
Akhirnya, matahari di Planet Mitologi mulai memancarkan sinarnya. Gua tempat kapal berlabuh mulai bercahaya dan terasa hangat.
Para awak kapal masih tertidur, sedang empat anak manusia sudah terlihat tak sabar untuk segera menjelajah.
Nicolas yang sudah diajarkan bagaimana mengembangkan layar, dengan sigap membuka semua gulungan itu untuk membentangkan kain besar pendorong angin tersebut.
Gibson memberanikan diri membangunkan kapten kapal yang tidur di sebuah kamar khusus belakang kemudi.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Capt! Ehem, selamat pagi. Hari sudah pagi. Kudengar dari kawan-kawan jika beberapa wilayah saat malam hari, lautan akan membeku. Sebaiknya kita segera berangkat," ucap Gibson tampak gugup.
BRAKK!
Gibson tersentak sampai kakinya melangkah mundur dengan cepat. Ia terkejut saat melihat alien yang tampak bercahaya ketika malam, kini berubah begitu pagi datang.
Gibson mengamati sang kapten bajak laut yang tampak seperti ikan hiu martil karena kepalanya berbentuk huruf T.
Alien itu juga tak bercahaya dan tak berlendir. Bahkan, alien itu kini memiliki dua tangan meski jari-jarinya berupa selaput. Gibson diam mengamati alien itu dengan saksama.
Tiba-tiba, "GOARRR!"
Gibson melebarkan mata karena terkejut. Ia tak menyangka jika raungan kapten kapal sangat besar seperti seekor singa yang mengaum.
Mulutnya kini terlihat dan memiliki gigi tajam seperti jenis hiu putih. Punggungnya juga memiliki sirip yang tampak tajam layaknya pisau.
Gibson langsung menjaga jarak ketika makhluk itu berjalan menuju ke kemudi dan mulai memegang benda berbentuk lingkaran dari kayu tersebut.
Tak lama, para alien anak buah kapal muncul. Ternyata, wujud mereka berbeda saat malam dan pagi hari.
Gibson terdiam begitupula tiga kawan lainnya yang kini berdiri berjejer di geladak tampak gugup.
"Kita akan segera berlayar. Hanya saja, kita akan mencari para anak manusia itu. Kita akan menjemput mereka satu per satu. Jadi, kita harus bergegas. Aku tak mau harta karunku menunggu terlalu lama," tegas sang kapten terlihat siap untuk berlayar.
"Ai-ai, Capt!" seru semua ABK mantap.
Gibson dan lainnya tampak bingung ketika para alien itu dengan sigap menyiapkan keberangkatan kapal mereka. Hingga akhirnya, kapal bajak laut itu mulai berlayar menuju lautan.
Senyum keempat anak itu merekah. Hewan penyimpan cadangan jiwa juga terlihat senang seperti merasakan sesuatu dari perjalanan tersebut.
"Kapten, kita mau ke mana?" tanya Mandarin memberanikan diri bertanya.
"Negeri Dongeng. Kali ini, aku cukup terkesan padamu, Anak manusia," jawab sang Kapten seraya melirik Gibson.
"Aku? Memangnya apa yang kulakukan?" tanya Gibson bingung seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Pacarmu si ikan duyung memberikan banyak informasi pada kami. Katanya, sebagai penebusan karena tak sengaja membunuhmu. Semalam, anak buahku menangkapnya karena ia berkeliaran di sekitar kapal. Dia mengambil risiko. Kami tahu, para duyung membenci bajak laut. Namun, sepertinya dia tahu jika di kapal ini bukan manusia seperti dalam kenangan buruk mereka, melainkan kami. Dia mengatakan jika anak-anak manusia terlihat di negeri dongeng. Kami melepaskan Serena-mu dan berjanji tak akan mengusik kehidupan para duyung," jawab sang Kapten menjelaskan.
Gibson terdiam. Ia lalu berjalan menuju ke tepian kapal untuk melihat ke arah laut. Seketika, mata lelaki itu melebar. Ia melihat Serena menampakkan dirinya dengan setengah tubuh muncul ke permukaan.
Duyung cantik itu melambaikan tangan terlihat sedih. Gibson yang merasa jika Serena sebenarnya baik hati, tak tega melihat mantan kekasihnya berduka.
Gibson melepaskan jaket yang ditemukannya dan menggulungnya. Ia melemparkannya jauh dan Serena dengan sigap berenang untuk menangkapnya.
"Sampai jumpa, Serena! Terima kasih!" teriak Gibson seraya melambaikan tangan dengan senyum terkembang.
