MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
INGATAN LAMA*


__ADS_3

Ya Allah ngantuk sumpah, tapi gak bisa bobo. Sekitar rumah lagi brisik banget. Kalo nemu typo koreksi aja tar lele revisi pas udah semangat lagi matanya. Tengkiyuw tipsnya mbak Aju. Lele padamu❤️



---- back to Story :


BYURR!!


Jubaedah dan anak-anak lainnya tercebur ke dalam lautan. Timo dan Rangga dengan sigap menolong. Mereka khawatir jika teman-teman seperjuangan tenggelam tak bisa diselamatkan.


"Tina!" panggil Timo saat melihat adik perempuannya terus tenggelam karena tak bisa berenang.


Dengan sigap, Timo meluncur dengan cepat menggerakkan ekor sosok Mermannya. Tina masih bisa melihat kakaknya yang berusaha untuk menggapainya. Ia teringat agar tak panik saat tercebur ke air dalam.


GRAB!


"Bertahanlah!" ucap Timo saat berhasil meraih adiknya dan membawanya naik ke permukaan dengan cepat.


Tina merangkul leher Timo erat dan berusaha sekuat mungkin menahan napas agar tak tersedak air lautan.


SPLASH!!


"Hah! Hah!"


"Tina!" panggil Pasha dengan tubuh Manticore mulai terbang rendah. Timo membantu sang adik untuk naik ke punggung Pasha.


"Bawa dia pergi dari sini, Pasha! Lalu cepat kembali kemari!" pinta Timo yang tubuh bagian atasnya terlihat di permukaan.


"Oke!" Pasha terbang dengan segera menuju ke daratan terdekat.


Sedang Gibson dan Vadim, berusaha membantu kawan-kawan lainnya yang berhasil naik ke permukaan. Namun, sosok Rocky belum terlihat.


"Hei! Di mana Rocky?" tanya Timo karena tak mendapati Rocky dalam air.


Praktis, anak-anak lainnya terkejut. Mereka melihat sekitar mencoba mencari keberadaan pemuda tersebut.


"Hei! Mana Rangga?" tanya Bara panik saat ia mengangkat tubuh Rex yang basah kuyup agar bisa kembali berubah menjadi naga.


Kembali, anak-anak dibuat cemas karena kehilangan kawan-kawan mereka lagi. Timo kembali menyelam mencoba mencari keberadaan dua kawannya.


Hingga ia melihat pergerakan aneh di dekat karang yang besar dengan terumbu di sekitarnya.


"Hei! Lepaskan kawan-kawanku!" teriak Timo lantang saat melihat Rocky dan Rangga ditangkap oleh sekumpulan makhluk air, tapi bukan duyung.


Namun, Timo merasa jika dia bukan tandingan dari hewan-hewan yang tampak mengerikan dan buas itu. Timo kembali berenang ke permukaan dengan wajah panik.


"Mana Rangga dan Rocky?!" tanya Gibson saat ia masih terbang di permukaan dengan Vadim bersamanya.


"Mereka diserang oleh makhluk laut, tapi aku tak tahu apa. Aku tak bisa menolong mereka. Aku butuh senjata," jawabnya cemas.


"Timo, tangkap!" seru Jubaedah yang kini duduk di punggung Czar.


Dengan sigap, Timo menangkap salah satu dari jenis Rainbow Gas tersebut. "Bagaimana dengan serum penawarnya?" tanya Timo.


Jubaedah dengan cepat melemparkan botol berisi 3 buah serum. Ia sengaja memberikan tiga dan sisanya ia masukkan dalam tas.


"Cepat!" seru Jubaedah.


Timo segera memakan satu buah serum penawar dan kembali menyelam. Ia bersiap dengan granat yang memiliki racun tersebut. Ia mendekati Rocky yang mulai tergolek lemas seperti kehabisan oksigen.


"Harghh!!"


KLIK! BLUARR!! SPLASH!!

__ADS_1


Ternyata, granat yang diberikan oleh Jubaedah meledak. Rainbow Gas itu berbeda dengan yang digunakan oleh mereka sebelumnya.


Timo terkejut dan terpental oleh gelombang ledakan, berikut dengan Rocky dan Rangga. Namun, ledakan besar itu membuat makhluk-makhluk air tersebut kabur.


Beruntung, Rangga masih bisa bertahan meski jaraknya dengan Timo dan Rocky terpisah jauh. Segera, Rangga dan Timo berenang mendekati Rocky yang mulai melayang di dalam air sudah tak bergerak.


"Makan ini cepat!" seru Timo seraya memberikan sebutir serum penawar. Rangga segera memasukkannya dalam mulut.


Timo juga segera memberikan satu ke mulut Rocky, meskipun kawannya itu tak merespon karena tak sadarkan diri.


"Cepat, Timo!" seru Rangga panik dengan tubuh sudah penuh dengan luka seperti tersayat karena serangan makhluk air tadi.


"Itu mereka!" seru Czar yang masih menunggu kemunculan kawan-kawannya.


