MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MENGOCEH*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Praktis, suasana tegang dari dua kubu begitu terasa antara pihak elf dan anak-anak. Saat anak-anak itu akan menyerang, tiba-tiba ....


"Hentikan!" seru seseorang yang baru saja datang seraya menunggangi seekor pegasus.


Pasha terkejut karena ada sosok pegasus selain kawannya—Vadim. Namun, Pasha merasa jika Pegasus tersebut tak bisa berubah menjadi manusia.



"Lady Elf," sapa semua manusia yang diyakini adalah bangsa Elf sedang melakukan penghormatan pada seorang wanita yang dipercayai adalah pemimpin mereka.


Mata wanita itu menatap tajam empat anak-anak dalam wujud Mitologi.


"Siapa kalian? Kenapa bisa datang kemari? Bahkan bersama para bajak laut?" tanya Lady Elf curiga.


"Mereka bahkan bisa berubah wujud, Lady! Mereka awalnya anak-anak manusia. Bagaimana mungkin?!" pekik salah satu Elf dengan pedang terarah ke tubuh Pasha yang berubah menjadi Manticore.


"Mereka juga bisa bahasa kita! Ini mustahil!" sahut Elf lainnya yang menghunuskan pedang ke arah Mandarin.


"Itu semua berkat bajak laut alien kami bisa bicara bahasa Mitologi, dan karena Oag kami bisa berubah wujud seperti ini" sahut Harun dalam wujud Yeti-nya.


"Yeah! Kalian pikir, kami bisa sampai di sini bagaimana caranya, huh? Kami ini anak-anak hebat! Kami tak akan tumbang di level ini dan akan pulang ke Bumi!" ucap Mandarin menggebu dalam wujud Ogre.


"Jumlah kami ada ribuan! Kalian akan mati dalam sekali serang!" sahut Pasha, tapi ucapannya membuat kening kawan-kawannya berkerut.


"Jumlah kita 'kan hanya—"


"Aku hanya menggertak agar mereka takut. Lihatlah, mereka gugup setelah melihat perubahan kita. Ini kesempatan bagus untuk menakut-nakuti," bisik Pasha ke telinga Harun.


Praktis, mulut Harun menganga lebar karena baru menyadari maksud dari ucapan Vadim serta kawan-kawannya. Semangat dan keberanian Harun kembali bangkit.


"Kalian menganggap sosok kami tipuan, ha? Sini, akan kubiarkan kalian merasakan sengat ekor kalajengkingku seperti yang pernah kulakukan pada manusia serigala dan Kraken untuk mengalahkannya!" seru Pasha dalam posisi siap menyerang.


Para Elf terlihat makin waspada dengan pedang dalam genggaman.


"Jika hanya seorang Lady, kami juga punya, bahkan lebih hebat darimu. Dia Lady Dragon dan namanya Jubaedah!" sahut Harun lantang.


"Bohong! Semua Lady sudah tewas dan tak ada yang tersisa kecuali aku," tegas Lady Elf dengan sorot mata tajam.


"Oh ya? Sombong sekali. Kau bukan tandingan Juby. Tangisannya bisa mendatangkan badai dan guntur. Dia bahkan mengalahkan Hydra dan membuatnya menjadi ular panggang! Kraken saja bisa kami kalahkan tanpa wujud Mitologi. Jangan meremehkan kami!" seru Nicolas kesal dengan anak panah siap melesat dengan bidikkannya.


"Akan kuremukkan tubuh kalian di ketiak Ogre-ku! Jangan kalian pikir kami takut dan tak tega! Kami sudah mengalahkan banyak makhluk aneh yang menghalangi jalan kami untuk menyelesaikan misi!" sahut Mandarin menunjukkan taring dan tangannya yang besar siap meremukkan tulang.


"Tunggu! Kalian bilang ... misi? Level? Pulang ke Bumi? Jangan-jangan ... permainan Maniac sudah diberlakukan? Itukah yang ingin kalian sampaikan?" tanya Elf jantan menatap Nicolas saksama.


"Yup! Dan kami akan menemukan harta karun di Pulau Pelangi ini. Kami tak akan pergi sebelum mendapatkannya. Jangan halangi kami, atau anak panahku tak segan melubangi tubuhmu!" tegas Nicolas mengancam.


