
Usai menikmati sarapan bersama, anak-anak bersiap untuk melanjutkan petualangan. Kenta dan Ryan juga telah bersiap setelah tidur dengan puas.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Ingat tim yang telah kita buat sebelumnya? Berpatoklah pada tim utama. Kalian mengerti?" ucap Gibson menegaskan ke semua kawan-kawannya yang kini berdiri di hadapannya.
"Yes!" jawab semua anak serempak.
Akhirnya, anak-anak yang memiliki wujud Mitologi dengan kemampuan terbang merubah sosok mereka.
Naga Rex membawa kawan-kawannya untuk menuju ke lokasi patung seperti yang dikatakan oleh Bara dan Boas sebelumnya.
Boas dan Bara memimpin jalan, sedang anak-anak lainnya menyusul di belakang dengan menumpang pada tubuh makhluk Mitologi bersayap kawan-kawan mereka kecuali Kenta.
"Woah ... itukah patung naga yang kaubilang tadi?" tanya Rangga dengan tubuh bergelantungan.
Kedua tangannya mencengkeram kuat dua kaki Bara karena remaja itu berubah menjadi Kesatria Garuda.
"Yup! Bener banget! Itu naga gede loh, Ngga. Bisa jadi batu gitu. Siapa lagi kalau bukan Medusa biang keroknya," tegas Bara seraya terbang perlahan menurunkan kawannya ke dekat patung naga tersebut.
Satu per satu, anak-anak menapakkan kaki di tanah tak dikenal itu. Wajah tegang terlihat di paras semua remaja tersebut.
Jubaedah terlihat takut dan memegang lengan Rex erat saat sang kekasih telah berubah menjadi manusia kembali.
"Boas. Apakah menurutmu, sarang Medusa ada di sini?" tanya Lazarus seraya mendekat.
"Entahlah. Aku belum pernah ke wilayah ini sebelumnya. Tempatku sebelumnya gelap dan seperti labirin. Ada gua dan juga kolam di sana. Sunyi dan ... mengerikan. Sedang tempat ini, luas dan berada di luar," jawab Boas seraya memutar tubuhnya melihat sekitar.
"Aku juga belum pernah ke sini sebelumnya," sahut Ryan, dan diangguki oleh Jubaedah serta Rex.
"Coba kau petakan, Ryan. Siapa tahu wilayah ini terhubung dengan suatu tempat," pinta Kenta, dan Ryan dengan sigap mengeluarkan bukunya.
Anak-anak terlihat kagum karena ternyata, Ryan sudah memetakan banyak wilayah.
"Jangan bilang saat kautugas jaga dengan Kenta, kau begadang untuk membuat peta Planet Mitologi ini?" tanya Timo menduga, dan Ryan mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Kita tadi dari sini, lalu bergerak ke sini. Ah ya, belum ada petanya! Kau belum memetakan kawasan ini, Ryan," ucap Kenta seraya menunjuk pada lembar sebelumnya tempat mereka berkemah semalam.
Ryan mengangguk cepat. Ia lalu membuka lembar baru dan menggambar dengan cepat lokasi mereka berada saat ini. Gibson mengajak ketua tim dari kelompok masing-masing untuk berkumpul.
"Kita akan menyusuri wilayah ini. Jika benar kita harus menyelesaikan 10 level agar bisa keluar dari Planet ini, bisa jadi, kita akan mendapatkan petunjuk untuk misi berikutnya," ucap Gibson menatap tiga kawannya lekat.
"Hem, aku setuju. Baiklah. Namun sebaiknya, kita tetap bersama jangan berpencar. Akan berbahaya jika kita bertemu dengan— Wow!" kejut Rangga saat tiba-tiba saja hutan itu menjadi terselimuti kabut dan berubah gelap.
Semua anak panik dan langsung berkumpul merapatkan diri. Ketika para remaja itu dirundung kepanikan, muncul sebuah pintu yang bersinar di tengah hutan.
"Apa itu? Portal?" tanya Rex langsung melebarkan mata seraya melangkah maju.
"Tak ada instruksi di dalamnya. Haruskah kita masuk?" tanya Vadim gugup.
Gibson melihat kawan-kawannya lekat yang tampak ragu untuk mendekati pintu bercahaya tersebut.
