
Di tempat Bara berada.
"Hoi! Hah, hah, pada ke mana sih? Hoi!" teriak pemuda asal Indonesia itu tampak pucat dan kelelahan dengan keringat bercucuran karena tak mendapati satu pun kawannya di tempat ia berada sekarang.
Bara akhirnya menghentikan langkah saat ia menemukan sebuah benda yang baginya terasa janggal, tapi familiar seperti ciptaan manusia.
"Wow ... itu apa?" tanyanya heran seraya menatap benda yang sudah ditumbuhi oleh tanaman menjalar hingga wujudnya tersamarkan.
"Kaya robot truk gitu. Wah, Transformers 'kah?" tanyanya terkagum-kagum seraya mengelilingi benda itu.
Hewan-hewan penyimpan cadangan jiwa milik Ryan, Tina dan dirinya, mengikuti langkah Bara ke mana pun remaja itu pergi.
Bara masih menggendong tasnya di mana ia menemukan beberapa perbekalan selama perjalanan mencari kawan-kawan.
"Aku penasaran. Naik ah," ucapnya pada tiga hewan yang berdiri menatap Bara saksama.
Tiga hewan itu ia masukkan dalam tas. Bara mulai memanjat dengan hati-hati hingga ia berhasil tiba di tempat dudukkan yang diyakini tempat pilot berada.
Sayangnya, tempat itu kotor dan berlumut seperti sudah sangat lama tak digunakan. Namun, kening Bara berkerut saat mendapati simbol-simbol aneh pada papan kendali yang tak dipahaminya.
Bara mencoba menekan semua tombol itu, tapi tak ada satu pun yang berfungsi.
"Barang usang," keluhnya cemberut.
Bara mengeluarkan tiga hewan tersebut dari dalam tas dan ia letakkan di dekat kaki. Pemuda itu mengambil kain dari dalam tasnya lalu meletakkan di alas duduk sebagai tempat istirahatnya hari itu. Bara merasa lelah untuk melanjutkan menjelajah.
"Capek. Istirahat di sini dulu deh. Bara mau bobo," ucapnya usai meneguk air minum lalu menjadikan tasnya sebagai alas kepala.
Bara merebahkan dirinya dengan meluruskan kaki. Tiga hewan itu tampak asyik dengan dunia mereka sendiri yang mondar-mandir di dalam benda tersebut. Bara yang letih, dengan cepat tertidur pulas hingga malam menjelang.
Hingga Bara merasakan jika tubuhnya bergoyang-goyang seperti sedang mengendarai sesuatu. Bara membuka matanya perlahan yang masih terasa berat.
Pandangannya buram, meski tampak tiga hewan penyimpan cadangan jiwa melompat-lompat seperti senang akan sesuatu di samping papan kendali. Bara diam dengan wajah sayu saat pandangannya mulai terfokus.
"Huwah!" serunya lantang dan panik saat menyadari jika benda yang dinaikinya tadi bergerak dengan dua kakinya.
Bara pucat dan langsung duduk seraya melihat sekitar di mana kali ini, ia tak tahu berada di mana karena suasananya berbeda.
"Apa yang terjadi? Kok, benda ini bisa bergerak? Kita mau ke mana?" tanya Bara bingung dan takut untuk melongok karena hutan itu gelap, tapi seperti ada cahaya muncul dari batang-batang pohon.
"Titi!" panggil hewan penyimpan cadangan jiwa milik Tina saat ia mulai berseru seperti memanggil sesuatu.
Bara yang bingung memberanikan diri berdiri saat benda tersebut keluar dari hutan aneh dan kini memasuki wilayah lapang dengan pemandangan luar biasa baginya.
__ADS_1
"Woah!" serunya kagum saat melihat langit yang tampak bercahaya biru dan seperti ada planet-planet besar mengelilingi wilayah tersebut.
Hingga tiba-tiba, "Auuu!"
"Apaan tuh?!" pekik Bara terkejut dan kembali duduk. Namun, benda yang membawanya terus bergerak seperti tak peduli adanya ancaman atau tidak. Hanya saja, langkah kaki benda tersebut cukup lambat seperti tak bisa berlari. "Ya ampun, ada serigala jadi-jadian 'kah?" tanyanya panik seraya menoleh ke kanan dan ke kiri.
Benar saja, saat Bara sedang dirundung kecemasan, tiba-tiba terlihat sosok di kejauhan seperti berlari kencang ke arahnya dengan dua kaki, memiliki kuku runcing dari jari-jari tangan serta gigi tajam layaknya pemangsa.
Mata Bara melotot karena makhluk itu memancarkan sinar di kedua matanya. Bara yakin jika itu manusia serigala karena memakai celana dan gerak-geriknya seperti setengah manusia.
"Wuah!" teriaknya panik dan bergegas merapikan semua perlengkapannya karena makhluk tersebut tampak beringas dan siap untuk mencabiknya. Namun ....
BRUKK!!
"ROARR!"
"AAAA!" teriak Bara saat muncul seekor serigala lain yang bisa berdiri layaknya manusia.
Mata Bara melebar saat ada dua serigala, tapi terlihat berbeda. Serigala bercelana itu berwarna abu-abu, sedang serigala yang menerkamnya barusan berwarna hitam dengan tubuh sedikit ramping.
