
Gibson terlihat sangat mampu ketika tiap 10 menit sekali, dirinya dibawa naik ke permukaan oleh Serena untuk mengambil udara. Namun, perubahan pergantian waktu dirasa cukup cepat bagi pemuda itu.
Gibson melihat Serena tampak tergesa saat berenang di dalam lautan dan memegangi tubuhnya erat.
Pemuda itu juga merasakan perubahan suhu dalam air yang menjadi terasa sedikit dingin tak hangat lagi.
Saat menyelam, Gibson melihat lautan juga mulai gelap karena matahari tertutup oleh awan-awan besar.
Praktis, Gibson merasakan ketakutan mengingat cerita dari Serena jika para duyung menjadi agresif saat malam hari.
"Bertahanlah, tinggal sedikit lagi," ucap Serena terlihat berusaha membawa kekasihnya menuju ke pulau terdekat.
Gibson bisa melihat saat mereka kembali menyelam. Ada sebuah pulau yang terlihat begitu mengerikan untuknya.
Bagian dasar dari pulau itu seperti kerangka seekor monster dan bagian atasnya sebuah pulau yang tampak subur karena ditumbuhi oleh banyak pohon.
"Hah, hah, kau lihat tengkorak itu?" tanya Serena yang mengajaknya berbicara di dalam air.
Gibson mengangguk cepat. Ia bergidik ngeri saat melihat tengkorak berukuran raksasa tersebut adalah tujuannya untuk beristirahat malam itu sebelum menuju ke pulau utama untuk menjalankan misi.
Namun, ia juga merasakan perubahan dalam diri Serena. Gibson yang sedari tadi memegang tangan Serena mulai sadar jika tangan sang kekasih mulai bersisik biru secara perlahan dan jari-jarinya mulai diselimuti oleh selaput.
Gibson merasakan bahaya mulai datang padanya. Benar saja, tiba-tiba, Serena mengerang dan menghentikan lajunya.
Gibson bingung dan menatap Serena tajam yang masih mendekapnya di bawah lautan.
"Erghh, aghhh ... Gib, Gibson! Cepat pergi dariku!" seru Serena mulai menunjukkan perubahan dalam dirinya.
Praktis, Gibson panik. Ia segera melepaskan dekapan Serena di tubuhnya. Gibson segera berenang menjauh.
Namun, ia yang penasaran menoleh ke belakang dan mendapati kekasih duyungnya tampak berusaha memberontak akan sesuatu yang akan muncul dari dalam dirinya.
"Herggg!" teriak Gibson karena terkejut saat melihat perubahan mengerikan dalam diri Serena.
Pemuda itu hampir tersedak. Ia berusaha berenang ke permukaan untuk mengambil udara sebelum kembali berenang untuk menyelamatkan diri.
"Hah! Hah! Ohh ... shitt!" pekiknya panik dan kembali menyelam.
Gibson melihat Serena telah berubah menjadi sosok lain yang terlihat menyeramkan diikuti oleh makhluk sejenisnya. Pemuda itu merasa jika duyung-duyung ganas itu siap memangsanya.
Benar saja. Mata Gibson melebar. Ia segera menggerakkan kedua tangan dan kaki agar laju renangnya semakin cepat.
Namun, gerakannya itu membuat para mermaid menjadi beringas dan menganggap makhluk tersebut adalah mangsa yang nikmat untuk disantap.
"Iiikkk!" lengking para mermaid saat mereka sudah menandai mangsanya di dalam air itu.
__ADS_1
Serena seolah lupa jika pemuda yang sedang diincarnya adalah sang kekasih. Gibson panik dan terus berenang tak berani untuk menoleh lagi.
Tujuannya kini adalah pulau dengan tengkorak monster besar di depannya. Gibson berenang dengan susah payah mengerahkan seluruh kemampuannya.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri bergantian saat melihat dari dua disisi itu ada monster air sejenis Serena yang siap untuk menyerangnya.
Pemuda itu seperti pasrah dengan takdirnya jika harus mati di tempat itu karena tak mungkin bisa melawan. Ia tak memiliki senjata apa pun yang bisa menyelamatkan jiwanya.
Benar saja, saat Gibson sudah berhasil memasuki celah dari gigi tengkorak monster itu, GRAB!!
"Errghh!" erangnya ketika ia merasa pergelangan kakinya ditarik.
Mata Gibson melotot saat melihat salah satu mermaid berhasil menangkapnya dan berusaha menariknya dari celah gigi tengkorak yang menyelamatkannya.
Gibson berusaha melawan dengan menendang tubuh mermaid itu agar cengkeraman tersebut terlepas. Siapa sangka, usaha Gibson berhasil.
Pemuda itu bergegas memanjat agar bisa segera naik ke permukaan karena oksigen dalam tubuhnya telah menipis.
Namun, para mermaid itu dengan gesit mengejar. Gibson berusaha dengan susah payah, tapi pada akhirnya, KLEK!
BLUB! BLUB!
Tulang gigi pada tengkorak itu patah karena Gibson menjadikan benda itu sebagai pegangan tangannya.
Kakinya kembali ditarik oleh seekor mermaid. Gibson tertarik dengan kuat ke bawah tak bisa melawan.
Seketika, matanya melebar karena ia dikepung oleh tiga makhluk menyeramkan itu yang terlihat siap untuk memangsanya. Pakaian Gibson dicabik seperti berusaha untuk dilukai.
