MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MENCARI JUBY*


__ADS_3

Malam itu, Gibson mengumpulkan seluruh anak-anak yang tergabung di bangunan peninggalan Minotaur. Gibson menjelaskan misi yang akan dijalani bersama kelompoknya.


Ternyata, kelompok dari Rangga dan Lazarus setuju untuk ikut karena mereka merasa jika bergabung, besar kemungkinan untuk menyelesaikan misi yang tertunda.


Usai membuat kesepakatan bersama, anak-anak itu tidur di tempat yang telah dipilih dan akan meninggalkan markas keesokan harinya.


Hari berikutnya.


Timo dibantu oleh Bara, Rangga, Lazarus, C dan L terlihat sibuk menyiapkan sarapan dari hasil ikan tangkapan di sungai dekat markas.


Sedang lima anak asal Amerika yang ditemani Ryan, pergi mengumpulkan barang-barang di markas Minotaur yang dirasa bisa digunakan selama berpetualang.


Namun, saat Azumi dan Kenta kembali, anak-anak itu menyadari hal aneh setelah diberitahukan oleh dua remaja itu.


"Mayat para Minotaur di halaman tak ada? Apakah ... ada yang mengambil jasad mereka? Kenapa tak ada yang menyadarinya?" tanya Rex curiga.


"Apakah ... ada semacam makhluk pencuri atau pemakan bangkai? Jika ya, ini gawat!" seru Harun panik.


"Bagaimana dengan makam Hihi? Apakah dibongkar?" tanya Tina cemas.


Namun, Azumi dan Kenta menggeleng.


"Kuburan Hihi masih bagus dan terlihat baik-baik saja. Namun, jejak dari mayat para Minotaur itu sungguh tak berbekas," jawab Azumi.


"Tina," panggil Timo, dan gadis cantik itu mengangguk.


"Kau mau apa?" tanya Lazarus heran.


"Kalian pikir, saat kami menyelamatkan kalian dalam markas Minotaur, aku bisa tahu dari mana? Itu karena wujud serigalaku. Indera penciumanku sangat tajam bahkan aku yakin bisa mencapai 1 kilometer lebih," jawab Tina terlihat siap berubah.


"Woah! Sungguh? Keren sekali," sahut Bara sampai mulutnya menganga lebar.


Tina hanya tersenyum, dan seketika, wujud manusianya berubah menjadi manusia serigala yang bisa berdiri dengan kedua kaki.


Semua anak tampak ngeri melihat sosoknya karena terlihat beringas dan memiliki kuku tajam seperti siap merobek kulit lawannya.


Kenta lalu mengarahkan ke tempat para Minotaur tergeletak usai peperangan kemarin. Tina mengendus lokasi mayat-mayat itu berada sebelumnya.


Kenta dan anak-anak yang penasaran, mengamati wujud serigala Tina seperti mencari bau dari para makhluk manusia setengah banteng yang tiba-tiba saja menghilang.


"Bagaimana?" tanya Kenta penasaran.


"Aneh. Baunya hilang di udara. Tak ada jejak makhluk lain selain kita semua. Aku sudah hafal bau kalian," jawabnya yakin.


"Ya sudah. Anggap saja urusan kita dengan para Minotaur sudah selesai. Kini, kita fokus untuk mencari Juby. Sekarang, kembali ke dalam, kita sarapan, lalu pergi ke lokasi sesuai dengan urutan," tegas Gibson.


"Oke!" jawab Boas mantap.


Semua anak berkumpul di ruang tengah untuk menikmati ikan bakar hasil masakan kelompok Rangga.

__ADS_1


Terlihat, anak-anak itu menikmati sarapan mereka. Namun, Rex terlihat sedih. Ia hanya memandangi belatinya seperti teringat kepada Juby yang selalu menggunakannya untuk membersihkan ikan.


"Jangan sedih, Rex. Kita akan menemukannya. Juby itu pintar, tangguh, dan gesit. Dia pasti bisa bertahan," ucap Nicolas meyakinkan dan diangguki semua orang yang setuju dengan penilaian lelaki berambut pirang itu.


"Hem, kau benar. Juby pasti bisa bertahan," jawab Rex dengan senyuman dan kembali memasukkan belatinya ke koper.


Usai makan bersama, Rex segera mencoba wujud barunya sebagai naga hijau. Tina yang sudah pernah terbang sebelumnya, mengajarkan kepada Rex cara untuk terbang.


"Semuanya minggir!" seru Vadim seraya memegang dua buah ranting berukuran sedang dengan kain ia ikat pada ujung kayu seperti bendera.


"Ingat gerakan yang dibuat oleh Tina, Rex! Anggap saja kau seperti pesawat!" seru Pasha dan Rex mengangguk siap dengan wujud naga berukuran besar.


PRIT!


Rangga meniup peluit dari perlengkapan pramukanya. Rex mulai menegakkan tubuhnya dengan empat kaki menapak permukaan seraya mengembangkan sayap besarnya.


Vadim mulai menggerakkan benderanya. Ia mengangkat kedua tangannya lurus sejajar pundak seraya mengayunkannya sebagai tanda agar Rex maju.


"Oke! Posisimu sudah aman. Seharusnya kau tak akan menabrak dan merusak sekitar di tempat luas ini," ucap Vadim yang membawa Rex ke tanah lapang.


Rex terlihat siap. Tina menggerakkan kedua tangannya seperti mengepakkan sayap sebagai kode untuk Rex melakukan hal yang sama.


