MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
DIA TAHU SEMUANYA!


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Keesokkan harinya. Anak-anak sepakat untuk menguji dengan keluar dari lorong tanpa membawa buruan seperti instruksi misi.


Mereka ragu, makhluk yang belum tertangkap sisanya masih berada di tempat itu atau tidak. Mereka ingin mencoba peruntungan di lorong terakhir dengan meninggalkan wilayah sekarang.


Gibson tampak ragu saat akan melangkah ke pintu keluar. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan gugup.


Namun tiba-tiba, "Woah!" kejut semua anak ketika sosok hitam muncul.


Gibson langsung melangkah mundur seraya memegangi dadanya karena kaget. Sosok hitam itu melayang dan seperti menatap anak-anak tajam.


"Kenta, Gibson, Harun, dan Timo, kalian dianggap curang oleh Oag karena mengakali permainan dengan memasang kalung ke leher Cerberus berdua," ucapnya tiba-tiba yang mengejutkan semua anak.


"Cu-curang?" tanya Timo tergagap.


"Satu makhluk yang ditangkap hanya untuk satu peserta, tidak bisa digabungkan. Kalian tidak bisa keluar dari lorong ini tanpa tahanan. Terkecuali untuk Cerberus yang memiliki tiga kepala. Rex dianggap lulus. Putuskan dua sisanya," jawab sosok hitam yang membuat semua anak panik seketika.


"Kau sama saja menyumpahi salah satu dari kami tewas karena hanya 13 anak yang lolos!" teriak Harun marah.


Namun, sosok hitam seperti tak peduli pada keluhan para remaja itu. Ia berpaling dan menghilang begitu saja usai menyampaikan pesan.


"Hei, jangan pergi!" teriak Kenta marah dan berjalan gusar menuju pintu lorong.


Akan tetapi, DUAKK!!


"Argh!" erang Kenta saat tubuhnya menghantam dinding tak terlihat sehingga ia terpental.


Semua anak terkejut dan langsung mendatangi kakak Azumi itu.


"Kenta! Kau tak apa?" tanya Ryan cemas.


"Agh, sial! Bagaimana sekarang? Kita sudah sepakat dengan nama-nama yang akan maju saat menyerahkan tahanan yang tersisa. Jika begini, sama saja mengorbankan nama terakhir!" jawab Kenta marah yang memilih untuk tetap duduk di lantai batu.


Semua anak saling diam dan berpandangan. Mereka terlihat memikirkan hal ini dengan serius.


"Tak apa. Jika memang demikian, aku rela menjadi nama terakhir," ucap Gibson tiba-tiba yang mengejutkan semua anak.


"Kau mengorbankan dirimu? Jangan gila, Gib!" seru Lazarus tidak sependapat.


"Lalu harus bagaimana?!" jawabnya balas berteriak.


Anak-anak tampak kesal. Mereka bingung membuat keputusan. Semangat mereka luntur begitu saja usai mendengar kabar buruk dari sosok hitam.


"Heh! Dasar payah!" sindir seseorang dari kejauhan.


Praktis, para remaja tampan itu langsung menoleh ke asal suara.

__ADS_1


"Sa-Satyr?" panggil Bara dengan mata melotot.


"Mental kalian benar-benar payah. Hanya begitu saja sudah patah semangat. Menggelikan," hujatnya lagi.


"Jika tak bisa memberikan solusi sebaiknya kau pergi saja! Kenapa kau kembali lagi?" tanya Mandarin kesal.


"Aku penasaran dengan hasil akhir dari misi kalian," jawabnya santai seraya duduk di atas batang pohon dan mengayunkan dua kaki kambingnya. Semua anak menatapnya lekat. "Berapa jumlah makhluk mitologi yang harus kalian tangkap? Kudengar Rex dianggap lolos karena berhasil memasang kalung pada satu leher Cerberus. Dengan demikian, diantara Kenta, Gibson, Timo dan Harun, hanya dua yang dianggap lolos oleh Oag. Sisanya, harus menangkap makhluk mitologi dalam daftar," sambungnya yang membuat kening anak-anak berkerut.


"Lanjutkan," pinta Gibson kembali serius.


Satyr tersenyum miring seraya menyuapi mulutnya dengan anggur.


"Hitung saja jumlah kalian sekarang ada berapa. Dikurangi dengan total makhluk mitologi yang harus ditangkap untuk mengetahui berapa dari kalian yang tersisa," ucapnya seperti memberikan petunjuk.


Ryan dengan sigap membuka bukunya. Ia sudah mencatat semua nama teman-temannya yang lolos termasuk Azumi. Semua anak menatap Ryan lekat yang kini berwajah serius.


