MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
NGANTUK


__ADS_3

Sebenernya ngantuk sumpah. Kalo nemu typo koreksi aja tar lele revisi pas matanya on. Tengkiyuw tipsnya Bee lele padamu❤️



---- back to Story :


Sedang di tempat Jubaedah dan lainnya berada.


Kemampuan jam pasir dalam menghentikan waktu telah habis. Jubaedah dan lainnya kembali pada kondisi semula. Anak-anak itu berteduh dalam gua asing selama berada di tempat tak dikenal.


"Juby gak bisa bobo. Juby cemas sama Rexy dan temen-temen. Habisnya monster kaya kelelawar grandong itu serem," ucap Jubaedah yang tak bisa memejamkan mata dan kembali duduk.


"Pakai topi ini saja. Kata kak Kenta, bisa memberikan mimpi indah dan tidur nyenyak," ucap Azumi seraya memberikan topi tidurnya.


"Gak papa nih?" tanya Jubaedah seraya menerima topi kerucut itu. Azumi mengangguk pelan. "Wah makasih ya," ucapnya senang lalu bergegas memakainya.


Benar saja, dalam hitungan detik, Jubaedah langsung mengantuk. Matanya sayu lalu terpejam. Jubaedah membaringkan tubuhnya perlahan di atas tanah gua yang sudah dilapisi kain lalu tertidur pulas.


"Emp ... mmp, Rexy ...," gumannya mengigau yang sepertinya memimpikan sang kekasih.


"Dia itu lucu sekali," ucap Lazarus dengan senyuman melihat Jubaedah tertidur nyenyak seperti anak kucing.


"Awas ... jangan cari ribut dengan Rex," celetuk Bara yang membuat Lazarus langsung memalingkan wajah.


Anak-anak yang mendengar terkekeh. Lazarus sepertinya sangat berhati-hati agar kejadian konyol itu tak terulang. Ia langsung menghindar dari Jubaedah dan memilih berkumpul bersama Vadim serta Pasha.


Gibson, Boas dan Rangga keluar dari gua untuk mencari kayu bakar guna membuat api unggun. Mandarin mengambil sebuah mangkuk kaca hadiah dari misi sebelumnya dari dalam tasnya.


Azumi mendekat karena ia penasaran dengan kemampuan alat itu. Instruksi pada tabung kala itu mengatakan, mangkuk bening itu berguna untuk mendeteksi makanan atau minuman yang akan dikonsumsi beracun atau tidak.


Jika mangkuk berubah menjadi merah saat benda yang akan disantap dimasukkan ke dalamnya, pertanda benda tersebut tidak layak dikonsumsi. Mandarin yang kehausan, ingin mencoba air dari kolam dalam gua tersebut.


Saat ia memasukkan air itu ke dalam mangkuk, tiba-tiba saja mangkuk berubah berwarna merah menyala. Mandarin kaget dan langsung menumpahkan air tersebut.


"Hati-hati! Air ini beracun!" ucapnya menunjuk ke dalam kolam dengan panik.

__ADS_1


Anak-anak yang masih terjaga terkejut. Bara yang awalnya ingin mencuci beberapa perlengkapan kotor di tasnya mengurungkan niat.


"Jika beracun, tak mungkin ada makhluk hidup tinggal di dalamnya. Setidaknya, hal itu aman," ucap Harun dan diangguki semua orang kecuali Jubaedah yang sudah tertidur lelap.


Tak lama, Gibson, Boas dan Rangga kembali. Vadim dan Pasha dengan sigap menyiapkan kayu-kayu itu untuk membuat api unggun agar tubuh mereka hangat sembari menjadi penerang di dalam gua yang gelap.


Panasnya api, bisa menjadi pelindung mereka dari serangan makhluk buas. Mandarin dan Azumi lalu menjauh dari kolam karena khawatir akan terkena dampak jika sampai terminum airnya.


Rocky mengeluarkan beberapa stok makanan dari tas Vadim dan Pasha sebagai menu makan malam mereka sebelum tidur. Ia juga memberitahukan bahaya dari air kolam dalam gua kepada Gibson, Rangga dan Boas.


"Kita sungguh beruntung. Kita mendapatkan benda-benda ajaib yang bermanfaat untuk misi selanjutnya," ucap Gibson dan diangguki semua anak.


"Ayo, kita makan!" seru Vadim semangat usai ia berhasil menyalakan api unggun bersama Pasha.


Anak-anak berkumpul menikmati kue yang dibawa oleh dua remaja gemuk asal Rusia itu dari negeri permen.


