MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MAK LAMPIR*


__ADS_3

Anak-anak yang terperangkap dalam dinding di wilayah tak dikenal mencari cara agar bisa keluar dari tempat tersebut.


Mereka khawatir akan terpisah dari kawan-kawan yang sedang menjalankan misi dan menuai kegagalan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia.


"Kita harus cari cara," ucap Czar terlihat letih.


"Ya, aku setuju. Sayangnya, beberapa dari kita terluka. Bagaimana menyembuhkan luka itu?" tanya Kenta melihat kondisi kawan-kawannya yang tampak berantakan.


"Oh! Permen!" seru Bara teringat akan Gibson dan Rangga yang berhasil sembuh setelah memakan makanan manis tersebut.


"Ah, aku masih menyimpan beberapa. Sebentar," sahut Laika seraya merogoh sakunya.


Para remaja itu tampak senang. Laika mengeluarkan beberapa jenis permen dari dua saku celananya.


Gadis itu segera memberikan makanan manis yang ia simpan kepada teman-temannya. Czar segera memakan sebuah permen warna merah muda dengan lahap begitupula anak-anak lainnya.


"Wah, enak ya. Namun, aku mulai merasa gigiku bermasalah. Jangan sampai berlubang karena permen-permen ini. Bisa dimarahi bapak," ucap Bara seraya memijat pipi kirinya.


"Oia. Siapa ayahmu? Kau dari Indonesia 'kan?" tanya Laika menatap Bara lekat.


Bara mengangguk. "Orang-orang menyebutnya Biawak Putih. Namun, nama sebenarnya ayahku adalah Bagaskara Baladewa," jawab Bara seraya mengunyah makanannya.


"Biawak Putih? Seperti nama kadal. Apakah ayahmu pecinta hewan tersebut? Kadal albino mungkin?" tanya Kenta heran.


"Bapak saja takut dengan Biawak. Entah, bapak tidak pernah mengatakan alasannya, tapi dia sering dipanggil begitu oleh kawan-kawannya. 'Kang Biawak!' atau kadang, 'Kang Putih!' Padahal kulit bapak cokelat," jawab Bara yang membuat anak-anak terkekeh mendengar kisahnya.


"Oh! Aku sudah pulih!" ucap Czar seraya menggerakkan tangan kiri yang sebelumnya terluka karena serangan penyihir.


Anak-anak lain yang mengalami luka saat bertempur menyampaikan hal yang sama.


"Kita harus mengumpulkan banyak permen. Makanan ini penyembuh di planet ini," ucap Kenta semangat.


"Namun, kita harus cari cara untuk keluar dari tempat mengerikan ini. Kita harus menolong kawan-kawan kita. Satu penyihir saja harus dikalahkan oleh lima anak. Bagaimana dengan jumlah penyihir yang harus mereka hadapi satu per satu? Mereka bisa tewas!" pekik Boas dan diangguki semua anak yang sependapat dengannya.



Sedang di sisi lain. Anak-anak yang sedang berusaha menyelesaikan misi di tempat antah berantah terlihat waspada dengan tempat itu.


Daratan tersebut berkabut dan berbukit. Mereka memilih untuk tetap menjadi manusia tak menggunakan wujud Mitologi.


"Waspada, Kawan-kawan," ucap Gibson saat mereka berjalan beriringan memasuki wilayah yang tampak asing.


Rex menyiagakan pedang Silent Blue miliknya tanpa menyalakan laser, begitupula Mandarin dengan pedang Silent Gold.


"Jadi ... kita berburu penyihir, begitu?" tanya Ryan memastikan dan diangguki oleh semua anak-anak.


Saat mereka menyusuri wilayah tersebut, tiba-tiba, "Hihihihi!"


"Wow! Apa itu tadi?!" pekik Tina saat ia melihat sosok yang terbang di sampingnya seraya tertawa meringkik .


"Pasti itu nenek lampir. Ya ampun, Juby takut," ucap Jubaedah seraya memegangi tangan Rex erat.

__ADS_1


"Jangan sampai terpisah. Aku yakin, kita telah diawasi," ucap Gibson lalu meminta kawan-kawannya membentuk lingkaran.


"Apakah ada dampaknya, jika kita menjadi makhluk Mitologi?" tanya Timo penasaran.


"Entahlah. Namun, melihat yang terjadi pada kelompok sebelumnya, aku tak mau ambil risiko," jawab Gibson terlihat siap.


"Kita tak bisa melawan jika tak menggunakan kemampuan itu. Kita harus berubah!" seru Lazarus.


Benar saja, tiba-tiba Lazarus berubah wujud menjadi Centaur. Seketika, "Hihihihi!"



"Waa! Mak lampirnya muncul!" pekik Jubaedah menunjuk sosok penyihir yang muncul dari balik kabut mengendarai sapu seperti dalam cerita dongeng. Praktis, mata anak-anak itu melotot.


"Rangga, now!" seru Lazarus seperti sudah merencanakan sesuatu kepada remaja berkulit hitam itu.


Dengan sigap, SWINGG!


"Hihihihi!" tawa penyihir itu saat ia berhasil menghindar dari serangan Rangga yang mengayunkan kapaknya. Rangga ikut berubah wujud menjadi Minotaur.


"Para penyihir itu harus dipancing dengan kemunculan makhluk Mitologi. Kami berdua menjadikan diri kami umpan. Cari cara untuk mengalahkan dia sebelum penyihir lainnya muncul!" seru Rangga yang terlihat siap menyerang dengan Lazarus di sampingnya.


"Aku mengerti!" jawab Gibson mantap.


"Rex! Berapa sisa gas warna-warni yang kaumiliki?" tanya Mandarin panik.