"Kita tak akan tahu jika tak memasukinya. Aku duluan, lainnya menyusul seperti sistem antrian. Kalian siap?" tanya Gibson menatap kawan-kawannya satu per satu.
Anak-anak itu mengangguk mantap, meski terlihat mereka takut. Gibson menarik napas dalam dan memberanikan diri mendekati pintu yang telah terbuka tersebut.
"Sepertinya aman. Jika di film-film fantasy yang pernah kutonton sebelumnya, kita seperti berpindah ke dimensi lain. Entah siapa yang membuatnya, tapi ... ini keren. Masuklah!" ucap Gibson mengutarakan pemikirannya.
Anak-anak lain saling memandang. Mereka akhirnya mengikuti saran Gibson dengan masuk ke pintu itu satu per satu secara bergantian.
Hingga akhirnya, semua anak dalam kelompok itu berkumpul di suatu wilayah yang berbeda dari sebelumnya. Mata mereka terbelalak lebar karena tak pernah mengunjungi tempat tersebut.
"I-ini di mana?!" pekik Pasha dengan mata melotot dan langsung panik saat ia melihat ada sebuah planet besar di hadapannya, meski hanya terlihat seperempatnya saja.
Mulut semua anak menganga lebar tampak takjub dan takut dalam waktu bersamaan.
"Oh, oh, kita ... di luar angkasa?" tanya Azumi ikut panik seraya memegangi lengan kakaknya kuat.
"Hei, lihat! Ada benda bercahaya terang di atas sana!" seru Mandarin menunjuk.
__ADS_1
Praktis, mata anak-anak itu menajam. Gibson dan lainnya setuju saat mereka melihat benda yang mengeluarkan sinar tersebut. Rasa penasaran anak-anak semakin dalam.
Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk mendatangi bangunan seperti menara yang memancarkan cahaya pada ujungnya.
"Tetap berkelompok dan waspada!" seru Gibson, dan anak-anak itu mengangguk sembari berlari kecil melintasi wilayah bebatuan yang tak ditumbuhi pepohonan itu.
"Tinggi banget, Gib! Susah dipanjat! Terjal! Harus berubah jadi makhluk Mitologi dengan terbang ke sana," ucap C seraya memegang dinding batu itu.
"Oke! Berubahlah, C. Lalu beritahu kami apa yang kautemukan di atas sana," jawab Gibson cepat.
Czar mengangguk mantap. Seketika, ia berubah menjadi Griffin. Namun, saat Czar bersiap untuk terbang, tiba-tiba saja, "Woah!" serunya panik dan langsung terbang menjauh ketika sebuah hologram muncul pada dinding batu tersebut.
"Misi level 2!" seru Laika menunjuk.
Praktis, mata semua anak melebar. Semua anak terfokus pada tulisan yang menyala terang muncul di hadapan mereka.
"Selamat datang di Maniac. Misi level 2 diperuntukkan bagi peserta yang belum menyelesaikan misi level 1," guman anak-anak saat membaca tulisan tersebut.
Dengan sigap, Lazarus dan lainnya melihat ke warna ungu pada kuku mereka. Gibson dan lainnya yang telah mendapatkan tanda lulus level 2 menatap ke arah kelompok Lazarus lekat.
"Tangkap makhluk-makhluk yang hidup di Planet ini dan masukkan mereka ke dalam tabung. Satu makhluk untuk satu peserta berlevel 1. Bagi peserta level 2, diizinkan untuk membantu peserta berlevel satu untuk menyelesaikan misi. Waktu : tak terbatas."
Tiba-tiba saja, tulisan itu menghilang. Lalu muncul beberapa buah tabung di sekitar menara bercahaya di atas tebing batu. Czar dengan segera terbang ke atas untuk melihat lebih jelas.
Mata Czar melebar saat melihat banyak tabung kosong berjejer di sana di mana ia yakin jika alat itu digunakan untuk memasukkan makhluk-makhluk yang harus mereka tangkap.
Sayangnya, dalam instruksi misi tak disebutkan jenis makhluk dan wujudnya. Praktis, jantung semua anak berdebar kencang.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya untuk diriku😍 Kwkwkw lama gak ngetips padahal gak dubbing juga. Biar novelnya cepet tamat biar utang gak numpuk. Jangan lupa like, rate bintang 5, tips koin dan poinnya ya. Lele padamu❤️
__ADS_1