"Besok pagi bagaimana? Apakah kita akan menyusul Rex dan lainnya?" tanya Pasha sembari mengunyah potongan kue di mulutnya.


"Ya. Aku cukup yakin jika musuh kali ini agak sulit dikalahkan mengingat mereka bisa terbang dan cukup gesit," tegas Gibson seraya memegang botol berisi minuman cokelat.


"Kira-kira, misi level 4 apa ya?" tanya Boas penasaran seraya memakan cokelat batangan.


Mata anak-anak langsung terfokus pada tulisan menyala biru tersebut.


"Tangkap manusia vampir dan ceburkan ke kolam beracun ini. Hadiah akan didapatkan bagi siapa pun yang berhasil menyelesaikan misi," ucap Bara yang mengejutkan semua orang.


"Kita diminta menangkap kelelawar setan itu?!" pekik Lazarus dengan mata melotot dan beberapa anak mengangguk membenarkan.


"Kita harus beritahukan hal ini pada Rex dan lainnya. Mereka pasti tak tahu jika ada misi ini," tegas Gibson dan diangguki semua anak.


"Apa kita akan susul sekarang? Hanya saja, jujur, aku capek sekali," keluh Rocky lunglai.


"Kita pergi esok hari. Oleh karena itu, segera tidur dan bangun pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit," terang Gibson.


Anak-anak mengangguk mengerti dan segera menghabiskan makan malam mereka. Satu per satu, anak-anak itu tidur.

__ADS_1


Mereka berjejer dan tetap dalam kelompok tak memisahkan diri. Mandarin yang terlihat masih bugar tak mengantuk, menemani Gibson berjaga.


"Gibson," panggil Mandarin lirih dalam kesunyian. Gibson menoleh dan menatap Mandarin lekat. "Aku takut," ucapnya kemudian.


"Takut apa?"


"Aku takut jika gagal sebelum level 10. Aku ingin pulang ke Bumi. Hanya saja, melihat bahaya dan kesulitan yang kita hadapi, ditambah kita selalu kehilangan teman saat menyelesaikan misi, membuatku tak yakin jika menang," jawabnya dengan wajah tertunduk dengan ranting dalam genggaman tangan.


Gibson melirik Azumi yang sudah tertidur lelap di samping Jubaedah.


"Tetaplah hidup untuk Azumi."


"He?" kejut Mandarin langsung menaikkan pandangan. Gibson tersenyum.


"Aku tahu. Kau menyukai Azumi, bukan? Aku bisa melihatnya saat pertama kali melihat kalian bersama. Jadikan dia alasan utamamu harus menyelesaikan semua rintangan hingga level terakhir. Kau lelaki yang kuat. Aku percaya kaumampu," jawab Gibson mantap sembari menepuk pundak kawannya itu dengan semangat.


"Kau tahu ya? Apa terlihat jelas?" tanya Mandarin malu.


"Bagiku ya. Entah, aku seperti bisa memahami perasaan seseorang. Kata ibuku, aku perasa dan pengamatanku bagus akan sesuatu. Ya, mungkin karena itulah aku sedikit peka dengan sekitar dan reflekku cepat," jawab Gibson terdengar hebat menceritakan dirinya.


"Wow, kau keren. Aku juga merasa kau pemimpin hebat. Setiap ucapanmu seperti sulit untuk ditentang. Mungkin suatu saat nanti, kau jadi Presiden."


Praktis, Gibson tertawa, tapi suaranya menjadi gema. Gibson langsung membungkam mulutnya rapat termasuk Mandarin karena tak ingin membangunkan kawan-kawannya.


"Terima kasih pujianmu," ucap Gibson dengan senyuman dan Mandarin mengangguk.


Hingga akhirnya, dua remaja itu mulai merasakan kantuk. Gibson setuju untuk meminta pada Harun dan Lazarus menggantikan tugas jaga mereka.


"Hei, hei," panggil Mandarin dengan loyo.


"Hemp?" jawab Lazarus berkerut kening terlihat masih lelah dan mata sayu.


"Gantian. Kami mengantuk," ucap Mandarin dengan mata terbuka tertutup.


"Ah, ya," jawab Lazarus lalu bangun meski terlihat lelah.

__ADS_1


Mandarin segera merebahkan diri disusul oleh Gibson. Lazarus yang masih mengantuk menyenderkan punggung di dinding gua dengan malas.


Semestinya, ia juga membangunkan Harun, tapi anak itu lupa dan kembali memejamkan mata. Lazarus tertidur lelap.


__ADS_2