
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Woah! Kalian lihat itu? Keren sekali!" seru Rangga dengan wajah berbinar seraya menunjuk di kejauhan.
"Kenapa kita berada di sini? Apa yang akan kita lakukan di tempat ini? Lalu ... itu istana milik siapa?" tanya Ryan bingung.
Semua anak diam terlihat berpikir keras. Hingga tiba-tiba, Lazarus menepuk tangannya.
"Ingat hadiah level 7 di mana kita bisa bertemu dengan Oag? Mungkin itu kediaman alien itu!" seru keturunan Benedict mantap.
"Oh! Pertanyaan Gibson!" sahut Timo, dan semua anak mengangguk membenarkan.
"Kita akan bertemu dengan Oag dan menanyakan semua pertanyaan dalam daftar. Begitu maksud kalian?" tanya Harun memastikan, dan semua anak mengangguk membenarkan.
"Tunggu apalagi? Ayo kita ke sana!" ajak Nicolas tak sabaran.
"Eh, tunggu dulu. Bagaimana caranya? Kalian tak lihat kita berada di ketinggian entah berapa jauhnya dari permukaan tanah? Satu-satunya cara ke sana adalah dengan terbang. Kita harus memastikan apakah bisa menggunakan kemampuan Mitologi di sini atau tidak. Jangan gegabah," ucap Rex mengingatkan.
"Ah, kau benar. Maaf, aku terlalu semangat," jawab Nicolas meringis malu. Semua anak terkekeh pelan.
Rex mencoba untuk merubah wujud manusianya menjadi naga. Ternyata, hal itu bisa dilakukan di tempat tersebut. Kenta, Vadim, Bara, Czar dan Boas ikut melakukan hal yang sama.
Anak-anak yang tak memiliki kemampuan terbang segera menaiki tubuh naga Rex di mana mereka akan terbang menuju ke istana megah yang diyakini tempat Oag tinggal.
Ryan sudah menyiapkan daftar tersebut dan siap untuk diajukan kepada Oag seperti permintaan Gibson kala itu.
Mereka tampak tak sabar ketika berhasil mendarat tanpa hambatan di serambi depan istana tersebut.
"Besar sekali!" seru Czar terkagum-kagum karena ternyata, wilayah sekitar istana begitu luas dan memiliki ragam ekosistem.
"Sepertinya bangunan ini memiliki banyak lantai dan ruangan. Kita harus selalu bersama, jangan sampai terpisah dan tersesat," ucap Mandarin mengingatkan. Semua anak mengangguk paham.
Mereka melintasi pekarangan depan yang dipenuhi oleh gumpalan awan yang menutupi daratan.
Vadim mencoba mengambil kumpulan awan-awan putih yang terlihat seperti kembang gula kapas dengan tangannya, tapi tidak bisa karena langsung berubah menjadi seperti udara.
"Oh, lihat pegasus itu! Dia berwarna putih!" seru Boas sampai terperanjat ketika tiba-tiba saja muncul seekor pegasus dari balik kepulan awan.
Namun, makhluk itu diam saja dan terlihat santai saat matanya menangkap keberadaan anak-anak manusia di dekatnya.
Pegasus putih itu lalu berjalan menjauh seraya mengepakkan sayap sehingga gumpalan asap menyingkir perlahan.
"Dia menganggap kita bukan sebagai ancaman. Ini hebat," bisik Timo.
"Ngomong-ngomong pintu masuknya di sebelah mana? Tempat ini begitu luas dan bangunan ini besar. Banyak jendela, tapi ... mana pintunya?" tanya Nicolas bingung.
__ADS_1
"Hei! Ada tangga di dekat hutan sebelah sana. Coba kita naik. Biasanya, tangga menuju ke sebuah pintu," saran Czar seraya menunjuk.
"Oke!" jawab Bara dan diangguki kawan-kawan yang lain.
Para remaja itu mulai melangkah menaiki tangga yang jumlahnya begitu banyak. Vadim sudah merasa pegal padahal baru menginjak 10 anak tangga. Sedang lainnya, terlihat serius seraya mengawasi sekitar.
"Lihatlah. Banyak patung dari berbagai jenis makhluk Mitologi. Keren," ucap Mandarin sampai melongo.
Kakinya terus melangkah menaiki tangga ketika mendapati benda-benda yang terbuat dari batu di sisi anak tangga bagian kiri dan kanan seperti patung.
Para remaja itu merasa seperti berpetualang. Mereka menikmati perjalanan santai karena tak merasakan ancaman di sekitar.
Hingga lagi-lagi, "Oh! Ha-harimau itu! Di-dia bersinar!" pekik Czar sampai menghentikan langkah.
Mata semua anak melebar ketika melihat sosok harimau yang tampak berkharisma karena memancarkan cahaya indah dari tubuhnya.
"Woah, tempat ini benar-benar ajaib," ucap Timo, dan semua anak kembali mengangguk dengan rasa kagum luar biasa.
Siapa sangka, mereka bertemu dengan banyak makhluk selama berada di sekitar istana megah itu meski belum juga menemukan pintu masuknya.
"Aku lelah. Bisakah kita istirahat sebentar?" keluh Vadim yang badannya sudah membungkuk.
"Oke," jawab Lazarus seraya meletakkan tas ransel di atas rumput saat mereka menemukan tanah lapang dengan pemandangan indah.
Para remaja itu merasakan semilir angin sejuk di tempat tersebut di mana biasanya tak terasa terpaan angin selama di Planet Mitologi.
"Kok ngantuk ya," ucap Rangga dengan mata sendu dan siap terpejam.