Rex mengangguk siap dan seketika, terpaan angin mulai terasa di tubuh anak-anak yang ingin menyaksikan hal ajaib itu.


"Kepakkan terus, Rexy! Kepakan yang kuat!" seru Tina lantang dengan kedua tangan diantara mulutnya.


Rex mengindahkan ucapan dari Tina agar ia bisa terbang untuk menyelamatkan Juby. Rex terlihat bersungguh-sungguh melakukannya dan, "Yey!" seru anak-anak bertepuk tangan dengan kepala mendongak ke atas saat melihat naga hijau Rex terbang ke langit dengan sayap besarnya.


"Oke. Segera bersiap," titah Gibson.


Anak-anak yang sudah dibagi menjadi empat kelompok itu pun berdiri berjejer dengan perlengkapan sudah siap untuk dibawa. Semua anak menggendong tas dengan perbekalan di dalamnya.


"Rexy! Saatnya berangkat!" seru Vadim yang ikut berubah menjadi pegasus dan kini terbang di sampingnya.


Rex mengangguk siap. Ia melihat gaya Vadim saat mendarat dan Rex mengikutinya.


"Oke. Vadim akan membawaku dan Boas. Lalu sisanya menunggu di sini sesuai giliran. Kalian siap?" tanya Gibson menatap empat kelompok anak-anak itu.


"Yes!" jawab para remaja serempak.


Kenta terlihat begitu antusias untuk bisa menaiki Rex. Terlihat, putera dari Eiji tersebut tak keberatan ketika punggungnya dinaiki oleh anak-anak berjumlah 5 orang tiap satu grup.


"Apakah kami berat? Kau bisa membawa kami?" tanya Kenta yang duduk paling depan.


"Malah aku merasa bisa membawa lebih banyak lagi," jawabnya dan terlihat, anak-anak senang mendengarnya.


"Jangan. Ukuran tubuhmu tak memungkinkan. Idealnya hanya 5, nanti sisanya bisa melorot atau malah jatuh ketika kau harus menukik. Seperti rencana awal saja, cukup 5 anak. Oke?" tegas Gibson dan anak-anak itu menyetujuinya karena keselamatan diutamakan.


Rex terlihat siap untuk kembali terbang. Kenta memegangi leher naga Rex yang memiliki tonjolan sehingga bisa dipegang. Mirip tulang rawan yang berlapis kulit tebal dari tubuh naga.

__ADS_1


Sedang empat anak di belakang Kenta yang duduk berurutan, saling berpegangan erat pada tas ransel yang digendong oleh kawan di depannya.


Gibson dan Boas segera naik ke punggung pegasus Vadim. Remaja asal Rusia itu mengatakan jika dia tak merasa berat dan kondisinya prima.


"Let's go!" seru Kenta semangat dengan kepalan tangan kanan terjulur menantang langit.


"Let's go!" sahut anak lainnya ikut meneriakkan.


Kawan-kawan lainnya yang menunggu antrian ikut tak sabar untuk bisa melihat keindahan Planet Mitologi dari atas langit. Dengan sigap, WUSS!!


"Woho!" seru Azumi riang saat ia merasakan embusan angin menerpa tubuhnya.


Pasha, Mandarin dan Ryan terlihat senang saat mereka melihat dari atas langit betapa menakjubkannya daratan di bawahnya.


"Kami pergi dulu. Jangan ke mana-mana. Kami akan kembali," ucap Gibson dan diangguki semua anak.


Pegasus Vadim segera mengikuti naga Rex yang terbang lebih dulu di depan. Ryan tetap melakukan keahliannya dengan merekam penerbangannya dari atas punggung naga sebagai dokumentasi perjalanan melalui ponselnya.


"Seberapa jauh, Rexy?" tanya Kenta yang belum melihat gunung berapi seperti yang dikatakan oleh Ryan dan Boas.


"Masih jauh," jawab Rex terus terbang mengepakkan sayap besarnya melewati daratan di sekitarnya.


Azumi dan lainnya tampak kagum karena tak menyangka jika Planet tersebut cukup luas.


"Oh! Aku ingat tempat di depan itu! Aku mengalahkan Ogre di sana dibantu Azumi!" seru Mandarin seraya menunjuk.


"Ya, kau benar!" sahut Azumi membenarkan.


Semua anak melongok ke bawah dan melihat ada tanah lapang di tempat itu, tapi tak ada bangkai Ogre yang diceritakan kala itu di sana.


Penerbangan itu ternyata memakan waktu cukup lama hampir 1 jam lebih. Pasha malah merasa mual seperti masuk angin.


Kenta dan lainnya hanya terkekeh saat Pasha memegangi perutnya seperti akan muntah dan bersendawa.


"Awas saja jika kau muntah di tubuh nagaku, Pasha! Aku tak segan melemparkanmu dari atas sini," tegas Rex mengancam.


Seketika, Pasha langsung memakan permen lolipop terakhirnya agar hal itu tidak terjadi. Hingga akhirnya, gunung berapi yang dimaksud oleh Ryan terlihat di kejauhan.


"Oh, hutan itu! Turun di sana!" seru Boas menunjuk.


Pegasus Vadim segera mendarat di pinggir hutan, sedang Rex yang memiliki tubuh besar harus mencari tempat mendarat yang luas agar ia tak tersangkut.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


Kwkw semalem udah ngantuk berat eh lupa gak di up. Semoga bulan depan masih level 8. Amin.


__ADS_2