Serena mendekap jaket yang basah itu dengan air mata ikut menetes. Puteri duyung itu balas melambaikan tangan dengan senyum merekah.
"Hehehehe, merasa sedih, Anak manusia? Kau bahkan membuat seekor duyung bisa meneteskan air mata haru. Asal kautahu, air mata duyung dengan rasa bahagia bisa membuatmu awet muda dan berumur panjang jika kau meminumnya," ucap Alien yang seperti siput.
__ADS_1
Gibson diam saja tak menanggapi hal itu. Ia masih berdiri di tepi kapal dan membiarkan sosok Serena memudar dari penglihatannya. Gibson menarik napas dalam dan siap untuk melanjutkan ke misi selanjutnya.
Di tempat Jubaedah dan kawan-kawannya berada.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Gadis itu bersama dua teman lelakinya tampak menikmati ikan bakar yang berhasil Timo tangkap.
Mereka makan cukup banyak untuk mengisi energi karena anak-anak itu sudah sepakat untuk menjelajah sekitar mencari kawan-kawan mereka.
"Juby! Juby!" panggil seseorang dengan suara besar layaknya monster yang membuat gadis itu langsung mendongak ketika mendengar suara dari kejauhan dari atas langit yang memanggil namanya.
"Apa tuh? Suara malaikat maut 'kah? Jangan bilang ikan ini beracun dan Juby mati! Huwaaa!" ucapnya panik dan malah menangis dengan tusukan ikan dalam genggaman.
"Ha? Kaubicara apa? Kau mengatakan Rex malaikat maut? Lihat! Itu, pacarmu datang!" seru Kenta langsung menunjuk lalu berdiri dengan ikan bakar di tangan kanan.
Praktis, tangisan Jubaedah reda seketika. Ia menoleh dan melihat sosok naga Rex muncul bersama beberapa anak yang duduk di punggungnya.
"AAAAA! Rexy my darling!" teriak Jubaedah senang dan langsung melemparkan ikan bakar itu ke pangkuan Timo.
Lelaki asal Philipina itu bingung, tapi memilih tetap duduk karena masih banyak ikan yang harus dibakar.
Tim Rex terlihat senang. Kenta ikut berlari mendatangi kawan-kawannya yang turun dari punggung naga Rex satu per satu.
"Rexy!" panggil Jubaedah gembira dan langsung memeluk wajah naga hijau itu.
Rex ikut bahagia, senyumnya terkembang dan matanya terpejam saat ia bertemu sang kekasih.
Sedang anak-anak lainnya, saling berpelukan melepaskan rasa rindu yang mendalam.
"Hei, kemari! Aku menangkap banyak ikan! Ayo, makan bersama!" panggil Timo seraya melambaikan tangan.
"Waaaa! Kita makan!" seru Pasha riang dan dengan sigap berlari kencang karena tak mau kehabisan.
"Hei, kau baik-baik saja? Maaf ya, Rex baru jemput," ucap pemuda berwajah Asia itu saat kembali menjadi manusia.
"Hiks, Rexy ... Juby nyawanya tinggal satu ... hewan Juby mati gegara Juby minum air sungai yang ternyata beracun. Juby sedih," ucap Jubaedah yang membuat mata pemuda itu melebar.
Rex langsung memeluk Jubaedah erat yang menangis di dadanya.
"Rex akan jaga dan lindungin Juby. Jangan khawatir, Juby akan baik-baik saja. Rex janji akan bawa Juby pulang ke Bumi," jawabnya terlihat takut.
"Kalau Juby gak selamat, Rex kudu janji gak boleh nikahin perempuan lain. Kamu harus jadi bujang seumur hidup. Juby gak mau tau. Juby 'kan mati muda belum nikah, belum punya anak lagi," ucapnya yang membuat putera dari Eiji tersebut tersenyum tipis.
"Hem, Rex janji. Rex siap jadi jomblo seumur hidup demi Juby. Udah, jangan nangis lagi, 'kan kita udah ketemu," ucapnya mencoba menenangkan sang kekasih yang masih meneteskan air mata.
Jubaedah mengangguk seraya melepaskan pelukan meski ia masih cemberut. Rex yang sangat merindukan kekasihnya, menggandeng tangan Jubaedah menuju ke tempat kawan-kawannya berkumpul.
"Cie, cie yang udah ketemu sama yayang," ledek Rangga.
"Sirik aja!" sahut Jubaedah cemberut, tapi anak-anak lainnya terkekeh.
Mereka seperti sudah terbiasa dengan kedekatan antara Jubaedah dan Rex, kecuali Bara yang masih kesal melihat keromantisan keduanya.
