
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Oag dan anak-anak lainnya segera berlari diikuti oleh alien kecil yang sepertinya berpihak pada kelompok tersebut.
Oag terkejut saat melihat Hihi berdiri di depan beberapa tabung dengan cairan berwarna hijau, tapi tampak alien seperti Oag tersebut telah mati.
"Mereka ...," ucap Oag seraya berjalan mendekat lalu memegang tabung kaca itu.
"Hihi melihat mereka tidak bergerak, Om Oag. Apakah ... mereka sudah mati?" tanya Hihi menatap Oag lekat.
"Ya, sepertinya demikian. Hanya saja, jika melihat jenis tabung ini, bentuknya mirip seperti yang kami gunakan ketika menangkap beberapa makhluk dalam misi level permainan Maniac," jawab Oag seraya memutari salah satu tabung di paling ujung.
"Iya, Om! Bentuknya mirip. Tabung ini seperti yang Juby dan temen-temen gunain waktu nangkep penyihir dan ubur-ubur!" seru Jubaedah, dan diangguki Pasha, Tina dan Jimmy yang sepakat dengan hal itu.
"Hanya saja, yang ini sedikit berbeda. Tabung ini sepertinya generasi pertama karena masih menggunakan cairan di dalamnya untuk mengawetkan makhluk hidup yang ditangkap," ucap Oag lalu berdiri tegak di depan tabung itu.
"Tubuh mereka memang awet, tapi sepertinya, semenjak pesawat ini kehilangan daya, makhluk yang disimpan dalam tabung ini ikut tewas. Itu hanya dugaanku saja. Kebetulan, ayahku seorang teknisi jadi aku sedikit tahu karena sering membantunya membetulkan peralatan elektronik," ucap Bobby, dan semua anak mengangguk bersamaan karena baru mengetahui hal itu.
"Hem, aku rasa ucapanmu benar, Bobby. Oleh karena itu, aku mengajakmu," ucap Oag seraya melirik remaja bertubuh besar tersebut. Bobby diam saja terlihat tegang.
"Kasihan sekali mereka tewas," ucap Tina pilu saat melihat lima buah tabung dengan makhluk sejenis Oag masih tersimpan utuh di dalamnya.
"Hor! Hor!" panggil alien kecil yang berada di belakang kumpulan orang-orang itu.
Oag dan lainnya menoleh. Alien itu menggerakkan tentakelnya dan menekan sebuah tombol warna biru di sana.
Kening Oag berkerut saat tiba-tiba saja sebuah hologram muncul di tengah-tengah lantai besi ruangan tersebut.
Praktis, semua anak terperanjat dan langsung menyingkir. Mata mereka kini fokus pada sosok alien seperti Oag yang mengenakan seragam dan sedang duduk terlihat tegang karena gambar tersebut berguncang.
Dalam hologram itu, terdengar beberapa suara seperti pesawat mengalami kegagalan mesin dan kerusakan. Semua orang terlihat serius menyimak.
"Siapa dia?" tanya Oscar dengan kening berkerut. Oag menggeleng tidak tahu.
"Catatan misi. Kami sudah mengubungi pusat, tapi belum ada jawaban. Pesawat sepertinya akan mendarat dengan keras dan kemungkinan kecil kami selamat. Misi kami untuk membawa kembali jenis baru dari kaum GIGANT-MARVELOUS ke planet asalnya," ucap sosok itu yang jenis suaranya seperti laki-laki.
Anak-anak melirik Oag yang terlihat serius mendengarkan dari tempatnya berdiri.
"Lima jenis makhluk yang telah kami kembangkan kemampuannya, akan sangat membantu kemajuan planet ini. Hal ini sudah diterapkan di planet kami terutama padaku selaku pemimpin misi sekaligus ilmuwan. Aku mengubah diriku agar menjadi seperti GIGANT-MARVELOUS, tapi dengan ukuran tubuh yang lebih kecil, lebih kuat, bisa berkembang biak tanpa perkawinan layaknya makhluk jenis ini. GIGANT-MARVELOUS bisa berkamuflase dengan lingkungan sebagai bentuk pertahanan diri dari pemangsa sekitar," ungkapnya.
