MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
TIGA BURUAN LAGI*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Anak-anak terbang menjauh dari hutan dan kini menyeberangi sungai untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perburuan. Kenta melihat sekitar sebelum mendarat di mana kawan-kawannya sudah berkumpul di dekat sungai. Hanya saja, ada yang aneh dengan sungai tersebut karena berwarna abu-abu. Timo yang penasaran dengan air di sungai itu mendekat. Namun, saat ia menggunakan kerang ajaibnya dengan maksud untuk menetralisir racun yang terkandung, tiba-tiba saja kerang itu meleleh.


"Wah!" pekiknya terkejut dan langsung menjauh.


"Ada apa?" tanya Czar langsung mendekat dengan wajah tegang.


"Ke-kerangku meleleh," ucapnya dengan mata melebar.


"Maksudmu ... kerang ajaib? Kerang ajaib yang biasa kita gunakan untuk minum dan menetralkan racun?" tanya Czar memastikan. Timo mengangguk cepat masih tampak kaget.


"Tidak! Kenapa benda berharga seperti itu bisa lenyap?" keluh Vadim langsung menangisi kerang pemberian seekor Mermaid bernama Elena kala itu.


Semua anak dilanda kepanikan. Tampaknya, yang dikatakan sosok rupawan jika mereka akan kesulitan hidup di tempat itu ada benarnya. Para remaja itu mulai antisipasi dengan sekitar terutama perbekalan yang mereka miliki sampai misi dinyatakan selesai oleh sistem permainan Maniac.


"Hei! Ada semacam wilayah terbuka di sana dan terlihat beberapa makhluk. Ingin coba mengintai?!" tanya Kenta yang masih terbang di atas dengan wujud Phoenix.


"Sosokmu terlalu mencolok, Kenta. Sebaiknya, aku dan Bara saja yang melihat ke sana," sahut Boas.


Kenta mengangguk setuju dan segera terbang turun. Ia kembali dalam wujud manusia dan berkumpul bersama kawan-kawannya. Bara dan Boas dengan sigap menjadi makhluk Mitologi lalu terbang menuju ke wilayah yang sudah Kenta informasikan. Anak-anak lainnya tampak waspada dengan sekitar karena mereka bukan berada di Planet Mitologi. Hal itu diketahui dari jenis makhluk yang ditemui sebelumnya, dan juga respon tubuh seperti mengalami sedikit perbedaan karena menjadi lambat serta tak bisa bernapas seperti biasanya.


"Kenapa rasanya udara yang kuhirup tak masuk sepenuhnya ke paru-paru ya? Aku jadi merasa mudah lelah dan badanku berat," ucap Rangga seraya memegangi dadanya.


"Ya, itu benar. Apalagi saat aku terbang dan membawa kalian. Aku bersusah payah agar bisa mengepakkan sayap. Aku seperti tertarik oleh gravitasi. Udara di sini juga terasa lain. Namun, melihat kita baik-baik saja, sepertinya wujud Mitologi dan manusia bisa beradaptasi dengan tempat ini," ucap Rex seraya memijat pundaknya yang terasa pegal.


"Pertanyaanku tentang kita manusia kloningan tampaknya benar, meski belum sempat kuutarakan pada pria tampan. Itu karena, darah kita biru dan merah. Kita jadi seperti para alien. Terlebih, darah makhluk yang disedot oleh Timo tadi, warnanya biru persis seperti kita. Jangan-jangan, kita terbuat dari campuran gen dengan para makhluk di sini? Jika ya, seram sekali. Kita seperti manusia buatan," ucap Ryan bergidik ngeri.

__ADS_1


Timo yang baru menyadari hal itu ikut pucat. Semua anak diam terlihat serius entah apa yang dipikirkan selama mereka berpetualang dalam permainan Maniac.


"Hei! Hei!" panggil Bara yang terbang di langit dengan sosok Garuda. Semua anak langsung mendongak ke langit menatap pemuda asal Indonesia itu. "Sebaiknya kita ke lokasi yang dikatakan Kenta tadi. Setidaknya, di sana ada tempat berlindung. Boas menemukan gua dan dinyatakan aman karena tak berpenghuni. Wilayah itu juga sepi, meski terlihat menyeramkan. Ayo!" ajaknya.


"Oke!" sahut Rex siap untuk menjadi naga lagi.


"Sebaiknya aku ikut membawa seseorang agar kau tak kelelahan, Rex," ucap Czar. Vadim ikut mengangguk.


"Baiklah. Terima kasih ya," jawab Rex dengan senyuman.


Harun akhirnya menaiki Griffin Czar, sedang Vadim dinaiki oleh Rangga. Sisanya, menaiki punggung naga Rex termasuk Kenta yang tak berubah menjadi Phoenix karena sosoknya yang mencolok. Anak-anak itu meninggalkan wilayah sungai dan kini menuju ke tempat yang dilihat oleh Kenta sebelumnya. Siapa sangka, tempat itu dipenuhi beberapa pepohonan meski tak lebat, tapi cukup untuk meneduhkan. Langit juga mulai redup seperti menunjukkan jika kegelapan akan segera datang.