"ERRGHH!" erang pemuda itu saat ia merasakan lengannya digigit hingga cairan warna biru dari tubuhnya menyeruak dan menodai air di sekitarnya.
Gibson mencoba melawan, tapi 3 lawan 1 bukanlah lawan yang sebanding. Tubuh Gibson mulai tercabik karena kuku-kuku tajam makhluk tersebut.
Gibson yang tak cukup kuat jika harus melawan dalam air, membuat pemuda itu tak memiliki banyak pilihan kecuali menyerah.
Gibson yang tak mampu lagi menahan sakit di tubuhnya karena penuh luka, ditambah ia menelan cukup banyak air, membuat pemuda itu tersedak dan pada akhirnya melayang di limpahan air tersebut.
"IIiieekk!" lengking para mermaid monster setelah berhasil mengalahkan pemuda malang tersebut.
Tubuh Gibson mulai jatuh menuju kedalaman laut. Tiga mermaid yang menyerangnya, dengan sigap berenang untuk menggapai tubuh mangsa untuk disantap, tapi sepertinya meski Serena telah berubah, ia mulai mengenali Gibson.
"Gi ... Gibson ... Gibson!" teriaknya dengan mata terbelalak saat melihat kekasihnya sudah tergolek dengan pandangan sayu seperti kehilangan nyawa.
"Arrghhh!" teriak Serena meluapkan seluruh kesedihannya hingga gelombang suaranya yang melengking, membuat para monster laut bisa mendengarnya.
Seketika, para mermaid yang ingin menyantap Gibson langsung berenang menghindar. Serena masih dalam wujud monster, berenang dengan gesit mendatangi Gibson.
Wanita ikan itu menangis dan memeluk Gibson erat yang sudah kehilangan nyawanya. Ia merasa sangat bersalah karena membuat lelaki yang disukainya tewas karena serangannya.
"Gibson ... Gibson ...," ucapnya sendu seraya mendekap kuat sang kekasih yang sudah tak bergerak.
__ADS_1
Di tempat hewan penyimpanan cadangan jiwa milik Gibson.
"Oh! Kaulihat itu? Apakah terjadi hal buruk pada Gibson?" tanya Laika panik saat hewan lucu milik kawannya tiba-tiba tergolek lemas dan perlahan memudar.
"Apakah ... Gibson tewas? Di mana dia sekarang?!" pekik Pasha ikut panik.
Praktis, semua orang langsung mematung melihat kejadian yang baru dilihat hari itu. Hewan penyimpan cadangan jiwa milik Gibson menjadi butiran seperti kristal dan menghilang.
Rex, Pasha, Rangga dan Laika terdiam. Mereka tampak pucat akan sesuatu. Rex langsung memeluk hewan miliknya dengan perasaan berkecamuk.
Ia takut jika hal itu juga terjadi padanya dan membuatnya tak lagi bisa bertemu Jubaedah. Rangga melihat hewan milik Timo masih baik-baik saja. Rangga lega karena itu berarti, Timo masih memiliki dua nyawa.
"Kita harus cepat. Kita segera pergi dari sini dan temui kawan-kawan. Ayo!" ajak Rex, dan anak-anak itu mengangguk mantap.
"Namun ... kita harus ke mana?" tanya Rangga bingung seraya meletakkan gurita merah muda milik Timo di kepalanya.
"Oh!" seru Pasha dengan sigap membuka tasnya. "Aku sampai lupa jika ada benda ini!" imbuhnya seraya menunjukkan kompas.
"Kenapa kau tak menunjukkannya begitu kita terpisah dari kawan-kawan?!" pekik Laika kesal.
"Itu karena aku panik dan lapar. Selain itu, kompas ini tertutup oleh makanan. Bukan salahku," jawab Pasha membela diri.
"Sudah, sudah, sini berikan padaku. Semoga alat ini berfungsi dengan baik seperti sebelum-sebelumnya," ucap Rex dengan sigap mengambil benda itu lalu menggenggamnya.
Semua orang tampak serius ketika Rex memejamkan mata seperti menyampaikan permintaannya.
"Bawa kami ke tempat Jubaedah," ucapnya penuh harap.
"Oh! Jarumnya bergerak! Ia mengarah ke suatu tempat!" seru Rangga yang melihat jarum kompas itu bergerak.
Seketika, senyum semua anak terbit. Rex memberikan kompas itu kepada Laika. Dengan sigap, gadis itu menggenggamnya.
"Ayo!" ajak Rex berubah menjadi naga karena tak ingin membuang waktu.
Semua anak segera naik termasuk hewan penyimpan cadangan nyawa milik Rex dan Timo.
Naga Rex mulai mengepakkan sayap besarnya dan terbang mengikuti arahan menuju ke tempat Jubaedah dan lainnya berada.
"Aku akan menjemputmu, Juby. Tunggu kami," ucap Rex mantap dan semua anak yang mendengar terlihat siap untuk menghadapi rintangan selanjutnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya untuk diriku. kwkwkw biar cepet tamat target 2 bulan selesai. Smg lancar, amin❤️
__ADS_1
Jangan lupa boom like audio book Secret Missions ya buat bantu sedekah tips lele bagi kalian yg belom bisa ngetips koin. Lele padamu.