"Angkat Rocky! Dia tak sadarkan diri!" pinta Timo seraya mengangkat tubuh Rocky ke atas bersama dengan Rangga.


Segera, cakar elang Czar mencengkeram kuat pakaian Rocky. Czar terbang menuju daratan yang tak jauh dari pinggir lautan.


Timo dan Rangga sepakat untuk berenang sampai ke tepian. Vadim dan Gibson mengawasi dari atas permukaan.


Anak-anak lainnya sudah menunggu di daratan. Sedang para remaja yang memiliki kemampuan terbang, menyusul kawan-kawannya karena belum kembali.


"Oh! Mereka datang!" seru Pasha saat terbang menuju ke tempat jatuhnya teman-temannya tadi.


Namun, anak-anak itu terkejut saat mendapati Rocky tak bergerak dengan mata terpejam dan tubuh basah kuyup penuh luka.


BRUKK!!


"Tolong! Sadarkan dia!" pinta Czar panik usai meletakkan tubuh Rocky yang sudah tak bertenaga.


Gibson mengambil alih untuk melakukan CPR. Semua anak tampak cemas karena Rocky tak menunjukkan pergerakan apapun.


Para gadis mulai meneteskan air mata karena takut jika Rocky tak selamat seperti kawan-kawan lainnya.


Rex merasa bersalah karena dialah penyebab Rocky tenggelam di lautan. Ryan mendekati Rex yang terlihat stress akan hal ini dan mencoba untuk menenangkannya.


"Bukan salahmu, Rex. Ini semua di luar pemikiran kita," ucap Ryan iba.


"Tentu saja salahku, Ryan. Rocky tewas karenaku," jawabnya sedih dengan mata berkaca.


Namun, sudah hampir 15 menit Rocky tak menunjukkan jika ia sadar. Gibson mengecek denyut nadi di pergelangan tangan, leher dan juga napasnya melalui lubang hidung, tapi tak ada tanda-tanda. Praktis, tangis anak-anak pecah.


"Arghhh! Kenapa kalian membuat permainan dengan nyawa yang harus dikorbankan?!" teriak Rex marah dan melempari langit menggunakan batu yang ia dapatkan di dekat kakinya.


Jubaedah tak ingin menghentikan aksi kekasihnya karena ia juga berpikir demikian. Gibson duduk dengan lesu di samping tubuh Rocky yang diyakini sudah tak bernyawa lagi. Ternyata, amarah Rex menyulut anak-anak lainnya.


"Oag! Tunjukkan dirimu! Dasar pengecut!" seru Lazarus marah menunjuk langit menggunakan pedangnya.


Semua anak mulai memanggil nama Oag untuk menantangnya. Para gadis dan beberapa anak lainnya memilih diam tak ikut aksi layaknya pendemo itu.


Siapa sangka, SRING!!


"Oh!" pekik Rex terkejut dan langsung mundur dengan cepat saat melihat sebuah portal muncul, tapi berbentuk bulat dengan cahaya biru di sekelilingnya.



Semua anak merapat di depan portal dan terlihat tegang. Tampak jelas, anak-anak itu gugup seperti menunggu sesuatu keluar dari lingkaran bercahaya tersebut. Benar saja ....


"Oh!" pekik beberapa anak saat mereka melihat sosok makhluk bertentakel, tapi bertubuh tinggi seperti manusia keluar dari portal tersebut.


Anak-anak ketakutan dan melangkah mundur karena sosok seperti alien itu menatap mereka tajam terlihat kejam. Oag bicara dalam bahasa yang tak diketahui oleh anak-anak itu.


Namun, para remaja itu seperti menahan tawa karena makhluk aneh itu bicara seperti bersendawa. Kening mereka berkerut karena tak paham.

__ADS_1


Hingga Oag menggerakkan salah satu tangannya dan muncullah tulisan di depannya yang menyala ungu terang.


"Kuizinkan bicara padaku ketika diantara kalian berhasil mencapai level 10. Sebelum hal itu terjadi, berhentilah mengeluh atau kubuat kalian selesai pada level ini. Bermimpilah pulang ke Bumi. Ini permainanku dan kalian berada di dalamnya," ucap anak-anak lirih membaca tulisan tersebut.


"Kami tak pernah meminta memainkan permainan ini!" seru Harun marah, tapi Oag tak menjawab. Ia bergerak mundur memasuki portal dan seketika, sosoknya tak terlihat.


"Jangan kabur, Pengecut!" seru Mandarin marah dan melempar portal yang masih menyala terang di depan mereka.


Namun seketika, sebuah tayangan muncul yang membuat kening anak-anak itu berkerut.


"Permainan? Hem, aku ingin sebuah permainan yang menantang. Seperti sebuah video games," ucap Rex dengan seragam sekolah saat ia duduk di bangku SMP.


Rex melongo karena ia tak ingat kejadian itu. Tayangan beralih ke sosok Gibson yang sedang duduk sendirian di bawah pohon apel seraya menggenggam sebuah apel di tangan kanannya.


