MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
KOTAK ANEH*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Di tempat para remaja yang kini menjadi layaknya kesatria Mitologi.


Selama seharian hingga petang menjelang, mereka terus menguji kemampuan. Anak-anak itu mulai bisa mengendalikan diri dan juga beradaptasi dengan wujud baru serta menggunakan perlengkapan tempur yang diberikan Oag sebagai hadiah misi level 9.


TRANG!


Suara dua besi bergesekan dari senjata Trisula antara Timo dan Ryan terdengar begitu mengusik pendengaran. Dua remaja itu yang kini dalam wujud setengah manusia setengah makhluk Mitologi, sedang melakukan pertandingan untuk menguji kemampuan sebelum bertempur melawan musuh terakhir, Leviathan. Kali ini, anak-anak lebih bersiap tak ingin gegabah mengingat monster tersebut bukan lawan yang dianggap remeh. Meski mereka sudah tahu tentang rahasia permainan Maniac, alasan berada di tempat tersebut dan hal lainnya, anak-anak sudah sepakat untuk tetap berjuang hingga akhir dan biarlah hasil yang menentukan kalah atau menang.


"Heyah!" seru Timo saat ia mengetahui jika memiliki kemampuan mengubah zat yang mengandung air di dalam sebuah benda untuk menjadi senjata. "Ha!"


JLEB! JLEB! JLEB!


"Woah!" seru anak-anak ketika diadakan pertandingan satu lawan satu secara acak menggunakan undian kertas dari buku Ryan.


Timo meluncurkan serangan kerucut es ke tubuh Tuan Pohon Ryan. Namun, serangan itu terlihat oleh manusia setengah pohon tersebut. Ryan menggunakan dua tangannya yang berubah menjadi kayu kokoh untuk menjadi perisai bagi tubuhnya.


"Oh ... kau berhasil menghalau seranganku ya? Baiklah, bagaimana dengan yang ini!" seru Timo yang kini menggunakan Trisula untuk melipat gandakan kemampuan mengubah airnya.


"Eh, eh," kejut Azumi saat merasakan jika salju di sekitarnya seperti tertarik oleh Trisula milik Timo yang menyala terang.


Semua anak tampak waspada ketika kumpulan salju itu kini berubah menjadi seperti pusaran angin topan yang besar. Pusaran itu terus menggulung dirinya tepat di belakang Timo, siap untuk menghempaskan lawan. Mulut Ryan menganga lebar hingga kepalanya mendongak karena terpaku dengan kekuatan dahsyat Timo yang tak disangka.


"Heyah!" seru Timo mengarahkan Trisula miliknya ke tubuh Tuan Pohon.


"Arghhh!" erang Ryan yang terhempas lalu tersedot dalam pusaran salju besar itu.


Semua anak dibuat kagum akan kedahsyatan kekuatan Timo dalam wujud Mermaid. Ryan terpontang-panting dalam pusaran sampai tak bisa berkutik. Ia terus berputar-putar dalam pusaran angin berbentuk seperti kerucut terbalik itu. Hingga akhirnya, Ryan terlempar dan putaran itu menghilang.


"AAAA!"


BRUKK!


"Ryan!" seru Czar panik karena Ryan jatuh dengan keras.


"Hah, hah," engahnya saat berusaha bangkit dalam posisi tengkurap.


"Timo keren!" seru Tina, dan semua anak bertepuk tangan karena tak menyangka dengan kemampuan Mermaid tersebut.


"Aduh, Juby kok malah yang risih ya. Itu kalau BH si Timo melorot gimana?" tanya Jubaedah miris, dan para gadis di sekitarnya mengangguk sependapat.


Para perempuan cantik itu malah memegangi dada mereka dan membayangkan benda itu satu-satunya pakaian yang dikenakan. Sedang para remaja pria tersipu malu. Mereka terlihat canggung karena tangan gadis-gadis itu menutup bongkahan yang masih menjadi bukit belum tumbuh sempurna seperti gunung.

__ADS_1


"Nah, kan, kan. Mesum deh," sindir Bara, dan beberapa lelaki langsung memalingkan wajah karena salah tingkah. Gibson menahan tawa melihat sikap unik kawan-kawannya.


