MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
GERBANG DIMENSI*


__ADS_3

Kedatangan anak-anak membuat Satyr dan Lana terkejut. Para remaja itu memberanikan diri mendekat meski Lana terlihat gugup dan memilih untuk bersembunyi di belakang Satyr.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Oh! Kalian sudah kembali! Apakah ... kalian berhasil menyelesaikan misi?" tanya Satyr penasaran.


"Yeah! Kami akan melanjutkan ke misi berikutnya, level 9!" sahut Harun seraya berjalan mendekat dengan wajah gembira.


"Tinggal sedikit lagi dan kami bisa kembali pulang ke Bumi, Satyr!" sahut Nicolas senang.


Seketika, senyum Satyr meredup. Anak-anak yang awalnya memancarkan senyum kebahagiaan ikut menekuk wajah seolah mereka tahu apa yang akan terjadi setelahnya.


"Kulihat kau sudah bertemu dengan Lana. Lanjutkan hidupmu. Kau ... tak berhutang apa pun pada kami. Gibson pasti bisa mengerti. Sebaiknya, jangan ikut dengan kami lagi. Doakan saja kami selamat dan bisa menyelesaikan misi hingga terakhir," ucap Kenta yang membuat Satyr langsung menundukkan wajah.


"Terima kasih atas bantuanmu selama ini, Satyr. Tanpamu ... mungkin kami tak bisa menyelesaikan misi di Penjara Hades. Pengetahuanmu sangat berguna. Kau ... pintar dan cerdik. Senang mengenalmu," ucap Lazarus ikut mendekat lalu mengulurkan tangan mengajak berjabat.


Satyr melihat uluran tangan itu, tapi ia tak menyambutnya. Semua anak tertegun ketika Satyr memeluk Lazarus terlihat begitu sedih.


"Aku akan sangat merindukan kalian. Aku akan menceritakan kisah kalian di Planet ini agar selalu dikenal oleh para makhluk yang pernah dijumpai," ucap Satyr seraya melepaskan pelukan.


"Wow! Itu ... akan sangat keren," sahut Mandarin terlihat senang.


Satu per satu, anak-anak berpelukan dengan Satyr sebagai salam perpisahan. Lana berdiri diam di belakang kekasihnya dengan senyum terkembang. Satyr mengulurkan tangan agar sang kekasih berjalan mendekat padanya. Lana terlihat ragu dan seperti canggung dengan para anak manusia di depannya.


"Jangan segan memarahi dia jika bertingkah, Lana," ujar Vadim, tapi membuat Satyr terkekeh begitupula Lana.


"Aku ... senang bisa melihat sosok kalian secara langsung. Jujur, aku pernah bertemu manusia sebelumnya, tapi ... itu jauh sebelum zaman kalian. Kulihat, para manusia berubah dari gaya bicara, berpakaian, tingkah laku dan ... yah, intinya ... terima kasih karena membawa Rhythm kembali padaku," jawabnya dengan senyuman.


"Rhythm? Siapa?" tanya Bara bingung.


Satyr menaikkan dua alis yang membuat anak-anak terkejut karena baru menyadari namanya.


"Kau memiliki nama? Kenapa tak bilang?" tanya Rangga heran.


"Heh, kalian tak pernah bertanya. Itu bukan salahku," jawabnya seraya bertolak pinggang.


Anak-anak kembali mencoba bersabar dengan sikap Satyr yang menjengkelkan, tapi mereka akan sangat merindukan sosok Satyr saat harus berpisah dengannya.


"Oh! Kau bisa membantu kami sekali lagi?" tanya Czar yang membuat Satyr menatap pemuda Rusia itu lekat.


"Apa itu?" tanyanya penasaran.


"Bisa antarkan kami ke Gerbang Dimensi? Kami ... tak tahu itu di mana. Namun, kami sudah melihat dalam portal wujud dari gerbang itu. Gerbang itu menuju ke misi level 9," jawab Czar.


"Aku ... baru pertama kali mendengarnya," jawab Satyr terlihat jujur.

__ADS_1


Semua anak tampak kecewa karena mereka juga tak tahu jalan ke sana.


"Aku tahu. Akan kuantar sebagai ucapan terima kasih dan salam perpisahan," sahut Lana tiba-tiba yang mengejutkan Satyr.


"Wow, benarkah? Keren. Terima kasih, Lana!" sahut Ryan senang.


Saat Lana berjalan lebih dulu dengan Satyr di sisinya, Boas tiba-tiba menepuk pundak lelaki setengah kambing itu. Satyr menghentikan langkah dan menoleh.


"Kau sudah mencoba ramuan jodoh pada Lana?" tanya Boas dengan wajah berbinar.


Satyr membuka mulutnya lebar karena baru teringat akan hal itu. Ia menggeleng dan segera mengeluarkan ramuan itu dari dalam tasnya. Lana menghentikan langkah saat menyadari Satyr seperti berbicara sesuatu kepada para anak manusia.