"Yang jelas, aku ingin sebuah permainan yang terasa nyata, seperti sungguhan. Yah, mungkin bisa dibilang semacam simulasi. Aku bertarung dengan lawan yang tangguh. Mungkin, melawan monster akan seru!" ucapnya gembira dengan mata berbinar.


Anak-anak tampak bingung karena tayangan-tayangan tersebut.


"Melawan makhluk-makhluk Mitologi? Maksudnya ... seperti kisah para Dewa Yunani begitu? Melawan Medusa? Hydra? Kraken? Itu maksudmu, Paman?" tanya Ryan terlihat bingung.


Mulut Ryan menganga lebar melihat dirinya dalam tampilan itu.


"Jika sungguh ada permainan seperti itu, aku pasti ikut. Akan kubuktikan jika aku bisa memenangkannya. Oh iya, apakah ... akan ada naganya?" tanya Kenta dengan mata membulat penuh.


"Setahuku, sebuah permainan itu pasti ada sistem levelnya. Jika memenangkan tiap level dan seterusnya, kekuatan dari pemain itu akan meningkat. Semakin tinggi levelnya, semakin sulit rintangannya. Namun, yang sulit itu yang seru!" ucap Nicolas antusias.


"Tentu saja aku akan ikut. Hal seperti itu tak perlu ditanyakan. Akan kubuktikan jika keturunan Benedict adalah yang terbaik karena kami adalah penguasa dan pejuang," ucap Lazarus dengan seragam sekolahnya menunjukkan wajah dingin.


"Mendapatkan hadiah dengan berubah menjadi makhluk Mitologi? Woah, itu akan sangat keren. Jika benar, sepertinya menjadi Pegasus akan hebat," ucap Vadim dengan senyum merekah.


"Entahlah, ikut tidak ya? Jika pesertanya banyak, aku akan ikut. Jika sedikit, aku tidak mau. Tidak seru," ucap Pasha dengan burger dalam genggaman tangan kanannya.


"Ha? Juby gak ngerti permainan anak cowok gitu. Apalagi kalau permainannya serem, Juby takut," ucap Jubaedah memonyongkan bibirnya. Jawaban gadis itu membuat semua anak tersenyum seketika. "Hadiahnya besar? Sebesar apa? Apakah uang tunai yang bisa membeli handphone keren atau motor mahal gitu?" tanyanya lagi seperti berbicara dengan seseorang di depannya. "Oh ya? Kalau gitu ikut deh!" jawabnya langsung semangat.


Praktis, anak-anak lain meliriknya dengan wajah dingin. Jubaedah tersipu malu.


"Aku akan ikut jika saudaraku Timo ikut. Apakah kau sudah menanyakannya?" tanya Tina dengan seragam sekolah menggendong sebuah tas berwarna merah muda.


"Ha? Adikku bilang begitu? Mm, aku akan lihat dulu seperti apa permainannya. Jika tak sulit, aku akan mengajak Tina. Adikku itu sedikit penakut. Hem, jika bisa berubah wujud, mungkin ... jadikan saja dia manusia serigala. Aku yakin, dia bisa melindungi diri dengan wujud menyeramkannya itu. Hehe," kekeh Timo yang membuat Tina melongo.


Timo mengedipkan mata seperti lupa dengan hal yang barusan ia dengar.


"Kalau pesertanya cowok semua Bara gak mau ikutan. Iya gak, Ngga?" ucap Bara yang terlihat asyik menikmati mi ayam dengan Rangga di sebelahnya.


"Iya dong. Cewek-cewek cakep itu penting buat menyegarkan mata ditengah beratnya misi yang dijalankan. Terlebih kalau bisa, musuhnya cantik juga. Games online aja musuh ceweknya seksi-seksi dan bohay. Masa yang katanya mirip games sungguhan gak ada begituannya. Gak seru," sahut Rangga seraya mengunyah mi ayam di mulutnya.


PLAK!


"Aduh!" keluh Bara dan Rangga saat kepala mereka dipukul oleh Gibson yang menunjukkan wajah sebal.


"Hem, karena permintaan kalian, aku dan Timo nyaris mati karena diserang oleh para duyung!" gerutu Gibson kesal, tapi dua remaja yang tinggal di Indonesia itu hanya tersenyum kaku terlihat tak bersalah.


Ternyata, tayangan itu seperti rekaman yang berisi kesaksian mereka dari pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan oleh seseorang termasuk Czar, Laika, Azumi, Harun, Mandarin dan lainnya.


Tiba-tiba, tayangan itu lenyap berikut portal tersebut. Semua anak saling memandang terlihat bingung. Hingga Gibson melangkah maju dan kini menghadap ke arah kawan-kawannya.


"Kita yang meminta permianan ini, Kawan-kawan. Dan Oag, mewujudkannya," ucap Gibson terlihat pucat.


Praktis, anak-anak terlihat takut saat melihat wilayah luas di sekitar mereka di mana musuh-musuh yang menanti adalah para monster buas menyeramkan.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2