Saat Timo merasa bangga dengan kemampuan barunya dan berhasil mengalahkan Ryan, tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh seperti gempa bumi. Anak-anak kembali dibuat panik. Timo melihat ke permukaan tanah di mana salju dan kerikil di sekitarnya bergerak karena getaran hebat di bawah.


Seketika, KRAK!


"Argh!"


KLANG!


Trisula Timo terlepas dari genggaman karena serangan tak terduga. Timo mengerang saat tak menyadari jika Ryan yang dalam posisi masih bersujud, ternyata menyembunyikan dua tangan kayunya dalam tumpukan salju.


Jari-jari Ryan berubah menjadi akar dan terus menggali tanah sampai ke tempat Mermaid itu berada. Ryan yang berpura-pura kalah diam-diam melakukan serangan dari bawah tanah. Saat Timo lengah, akar-akar kokoh itu langsung keluar dari dalam tanah tepat di bawahnya. Lilitan akar memenjarakan tubuh Timo hingga membuat pemuda itu terhimpit tak bisa bergerak.


"Hahaha! Aku yang menang, Timo! Maaf ya," ucap Ryan meledek seraya bangun perlahan dan juluran akar dalam tanah perlahan muncul ke permukaan.


"Woah! Panjang sekali!" seru Pasha kagum, dan diangguki teman-teman yang sependapat dengannya.


"Baiklah! Pemenang kali ini adalah Ryan! Timo menjatuhkan Trisula-nya dan itu dianggap kalah!" seru Gibson selaku wasit pertandingan.


"Kau hebat, Ryan! Kau juga, Timo!" seru Laika memberikan dukungan kepada dua teman lelakinya.


Timo dan Ryan terkekeh. Keduanya tak saling berselisih. Malah, dua remaja itu menaruh kekaguman akan kemampuan lawan. Anak-anak lain yang menjadi penonton memberikan tepuk tangan meriah bagi dua kawan mereka yang bertanding sebagai penutup uji coba kemampuan hari itu.


"Harus ada dari kita yang menang. Aku tak takut mati karena kuyakin akan dibangkitkan kembali," ucap Rex mantap seraya melemparkan ranting pohon yang diberikan oleh Ryan dari tubuhnya untuk digunakan sebagai bahan api unggun.


"Hem, Juby setuju. Kita kali ini jangan sampai kalah. Juby yakin jika Leviathan memiliki kelemahan. Gak ada makhluk abadi kecuali Tuhan dan yang Dia tunjuk. Dewa saja yang katanya abadi buktinya bisa mati," timpal Jubaedah seraya menikmati bekal pemberian Rex atas hadiah misi sebelumnya.


"Hah, aku merindukan omelan ibuku. Aku rindu masakannya. Mendengar Ayah dan Ibu bertengkar, serta pelajaran sekolah yang membosankan. Pasti tak akan ada keseruan dan tantangan lagi seperti yang kita lakukan di Planet ini. Namun, aku yakin, pasti di Bumi ada hal-hal menarik yang belum kucoba untuk memicu adrenalinku," ucap Nicolas sembari merebahkan diri di bibir gua dan melihat ke arah langit yang dipenuhi aurora.


"Kau benar, Nico. Oleh karena itu, karena misi level 10 adalah yang terakhir dan sebagai penutup petualangan kita. Besok, kita harus mati-matian seolah tak ada tantangan mencekam lagi yang dihadapi setelahnya," sahut Harun seraya melihat dua tangannya yang besar mirip gorila.


Semua anak terdiam, tapi satu pemikiran. Mereka menikmati bekal dalam kesunyian malam hingga satu per satu memilih untuk tidur agar esok hari siap untuk bertempur. Tak ada yang berjaga malam itu seperti sebelum-sebelumnya. Ryan menutup pintu gua dengan membuat pagar kayu berlapis untuk mengamankan kelompoknya menggunakan kemampuan Tuan Pohon. Api unggun di tengah anak-anak yang mengelilinginya, menjadi penerang dan penghangat di malam dingin bersalju.


