdiri dan menunggu di sana. Pria tampan itu mendekat dan Sandara menyambutnya dengan rangkulan di leher sang suami.


"Aku mencoba untuk menyangkal. Namun, melihat dan mendengar sendiri apa yang coba dibuktikan anak-anak itu, membuatku tak bisa menolak untuk mencari tahu lebih jauh lagi," ujar Jordan yang mengajak Sandara seperti berdansa di ruangan tempat penyimpanan tabung.


"Kita lihat saja nanti. Benar adanya, atau kita dibodohi," jawab Sandara seraya mendekatkan wajah.


Jordan menyambut ciuman mesra kekasih hatinya dengan lembut meski perlahan gairah mereka memuncak.


"Aku ingin sekali membuktikan jika hasil sepersusuan akan berdampak cacat pada anak kita nanti. Aku siap menerima risikonya, Sayang," ucap Jordan yang membuat Sandara tertegun dan melepaskan pelukan sang suami.


"Sayangnya, aku belum siap, Jordan. Jika benar hal itu terjadi, aku tak sanggup melihat anak kita menderita. Kecuali, kita menemukan cara untuk merubah cacat itu menjadi sebuah anugerah. Hanya saja, sampai hal itu terbukti, sebaiknya ... jangan," ucap Sandara tertunduk sedih.


Jordan mendatangi sang isteri dan memeluknya lembut tanpa berkata-kata lagi. Keduanya pergi meninggalkan ruang peristirahatan Kai dan Vesper untuk berkumpul bersama mafia lainnya.


***


besok tamat, hore🎉 jangan lupa serahkan semua hartamu padaku baik berupa vote vocer, tips poin koin, like, komen, dan rate bintang 5 ya. makasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2