"Tak banyak, tapi bisa digunakan. Namun, harus mencari waktu yang tepat. Jangan sampai terbuang sia-sia!" jawab Rex seraya membuka koper dan melihat stok dari gas itu.


"Hei, lawanmu di sini!" teriak Lazarus karena penyihir itu malah mengincar Rex.


Praktis, mata Rex melebar. Anak-anak lainnya panik dan malah berlari menghindar hingga mereka terpencar. Jubaedah melihat Rex bergegas menutup kopernya, tapi, DUAKK! BRUKK!


"Rexy!" teriak Jubaedah saat Rex akan bangun, kepalanya terhantam sapu penyihir tersebut. Rex langsung jatuh tersungkur dan koper tersebut terlempar. Rex tergeletak tak sadarkan diri. "Kau!" teriak Jubaedah murka menunjuk penyihir tersebut saat ia mengulurkan tangannya untuk meraih koper itu.


"Juby!" teriak Azumi panik karena Jubaedah tampak marah saat berlari mendatangi penyihir itu.


"Argh!" erang Jubaedah saat ia berhasil menggapai penyihir yang terbang melayang dengan berjongkok di atas sapu.


"Akkkk!" erang penyihir itu saat rambut kusutnya dijambak oleh Jubaedah hingga ia hampir jatuh dari sapu terbang.


"Berani-beraninya sakiti, Rex! Dasar Mak Lampir jelek!" amuk Jubaedah seraya menarik rambut penyihir itu kuat hingga jatuh dari sapu.


Anak-anak terkejut saat melihat Jubaedah seperti tak takut dengan penyihir yang terlihat mengerikan itu. Ternyata, kaki penyihir itu hanya sampai atas mata kaki.


Jubaedah yang tak melihat hal tersebut karena dibutakan oleh amarah, menyeret penyihir tersebut yang mengerang kesakitan mencoba melepaskan cengkeraman tangan Jubaedah di rambutnya.


"Juby berhasil menangkapnya! Jangan sampai penyihir itu lolos! Ikat dia!" titah Gibson melihat kesempatan.


Segera, Harun mengeluarkan tali dari dalam tasnya. Anak-anak segera berkumpul untuk menolong Jubaedah.


Gadis manis yang masih kesal itu tak melepaskan cengkramannya. Bahkan, langit seperti ikut murka. Tiba-tiba saja, tanah seperti bergetar.


Anak-anak panik, tapi Gibson meminta mereka untuk tetap fokus mengikat kaki dan tangan penyihir itu.

__ADS_1


"Gibson! Sapu itu bergerak!" teriak Peter saat melihat sapu yang digunakan oleh penyihir itu mengarah ke tuannya.


Kucing yang tergantung itu pun ikut meraung-raung seperti ingin ikut melakukan perlawanan.


Benar saja, hewan yang dianggap telah mati oleh anak-anak itu tiba-tiba saja melompat dengan kuku tajam dan mata berubah merah menyala.


"Meaw!"


"Agh! Aggg," erang Jimmy saat kucing tersebut melompat ke arahnya dan menggigit tangannya yang sedang berusaha mengikat paha penyihir itu.


"Jimmy!" seru kawan-kawan dari kelompok Amerika saat melihat tangan teman mereka sampai berdarah karena kucing tersebut tak melepaskan gigitannya.


KRAUK!


"Wow!" pekik Rocky saat melihat Pasha tiba-tiba menggigit tubuh kucing hitam tersebut dengan gigi tajamnya lalu melemparkannya jauh.


Pasha terlihat geram dengan tubuh Manticore-nya, tapi hal itu membuat Jimmy selamat.


"Pasha, bawa penyihir ini ke tempat tabung berada. Jangan sampai ia lolos. Cepat!" titah Gibson dan diangguki oleh Pasha.


Harun menemani Pasha dengan menaiki punggung Manticore-nya. Harun memegangi tubuh penyihir yang masih berusaha memberontak dengan kuat yang diletakkan di hadapannya.


"Cepat, Pasha! Aku tak bisa menahannya lama!" seru Harun seraya menutup wajah mengerikan penyihir itu dengan topi besarnya.


Pasha segera terbang ke arah tabung. Anak-anak terlihat lega, tapi juga cemas karena khawatir jika penyihir itu berhasil kabur saat dibawa pergi.


Saat pandangan para remaja itu terfokus pada kawan mereka yang terbang meninggalkan kawasan tersebut, tiba-tiba, "AAAA!"


"Jimmy!" panggil Gibson dengan mata melotot saat melihat remaja itu diculik oleh seorang penyihir yang muncul di balik kabut mengendarai sapu terbang lainnya.


"Kejar Jimmy!" seru Vadim panik.


Anak-anak segera berlari mengejar, tapi Jubaedah tak bisa meninggalkan Rex yang akhirnya sadar setelah ia sempat pingsan karena terkena pukulan kuat di kepalanya.


Namun tiba-tiba, Nicolas merubah wujudnya. Jubaedah dan Rex terkejut saat melihat wujud Elf Nicolas membidik penyihir tersebut dengan panah ajaibnya.


SHOOT! CLEB!


"Aggg!"


BRUKK!


"Wow! Nico keren!" seru Jubaedah karena lesatan panah tersebut tepat mengenai punggung penyihir penculik Jimmy dan membuatnya jatuh, tapi remaja itu ikut tersungkur bersamanya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



uhuy tengkiyuw tipsnya😍 kwkwkw upnya kemaleman. baru pulang nonton film di bioskop sayangnya banyak ketebak sih adegan-adengannya, tapi tetep seru uyy.

__ADS_1


__ADS_2