"Hah! Harta karun? Di sini tak ada harta karun! Itu hanya kebohongan dan mitos belaka," jawab Lady Elf yang membuat kening anak-anak berkerut.


"Ha? Kau ingin mengatakan ... jika kami dibohongi, begitu?" tanya Pasha bingung.


"Kami sudah berada di pulau ini sejak diciptakan dan tak ada yang namanya harta karun. Itu hanya tipuan! Kalian akan terjebak di tempat ini untuk selamanya seperti kami," tegas Lady Elf masih berdiri di samping Pegasus-nya.


Semua anak saling memandang terlihat bingung, tapi Harun melangkah maju tampak tak gentar. Semua orang menatapnya lekat.


"Sejauh ini Oag tak pernah membohongi kami! Misi dan hadiah yang diberikan adalah nyata! Meski aku tak mengenalnya dekat, tapi aku percaya dengan maksud dari tujuan dibuatnya permainan Maniac ini. Kau jangan membual! GOARRR!" erang Harun dengan sosok Yeti yang mengaum di depan para elf tersebut.

__ADS_1


Praktis, para manusia bertelinga lancip itu terkejut. Siapa sangka, raungan Yeti Harun terdengar hingga ke beberapa telinga kawan-kawannya yang tersebar di seluruh wilayah.


Di tempat Lazarus dan timnya berada. Sisi Barat Pulau Pelangi.


"Oh! Aku kenal raungan itu. Seperti—"


"Harun!" seru Vadim, Laika, dan Czar serempak.


Saat ketiga anak itu siap untuk berlari menuju ke asal suara, alien siput menghadang pergerakan mereka. Langkah anak-anak itu terhenti seketika dan menatap alien itu tajam.


"Kita tak punya banyak waktu. Itu sudah risiko mereka. Yakinlah pada kemampuan kawanmu dan tetap fokus pada tujuan. Ayo!" tegas alien siput.


Lazarus dan lainnya tampak bingung dalam mengambil keputusan. Namun, saat mereka mengangguk dan membalik tubuh, tiba-tiba ....


"Harrghhh!"


"Siput!" panggil anak-anak dengan tangan terjulur untuk menolong alien berlendir itu, tapi usaha mereka gagal.


Anak-anak itu terkejut saat melihat alien itu tertarik kuat hingga tubuhnya seperti melayang di udara lalu menghilang dengan cepat dari pandangan.


"Woah! Apakah itu tandanya ... kita sudah menjelajah selama setengah hari?" tanya Vadim menatap kawan-kawannya lekat.


"Ya, sepertinya begitu. Jadi ... sekarang bagaimana? Kita ke tempat Harun, atau ... melanjutkan perjalanan mencari harta karun?" tanya Laika ikut bingung.


Semua anak tampak serius berpikir.


"Lanjut saja. Percaya saja pada kemampuan kawan-kawan seperti kata alien siput. Tim Timur sangat kuat. Mereka pasti bisa bertahan. Ayo, kita harus segera menemukannya lalu kembali ke kapal agar misi level 6 ini cepat selesai dan segera melanjutkan ke level berikutnya. Ingat, tujuan kita adalah pulang, Kawan-kawan. Bumi," tegas Lazarus.


"Baiklah kalau begitu. Ayo!" ajak Czar mantap dan semua anak mengangguk setuju, meski berulang kali mereka menoleh ke asal suara tempat Harun meraung tadi.


Kembali ke tempat Harun dan kawan-kawannya berada. Siapa sangka, ucapan Harun membuat hati Oag tersentuh.


"Mereka percaya padaku. Ini ... tak terduga," ucap Oag seraya menatap layar dengan sosok Yeti Harun di sana.


"Mereka anak-anak hebat, Oag. Walaupun mereka terus mengoceh, tapi semua ucapan anak- anak itu benar adanya. Mereka tidak membual," sahut alien dengan corak yang sama dengan Oag, tapi berukuran lebih kecil.


"Hem, jika mereka berhasil lolos dari para Elf itu, tunjukkan jalan menuju harta karun tersebut. Anggap saja, Oag sedang berbaik hati karena dipuji," tegasnya.


