
Anak-anak yang lolos di level 6 keluar dari portal dan memasuki level 7. Wajah tegang tampak jelas saat mereka berada di suatu tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
Kengerian tampak nyata karena danau di depan mereka begitu suram, gelap, dan menakutkan. Tempat itu hanya diterangi cahaya bulan yang sinarnya menyelinap di antara pepohonan di sekitar.
"Apa yang akan kita lakukan di level ini?" tanya Boas seraya melihat sekeliling.
Tiba-tiba, genangan air di depan mereka membentuk sebuah tulisan seperti instruksi misi.
Boas dan lainnya segera melangkah mundur saat cahaya warna ungu mulai terpancar ketika tulisan tersebut digoreskan.
"Selamat datang di level 7. Instruksi misi. Kalian akan memasuki gerbang Hades untuk mencari rantai perak. Gunakan rantai itu untuk menenangkan Cerberus," guman anak-anak saat membaca tulisan bercahaya tersebut.
"What?! Cerberus? Si anjing berkepala tiga?!" pekik Lazarus langsung melotot.
Praktis, wajah semua anak langsung pucat. Ditambah, muncul sebuah tampilan di genangan air tersebut sosok Cerberus yang dipasangkan rantai pada leher di tiga kepalanya.
Azumi dan Ryan langsung ambruk terlihat lemas melihat kengerian tersebut.
"Bebaskan sepuluh jenis makhluk Mitologi yang terkurung dalam penjara Hades seperti Sphinx, Satyr, Chimera, Cyclops, Harpy, Cockatrice, Argus, Kappa, Siren dan Lembuswana. Para peserta permainan yang berhasil memasangkan kalung pada Cerberus dan membebaskan sepuluh makhluk Mitologi akan mendapatkan hadiah misi bertemu dengan Oag. Selamat berjuang."
"Ini bukan misi penyelamatan, tapi bunuh diri," ucap Mandarin langsung duduk dengan lemas di sebuah batu besar tepi danau.
"10 makhluk dan tiga kalung besi? Bukankah ... itu hanya 13 anak saja? Sedang jumlah kita ada 17. Bagaimana dengan sisanya?" tanya Nicolas bingung.
Kembali, anak-anak dibuat panik akan hal tersebut.
"Apakah empat dari kita akan mati? Oag kejam sekali!" seru Vadim marah.
Para remaja itu terlihat mulai mengutarakan perasaan terpendam selama berada di Planet Mitologi menjalankan misi.
Anak-anak itu tampak tertekan, marah, dan putus harapan karena misi yang diberikan hampir mustahil dilakukan seperti sebelum-sebelumnya.
Jubaedah, Azumi dan Laika menangis. Mereka seperti tak yakin jika bisa menghadapi kesulitan di level 7 ini, termasuk anak-anak lelaki yang lain.
"Harus ada yang lolos dan melanjutkan misi! Harus ada yang kembali ke Bumi!" seru Bara.
"Jika ketiga belas dari kita berhasil menemui Oag, bisakah meminta padanya untuk menghidupkan kawan-kawan kita yang mati?" tanya Timo mulai terpikirkan ide gila.
"Itu tak mungkin! Mana bisa yang mati hidup lagi?" sahut Rangga bersikap realistis.
__ADS_1
"Inikan planetnya. Selain itu, Juby pernah menceritakan tentang mimpinya. Aku percaya dengan mimpinya itu!" seru Timo antusias.
Jubaedah hanya bisa diam terlihat tertekan seperti tak bisa berpikir. Saat semua anak dirundung kepanikan, tiba-tiba saja terlihat sosok yang muncul di tepi danau.
Orang itu memakai pakaian serba hitam dan tongkat pada ujung seperti sebuah sabit runcing terlihat tajam mematikan.
Praktis, mata anak-anak melotot dan langsung melangkah mundur menjauh. Sosok itu tak menunjukkan wajahnya, tapi seperti bisa melihat para remaja yang sedang menatapnya tajam.
"Aku akan mengantarkan kalian menyeberang ke gerbang Hades," ucapnya dengan suara besar menyeramkan yang membuat bulu kuduk meremang.
"Mm, bisa gak kalau perginya besok aja gitu? Kita masih capek mau istirahat dulu," ucap Jubaedah gugup seraya memegang tangan Rex erat.
Namun, WHOOM!
"AAAA!" teriak Azumi dan lainnya saat tubuh orang itu berkobar dalam nyala api yang menyilaukan mata.
Semua anak ketakutan saat orang itu mengulurkan tangannya yang berwarna hitam dengan kuku tajam membuat suasana seram makin mengerikan.
Ditambah, matanya merah menyala seperti kobaran api yang siap membakar mangsa.