"Ada apa?" tanya Lana bingung menatap kekasihnya lekat.


"Lana. Minumlah ini, aku juga akan meminumnya. Ini ... adalah ramuan jodoh. Meski aku sangat yakin kau jodohku, tapi ... aku ingin membuktikannya. Kau ... tak keberatan bukan?" pinta Satyr yang membuat Lana mengerutkan kening, tapi kemudian mengangguk pelan.


Satyr terlihat senang. Ia meminum ramuan itu lebih dahulu lalu kemudian Lana meneguknya. Para remaja dibuat tegang terutama Satyr yang sangat penasaran apakah wanita setengah kambing itu sungguh jodohnya. Tiba-tiba saja, keajaiban terjadi. Tubuh Satyr seperti dikelilingi oleh gemerlap dengan kelip-kelip bercahaya warna-warni. Lana melangkah mundur karena terkejut. Namun, dirinya tak mengalami perubahan seperti sang kekasih.


"Woah, lihat! Di-dia kembali ke wujud semula!" pekik Timo menunjuk manusia setengah kambing itu ketika mendapatkan tanduk besarnya lagi berikut kuku yang runcing, serta seruling seperti saat menjadi Satyr.


Lana tampak terkejut sampai matanya melotot dan mulutnya menganga lebar dalam diam. Satyr terlihat begitu senang karena mendapatkan wujud aslinya lagi tak menjadi Faun.


"I-ini sungguh kau?" tanya Lana gugup menatap Satyr lekat.


"Tentu saja ini aku, Lana. Apa aku pernah berbohong padamu sebelumnya?" tanya lelaki bertanduk gagah itu.


"Em, tapi ... tunggu dulu. Kalau tak salah, ramuan itu hanya berlangsung selama beberapa jam saja. Jadi ... tak membuatmu permanen menjadi Satyr selamanya," ucap Rex teringat akan Jubaedah yang sempat menjadi naga, tapi kemudian kembali menjadi manusia.


"Ha? Maksudmu ... wujud ini hanya sementara?!" pekik Satyr langsung melepaskan pelukan Lana.


"Maaf, Satyr. Namun, begitulah teknisnya," jawab Rex terlihat iba.


Satyr kembali sedih, tapi Lana menggenggam tangan kekasihnya erat dan meninggalkan kecupan manis di bibir. Satyr tertegun, begitupula semua remaja yang melihat hal itu.


"Aku tetap mencintaimu. Kau adalah Satyr-ku, kau iramaku. Meskipun kau berubah menjadi Faun, aku tetap mencintaimu. Inilah alasanku menjadi Satyr agar bisa selalu bersamamu," ucap Lana yang membuat Satyr kembali berlinang air mata.


"Oh, Lana," ucapnya tampak terharu akan ucapan sang kekasih.


Satyr membalas ciuman kekasihnya dengan penuh cinta. Namun, para remaja lelaki itu tampak canggung. Nicolas langsung bersiul dan beberapa anak memalingkan wajah sambil menggaruk kepala. Lazarus tersenyum tipis seolah hal itu sudah biasa baginya.


"Jadi ... Gerbang Dimensi?" tanya Mandarin meringis karena merasa tak nyaman melihat dua insan saling berciuman di depannya.


Lana dan Satyr seakan lupa dengan kemesraan mereka. Keduanya mengangguk. Lana mengantarkan anak-anak itu masuk ke dalam hutan meninggalkan pohon kacang. Terlihat, senyum Satyr merekah saat keduanya selalu bergandengan tangan. Rex dan lainnya ikut tersenyum karena tak menyangka jika bisa tercipta kenangan manis selama di Planet Mitologi.


"Nah, itu dia. Gerbang Dimensi," ucap Lana saat mereka berhenti pada sebuah pintu gerbang dengan bangunan terbuat dari batu serta ditumbuhi sebuah pohon di dekatnya.

__ADS_1


Pintu dari gerbang itu sendiri terlihat begitu mengerikan seperti ada cahaya lava pijar di depannya. Bahkan, tampak seringai iblis seperti siap menyambut kedatangan para anak manusia yang akan menjajal kemampuan untuk menyelesaikan misi selama berada dalam pintu gerbang itu.Ā Praktis, wajah anak-anak berubah tegang seketika. Mereka tampak gugup, tapi telah siap untuk bertempur lagi.



"Aku sudah mendengar kisah kalian selama di Penjara Hades dari Satyr. Jika kalian bisa selamat di sana, seharusnya kalian juga bisa lolos di dalam Gerbang Dimensi," ucap Lana terlihat serius.


"Apa ... kau memiliki petunjuk atau informasi mengenai gerbang ini?" tanya Lazarus serius.


Lana membalik tubuhnya dan mendekati pohon dengan daun berwarna keemasan. Ia mengangguk pelan, dan hal itu membuat semua orang langsung terfokus padanya.