Tiga hewan penyimpan cadangan jiwa mengerang seperti menyadari jika perkelahian dua serigala itu membuat nyawa tuannya terancam.
Namun, Bara menyadari jika dirinya bisa berubah menjadi Kesatria Garuda. Bara yang tak ingin terlibat dalam perkelahian antar manusia serigala itu, memilih untuk kabur agar tak terkena imbas.
Saat Bara sudah terbang dengan tiga makhluk penyimpan cadangan jiwa ia dekap di dadanya, hewan milik Tina melompat dari ketinggian dan berlari ke arah serigala berbulu hitam.
"Hei!" teriak Bara tak jadi terbang menjauh karena hewan seperti kelinci itu malah kabur dari dekapannya. Hingga Bara menyadari sesuatu saat serigala hitam itu seperti berpihak padanya. "Eh, kok?" tanyanya menatap serigala hitam itu lekat. "Tina!" teriak Bara yang akhirnya menyadari jika manusia serigala itu adalah kawan satu timnya.
Dua manusia serigala masih bertarung hebat dan robot yang membawanya tetap berjalan begitu saja meninggalkan penumpangnya. Bara kebingungan dan tak ingin hewan-hewan itu terluka.
Bara terbang dan meletakkan dua hewan itu ke dalam benda tersebut lalu kembali menuju ke arah Tina yang tampak tak sebanding dengan musuhnya.
"Jangan lukai kawanku!" teriak Bara marah dan terbang dengan cepat, menukik, siap untuk bertarung melawan manusia serigala yang tampak buas itu.
KRAUK!!
"Harghh!"
"TINA!" teriak Bara saat melihat bahu Tina tertancap gigi-gigi tajam dari lawannya hingga gadis serigala itu mengerang kesakitan.
Namun, Bara melihat kesempatan. Pemuda itu menjulurkan kedua kakinya yang memiliki cakar tajam dan kuat, siap untuk menerkam mangsanya.
JLEB!!
__ADS_1
"ROARR!" erang manusia serigala itu saat kedua pundaknya kini tertancap kuku tajam dari kaki sang Kesatria Garuda.
Bara mengepakkan kedua sayapnya dengan kuat seraya memegang rahang manusia serigala itu agar melepaskan gigitannya di bahu Tina.
"Arrghh!" erang Bara saat usahanya berhasil dan gigitan itu terlepas. Bara mengangkat tubuh manusia serigala itu tinggi yang masih berusaha memberontak, tapi pemuda itu tak membiarkannya. "Heyah!" serunya saat melemparkan tubuh manusia serigala tersebut ke sebuah aliran sungai dekat tempat mereka bertarung.
BYURR!!
"ROARR!" erang manusia serigala tersebut yang terseret arus cukup deras dan membawanya menjauh.
Bara terlihat lega hingga napasnya tersengal saat usahanya membantu Tina berhasil. Namun, saat Bara melihat ke arah kawan perempuannya, kepanikan langsung melanda jiwanya. "TINA!"
Bara segera terbang mendatangi Tina yang tergolek lemas dengan darah warna biru menetes dari luka robek di bahunya.
Kening Bara berkerut. Ia melihat robot itu sudah berada jauh dari tempatnya berada. Bara membopong Tina dengan makhluk penyimpan cadangan jiwa naik ke atas tubuh Tina yang lunglai.
Bara terbang dengan cepat menuju ke arah robot dan masuk ke dalam. Ia meletakkan tubuh serigala Tina perlahan dan berubah menjadi manusia lagi.
"Tina, hei, kau akan baik-baik saja," ucap Bara mencoba menenangkan.
Tiga hewan penyimpan cadangan jiwa menaiki tubuh Tina dan menjilat luka tersebut. Kening Bara berkerut dan menyadari jika jilatan tersebut bisa menyembuhkan luka.
Bara tampak kagum dan memilih untuk menyaksikan. Perlahan, Tina mulai terlihat membaik meski matanya masih terpejam.
"Wah, bilang dong kalau bisa sembuhin luka. Bikin panik aja," ucap Bara lega dan langsung duduk di lantai bawah samping tempat duduk dengan lemas.
Tiga hewan itu lalu melompat dan duduk di pangkuan Bara usai tugas mereka selesai. Bara tampak bangga pada tiga hewan itu.
Ia mengelus tubuh mereka lembut dan terlihat, tiga hewan itu menyukainya.
"Oke. Bara nurut aja deh si robot Transformers ini bawa kita ke mana. Bara capek, beneran. Namun setidaknya, Bara lega karena bisa ketemu Tina," ucapnya senang seraya melihat wajah serigala Tina yang tampak letih sama seperti dirinya.
Bara membiarkan Tina untuk beristirahat. Pemuda itu memandangi keelokan wilayah yang baginya aneh itu dengan tiga hewan penyimpan cadangan jiwa dalam pangkuannya.
"Tempat ini indah, tapi ... seyem," ucapnya merinding.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy, makasih tipsnya untuk diriku😆kwkwkw abisin stokan koin buat nambah beli kuota biar bisa up terus. ditunggu sedekah koinnya man-teman. lele padamu❤️
__ADS_1