MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
BERKOMPLOT


__ADS_3

Mereka berbicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Kalian akan membantu kami sampai ke pulau Pelangi untuk menyelesaikan misi? Wow, baik sekali. Pasti minta imbalan," ucap Vadim curiga.


"Anak gendut yang pintar. Ya, itu benar. Saat tiba di tempat itu, harta karun yang kalian temukan akan menjadi milik kami. Kalian tak membutuhkannya. Setuju, kami antar. Menolak, aku lemparkan ke laut. Asal kalian tahu, duyung-duyung ganas sangat kelaparan di malam hari," jawab Kapten Bajak Laut mengancam.


Para alien lainnya terkekeh dengan suara yang cukup mengerikan. Gibson yang pernah merasakan mati karena diserang oleh para duyung itu segera mendekati kawan-kawannya dengan tergesa.


"Kita terima saja. Masih beruntung kita ditolong untuk menyeberang. Yang kita butuhkan adalah pulang ke Bumi, bukan harta karun," tegas Gibson seraya melihat kawan-kawannya yang masih memasang wajah sebal sedang menghapus lendir menggunakan kain.


Vadim, Mandarin dan Nicolas saling melirik terlihat serius.


"Oke, tapi dengan satu syarat!" tegas Nicolas.


"Kau, berunding dengan kami? Apa kausadar siapa yang diajak bicara?" tanya Kapten Bajak Laut seraya mendekat.


Nicolas dan lainnya kembali pucat, tapi pemuda berambut pirang itu berusaha tak terlihat takut.


"Diajukan juga belum sudah protes. Kami hanya ingin tahu isi harta karun itu. Bagaimanapun, kita melakukan barter. Kami tak akan memintanya, hanya ingin lihat saja. Pelit," jawab Nicolas dengan tubuh sudah bersih tanpa lendir.


"Ahhh, setuju," ucap Alien tersebut lalu berpaling.


Nicolas mengembuskan napas lega berikut anak-anak lainnya.


"Hei, hei, ada satu hal penting lagi!" seru Mandarin ikut berdiri.


Para alien bajak laut tampak kesal karena anak-anak manusia itu banyak permintaan.


"Instruksi misi menyebutkan, kami harus melakukannya dengan kawan-kawan yang lain. Nah, kami belum bertemu dengan yang lainnya. Itu berarti, kita harus mencari mereka lalu menjemput. Jika tidak, misi tersebut tak bisa dilakukan. Percuma kalian mengantarkan kami karena harta karun itu pasti tidak akan muncul jika jumlah kami tak lengkap!" seru Mandarin dengan kain di tangannya.


"Grrr," erang Alien tersebut terdengar marah meski wajahnya tak menunjukkan demikian. "Hanya kali ini saja, kubiarkan kalian memerintah kami. Saat kalian semua sudah berkumpul dan naik di kapal ini, kalian harus menurut padaku. Menolak, kuumpankan pada Kraken," tegasnya seraya berjalan mendekat dengan tentakel sebagai kakinya.


Vadim, Mandarin, Nicolas dan Gibson menelan ludah. Mereka mengangguk bersamaan karena lendir dari alien itu kembali menetes tiap ia terdengar seperti marah.


"Ingat! Kalian menumpang! Bersihkan kapal!" seru Alien itu yang membuat empat anak tersebut kaget dan langsung pergi meninggalkan geladak.


Gibson mengikuti ketiga kawannya menuju ke lambung kapal di mana tugas mereka malam itu berada di bawah sana.


Namun, saat mereka sedang bersih-bersih, alien yang bertugas sebagai koki meminta kepada anak-anak manusia itu membantunya menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Tentu saja, jenis makanan yang akan mereka olah membuat anak-anak itu hampir muntah. Alien-alien itu ternyata memakan jeroan dari makhluk-makhluk laut yang berhasil ditangkap.


"Oh ... apakah itu usus? Huekkk!" keluh Vadim langsung mengeluarkan semua isi perutnya ke sebuah tong kosong.


Anak-anak lainnya kembali pucat, tapi alien yang memiliki kepala seperti ular cobra dengan dua tangan dan tiga jari serta kaki berupa ekor, hanya menjulurkan lidah seraya mendesis.


Tentu saja kengerian makin terasa karena gerak-gerik ular jantan itu. Ular itu tampak sigap saat mengeluarkan seluruh isi dari hewan-hewan hasil tangkapan mereka dengan jari runcing seperti pisau.


Ular itu hanya mengambil kepala dari hewan tersebut dan jeroannya. Sedang daging dan lainnya tidak, malah dibuang ke dalam tong.


"Kenapa daging dari ikan itu tak dimasak?" tanya Gibson heran karena menurut mereka, daging ikan tersebut bisa dijadikan makanan manusia.


"Pssttt ... kau tak melihat kebaikan hati kami? Apa yang kalian makan, tak bisa kami nikmati, begitupula sebaliknya. Para makhluk Mitologi menyebut kami makhluk buangan karena wujud dan jenis yang tak bisa berkembang biak," jawab alien ular itu yang membuat kening anak-anak manusia itu berkerut.


"Makhluk buangan? Ya, memang selama perjalanan, kami tak pernah melihat makhluk seperti kalian. Jadi maksudnya ... kalian ini spesies langka karena hanya ada satu-satunya? Bukankah seharusnya itu hebat?" tanya Vadim heran yang sudah kembali tenang usai muntah.


Alien ular itu menatap empat anak manusia yang memandanginya dengan heran. Mata ular itu berwarna biru dan tampak berkilau.


Corak tubuhnya seperti macan tutul, tapi memiliki duri-duri yang mencuat pada punggung.


