
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Oag meniupkannya! Hanya saja, kenapa aku tak merasakan apapun ya?" tanya Harun bingung usai melihat perbincangan Oag dengan para Dewa dan Dewi di mana sosok malaikat itu menerjemahkannya.
"Itu karena kau sudah kehilangan kemampuan Mitologi-mu, Harun. Kau kini manusia seutuhnya seperti saat di Bumi," jawab sosok itu lalu menutup tampilan keberadaan Oag.
Harun melihat dua telapak tangan di mana ia merasakan perubahan pada tubuhnya. Harun mengangguk pelan lalu menarik napas dalam.
"Oke, permintaanku selanjutnya," ucapnya mantap seraya melirik ke arah jam pasir. Sosok rupawan itu mengangguk. "Aku ingin, kawan-kawan yang tergabung dalam Demon Kids, termasuk yang pernah tewas dan dibangkitkan kembali, bisa bersatu lagi saat di Bumi. Aku ingin, agar kami bisa membantu menuntaskan bencana yang akan menerjang Bumi jikalau, para manusia pejuang sebelumnya gagal. Aku tak tahu bencana seperti apa itu, tapi kami rasa siap untuk bertarung lagi demi mempertahankan Planet-ku," ucap Harun mantap. Sosok rupawan itu menatap Harun tajam.
"Kau ... ingin bertarung lagi? Berperang lagi melawan apa pun itu yang akan melanda Bumi di tahun 2050 bahkan tak tahu sampai kapan akan berakhir?" tanya sosok itu heran. Harun mengangguk mantap, tapi pria itu malah terkekeh. "Dengar, Harun. Yang kalian lakukan di sini tak akan sama ketika di Bumi. Kalian tak memiliki kemampuan Mitologi. Selama di Planet ini, kalian di awasi. Sedang di Bumi, jika kalian tewas, kalian mati!" tegasnya.
"Untuk apa hidup tanpa berjuang? Aku yakin, sampai waktunya tiba, aku dan kawan-kawanku akan melakukan sesuatu agar bisa menolong. Kami akan berusaha mencegahnya. Jika tidak bisa, maka kami akan membantu ketika bencana itu datang. Bukankah, itu alasan utama kenapa kalian membawa anak-anak di Bumi untuk ikut permainan Maniac?" tanya Harun tegas.
Sosok itu menatap Harun tajam, tapi kemudian tersenyum. "Kuberikan kau satu bocoran dari permintaan kawan-kawanmu, Harun," ucap sosok itu dan Harun mengangguk pelan. "Nicolas meminta kalian semua diselamatkan saat wabah itu datang. Kalian baru akan dibangkitkan ketika wabah itu usai."
Kening Harun berkerut. "Maksudmu ... kau ingin membuat kami seperti para manusia dewasa yang terkena hypersleep?" tanya Harun memastikan. Sosok itu mengangguk pelan. Harun mengerutkan kening. Tiba-tiba, wajahnya terlihat senang seperti mendapatkan sebuah ide. "Berikan aku formula hypersleep. Itu permintaanku selanjutnya. Soal permintaanku yang bertolak belakang dengan Nicolas, biarkan saja. Buat permintaannya tak berlaku untukku. Aku ingin terlibat ketika bencana itu terjadi. Aku siap menanggung risikonya," pinta Harun yang membuat sosok rupawan itu tertegun untuk kesekian kali, tapi ia tersenyum.
Seketika, dua jentikan jari dilakukan oleh pria bersayap itu. Harun terlihat senang. Ia sangat siap akan sesuatu. Ia memegang tali tas ransel di pundaknya.
"Dan jangan lupa, formula untuk membangkitkan manusia usai terkena hypersleep," imbuh Harun seraya melirik jam pasir di mana ia tahu jika permintaan yang baru saja ia ucapkan adalah yang terakhir.
