MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
LEVEL 10*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Tim dari Tina dengan sigap melakukan serangan susulan agar gadis serigala itu tak terluka saat menghajar Leviathan. Mereka yang sudah berlatih sebelumnya kini telah siap menghadapi musuh. Ditambah, mereka tak takut mati setelah tahu bahwa akan dihidupkan kembali. Kini, hanya semangat dan keberanian untuk bisa menjatuhkan lawan prioritas utama para remaja tersebut. Leviathan mulai membuka mulut di mana serangan dari napas beracunnya bisa membunuh lawan. Mata Tina melebar saat melihat asap warna biru mulai terkumpul dalam tenggorokan monster sebesar gunung tersebut.


SRING!!


Kuku tajam dari wujud manusia serigala Tina mulai mencuat dari ujung jari-jarinya. Saat Leviathan mengarahkan tangan kanannya untuk menangkap serigala Tina, tiba-tiba saja ....


WHOOM!!


"HARGHHH!" erang monster itu saat Kenta menyerangnya dari belakang dengan semburan api yang dahsyat.


Gibson mengamati dari tempatnya berdiri saat semua serangan yang dilakukan oleh kawan-kawan terfokus pada Leviathan. Hanya saja, setiap serangan yang diberikan tak memberikan dampak kritis pada monster bertangan besar itu. Malah, makhluk tersebut semakin agresif saat serangan datang padanya.


"Gibson, bagaimana sekarang?" tanya Azumi yang berdiri di sampingnya.


"Ada yang aneh dengan monster itu," jawabnya dengan sorot mata terkunci pada makhluk tersebut.


"Contohnya?" tanya Azumi menatap Gibson lekat.


"Kaulihat? Kenta membakarnya, tapi Leviathan hanya mengerang. Namun, kulitnya tak hangus. Mirip seperti kulit Ogre pada Mandarin," ucap Gibson seraya menunjuk ketika Kenta berusaha membakar Leviathan di beberapa bagian tubuh. Azumi ikut mengamati, dan ternyata yang diucapkan Gibson adalah benar.


TRANG!!


"Trisula-ku tak bisa menembus kulitnya!" seru Lazarus yang gagal melukai Leviathan karena kulitnya kebal terhadap senjata.


"Aku juga! Cakar dan gigitanku bahkan tak menggores kulitnya!" seru Tina yang tak henti-hentinya menyerang Leviathan pada bagian atas tubuh termasuk kepala.


Semua anak terlihat bingung karena apapun jenis serangan tak berdampak pada monster besar itu. Anak-anak mulai lelah karena usaha mereka tak membuahkan hasil. Gibson menundukkan wajah terlihat berpikir serius hingga keningnya berkerut. Hingga ia melihat Timo yang masih menunggu di bawah tebing dekat perairan.


"Oh, Timo," ucapnya pelan.


"Ada apa, Gib?" tanya Azumi kembali menatap pemimpin kelompoknya lekat.


"Azumi. Minta Timo untuk menyerang Leviathan dari dalam air. Aku penasaran dengan reaksi monster itu," pinta Gibson.


Azumi mengangguk dan matanya kini terkunci pada Timo. Azumi turun dari tebing dengan berlari di udara. Semua anak yang fokus untuk menyerang Leviathan membiarkan Azumi melakukan sesuatu karena mereka tahu, jika Azumi kali ini berperan sebagai asisten Gibson dalam misi.


"Timo!" panggil Azumi seraya berlari ke arahnya di atas permukaan air. Timo dengan sigap menoleh dan menatap Azumi saksama. "Hah, hah. Gibson memintamu untuk menyerang Leviathan dari dalam air," ucapnya yang langsung direspon oleh pemuda asal Filipina tersebut.


Azumi menyingkir saat melihat Timo dengan terampil menggunakan Trisula-nya untuk membuat pusaran air seperti yang dilakukan oleh Leviathan. Pusaran air yang dibuat Timo mendapat perhatian dari Leviathan. Seketika, kaki tentakelnya bergerak dengan cepat, siap untuk menyerang Mermaid tersebut.

__ADS_1


"Timo! Awas!" teriak Azumi ketika melihat Leviathan seperti tak terkena dampak dari pusaran air besar yang terus naik ke atas bagaikan tornado seperti yang Timo lakukan pada Ryan kala itu.


Mata Timo melotot dan dengan segera menyingkir, tapi ....


DUAKKK!!


"Arghh!" erang Timo saat tubuhnya terkena tamparan salah satu tentakel yang menjadi kaki monster besar tersebut.


Azumi dengan sigap menggunakan kekuatan tanduk Unicorn untuk mengamankan Timo dari serangan lanjutan Leviathan yang bisa membunuhnya.