__ADS_1
Anak-anak mengangguk setuju karena Oag saat itu pernah menggunakan kemampuan menghilangnya ketika menemui mereka di ruangan kebangkitan.
"Mereka bahkan berumur panjang hingga ratusan tahun lamanya, tapi aku mengembangkan hingga ribuan tahun meski hal itu belum bisa dibuktikan mengingat umurku belum sampai ke angka tersebut. Selain itu, pengembangan kami membuat makhluk jenis ini mampu berenang dan hidup di dalam air. Mereka juga bisa berpikir layaknya manusia setelah kami mengimplan sel-sel manusia di Bumi pada mereka yang telah terpilih."
BLUARR!!
Tiba-tiba saja, terdengar suara ledakan keras yang membuat kapten pesawat itu tegang seketika.
Guncangan semakin terlihat jelas berikut asap dan kobaran api di sekitar kapten itu duduk. Mata semua orang melebar saat melihat alien yang duduk di kursi itu memejamkan mata lalu tersenyum.
"Kami melakukan penelitian kepada semua makhluk di alam semesta yang berhasil ditemukan. Kami mengembangkan kemampuan mereka agar bisa bertahan dari ancaman kepunahan. Namun, dari semua jenis yang pernah kurekayasa, aku paling menyukai makhluk jenis GIGANT-MARVELOUS. Aku melahirkan satu dan kuberi dia nama Oag. Kupercayakan planet Mitologi padamu untuk kaulindungi, Oag. Para manusia yang kuizinkan tinggal di sana akan membimbingmu seperti janji mereka padaku. Laporan selesai."
Praktis, mata semua melebar. Oag tampak tertegun saat melihat rekaman itu tiba-tiba saja hilang karena ledakan besar kembali terjadi.
"Om Oag! Jangan-jangan, alien yang ada di kursi tadi ayahmu?" tanya Pasha yang membuat Oag langsung menoleh ke arah remaja gemuk itu.
Dengan sigap, Oag berlari ke arah tempat ditemukannya jasad alien yang sudah menjadi tengkorak.
Anak-anak mengejar Oag dengan tergesa begitupula alien kecil yang mengikuti Hihi di belakangnya.
Seketika, langkah anak-anak terhenti saat Oag berdiri di depan jasad itu lalu memegangnya dengan hati-hati.
"Induk?" tanya Hihi bingung.
"Iya, kaya ibu gitu. Walaupun Juby juga bingung sih karena Juby yakin kalau kapten pesawat itu laki-laki. Namun, entahlah. Intinya, alien yang sudah tewas itu orang tua Oag. Kasihan ya," ucap Jubaedah iba, dan diangguki anak-anak yang sepemikiran dengannya.
Namun, hal mengejutkan kembali terjadi. Oag malah melepaskan tengkorak dari alien tersebut lalu memeluknya. Jimmy berdiri mematung meski matanya melirik ke arah kawan-kawannya.
"Cara berdukanya beda dengan kita. Tak usah dikomentari," bisik Tina, dan anak-anak mengangguk cepat dalam diam.
Oag terlihat sedih dan masih memeluk tengkorak itu erat dengan mata terpejam. Jubaedah memberanikan diri mendatangi Oag lalu menekan-nekan lengannya dengan telunjuk. Oag melirik.
"Bawa pulang aja jasad orang tuamu. Setidaknya, om Oag sekarang tahu masa lalu dari jenismu. Apakah sebelum om Oag liat hologram itu, om Oag tahu dari mana asalnya?" tanya Jubaedah menatap Oag lekat.
Oag lalu memasang kembali tengkorak itu ke tempat asalnya meski posisinya menjadi miring. Jubaedah terkejut, tapi diam saja.
"Yang kutahu, aku diciptakan, bukan dilahirkan. Dewa Zeus, Poseidon, Hades, dan dewa-dewa lainnya adalah pencipta kami termasuk para makhluk Mitologi. Namun ternyata, sebelum mereka ada, terdapat jenis lain yakni alien seperti ayahku. Melihat bentuknya, aku tak begitu yakin seperti apa wujud asalnya. Namun, dari perilakunya, ia seperti manusia, hanya saja sudah bercampur dengan jenis makhluk lain," jawab Oag seraya menatap induknya lekat.