Sosok itu mengabulkan permintaan Harun. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangan. Harun membungkuk tanda berterima kasih. Tampaknya, pemuda berkulit gelap itu sudah puas dengan permintaannya. Portal yang tadinya menyala untuk melihat tampilan Oag kini berubah menjadi sebuah pintu untuk membawa Harun kembali ke Bumi. Harun tersenyum saat melangkah masuk tanpa terlihat keraguan di wajahnya.
Di sisi lain. Planet Bumi.
"Hei, hei! Cepat kembali ke laboratorium! Jeremy sudah mendapatkan hasil dari penelitiannya!" panggil James, dan semua orang yang menikmati liburan panjang selama di Filipina, bergegas kembali ke ruangan tempat Jeremy berada.
__ADS_1
Para manusia dewasa itu tampak begitu gembira karena akhirnya Jeremy menemukan penyebab, atau bahkan solusi untuk kejadian aneh yang menimpa Bumi. Saat Eko dan lainnya siap mendatangi Jeremy yang sudah menunggu di ruangan kaca dan sosoknya terlihat di balik dinding transparan itu, tiba-tiba saja ....
"Wow! Wow! Wow!" pekik Jonathan dengan bertelanjang dada saat ia menghentikan laju larinya ketika mendapati sebuah lingkaran bercahaya muncul di hadapan mereka.
Mata para pria itu melebar termasuk Jeremy yang ikut terkejut. Tiba-tiba saja, terlihat sosok samar dari dalam pintu aneh yang memancarkan cahaya itu. Semua orang terlihat tegang. Seif dengan sigap mengarahkan pistol ke tubuh sosok yang akan keluar dari pintu tersebut.
Namun seketika, BUZZZ ....
"Menyingkir!" pekik Eiji ketika kepulan asap warna ungu menyeruak di sekitar ruangan dengan cepat.
"Argh!" erang para lelaki itu yang jatuh begitu saja di atas lantai usai menghirup gas tersebut.
Eko dan lainnya tak sadarkan diri. Jeremy yang berada dalam ruangan tertutup selamat. Namun, matanya melebar ketika mendapati sosok tinggi besar bertentakel keluar dari portal dan kini berdiri di balik jendela kaca. Jeremy tergagap dan wajahnya tegang. Jeremy ketakutan, tapi tak bisa bergerak saat Oag bisa menembus kaca yang membuat profesor itu melebarkan mata seketika.
"Kau memang jenius, Profesor Jeremy. Namun, masa depan sudah diserahkan kepada generasi penerus kalian. Tidurlah, dan lupakan semua," ucap Oag yang dengan sigap menangkap wajah Jeremy dengan satu tangan di mana ukuran kepalanya hanya seukuran buah mangga.
"Hah, harghhh!" erang Jeremy ketika ia merasakan pikirannya seperti disusupi.
"Maaf, jika kerja kerasmu sia-sia," ucap Oag lalu mengambil sampel itu dan menghancurkan seluruh temuan Jeremy.
Para alien bercorak merah melakukan pembersihan seolah tak terjadi apa pun di tempat tersebut termasuk penghapusan rekaman CCTV. Mereka juga mengirimkan para manusia dewasa yang sudah dibangkitkan itu ke tempatnya semula seperti Eko di bengkel, berikut Eiji di mana keduanya sedang berada di Kastil Borka, Rusia. Para alien yang bertugas selama permainan Maniac berlangsung, mulai melakukan pekerjaan terakhirnya untuk mengembalikan seluruh anak manusia ke Bumi. Para cendikiawan menyaksikan hal besar itu ketika satu per satu dari mereka dikembalikan ke tempat asal.
"Tugas kita selesai di sini," ucap salah satu cendikiawan. Para manusia lainnya di markas Oag mengangguk.
Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan sebelum berpisah untuk kembali ke kehidupan masing-masing. Hanya saja, para cendikiawan itu termasuk sang Jenderal, dibiarkan tetap memiliki ingatan selama di Planet Mitologi. Namun, mereka diawasi secara ketat oleh Oag jikalau membocorkan rahasia besar atas hal yang menimpa Bumi selama beberapa bulan tersebut. Para manusia itu paham konsekuensinya di mana mereka sudah mengetahui hal itu sebelumnya ketika setuju untuk terlibat. Para manusia dewasa juga dipulangkan melalui portal-portal di sebuah ruangan besar di mana terdapat banyak lubang antar dimensi di sana.
__ADS_1
Satu per satu, lubang-lubang besar itu menyala, siap untuk mengantarkan para manusia kembali ke Bumi tempat mereka dibawa sebelumnya.
"Sampai jumpa, dan semoga ... kita berumur panjang untuk melihat hasil akhirnya," ucap salah satu pria tua, dan para cendikiawan lain mengangguk dengan senyuman.
Di tempat Lazarus berada.
Pemuda itu akhirnya ikut menyelesaikan permintaannya. Ia yang teringat akan pamannya si Jonathan Benedict, ingin memiliki hubungan akrab dengan Serenity dan juga Neil. Lazarus yakin jika mereka bertiga nantinya bisa menjadi penerus dari keluarga Benedict dan Flame yang menjaga stabilitas perekonomian usai bencana di Bumi tuntas.
"Jadi ... kau ingin agar dirimu, Hihi dan Neil mengalami hypersleep saat bencana tiba, lalu dibangkitkan ketika semuanya telah selesai untuk membangun lagi peradaban serta perekonomian di Bumi?" tanya sosok rupawan itu memastikan.
"Ya. Setiap bencana yang menerjang, pasti membutuhkan orang-orang jenius seperti para cendikiawan untuk memulihkan kondisi. Aku tahu hal itu akan sangat sulit dan memakan waktu lama. Oleh karena itu, aku ingin bersama Hihi dan Neil bisa membantu saat Bumi membutuhkan sosok seperti kami. Aku dan Hihi sudah mengetahui jika akan terjadi bencana di masa depan. Tinggal meyakinkan Neil untuk ikut serta dalam misi terselubung yang nanti akan kupimpin untuk mempersiapkan pemulihan itu. Karena aku yakin, jika semua orang di muka Bumi pasti tak bisa menyangkal atau menggagalkan bencana itu karena kalian saja tak tahu seperti apa wujud dari petaka tersebut," jawab Lazarus menjelaskan.
"Hem, aku suka cara berpikirmu, Lazarus Benedict. Jadi, kau tetap biarkan bencana terjadi seperti goresan takdir, tapi kau bersiap untuk menyembuhkannya?" tanya sosok itu memastikan, dan Lazarus mengangguk mantap.
Pria tampan itu menjentikkan jari tanda setuju. Lazarus terlihat senang, tapi sosok itu menunjuk jam pasir pertanda jika waktu untuk meminta telah habis.
"Ya, aku tak masalah. Setidaknya, hal penting yang sudah kupikirkan telah kaukabulkan. Kutagih janjimu saat bencana itu tiba, Sosok tak dikenal. Sampai jumpa dan kurasa ... kita akan bertemu lagi," ucap Lazarus, dan pria itu mengangguk dengan senyuman.
Sebuah portal muncul untuk mengantarkan Lazarus kembali ke Bumi. Lazarus menganggukkan kepala dengan tubuh tegap dan dagu sedikit terangkat menunjukkan wibawanya. Tangan kanan ditekuk di depan perut dan tangan kiri lurus berada di samping pinggang. Lazarus berpamitan dan berjalan dengan elegan masuk ke dalam portal bahkan tak menoleh lagi ke belakang. Sosok rupawan yang tak lain adalah Jenderal, hanya tersenyum tipis ketika ia menutup kembali portal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
tengkiyuw tipsnya lele❤️ aku padamu💋 kwkwkw brankas koin abis padahal masih pengen up lagi. kuy yg belom sedekah koin segera ya biar lele ss. selamat akhir pekan man-teman.🎉