
Entah sudah berapa lama mereka berada di Planet Mitologi demi menyelesaikan misi. Namun, hal tak terduga terjadi di Bumi di mana beberapa orang dewasa sudah dibangunkan.
Para orang tua itu dibuat kebingungan mencari tahu penyebab manusia lainnya pingsan tak sadarkan diri dan anak-anak menghilang.
Akhirnya, para orang tua berkumpul di satu tempat, Filipina, laboratorium milik Profesor Jeremy untuk menguak kejadian aneh ini.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Buat apa darah mereka, Jer?" tanya Biawak Putih saat melihat sang profesor mengambil sampel darah milik sang isteri yang mengalami mati suri dan tak diketahui penyebabnya.
"Untuk mencari tahu, bagaimana mereka bisa tetap hidup tanpa penunjang? Semua makhluk hidup, pasti butuh makanan dan nutrisi untuk hidupnya. Sedang lihat, para manusia yang kita temukan tergeletak di beberapa tempat seperti orang pingsan dan masih hidup. Ini aneh, tapi juga sebuah temuan ajaib," jawab Jeremy antusias.
"Namun, lihatlah. Hanya manusia saja yang tak sadarkan diri. Sedang para binatang tetap hidup," ucap James saat melihat kupu-kupu berterbangan di taman bunga. "Sisi positifnya, udara terasa begitu bersih tanpa adanya polusi," imbuhnya seraya melihat keluar jendela di mana langit terlihat begitu cerah dan biru, tak buram seperti ketika hiruk-pikuk kegiatan para manusia terjadi.
Semua orang mengangguk setuju akan hal tersebut.
"Namun, sepi. Seolah tak ada kehidupan karena hanya segelintir orang yang siuman," sahut Daniel
"Baiklah, aku akan memeriksanya. Selain itu, tabung yang entah berasal dari mana ini memberikanku ide untuk menciptakan generasi baru dari tabung buatan Kai sebelumnya," ucap Jeremy seraya melihat sebuah tabung yang melayang di atas permukaan tanah dengan bayi milik Sandara Liu berada di dalamnya.
"Tabung ini juga tak memiliki sistem keamanan seperti ciptaan Kai, tapi tak bisa dibuka. Selain itu, lihatlah. Ada sistem seperti sirkulasi udara tanpa harus memakai masker oksigen. Dia masih hidup tanpa diberikan makanan," imbuh Eiji seraya melihat bayi lelaki tersebut.
"Untuk itulah aku akan mencari tahu dari hasil tes darah ini. Namun, bersabarlah," jawab Jeremy tenang lalu pamit mohon diri untuk masuk ke ruangan khusus berdinding kaca di mana hanya dia seorang yang memiliki akses untuk menggunakannya.
Semua orang mengangguk paham dan tak berani mengusik sang profesor karena tampak begitu antusias untuk menguak hal aneh ini.
"Terus, kita ngapain dong? Bengong gitu dalam ketidaktahuan?" tanya Jonathan seraya bertolak pinggang melihat sang profesor dari balik dinding jendela kaca.
"Kita mancing aja di laut. Mumpung sepi, gak ada polisi, kita bebas! Kita mau jarah dan maling juga gak bakal ketauan. Jarang-jarang ini terjadi!" sahut Eko dengan wajah berbinar.
"Yuk! Yuk!" timpal Jonathan semangat dan dua orang itu langsung berlari dengan riang untuk berpiknik.
Semua orang terdiam untuk beberapa saat karena bingung menyikapi hal ini. Namun, bagi mereka juga percuma saja karena para manusia yang pingsan itu tak bisa dibangunkan.
"Anggap saja kita mendapat cuti panjang," sahut Seif yang ternyata ikut melangkah menjauh dari kumpulan orang-orang itu menyusul Eko dan Jonathan.
Orang-orang yang masih berdiri di luar ruangan Jeremy saling melirik dalam diam, tapi perlahan mereka melangkahkan kaki meninggalkan laboratorium itu.
Jeremy tersenyum di kejauhan dan kembali fokus dengan penelitiannya.
Masih di Bumi. Disisi lain.
Tim Oag yang kini sedang mencari keberadaan pesawat milik leluhurnya itu menelusuri sekitar lautan.
__ADS_1
Sedang sang Jenderal yang ikut dalam ekspedisi itu menunggu di permukaan dengan sebuah kapal di mana para manusia yang bertugas masih dalam kondisi hypersleep.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Mm, apakah ... kalian lihat yang kulihat?" tanya sang Jenderal gugup dari sambungan komunikasi ketika ada seekor ikan yang tampak aneh muncul ke permukaan dan sedang menatapnya.
"Apa yang kaulihat, Jenderal?" tanya salah satu anak buah Oag yang masih menyelami lautan.
"Aku tak tahu jenis ikan apa ini, tapi ... dia seperti campuran spesies. Bisakah salah satu dari kalian naik ke atas?" pinta sang Jenderal terlihat gugup.
Lama tak ada jawaban dan hal itu membuat sang jenderal gelisah. Terlebih, makhluk air tersebut berbentuk seperti ubur-ubur, tapi bagian kepalanya memiliki dua buah mata besar tanpa kelopak, terdapat ekor dengan tubuh berwarna biru keungunan dan ukurannya cukup besar seperti anak-anak berumur 5 tahun sedang berdiri.
Namun, sang jenderal menyadari ketika hewan itu mulai menunjukkan tentakel lalu menggerakkannya yang berfungsi layaknya tangan.
Lelaki tua itu menyipitkan mata seperti mencoba untuk memahami maksud dari bahasa isyarat hewan tak dikenal tersebut.
