MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
SELAMAT TINGGAL, PETER


__ADS_3

Gemes sama sistem review MT. 4YM lele up dari jam 3 sore sampai skg blm nongol epsnya. Sabar sabar~ SS tips koin bsk y nunggu sistem review MT sehat kembali 😁


----- back to Story :


Timo dan lainnya menggali tanah untuk memakamkan Peter. Sepertinya, dugaan Rex benar. Saat mereka telah selesai menguburkan Peter, matahari mulai menampakkan dirinya.


"Akhirnya pagi," ucap Kenta lirih saat merasakan sinar matahari menyentuh kulitnya.


"Kita kehilangan kawan satu lagi dalam permainan bodoh ini," gerutu Czar yang membuat semua anak terdiam dan menatap pemuda asal Rusia itu lekat.


"Aku rasa ucapan para Minotaur itu benar. Oag harus dihentikan. Dia menciptakan misi yang merenggut nyawa kita. Satu per satu, jika seperti ini terus, kita akan mati saat menjalani tiap level," sahut Nicolas mengutarakan pendapatnya.


"Sayangnya, kita tak tahu apa pun tentang Oag. Di mana markasnya dan berapa jumlah pasukannya," timpal Laika.


"Jika kita gegabah, tak ada satu pun dari kita yang berhasil. Setidaknya, kita sudah berhasil membangunkan beberapa orang dewasa. Mungkin kelompok lain ada yang selamat dan mendapatkan hadiah yang sama. Kita jangan putus harapan," tambah Rex.


"Jadi ... kita lanjutkan permainan yang disebut Maniac ini? Dan mungkin akan ada lagi dari kita yang berguguran dan entah siapa yang bisa bertahan hingga akhir? Begitu?" tanya Timo tampak pucat.


"Ya, begitulah," sahut Gibson tiba-tiba.


Remaja itu muncul dari dalam gua dan diikuti oleh anak-anak yang lain. Jubaedah langsung berlari mendatangi Rex dan memeluknya. Putera dari Eiji juga terlihat sangat merindukan kekasihnya.


"Jadi pengen punya pacar," celetuk Bara tiba-tiba dan Rangga yang mendengar hanya terkekeh.


"Eh? Itu ada nisan. Siapa yang meninggal?" tanya Jubaedah seraya melepaskan pelukan.


"Peter," jawab Czar sendu.


"Pe-Peter? Peter tewas?" tanya Rocky tergagap.

__ADS_1


"A-aku minta maaf. Aku gagal menyelamatkannya," jawab Czar terlihat takut dan gugup dalam menjawab.


"Bagaimana bisa? Kalian 'kan berenam?!" tanya Rocky mulai memekik.


"Kami dikeroyok oleh sekumpulan vampir! Aku dan Czar berjuang keras agar bisa keluar dari gua. Namun, Peter tak merubah dirinya menjadi makhluk Mitologi. Hanya aku dan Czar. Peter naik ke punggung Czar sembari menunjukkan jalan. Aku tetap berlari di bawah menghalau serangan. Posisi kami sulit dan terdesak. Bahkan aku dan Czar juga terluka parah. Saat itu aku juga merasa seperti akan mati," jawab Tina dengan mata berlinang siap untuk menangis.


"Yang dikatakan oleh Tina benar. Aku melihat mereka bertiga dikeroyok dalam gua dan tak ada jalan lain untuk kabur. Beruntung, Nicolas mendengar lolongan Tina dan kami segera menyusul dalam gua. Aku berhasil mengusir para vampir setelah kubakar mereka," sahut Kenta membela.


Rocky tak mampu berkata-kata lagi. Ia berjalan lunglai mendekati makam Peter. Remaja itu ambruk di depan gundukan tanah yang dihiasi oleh bunga-bunga dengan air mata menetes.


"Maafkan aku, Peter. Aku tak ada di sana untuk menolongmu," ucap Rocky sedih.


Ternyata, anak-anak lain ikut merasakan hal yang sama. Mereka berkumpul dan mendoakan kedamaian abadi bagi kawannya.


Suasana duka menyelimuti hati semua orang. Mereka hanya duduk termenung di sekitar makam tak melakukan apa pun. Hingga akhirnya, Ryan angkat bicara. Pemuda itu tiba-tiba berdiri.