"Heyah!" seru Azumi lantang ketika ia menerbangkan tubuh Timo hingga melayang di udara.


Azumi berlari dengan Timo yang berusaha untuk tetap sadar meski wajahnya berkerut menahan sakit. Gibson menatap pergerakan Leviathan lekat saat Mermaid tadi melakukan serangan. Gibson melihat sekitar seperti mencari sesuatu hingga pergerakan kepalanya terhenti ketika ia menyadari sesuatu.


"Mungkinkah?" gumannya pelan dengan wajah serius.


Gibson melihat kawan-kawannya terus melakukan serangan dari empat wilayah. Pemimpin kelompok tersebut menyipitkan mata dan mengangguk pelan seperti terpikirkan sesuatu untuk memantapkan argumennya. Azumi membawa Timo kepada Gibson untuk diamankan karena tempatnya paling aman dari gempuran Leviathan.


"Timo, kau tak apa?" tanya Gibson cemas saat Timo digeletakkan di atas tanah.


"Yah. Dia kuat sekali. Jika Azumi tak segera menolong, mungkin aku sudah tewas menjadi ikan gepeng," jawabnya yang membuat Azumi malah terkekeh.


"Timo, aku butuh bantuanmu sekali lagi. Namun, kerahkan semua kemampuanmu untuk melakukannya. Ini akan sangat menguras energi dan kau harus fokus," tegas Gibson menatap kawan Mermaid-nya lekat.


"Mungkin saja bisa berhasil. Apapun peluangnya, wajib kita coba. Daripada terus seperti ini malah akan sia-sia dan menghabiskan stamina. Aku setuju denganmu," ucap Timo mantap dan Gibson mengangguk pelan.


"Aku akan siapkan ramuan Oag sebagai antisipasi jika ada yang terluka. Ayo, Timo," sambut Azumi, dan Mermaid itu mengangguk mantap.


Azumi kembali membawa Timo ke air. Gibson terlihat serius ketika gadis Unicorn tersebut memberikan tanda dengan kedipan di tanduknya. Beberapa anak menangkap tanda itu dan menoleh ke arah Gibson dengan wajah serius. Gibson menunjuk dua buah gunung yang ada di sekitar pertempuran dan empat Kesatria pria mengangguk paham.


Mandarin, Ryan, Rangga, dan Harun, dengan sigap terbang saat Azumi menggunakan tanduknya untuk mengarahkan posisi dari empat kawannya itu. Ryan dan Rangga kini berada di sebuah gunung di sisi Utara dan Barat. Leviathan terus melakukan serangan di sisi Timur di mana anak-anak melakukan penyerangan di wilayah tersebut. Gibson mengangkat tangan kanannya ke atas dengan Trisula dalam genggaman. Seketika, sinar dari benda seperti garpu itu membuat beberapa anak langsung menoleh ke arahnya.


DUKK!!


Gibson memukul tanah yang dipijaknya dengan ujung tongkat Trisula. Seketika, suara gemuruh dari air yang menggenangi tubuh bagian Leviathan bergerak menjadi sebuah gelombang besar. Dua gunung tempat empat remaja yang ditempatkan Azumi ikut bergemuruh seperti terjadi longsor. Leviathan menyadari adanya pergerakan besar di dekatnya. Saat ia menoleh, Kenta dan Rex dengan sigap terbang ke atas tubuh Leviathan saat monster itu membalik tubuhnya.


"Juby, sekarang!" teriak Azumi yang membantu menempatkan Jubaedah dari tempatnya berada.


Seketika, "Heyah!" seru Jubaedah ketika dua tangannya menengadah ke atas langit.


Anak-anak lain yang sudah melihat kode dari Gibson mengangguk paham. Boas, Bara, Vadim, Czar dan Pasha yang memiliki kemampuan terbang, menghalau pergerakan Leviathan yang ingin menyerang kawan-kawannya saat sedang melakukan strategi mereka.

__ADS_1


Laika dan lainnya yang mulai diabaikan oleh Leviathan bergegas membuka tas lalu mengambil sisa dari Rainbow Gas milik Rex. Anak-anak itu menyimpan serum penawar jika terkena dampak termasuk botol berisi cairan ramuan penyembuh milik Oag. Mata Gibson menyipit saat melihat Timo berhasil menyingkirkan genangan air di wilayah pijakan Leviathan ke sisi lain sehingga tempat itu menjadi daratan kering. Harun, Ryan, Mandarin, dan Rangga berhasil membuat longsor seraya terus mengikis gunung.