"Hebat? Menurut kalian ... kami spesial?" tanya Alien itu memastikan seraya menggerakkan jari-jarinya yang mengeluarkan suara seperti pisau digesek.


Bulu kuduk anak-anak itu meremang seketika.


"Manusia ... melakukan hal itu pada makhluk langka?" tanya Alien tersebut tampak tertarik pada pembicaraan malam itu.


Vadim, Mandarin, Gibson dan Nicolas mengangguk cepat. Entah kenapa, alien tersebut tampak senang usai mendengar hal tersebut.


"Malah menurutku, kau seperti jenis ular yang ada di Bumi. Namanya Cobra. Ular itu sangat berbisa, dan ditakuti oleh semua orang. Bahkan racunnya dijual sangat mahal hingga milyaran rupiah per galon-nya. Jadi bisa dibilang, meski cobra berbahaya, tapi juga memiliki manfaat karena beberapa organ cobra bisa digunakan untuk menyembuhkan manusia," sahut Gibson semangat.


"Para manusia memakan kami?!" pekik Alien ular itu langsung mendekat dengan cepat dan menatap Gibson tajam.


Praktis, mata pemuda itu melebar karena merasa salah bicara.


"I-itulah yang kubilang tadi ... kalian dikembangbiakkan. Tak semua orang menyukai daging ular, aku tak suka," sahut Gibson sampai tergagap karena tinggi ular itu dua kali lipat darinya.


Kepala Gibson sampai mendongak dan kawan-kawan lainnya ikut menggeleng cepat terlihat takut.


"Di-di Bumi beberapa hewan diternakkan, dan sebagian hidup di alam liar. Nah, yang diternakkan itu yang akan dimakan oleh manusia. Spesies ular cobra masih sangat banyak di Bumi, kalian tak punah," sahut Nicolas mencoba membantu kawannya yang tubuhnya kini dililit oleh ular besar itu.

__ADS_1


"Hem, aku bisa menerima kebiadapan kalian," ucap Alien ular itu pada akhirnya, meski Gibson sudah seperti akan pingsan karena ketakutan.


Anak-anak bernapas lega. Gibson sampai terhuyung saat tubuhnya dilepaskan oleh alien yang bertugas sebagai koki itu.


"Kalian masaklah sendiri ikan itu. Jangan menggangguku," tegas sang koki, dan keempat anak manusia mengangguk paham.


Vadim dengan sigap mengeluarkan ikan-ikan yang sudah dimasukkan dalam tong. Gibson melihat ikan-ikan itu sudah bersih dan siap untuk dimasak.


Mandarin dan Nicolas membantu karena mereka sudah sangat kelaparan sejak bergabung dengan para bajak laut. Selain itu, anak-anak itu tak diberi makan selama di dalam kapal.


Gibson yang terbiasa memasak selama berlatih di alam liar bersama ayah dan ibunya, tampak tak kesulitan ketika membakar ikan aneh yang dikatakan bisa dimakan oleh mereka.


"Wah, baunya enak," ucap Vadim seraya menelan ludah ketika mereka duduk melingkar di samping sebuah tungku ketika mengamati cara Gibson memasak.


"Semoga kita tak mati usai memakan ikan ini. Aku sudah kehilangan nyawaku, jadi ... hanya tersisa satu," ucap Gibson yang membuat tiga kawannya terkejut.


"Kau sudah mati sebelumnya? Kapan?" tanya Nicolas melotot.


"Tepat di bawah pulau ini. Aku diserang oleh mermaid yang ternyata, mereka berubah menjadi ganas saat malam hari. Aku seperti santapan buat mereka. Saat kuterbangun, aku sudah berada di pulau tak di lautan lagi. Hanya saja, aku yakin jika Serena yang membawaku naik," jawab Gibson seraya memandangi ikan yang sedang dibakarnya.


"Siapa Serena?" tanya Mandarin penasaran.


"Hanya pacar selama setengah hari dan dia mermaid. Dia menolongku, tapi juga membunuhku. Yah, begitulah," jawab Gibson yang membuat tiga remaja pria di depannya mengedipkan mata seperti mencoba menelaah maksud dari kawannya tersebut.


"Metafora yang kaugunakan cukup dalam, Gib. Seperti istilah ... cintamu membunuhku. Oleh karena itu, aku tak mau punya pacar alien. Aku gemuk dan menggemaskan. Pasti aku akan menjadi kudapan lezat saat ia lapar," sahut Vadim pucat seketika.


Suasana yang tadinya tegang dan diselimuti duka, perlahan mencair karena ungkapan Vadim.


Gibson hanya terkekeh lalu memberikan satu buah tusukan ikan yang sudah ia potong menjadi beberapa bagian kepada kawan-kawannya seperti sate.


"Oh, ini sudah bisa dimakan? Semoga rasa ikan alien ini enak," ucap Mandarin tampak gugup.


Empat anak itu terlihat ragu untuk memakannya, tapi karena perut yang keroncongan, membuat mereka nekat menyantap ikan-ikan itu.


Siapa sangka, rasa dari ikan yang tak pernah mereka jumpai sebelumnya karena memiliki corak seperti zebra dan bercula seperti badak itu lezat.


Sepuluh ekor ikan habis disantap oleh anak-anak manusia itu. Meski setelahnya, mereka harus membersihkan peralatan masak karena koki yang berwujud seperti ular cobra itu mendesis dan menatap mereka tajam dari tempatnya berdiri.


***

__ADS_1



makasih tipsnya untuk diriku. kwkwkw😆 ngumpulin recehan buat nyicil beli perlengkapan debay. jangan lupa vote poinnya ya gaes❤️


__ADS_2