"Gerbang Dimensi sebenarnya membawa kalian ke beberapa tempat yang tak pernah didatangi sebelumnya oleh makhluk Mitologi manapun, tapi ... digunakan oleh para Dewa untuk mengunjungi satu tempat ke tempat lain. Hanya saja, dunia yang didatangi berbeda dengan planet Mitologi atau pun Bumi tempat kalian hidup," ucap Lana menjelaskan.


"Oke, lalu?" tanya Harun terlihat serius.


"Kudengar, ada beberapa makhluk di dalam dimensi itu. Mereka memiliki kemampuan bermacam-macam dan bentuk tak lazim. Konon katanya, kemampuan para makhluk Mitologi, diambil dari sebagian makhluk-makhluk itu agar kami menjadi makhluk yang sempurna, tak cacat dan berumur panjang," jawab Lana yang membuat Satyr dan semua remaja diam meski wajah mereka tegang.


"Jangan-jangan, tebakan kita jika Oag menjelajah dan melakukan eksperimen, ada benarnya. Itu semua berhubungan dengan gerbang ini," ucap Ryan menatap kawan-kawannya, dan para remaja itu mengangguk pelan seperti satu pemikiran dengannya.


"Jadi ... misi untuk mengambil darah dari makhluk-makhluk itu sepertinya berkaitan dengan dugaan kita. Hem, baiklah. Siapa takut? Tugas kita di sini sejak awal memang memburu para monster. Maaf, Lana bukan maksud menyinggung dengan menyebut kalian monster, tapi ... ya begitulah manusia. Kadang suka seenaknya membuat istilah yang mungkin menyakitkan untuk kaum kalian," ucap Kenta, tapi Lana hanya tersenyum menanggapinya.


"Aku tahu. Itu bukan masalah buatku. Hati-hatilah. Mereka ... tak seperti kami yang masih memiliki sisi manusia seperti kalian. Mereka, murni makhluk asing. Hanya jiwa pemangsa yang ada dalam naluri. Semoga ... kalian berhasil," ucap Lana serius, dan semua anak mengangguk paham.


"Jadi ... ini perpisahan?" tanya Satyr seraya mendatangi kumpulan anak manusia itu.


"Ya, Satyr. Namun, kami akan selalu mengenangmu. Kami juga akan menceritakan kisah selama berada di sini kepada orang-orang. Walaupun mungkin mereka akan menganggap kami gila. Heh, siapa peduli?" sahut Vadim yang membuat Satyr terkekeh.


"Baiklah. Sampai jumpa 13 anak setan! Taklukkan mereka dan menanglah! Kembalilah ke Bumi dan ceritakan kisahku pada mereka agar Satyr selalu dipuja!" seru Satyr semangat yang membuat semua anak tertawa karenanya.


"Sampai jumpa lagi, Lana, Satyr! Terima kasih!" seru Rangga seraya melambaikan tangan.


Lana dan Satyr balas melambai dengan senyum terkembang. Timo memberanikan diri menyentuh pintu itu, dan seketika, sebuah kotak muncul dari mulut sosok seperti monster pada depan pintu. Timo segera mengambilnya meski terlihat gugup. Semua anak mengelilingi pemuda Filipina itu ketika ia membukanya. Terlihat, beberapa tabung dengan ujung jarum seperti alat suntik untuk menyimpan darah hasil makhluk yang akan mereka tangkap nantinya. Timo membagikan satu per satu silinder kaca itu kepada kawan-kawannya kemudian mereka menyimpan dalam tas dengan hati-hati.


"Selamat tinggal, Satyr! Lana! Doakan kami berhasil!" seru Timo, dan Satyr mengangguk mantap.


Seketika, pintu gerbang terbuka. Sebuah cahaya warna biru layaknya portal muncul di hadapan para remaja itu. Satyr dan Lana tampak kagum seperti baru melihat hal itu untuk pertama kali. Timo menarik napas dalam dan melangkahkan kaki ke dalam portal. Satu per satu, para remaja asal Bumi itu masuk ke dalam portal dan menghilang. Pintu gerbang kembali muncul saat tak ada satu pun dari mereka tertinggal. Satyr dan Lana saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan.


"Mereka pasti berhasil. Aku yakin itu," tegas Satyr, dan Lana mengangguk mantap seperti setuju dengan pemikiran kekasihnya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


baiklah brankas koin lele ludes tak bersisa😩 sabar sabar semoga rejekinya tetep lancar meski semakin kesini hasil nulisnya semakin mengenaskan. kwkwkw curhat gitu siapa tau mau ada yg bercita-cita jadi autor. dikira kaya raya, padahal ngenes gitu. doakan bisa tamat tepat waktu biar nelangsanya gak makin terpuruk. amin. lele padamuā¤ļø


__ADS_2