"Jenderal!" seru seorang arkeolog pria berambut cokelat terlihat paling muda diantara yang lain meski berkacamata seraya memberikan ponsel pada lelaki itu.
Sang jenderal dengan sigap melakukan rekaman. Para cendekiawan keluar dari anjungan dan kini berkumpul di geladak sedang mengamati pergerakan tentakel hewan tersebut karena seperti memberikan petunjuk.
Cendikiawan lain ikut melakukan perekaman dengan kamera DSLR sebagai cadangan jikalau video dalam ponsel hilang.
"Menakjubkan. Makhluk apa itu?" tanya seorang arkeolog wanita berkacamata menatap makhluk itu lekat.
"Dia seperti mengatakan sesuatu. Aku bisa bahasa isyarat, tapi ... dia tak memiliki jari, jadi aku tak tahu apa yang dia sampaikan," ucap seorang pria berkacamata dan rambut sudah beruban selaku profesor.
"Oh!" pekik sang jenderal terkejut ketika salah satu anak buah Oag muncul ke permukaan di bagian samping kapal dan kini menatap para manusia yang berdiri pada geladak.
"Mana makhluk yang kaubilang itu?" tanya anak buah Oag.
Seketika, mata para manusia itu melebar saat pandangan mereka kembali ke tempat makhluk air itu, tapi tak mendapati keberadaannya lagi.
"Di-dia menghilang," jawabnya tergagap sembari melihat layar ponselnya.
"Kau jangan menipuku, manusia. Jangan mengulang kesalahan masa lalu," tegas anak buah Oag.
"Aku bukan seorang penipu! Lihatlah! Aku berhasil merekamnya!" seru sang Jenderal marah lalu menunjukkan layar ponselnya ke hadapan alien yang bisa hidup dan bernapas dalam air itu.
Seketika, mata alien yang berwujud seperti Oag, tapi bercorak merah itu melebar. Ia tampak bingung, dan tiba-tiba saja menyelam seperti mencari sesuatu dengan gesit.
Sang jenderal melihat dari atas kapal pergerakan alien tersebut yang tampaknya mencari keberadaan alien mirip ubur-ubur tersebut di sekitar kapal.
Layar ponsel kembali dilihat oleh lelaki tua itu dengan kening berkerut. "Pasti ada pesan yang disampaikan oleh makhluk tadi, tapi ... apa?" tanya sang jenderal kebingungan.
__ADS_1
"Aku akan menyimpan rekaman ini sebelum hilang," sahut arkeolog wanita berambut sebahu.
Sang jenderal mengangguk lalu memberikan ponselnya. Para manusia itu segera masuk ke dalam kapal untuk mengamankan data.
Tak lama, seluruh anggota 'Tentakel Merah' yang ditugaskan Oag muncul ke permukaan tampak panik.
"Apakah benar yang kautunjukkan tadi pada Volus?" tanya alien dengan corak merah.
"Ya. Rekaman itu sedang disimpan oleh kawan-kawanku. Ada apa? Kalian mengenal makhluk itu? Siapa dia?" tanya sang Jenderal seraya berpegangan pada besi tepian kapal.
Para alien itu diam menatap sang jenderal tajam. Lelaki tua itu menunggu jawaban dari para makhluk bertentakel itu dengan rasa penasaran.
"Kita kembali," ucap seekor alien bernama Volus.
"Pergi? Bagaimana dengan kapal yang sedang kita cari?" tanya sang jenderal bingung, tapi pertanyaannya tak dijawab.
Lelaki tua itu mengembuskan napas panjang. Ia segera berpaling dari bagian depan kapal karena para alien tersebut sudah menaiki kapal dan kini menyalakan portal untuk menuju ke planet Mitologi.
Sang jenderal dan para manusia lainnya segera ikut masuk dalam portal di mana mereka akan kembali ke planet Mitologi.
Namun, saat lelaki dengan pangkat militer itu menoleh untuk terakhir kalinya sebelum portal tertutup, ia terkejut ketika mendapati makhluk itu muncul kembali ke permukaan, tapi seperti melambaikan tangan.
Sang jenderal terdiam, tapi mengangguk pelan dengan senyum tipis. Dan tak lama, portal itu menghilang.
Markas Oag, Planet Mitologi.
"Oag," panggil salah seekor alien dengan corak merah ketika mereka berkumpul di ruangan tempat Oag sedang menyelesaikan daftar pertanyaan Gibson meski hal itu belum terjadi.
Oag melihat tampilan video itu dengan wajah sendu seperti bersedih. Para alien ikut terdiam saat menyaksikan rekaman yang diputar dalam sebuah layar besar di depan para makhluk bertentakel itu.
"Hem, aku mengerti. Jadi kurasa ... sudah cukup pencarian kita," ucapnya tertunduk lalu mematikan rekaman itu.
"Aku tak pernah menyangka jika ini adalah keputusan para leluhur. Mereka bukannya tak mau kembali, tapi memutuskan tetap tinggal untuk memastikan tak ada satu pun makhluk ciptaan para dewa disalahgunakan oleh manusia. Mereka memilih menjadi penjaga planet terkutuk itu dan ... meninggalkan kita," ucap Valos.
"Mereka tak meninggalkan kita. Mereka percaya pada kita. Untuk itulah, kita diciptakan dan menggantikan tugas mereka di planet ini. Namun, kita juga akhirnya tahu, dari mana kita berasal. Jadi ... ayo bersiap. Kita berkunjung ke kampung halaman," jawab Oag yang diangguki semua alien di tempat itu.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
makasih tipsnya diriku. ngabisin brankas. kwkwkw😆 jangan lupa vote poinya dari pada ditimbun mending sedekahin ke novel lele dapet pahala. amin. lele padamu❤️