"Oh, catatanku menulis, jika jumlah makhluk mitologi yang harus ditangkap, ditambah dengan Cerberus kepala tiga, total semuanya ada 13. Ini tepat sesuai instruksi misi yang hanya meloloskan 13 anak saja," jawabnya seraya membacakan. Semua anak terlihat tegang, tapi mengangguk paham. "Lalu ... jumlah makhluk mitologi kecuali Cerberus yang harus ditangkap berjumlah 10. Nah, dari 10 makhluk sudah 6 yang tertangkap, termasuk Azumi. Jadi, kurang 4 lagi yakni Siren, Cyclops, Chimera, dan Spinx," sambungnya menjabarkan.


"Lalu, jumlah kita ada ...," ucap Bara menggantung seraya melakukan perhitungan dengan menunjuk kawan-kawan lelakinya yang berdiri mengelilingi.


Wajah semua anak tampak kaku. Bibir bergerak ikut menghitung anggota dalam satu kelompok itu. Hingga akhirnya, Ryan dan lainnya saling bertatapan terlihat pucat sembari melirik Gibson.


"Sudah kubilang, aku tak apa. Aku sudah meninggalkan pesan pada kalian dan juga ilmu yang kupelajari selama ini. Keluarga ayahku percaya dengan reinkarnasi. Jadi ... kematian itu hanya sebuah awal bukan akhir. Jangan merasa bersalah," ucap Gibson dengan wajah sendu.


"Hiks, Gibson," ucap Vadim langsung meneteskan air mata.


Gibson dipeluk oleh kawan-kawannya di mana kali ini, pemimpin mereka itu merelakan dirinya untuk dikorbankan agar lainnya lolos.


Semua anak menangis terisak karena harus kehilangan sosok teman yang dianggap paling bijak diantara yang lain.


"Ingat hadiah yang diminta jika salah satu dari kalian nanti berhasil," ucap Gibson seraya menepuk punggung kawannya satu per satu dengan air mata ikut menetes meski berusaha untuk tetap tegar.


"Ya, kami berjanji, Gib," jawab Boas dengan mata berlinang.


Gibson tersenyum dan segera menghapus air matanya agar kawan-kawan tak terlarut dalam kesedihan. Satyr diam saja duduk di batang pohon seraya mengamati anak-anak itu dalam diam.


"Tinggal empat lagi. Kuyakin kalian semua bisa lolos dalam misi ini. Meski aku baru mengenal kalian sebentar, tapi aku sudah lihat kemampuan dan cara kerja masing-masing. Kuncinya hanya satu, kerjasama tim," ucap Satyr seraya memasukkan anggur dalam tas topi pemberian Azumi.


Gibson dan lainnya menatap manusia setengah kambing itu lekat. Mereka mengangguk setuju dengan ucapan Satyr tersebut. Tiba-tiba, Satyr berdiri. Ia menunjuk sebuah arah entah menuju ke mana.


"Di sana tempat Chimera berada. Dia sangat buas. Jika menurut kisah di Bumi makhluk itu tewas karena dibunuh oleh Bellerofon sambil menunggangi Pegasus, di sini sepertinya tidak berlaku. Chimera mirip seperti Cerberus yang ditugaskan untuk menjaga pintu penjara Hades menuju ke sebuah lorong entah mengarah ke mana. Dulu, pemberontakan terjadi karena para makhluk mitologi kabur melalui celah itu setelah mengalahkan Chimera. Makhluk itu tewas, tapi kemudian Oag menciptakannya lagi entah bagaimana caranya. Kini, Chimera lebih mengerikan ketimbang sebelumnya dan, belum ada yang mengalahkannya," tegas Satyr yang membuat semua anak diam mematung seketika.


"Ah, begitu," jawab Ryan lesu.


"Saranku, kalian tangkap yang lainnya dulu. Chimera opsi terakhir daripada kalian semua tewas melawannya nanti," ucapnya santai.


"Lalu ... siapa yang kausarankan?" tanya Gibson serius.

__ADS_1


"Jika diantara kalian ada yang hebat dalam permainan teka-teki, lawanlah Sphinx. Jika tidak, opsi ketiga," jawab Satyr seraya menyilangkan kedua tangan depan dada.


"Aku buruk dalam menebak. Skip," jawab Bara malas.


"Aku tak mau mati konyol dengan membuat otakku berpikir keras akan pertanyaan aneh yang bahkan, hanya si pemberi pertanyaan yang tahu jawabannya. Bagiku itu sedikit tidak adil dan tidak transparan," sahut Lazarus, dan diangguki anak-anak yang setuju dengan pendapatnya.


"Oke. Kalau begitu lawanlah Cyclops. Kurasa kalian tak masalah melawan raksasa mengingat Argus saja berhasil kalian tumbangkan," jawab Satyr seraya mengangguk-anggukan kepala.