"Juby gak paham soal bentuk-bentuk alien, planet dan lainnya. Namun, Juby berpikir setidaknya maksud dari orang tuamu baik, Om Oag. Dengan begini, om Oag tahu asal-usul dari nenek moyang. Eh, kakek moyang. Eh, itulah pokoknya. Leluhur," ucap Jubaedah yang bingung sendiri menjelaskan.
__ADS_1
Oag mengangguk pelan. Ia lalu melihat sekitar ruangan di pesawat itu yang memang sudah rusak seperti tak bisa diperbaiki.
"Misi indukku gagal. Mungkin karena itu, ia tak pernah kembali. Mungkin juga, pusat komunikasi di planet mitologi tak menerima panggilan darurat itu. Hanya saja, kenapa mereka tak mencarinya?" tanya Oag bingung.
"Jarak dari planet mitologi sampai ke sini bukannya sangat jauh? Mungkin saat itu tak ada kendaraan untuk melakukan misi penyelamatan. Atau mungkin, tak ada orang yang ahli di bidangnya untuk menyusul. Banyak kemungkinan bisa terjadi," sahut Bobby, dan anak-anak lain mengangguk setuju.
"Jangan menyalahkan orang lain karena orang tuamu tak bisa diselamatkan, Om Oag. Lebih baik, kau sekarang meneruskan harapan besar dari orang tuamu untuk memimpin planet mitologi. Hanya saja, bolehkan aku meminta satu hal padamu?" tanya Tina menatap Oag penuh harap.
"Hem, apa itu?" tanya Oag menatap Tina lekat, begitupula anak-anak lain yang penasaran.
"Sudahi saja permainan ini. Tak perlu sampai selesai di level 10. Aku merasa, perjuangan kami para anak-anak Bumi sudah cukup."
"Tidak bisa. Perjanjian tetap perjanjian," tolak Oag tegas.
"Perjanjian apa? Kalian melakukan perjanjian dengan siapa? Jangan bilang kami para anak manusia sebagai taruhannya," tanya Oscar mulai kesal.
Oag diam saja tak menjawab, tapi anak-anak bersikeras ingin tahu. Mereka memaksa Oag untuk jujur, dan alien tersebut tampak berusaha menahan emosinya.
"Kalian akan tahu saat Gibson menanyakan hal itu padaku nanti ketika dia lolos di misi level 7. Diam!" jawab Oag marah hingga tentakel di bawah dagunya bergerak lincah, tapi malah terlihat mengerikan.
"Oh! Gibson memiliki pertanyaan seperti itu? Sungguh? Wah, dia memang jenius!" seru Pasha langsung semangat.
"Om Oag. Entah ini benar atau tidak, tapi selama permainan berlangsung, kau pasti mengawasi gerak-gerik kami. Pasti ada kamera tersembunyi di banyak wilayah. Benar 'kan? Jadi, biarkan kami menjadi penonton. Kami ingin melihat perjuangan kawan-kawan kami yang masih hidup!" pinta Jimmy dengan mata membulat penuh.
"Ya, itu benar! Ayolah, Om! Biarkan kami ikut menonton. Kami sudah mengantarkanmu sejauh ini! Boleh ya, ya, ya," rengek Hihi seraya memegang lengan Oag seperti tak takut dengannya.
Ternyata, rengekan Hihi ditiru oleh semua anak. Tubuh Oag bergoyang dan alien itu tampak bingung dalam bersikap karena desakan anak-anak manusia itu.
"Berisik! Baiklah, tapi diam!" teriaknya marah.
"Horeee!" seru Jubaedah dan lainnya melompat kegirangan.
Alien kecil yang mengikuti kelompok itu ikut melompat seperti merasakan kegembiraan yang sama.
Oag mendengkus kesal melihat anak-anak itu bergembira di atas tekanan yang sedang dihadapinya.
***
__ADS_1
kwkwkw napsu ngetips biar cepet selesai novelnya dan lele tinggal lunasin utang novel tamat lainnya. cemangat!!