"Jujur aku tak menyangka jika akan bertemu dengan kalian. Aku sangat senang," ucap Laika seraya menikmati ikan bakar olahan Timo.
"Sama, aku juga. Semoga, kita tak terpisah lagi dan segera menyelesaikan misi. Aku ingin segera pulang," sahut Timo terlihat sedih.
Anak-anak lainnya mengangguk setuju. Usai makan, mereka membongkar semua isi dalam tas untuk melihat benda apa saja yang berhasil diselamatkan.
"Yang pasti, kita butuh perbekalan. Kita tak tahu di mana pulau Pelangi itu. Selain itu, selama kami berada di tepi laut, tak ada kapal yang melintas. Di mana kita menemukan para bajak laut itu?" tanya Kenta bingung.
__ADS_1
"Oh! Pakai kompas saja. Kami menemukan kalian karena kompas!" sahut Pasha semangat.
Anak-anak terlihat bersemangat untuk segera tahu di mana lokasi pulau Pelangi itu. Namun tiba-tiba, Laika menarik kompas tersebut. Praktis, semua anak terkejut.
"Ingat instruksi misi. Dia meminta kita agar melakukannya bersama kawan-kawan yang lain. Anggota kita belum lengkap. Kita harus mencari teman-teman terlebih dahulu," tegas Laika.
"Ah, kau benar. Aku hampir lupa. Jadi ... siapa yang akan kita cari?" tanya Rex penasaran.
"Czar!" seru Laika.
"Jangan. Vadim dulu!" sahut Pasha.
"Adikku Tina belum ditemukan," timpal Timo.
"Azumi juga belum ada!" imbuh Kenta.
"Bara bagaimana?" tanya Rangga terlihat cemas.
Praktis, suasana menjadi riuh seketika. Jubaedah dan Rex saling memandang terlihat bingung karena kawan-kawan mereka malah saling bertikai.
"Kita hompimpa aja. Yang menang, dia yang menentukan siapa yang dicari duluan, dari pada ribut gini?" usul Jubaedah, dan semua anak mengangguk setuju.
"Cara mainnya bagaimana?" tanya Laika bingung.
"Cuma bolak-balikin tangan aja kaya gini. Yang paling beda, itu yang menang. Kalau jumlah yang paling beda ada yang sama, tapi paling sedikit, nanti mereka suit batu-kertas-gunting. Gampang kok," jawab Jubaedah seraya mempraktikkan dengan telapak tangannya.
"Oke, aku mengerti. Aku siap!" seru Kenta semangat.
"Mulai ya. Hom-pim-pa alaiyum gambreng!" seru Jubaedah seraya bernyanyi.
"Woah! Rex dan Rangga samaan. Lainnya kalah. Nah, sekarang kalian berdua suit!" seru Jubaedah yang memposisikan dirinya menjadi wasit.
"Oke!" sahut Rangga terlihat siap dengan menyembunyikan tangan kanannya di belakang pinggang.
Padahal hanya permainan suit saja, tapi suasana terasa tegang.
"Satu, dua, tiga!" teriak Jubaedah memulai. "Yey! My darling menang!" seru Jubaedah senang dan langsung memeluk Rex.
Pemuda itu hanya terkekeh, sedang yang lainnya cemberut.
"Mm, aku akan mencari orang yang tak kalian sebut saja agar adil," ucapnya yang kini memegang kompas tersebut.
"Siapa?" tanya Timo heran, tapi Rex hanya tersenyum.
Seketika, suasana hening saat Rex memejamkan mata terlihat begitu serius dengan permintaannya. Serasa, waktu berhenti sejenak karena Rex seperti orang hikmad dalam berdoa.
"Tunjukkan padaku di mana Ryan berada," ucap Rex yang membuat semua anak terkejut seketika.
Mereka baru sadar jika tak ada yang menyebut nama Ryan. Perasaan bersalah perlahan timbul karena mereka hanya memikirkan kawan-kawan terdekat saja.
"Oh! Jarumnya bergerak!" seru Jubaedah mengamati pergerakan jam tersebut.
Rex membuka mata dan melihat arah jarum tersebut. "Oh, dia sudah berhenti. Di sana, Ryan pasti berada di gunung seberang laut itu! Kita bisa ke sana dengan terbang. Ayo!" ajak Rex dengan mata berbinar seraya menunjuk.
"Ayo!" sahut Jubaedah senang dan diangguki dengan mantap oleh semua kawan-kawannya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Kwkwkw kasih tips koin biar lancar upnya dan tamat sesuai jadwal😆 Doain lele selalu sehat karena pengen banget bisa crazy up. Jangan lupa like dan vote poinnya ya. Lele padamu❤️