"Aku ingin pulang ke Bumi. Aku harus menyelesaikan semua level yang diberikan. Tinggal 6 lagi. Aku yakin kita bisa karena selalu bersama dan memiliki kemampuan. Kita juga dibantu oleh benda-benda yang bisa menyelamatkan hidup. Jangan menyerah! Ayo! Kita rampungkan misi level 4!" seru Ryan mantap.


"Kita harus pulang ke Bumi. Aku tak sabar bercerita pada ayahku tentang pengalaman kita selama menjalani misi. Aku yakin, orang tuaku pasti menganggapku gila. Namun, aku tak mau perjuangan ini berakhir sampai di sini. Bangun semua!" seru Gibson.


"Yeah!" jawab anak-anak kembali semangat termasuk Czar yang tadi terpuruk.


"Jadi ... kita kembali ke gua itu lalu menangkap para vampir dan menceburkannya ke kolam beracun?" tanya Mandarin dan diangguki semua anak.


"Oh iya. Kolam beracun itu ada di mana?" tanya Laika penasaran.


Spontan, anak-anak yang bermalam dalam gua menunjuk ke dalam. Laika dan lainnya terkejut karena kawan-kawan lainnya sudah tahu tentang hal itu.


"Baiklah. Matahari di pihak kita. Aku yakin, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berburu," tegas Lazarus dan diangguki semua anak yang setuju dengannya.

__ADS_1


Tina menyarankan agar semua orang berubah menjadi makhluk Mitologi begitu tiba di kawasan gua vampir.


Tina yakin, dirinya dan Czar yang tak tewas kala itu karena mereka tidak dalam wujud manusia seperti Peter.


Segera, anak-anak yang memiliki kemampuan terbang mengepakkan sayap dengan beberapa teman mereka membonceng.


Kelompok besar itu terbang meninggalkan gua kolam beracun dan kini menuju ke sarang para vampir. Rex memimpin di depan dengan tubuh naganya dan diikuti oleh semua anak.


Selama perjalanan, Tina ditanyai oleh Czar yang penasaran karena ia ditemukan masih selamat kala itu dengan Peter meski dalam wujud manusia.


"Maksudmu ... saat kauberubah menjadi serigala, kau tak sadar?" tanya Timo memastikan yang ikut duduk di punggung naga Rex.


"Ya, aku tak ingat apa pun. Aku mulai ingat saat Peter memanggil namaku berulang kali. Ketika kubuka mata, aku sudah berubah menjadi manusia. Aku sempat bertanya pada Peter waktu itu. Katanya, ketika aku masuk gua, wujudku berubah perlahan menjadi manusia. Malah kata Peter, ada satu vampir yang bisa bicara dan wujudnya berbeda. Katanya, 'Apa kau bisa berubah juga?'. Peter lalu merubah dirinya menjadi kurcaci. Saat itulah, para vampir itu mengikatku bersama dengan Peter. Saat aku terbangun kedua kalinya, Czar datang menyelamatkan kami berdua," jawab Tina panjang lebar.


"Woah! Vampir wujud lain? Apa kau bertemu vampir itu?" tanya Harun penasaran.


Tina menggeleng. "Aku sempat sadar lalu pingsan lagi. Hanya Peter yang tahu. Sayangnya, dia telah pergi," jawab Tina dengan wajah tertunduk.


"Tidak apa. Informasimu sudah sangat membantu. Peter telah memberikan petunjuk pada kita. Jangan sia-siakan pengorbanannya. Kita harus selamat dan berhasil menyelesaikan level ini!" tegas Gibson mantap.


Anak-anak mengangguk siap. Akhirnya, perjalanan panjang mereka berakhir. Rex menurunkan kawan-kawannya ke tempat ia beristirahat kala itu.


"Rex, tubuhmu besar. Kau sebaiknya tetap di sini saja untuk berjaga," pinta Gibson.


"Juby temenin Rex ya. Takut ayang Rexy kenapa-napa," pinta Jubaedah manja.


"Nempel terus, kaya prangko!" ledek Bara.


"Sirik aja. Cari pacar sana!" sahut Rex kesal, tapi membuat anak-anak lainnya tertawa.

__ADS_1


"Oke. Kalian siap?" tanya Gibson seraya merubah wujudnya menjadi Hanoman.


"Siap!" jawab semua anak yang ikut berubah menjadi makhluk Mitologi.


__ADS_2