Boas terlihat berada di atas sebuah tebing batu dengan beberapa pohon tumbuh di atasnya. Rex dan lainnya segera turun dan berkumpul di wilayah yang sudah diamankan oleh pemuda asal Australia itu. Vadim dan kawan-kawan dengan wujud Mitologi terbang, segera berubah menjadi manusia lagi. Ukuran mereka yang besar cukup menarik perhatian. Anak-anak itu bermaksud agar tak mencolok selama di tempat tersebut.


"Aku rasa, tempat ini lebih aman ketimbang pinggir sungai tadi," ucap Lazarus menilai seraya melihat sekitar di mana posisi mereka kini lebih tinggi seperti berada di atas menara Black Castle.


"Oke, kita siapkan api unggun. Meski aku cukup yakin jika nyala api akan menarik perhatian makhluk di sekitar. Namun, melihat tak ada jalan naik ke atas tebing ini, aku rasa akan aman-aman saja," imbuh Mandarin menilai.


Anak-anak kemudian membagi tugas. Vadim spesialis perbekalan dibantu oleh Ryan dan Timo untuk menyiapkan makan malam. Lalu Rangga, Bara, Kenta, dan Harun menyiapkan api unggun. Sedang sisanya, menyiapkan tempat istirahat dengan lembaran kain untuk merebahkan diri.


Tas dijadikan sebagai alas kepala masing-masing. Tas yang mereka gendong selama ini sudah seperti nyawa cadangan. Anak-anak itu menjaga dengan sungguh-sungguh semua benda yang tersimpan di dalamnya. Semua anak dengan sigap bekerja.


Para remaja itu lalu berkumpul untuk menikmati makanan yang sudah dibagi secara adil ketika berhasil menyelesaikan misi level 8. Makanan dan minuman pemberian sosok rupawan sangat menolong ketika kelaparan di tempat antah berantah. Anak-anak itu yakin jika mereka berada di dimensi lain tak dikenal. Namun, para remaja tersebut seperti mulai terbiasa dengan keanehan yang terjadi di sekitar.


Saat para lelaki muda itu sedang asyik menikmati roti dan minuman sari buah, tiba-tiba saja terlihat cahaya dari bawah di kejauhan. Kenta dengan sigap mendekat dengan cara merangkak di atas rumput agar sosoknya yang berada di tebing tak terlihat. Anak-anak lain yang penasaran mengikuti cara Kenta untuk mencari tahu ada apa di bawah sana. Satu per satu, mereka mengintip dan berjejer di tepian.

__ADS_1


"Woah, lihat! Itu ... seperti rusa, tapi ... bentuknya unik! Cantik!" ungkap Kenta meski suaranya ditahan.



"Oh, tunggu. Makhluk itu masuk dalam salah satu buruan kita," ujar Nicolas.


"Ha? Benarkah? Woah ... sepertinya makhluk itu tak berbahaya. Aku jadi kasihan jika harus melakukan kekerasan padanya. Mereka berdua seperti Ibu dan anak," sahut Harun.


"Iya, kau benar. Jika saja kita memiliki bius atau semacamnya agar tak perlu menyakiti mereka saat diambil darah," imbuh Ryan memelas.


Saat anak-anak itu mengagumi sosok menawan tersebut dari atas tebing, tiba-tiba, "Makhluk itu lagi!" pekik Mandarin langsung menunjuk saat melihat makhluk yang sebelumnya berhasil mereka kalahkan.


Praktis, mata semua anak melebar karena merasa rusa bercahaya itu dalam musibah. Para makhluk berkaki empat yang ekornya bisa menyemburkan cairan peleleh logam, dengan sigap mengepung dua makhluk cantik itu. Suara raungan dan taring tajam ditunjukkan. Makhluk seperti rusa yang berkilau dalam kegelapan itu tampak panik. Sang induk berusaha melindungi anaknya yang ketakutan karena terus berada di belakangnya ketika sekumpulan makhluk berkelopak bunga pada bagian kepala terus melakukan tekanan.


"Kita harus menolong mereka!" ucap Vadim, dan diangguki anak-anak yang lain. Namun tiba-tiba, Lazarus memegangi tangan Vadim yang siap untuk berdiri. "Kenapa?" tanya Vadim heran.


"Mungkin terdengar kejam. Namun, jika mereka kalah, kita bisa mengambil darah diantara induk atau anak itu tanpa harus bersusah payah. Demi kesuksesan misi," ucapnya menekankan.


"Kau kejam sekali. Mereka kalah jumlah dan itu tak adil. Kita harus menolongnya," sahut Kenta tak sependapat dengan pemikiran Lazarus.


Saat beberapa anak berdecak kesal karena Lazarus dirasa egois, tiba-tiba saja, Rex memekik. "Hei, hei, lihat!" teriaknya seraya menunjuk.


Sontak, kepala semua anak langsung tertuju pada sekumpulan makhluk bertaring tajam yang sedang mengepung dua rusa itu. Namun, hal tak terduga terjadi.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


Uhuy gak ada tips. Ya wes gak papa. Santai aja. Selamat hari senin. Jangan lupa vote vocer dan poinmu ya kaya baca novel jaman vesper dulu. Tengkiyuw❤️


__ADS_2