"Naik," ucapnya saat sebuah perahu kayu bergerak dengan sendirinya merapat ke tepian danau yang diyakini oleh anak-anak akan mengangkut mereka.
Kobaran api pada sosok hitam itu meredup dan kembali seperti semula. Orang itu seperti tak memiliki kaki karena terbang melayang saat menaiki perahu.
Jubaedah dan lainnya duduk saling berdempetan karena takut. Orang itu berdiri pada ujung bagian depan perahu seraya memegang senjata besar layaknya malaikat kematian pada kisah dongeng.
Perahu bergerak dengan sendirinya menyusuri danau menuju ke tengah. Anak-anak yang penasaran dengan air danau karena berwarna hitam dan tak terlihat dasarnya itu mencoba mengintip, dan seketika mata mereka melotot.
"AAAA! Ada yang mati di danau itu!" teriak Harun panik.
"Ya, ini adalah danau kematian. Jangan sampai tercebur atau kalian akan bernasib sama seperti mayat-mayat itu," ucap sosok berpakaian hitam tersebut.
Jubaedah menangis yang membuat beberapa anak lainnya makin ketakutan hingga tubuh mereka gemetaran. Timo bahkan sampai pucat dan tak berani melihat apalagi menyentuh air danau tersebut.
Perahu itu berjalan begitu lambat sehingga membuat rasa takut semakin memuncak karena terlihat mayat-mayat dari makhluk-makhluk Mitologi terapung di sekitar perahu.
"Ini lebih mengerikan dari mimpi buruk," ucap Kenta seperti akan menangis.
Anak-anak hanya bisa memejamkan mata dan saling berpelukan. Mereka berharap agar hal ini segera berakhir.
__ADS_1
Hingga akhirnya, muncul sebuah tengkorak besar dari bawah air dengan mulut yang menganga lebar dan gigi runcing seperti monster jaman kuno.
Kembali, anak-anak dibuat melotot dengan jantung seperti berhenti berdetak dan napas tercekat saat memasuki gua tengkorak yang gelap itu.
Arus sungai mulai terasa sedikit deras. Hingga tiba-tiba, "AAAA!" teriak semua anak histeris ketika perahu tersebut meluncur dengan cepat ke bawah seperti prosotan air.
Kengerian bertambah ketika perahu memasuki sungai lava, tapi ternyata tak membakar perahu hitam tersebut.
Jubaedah dan lainnya menangis bahkan para lelaki karena tak bisa menutupi rasa takut mereka akan tempat horor tersebut.
"Udah, udah, Bara gak sanggup lagi. Ini lebih ngeri dari rumah horor. Udah, Pak," ucap Bara dengan air mata bercucuran seraya memeluk Rangga sahabat karibnya.
Sosok hitam tak dikenal itu hanya diam saja ketika perahu yang ditumpanginya terus melaju melewati sungai lava dengan kepulan asap dan buih-buih besar meletup mengeluarkan gas panas yang terasa seperti membakar tubuh.
"Rangga gak siap masuk neraka. Maafin salah Rangga, Tuhan, please," ucap Rangga ikut menangis tak peduli dirinya nanti akan dicemooh oleh kawan-kawannya atau tidak.
Gibson sampai berlinang air mata termasuk Lazarus. Terlihat jelas, dua lelaki itu pucat pasi dan tubuh berkeringat hebat melihat sekitar.
"Sudah sampai," ucap sosok hitam itu saat ia melayang turun dari perahu dan berdiri pada sebuah batu besar di tengah sungai lava yang siap membunuh. Namun, anak-anak yang shock malah terdiam dengan wajah tergenang air mata. "Turun, dan naiklah ke batu ini," sambung sosok itu.
"Ka-kakiku terasa kaku tak bisa bergerak," jawab Laika hingga tergagap.
"Turun atau kalian akan tenggelam dalam sungai lava karena perahu itu sebentar lagi karam," ucapnya yang membuat mata semua anak melotot.
Seketika, anak-anak itu bergegas turun satu per satu meski terlihat kesulitan bahkan Timo sampai merangkak karena tubuhnya kaku.
Rex yang sudah turun lebih dahulu membantu kawan-kawannya dengan menggapai tangan mereka. Czar sampai tak bisa berdiri karena kakinya bergetar dan berkeringat dingin.
Namun pada akhirnya, semua anak berhasil turun dari perahu dan berdiri di atas batu besar berbentuk datar itu.
Benar saja, perahu hitam itu tiba-tiba tenggelam ke dalam sungai lava dan berkobar dalam api yang dahsyat.
"Bersiaplah," ucap sosok itu yang membuat lutut semua anak lemas seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya. Lele padamu❤️