Mereka membuat semacam bendungan untuk menghalau air agar tak masuk ke wilayah tersebut. Azumi membantu dengan kemampuan tanduknya untuk menata batu-batu besar itu memperkokoh dinding penahan air. Kaki berwujud tentakel itu terus bergerak meski pijakannya kini bukan lagi air melainkan daratan kering. Leviathan terlihat kesulitan bergerak dan ia mencoba untuk mendatangi tempat air berkumpul. Namun, Boas dan lainnya menghalangi pergerakan monster itu agar ia tetap terkurung di wilayah kering.


"Laika, now!" seru Gibson di kejauhan dengan mengarahkan ujung Trisula ke daratan kering itu. Laika dan lainnya melemparkan seluruh Rainbow Gas yang dimiliki ke daratan kering tempat tentakel Leviathan berpijak.


BUZZ!!


Kepulan asap beracun menyeruak di bagian bawah dengan warna-warna kematiannya. Leviathan menyadari adanya gas berwarna-warni tersebut. Nicolas membidik dari atas tebing saat melihat kaki tentakel makhluk itu seperti kesakitan usai terkena dampak dari gas.


SHOOT! JLEB! JLEB! JLEB!


"GOARRR!!"


Leviathan meraung usai tentakelnya terkena tusukan dari panah Nicolas di mana sedari tadi kakinya tak terlihat karena terendam air. Mata anak-anak melebar karena melihat serangan Nicolas memberikan dampak.


"Yeah, bagus. Sudah kuduga. Air adalah sumber penyembuh dan kekuatan dari Leviathan," ucap Gibson dengan seringainya. "Kenta, Rex! Serangan ganda!" seru Gibson. Dua manusia bersayap itu langsung mengambil posisi menyerang.


WHOOM!!


"GOARRR!!"


Monster besar itu kembali meraung saat tubuhnya yang mengandung air mulai mengering karena tak adanya air di sekitar. Rex menyemburkan napas beracun tepat di wajah Leviathan. Kenta menambahkannya melalui semburan api yang dahsyat. Keduanya terbang turun dan kini menyerang perut Leviathan yang penuh dengan gigi tajam seperti penggiling, di mana terdapat mulut besar berbentuk lingkaran seperti saat pertama kali kemunculannya. Leviathan memakan korbannya tidak melalui mulut di kepala, melainkan mulut monster di perutnya yang dipenuhi oleh air seperti sebuah pusaran.


Mulut di perut monster itu menjerit saat terbakar dan terkena napas beracun Rex. Ditambah, gas beracun dari Rainbow Gas yang membuat kaki-kakinya terluka parah. Lazarus dan lainnya bergegas turun dibantu oleh para remaja pria yang memiliki kemampuan terbang untuk menyerang tubuh bagian bawah Leviathan usai meminum serum penawar. Kini, monster setinggi dan sebesar gunung itu tak bisa berkutik usai mendapatkan tiga serangan sekaligus dari bawah oleh para Kesatria tak bersayap, tengah oleh Rex dan Kenta, dan atas dari Kesatria bersayap.


Sedang Azumi dan lainnya masih fokus untuk mengamankan wilayah bendungan agar tak jebol sampai Leviathan dikatakan tumbang dari pertempuran ini. Jubaedah fokus dengan kemampuannya untuk menyingkirkan kabut tebal yang menutup sinar matahari di wilayah tersebut. Ia membuat wilayah itu menjadi tandus dan kering kerontang layaknya gurun pasir. Perlahan, matahari mulai menunjukkan sinarnya saat awan-awan tebal di sekitar berhasil ia singkirkan.


Senyum Gibson makin terkembang saat melihat Leviathan mulai kesakitan ketika silau matahari kini menyorotnya dengan sinar terang. Makhluk itu meraung mencoba menghalangi matahari yang menyakiti penglihatannya. Jubaedah tetap fokus untuk membuat wilayah itu semakin gersang.


"HARGHH ... HAGGG ...."


BRUKK!


"Dia jatuh!" seru Lazarus ketika Leviathan jatuh ke samping dan tubuhnya membuat getaran hebat layaknya gempa bumi.


Namun, tubuhnya yang besar membuat goncangan kuat di sekitar. Perlahan, batuan yang menjadi dinding dari bendungan mulai terperosok dan aliran air turun ke dalam wilayah tandus. Praktis, mata semua anak melebar seketika.


"Jangan biarkan air-air itu menyentuh tubuh Leviathan!" seru Gibson dari atas tebing terlihat panik karena takut jika usaha mereka sia-sia bila monster itu kembali pulih.


***

__ADS_1



dapet tips, horeee!! lele setor jam 5 dan ditimer jam 7 naik. marilah kita tunggu jam berapakah naskah ini up? kwkwkw😆


__ADS_2