Semua anak ternyata merasakan hal yang sama. Mereka merebahkan diri dan menjadikan tas sebagai alas kepala, atau guling.
Tak lama, ketiga belas anak itu tertidur pulas di sisi Timur istana megah tersebut.
Hingga tiba-tiba, sebuah mimpi datang pada mereka. Ketiga belas anak itu seperti dijamu oleh para peri cantik dengan gaun serba putih dan musik harpa yang merdu.
Bahkan, ada kaum Faun yang menari-nari seraya memainkan seruling.
Lazarus dan lainnya saling berpandangan karena mimpi itu terasa nyata. Banyak buah-buahan dan juga santapan lezat di atas meja panjang seperti sebuah jamuan.
Mereka mengenakan pakaian seperti pangeran pada zaman kuno meski tanpa mahkota.
"Selamat datang," sapa seorang lelaki dengan pakaian serba putih layaknya zaman para dewa berkuasa.
Timo dan lainnya menatap lelaki itu saksama yang tampak bercahaya, ramah, dan seperti memiliki kuasa karena terdapat mahkota emas berkilau di kepala.
Rambut pria itu berwarna perak ikal. Sosok tak dikenal itu membawa sebuah tongkat dengan ujung seperti trisula atau garpu dan memiliki sayap besar di belakang punggungnya berwarna putih bersih.
__ADS_1
Anak-anak terdiam saat para penari dan pemusik dari kaum Elf serta Faun meninggalkan ruangan luas bernuansa putih tersebut.
"Anda siapa?" tanya Lazarus sopan.
"Aku penguasa di tempat ini. Selamat datang di istanaku. Sudah lama sekali aku menunggu kedatangan kalian. Meski jujur, tak kusangka akan sebanyak ini. Kalian ... memang anak-anak Bumi yang hebat," ucap lelaki itu dengan senyum ramah.
"Maaf, Tuan. Hanya saja ... kenapa kami bisa berada di sini?" tanya Nicolas gugup.
"Kenapa? Itu karena aku mengundang kalian secara spesial. Aku tahu kalian memiliki banyak pertanyaan. Aku akan menjawabnya," jawabnya.
"Namun, pertanyaan ini untuk Oag. Maaf jika menyinggung," jawab Rex sungkan.
"Sama saja. Aku dan Oag memiliki pemikiran yang sama. Kami terhubung," jawab pria itu yang membuat semua anak saling memandang meski terlihat ragu. "Maaf, hanya saja, waktu kita terbatas. Setiap pertanyaan yang kalian ajukan dan kujawab. Namun, satu piring sajian akan lenyap. Begitu seterusnya. Jadi ... bijaklah dalam bertanya atau kalian akan kelaparan. Makanan dan minuman itu kusajikan sebagai bekal kalian di misi level 9. Di tempat itu, tak ada apa pun untuk dimakan," ucap pria itu yang membuat mata semua anak melebar.
Vadim ketakutan. Ia bahkan belum menyentuh satu pun hidangan karena masih bingung dengan keberadaannya, dan terhipnotis dengan penampilan para Elf serta Faun.
Anak-anak terlihat panik. Harun langsung menghitung jumlah piring yang tersedia. Ternyata, jumlahnya sama dengan angka pada daftar pertanyaan Gibson untuk Oag.
"Mm, maaf, Tuan. Bisakah beri kami sekitar 5 menit untuk berdiskusi? Please," pinta Harun memelas.
"Baik, 5 menit," jawab lelaki bercahaya itu yang menggunakan jam pasir untuk menghitung waktu.
Kepala para remaja itu langsung menoleh ke arah Harun.
"Dengar, kita jangan gegabah. Jumlah pertanyaan Gibson ada 35 buah. Kita harus pintar memilih atau kita akan kelaparan dan mati saat menjalankan misi level 9. Kita pangkas saja menjadi 13 pertanyaan seperti jumlah anggota. Satu anak, satu pertanyaan. Sehingga kita nanti memiliki banyak persediaan. Kita tak tahu akan berapa lama menyelesaikan misi level 9. Kita bahkan belum tahu seperti apa misinya. Kita tak boleh sembrono," tegas Harun.
"Oke, aku setuju. Ryan, perlihatkan pada kami daftar pertanyaan itu. Kita akan pilih dengan cepat dan hanya pertanyaan penting saja yang diajukan," pinta Rex.
Ryan segera mengeluarkan buku tulisnya. Ia memberikan pada Rex di mana anak-anak yang berada di sisi kirinya ikut melirik tulisan itu.
"Kita akan lakukan secara berurutan. Di mulai dari Ryan yang berada di sisi paling ujung sebelah kanan, dan terus bergilir sampai tempat Timo duduk di ujung kiri. Kalian siap?" tegas Rex, dan semua anak mengangguk mantap.
Ryan segera menandai pertanyaannya dengan sebuah pensil, lalu menggeser bukunya ke arah Rex. Hal itu dilakukan dengan cepat hingga sampai ke tempat Timo berada.
"Lima menit berakhir. Jadi ... sudah diputuskan?" tanya lelaki itu yang selalu tersenyum.
"Ya. Sudah, Tuan. Kami akan mengajukan pertanyaan secara bergantian, dan dimulai dari aku, Timo," jawab Timo sopan meski terlihat tegang.
"Ya, silakan," jawab sosok rupawan itu yang masih betah berdiri terlihat begitu tenang dan sabar.
Timo menarik napas dalam terlihat serius dengan pertanyaan yang akan diajukan. Anak-anak lain menyimak dalam diam.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
makasih tipsnya diriku😁mata pedes uyy kurang tidur. jangan lupa vote tips koin dan poinnya ya. tengkiyuw❤️