Keesokan harinya.


Anak-anak yang sudah sarapan dan bersiap, bergegas untuk meninggalkan gua. Meski mereka belum diberikan petunjuk oleh Oag di mana lokasi Leviathan, tapi Gibson meminta mereka untuk menjelajah sekaligus menguji kemampuan terbang. Siapa sangka, wilayah yang mereka lewati sangat sepi dan sunyi. Tak terlihat makhluk Mitologi lain di sekitar saat mereka terbang melintas. Azumi menggunakan kemampuan dari tanduk Unicorn untuk membawa teman-temannya terbang. Azumi yang sudah bisa mengendalikan kekuatannya, bahkan bisa membawa 9 orang sekaligus termasuk dirinya saat terbang.


"Oh, lihat! Ada gereja!" seru Boas ketika melihat ada bangunan tua di atas bukit bersalju.


"Selidiki?" tanya Rangga menatap Gibson lekat.


Pemimpin kelompok menyipitkan mata, tapi pada akhirnya mengangguk. Mereka mencoba mengelilingi bangunan itu sebelum memasukinya.

__ADS_1



"Oh!" pekik Tina yang membuat semua anak langsung menoleh ke arahnya ketika mendarat.


"Ada apa, Tina?" tanya Lazarus penasaran.


"Aku merasakan ada makhluk di dalam sana. Hanya saja, aku tak tahu dia kawan atau lawan," jawabnya dengan hidung mengendus.


"Hem, waspada. Kepung bangunan ini dari semua sisi. Aku akan masuk," titah Gibson yang menjadikan dirinya seperti tumbal.


Namun, anak-anak tak ada yang melarang. Mereka bersiap di beberapa sudut. Anak-anak yang memiliki kemampuan terbang memilih untuk mengintai dari celah bangunan seperti jendela yang terbuka. Gibson mendorong pintu kayu tersebut perlahan. Mandarin dan Tina yang melindungi Gibson di belakang terlihat siap jika mendapat serangan.


CEKLEK! NGEK ....


"Hem?" kejut Gibson saat mendapati sebuah kubus yang diletakkan di atas sebuah meja.



"Bau makhluk itu hilang. Bagaimana bisa?" ucap Tina bingung seraya mengendus.


Gibson yang mendengar hal itu diam. Matanya kini tertuju pada sebuah kotak terbuat dari besi, tapi memiliki ukiran menarik pada sisi-sisinya. Gibson melangkah masuk seraya memindai sekitar dengan lirikan mata tajam penuh kewaspadaan. Tina dan Mandarin melangkah masuk. Mereka dengan sigap mengamankan ruangan tersebut. Gibson mengambil kubus itu dengan hati-hati lalu mengamatinya.


"Apa itu, Gib?" tanya Mandarin penasaran.


"Entahlah. Namun, aku rasa ini seperti sengaja ditinggalkan untuk kita. Mungkin ... sebuah teka-teki?" jawabnya lalu memegang kubus itu dengan dua tangan.


"Di luar aman! Bagaimana dengan kalian?" tanya Kenta seraya melongok dari jendela yang terbuka.


"Bau dari makhluk itu sudah lenyap! Sepertinya, dia sudah pergi entah bagaimana caranya!" jawab Tina lantang yang keluar dan kini berdiri di depan pintu.


Para kesatria kemudian berkumpul untuk mencari tahu dari temuan Gibson di bangunan aneh tersebut. Mata mereka terkunci pada benda kubus yang kini dipegang oleh Gibson dan sedang diotak-atiknya seperti sebuah rubik.


Tiba-tiba, KLEK!


"Woah!" seru anak-anak terkejut ketika Gibson seperti menemukan kecocokan dari motif kubus tersebut dan muncul pintu ajaib di depan mereka.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Brankas koin abis. Adeh, belom rekaman lagi😩 Adakah yg mau sedekah😁 Otw tamat nih 7 hari lagi biar eke cemangat gitu. kwkwkw. Jangan lupa vote vocernya ya. Udah senin nih😘 smg gak ada typo. ngantuk parah krn setor jam 2 pagi😆

__ADS_1


__ADS_2