"Cyclops yang memiliki satu mata di dahi itu 'kan?" tanya Czar memastikan, dan Satyr mengangguk.


"Katakan pada kami kejahatannya," pinta Lazarus.


"Dia melawan para dewa saat ditarik kembali ke planet mitologi. Meskipun Cyclops berjasa karena membuat senjata untuk para dewa, tapi ternyata dia membuat senjata serupa ketika berada di planet ini. Dia menciptakan beberapa senjata lalu diberikan kepada para makhluk mitologi pemberontak untuk melawan Oag setelah tahu para dewa tiada. Dan, begitulah. Oag marah dan mengeksekusi Cyclops ke Tartarus. Namun hebatnya, Cyclops bisa lolos sebelum ia dilemparkan. Ia kabur dan masuk ke penjara ini. Oag membiarkannya mendekam meski keberadaannya dianggap ancaman. Mungkin, masa hukuman Cyclops sudah berakhir, jadi ... Oag ingin sosok hitam yang mengeksekusinya," jawab Satyr panjang lebar yang membuat anak-anak melongo.


"Jadi ... kita tangkap Cyclops? Begitu saranmu?" tanya Nicolas memastikan.


"Hem. Aku sudah lama tak melihatnya, tapi kabar terakhir yang kudengar, ia bersembunyi di gua dan selalu berpindah agar tak ditemukan. Konon katanya, ia masih membuat senjata. Jadi ... berhati-hatilah karena senjata buatannya memang sangat hebat," tegas Satyr, tapi penuturannya membuat anak-anak tertekan dan mendadak merasakan sakit kepala.


"Kenapa empat yang tersisa begitu sulit," gerutu Bara seraya menggaruk kepala hingga rambutnya berantakan.


"Bagaimana dengan Siren? Aku tak melihat ada laut di sini," tanya Timo heran.


"Ah ... sepertinya rumor yang kudengar jika para manusia tak bisa membedakan antara Siren dan Mermaid itu benar. Kau pasti berpikir jika Siren itu duyung sepertimu 'kan?" tanya Satyr seraya menunjuk Timo.


"Oh! Bukan? Lalu ... Siren itu apa?" tanya Timo terkejut. Satyr terkekeh.


"Siren adalah makhluk berwujud setengah wanita setengah burung yang menyanyikan lagu pada para pelaut yang melintasi wilayah mereka ketika di Bumi. Manusia yang mendengar nyanyian mereka akan menjadi tidak sadarkan diri. Kisahnya, para pelaut sampai menabrakkan kapal ke batu karang dan menenggelamkan diri ke laut karena terlena dengan nyanyiannya. Mereka selalu bergerombol seperti Mermaid. Dua jenis makhluk ini berteman akrab. Oleh karena itu, Oag memisahkan mereka. Siren menguasai udara, dan Mermaid menguasai lautan dengan kemampuan yang sama. Bernyanyi," jawab Satyr kembali menjelaskan.


"Wah, kau tahu banyak. Mungkin sosoknya hampir mirip dengan Harpy?" tebak Lazarus, dan Satyr mengangguk.


"Bedanya, Harpy menjadi jelek dan buruk rupa ketika malam datang, sedang Siren tidak. Kalian bisa membedakannya saat cahaya bulan menyinari wilayah mereka. Biasanya Siren tetap bernyanyi," ucap Satyr.


"Kalau begitu, Siren dulu saja. Bagaimana?" saran Vadim.


"Kau yakin? Bagaimana jika kau terkena dampak nyanyiannya?" tanya Rangga tak yakin.


"Kita sumpal telinga saja," jawab Vadim yakin, tapi Satyr tertawa terbahak.


"Kalian dengar suara serulingku saja tidak bisa menahan gejolaknya, apalagi nyanyian Siren. Kalian para kaum Adam pasti akan terjebak dalam pesonanya. Oleh karena itu, aku tak pernah mau dekat-dekat ke wilayah mereka atau dimangsa. Aku masih ingin hidup lama di penjara menyebalkan ini," sahut Satyr.


Kembali, anak-anak dibuat pusing dengan pilihan yang bagi mereka semuanya sulit. Mereka bingung, makhluk mana dulu yang harus ditangkap mengingat kemampuan para makhluk mitologi tersebut sulit untuk dilawan. Satyr hanya terkekeh melihat anak-anak itu cemberut.


***



uhuy makasih tipsnya diriku😆oia, novel The Ghost Writer udah publish ya. Kuy segera difavoritkan. Estimasi pengerjaan paling lama 2 bulan dan kali ini pure di Indonesia gak menjelajah ke luar negeri😆 ditunggu dukungannya. Lele padamu❤️

__ADS_1



__ADS_2