"Baik, Oag," jawab alien yang ditugaskan tersebut.


Oag terlihat serius mengamati pergerakan dari tim wilayah Timur yang masih berselisih dengan para elf.


Sedang di tempat Jubaedah berada. Tim wilayah sisi Utara.


"Hatchim!"


"Kau baik-baik saja, Juby?" tanya Rex tampak cemas karena kekasihnya tiba-tiba saja bersin.


"Entah, tiba-tiba idung Juby gatel. Masa iya Juby digibahin. Jahat amat mentang-mentang Juby gak ada di sana buat dengerin," ucapnya seraya menggosok-gosok hidungnya yang gatal.


"Ngomong-ngomong, yang pegang kompas terakhir siapa sih? Kenapa kita gak pakai kompas aja buat cari tahu di mana letak harta karunnya?" tanya Rangga mulai kesal karena lelah berjalan.


"Ah, kau benar! Sial, kita tak terpikirkan hal itu!" seru Timo sampai langkahnya terhenti.


"Pssttt ... kompas apa? Jika hanya kompas, aku juga punya," sahut Viper.


"Eh, bukan kompas biasa. Itu hadiah saat kami sukses menyelesaikan misi. Kompas itu sungguh hebat! Kami bisa menemukan kapal kalian waktu itu karena petunjuk dari kompas," jawab Timo menjelaskan.

__ADS_1


"Hehe," kekeh Jubaedah tiba-tiba mengeluarkan benda itu yang ternyata ia jadikan kalung dan dimasukkan dalam kerah bajunya.


"Kau memegangnya selama ini? Kenapa diam saja?!" pekik Rangga melotot lebar.


"Juby juga baru keinget. Maap," jawabnya meringis.


Semua orang terlihat sebal. Viper mendatangi Jubaedah dan memegang kompas yang masih tergantung di lehernya itu. Jubaedah diam saja saat Viper mengamatinya dengan saksama.


Namun tiba-tiba, KLEK!! BRUKK!!


"Arrghhh!"


"Viper!" panggil Rangga dan Timo terkejut.


"Aduh!" keluh Jubaedah saat lehernya tertarik karena tubuh Viper tersedot.


Kompas yang dikalungkan pada lehernya terlepas karena Viper menggenggamnya erat. Jubaedah jatuh tersungkur di atas tanah karena kaget.


"Juby!" panggil Rex panik dan langsung mendatangi sang kekasih. Rex membantu Jubaedah bangun dan membersihkan tubuhnya yang kotor. "Kau tak apa?" tanya Rex cemas.


"Kompasnya ... kebawa Viper. Gimana dong? Huwaaa!" tangisnya begitu saja.


Semua anak langsung lemas seketika. Beruntung, Jubaedah tidak dalam wujud Lady Dragon.


Semua anak tampak kesal karena belum sempat meminta petunjuk arah dari kompas ke lokasi harta karun.


"Ya sudah. Kita pakai cara manual aja. Gak usah nangis. Anggap aja kita lagi kencan jalan-jalan. Ayo!" ajak Rex seraya membantu Jubaedah untuk berdiri.


"Untung gak ada Bara di sini. Bisa ngamuk dia liat dua sejoli pacaran terus," ledek Rangga. Timo hanya terkekeh.


Akhirnya, mau tidak mau, anak-anak itu kembali melanjutkan petualangan tanpa sosok alien bersama mereka.


Sedang di kapal para bajak laut.


"Kau bilang apa?" tanya sang kapten saat Viper sudah bergabung dengan semua kawan-kawan aliennya.


"Kata anak-anak itu, kompas ini spesial. Bisa menunjukkan arah yang kita inginkan. Sayangnya, aku tak tahu bagaimana teknis kerjanya. Mungkinkah, dengan mengucapkan permintaan kita?" tanya Viper seraya menggenggam kompas itu erat.


Sang kapten meminta kompas itu dan Viper memberikannya. Para alien berkumpul karena penasaran dengan benda kecil ajaib itu.


Sang kapten memejamkan mata seperti membuat permohonan dengan kompas dalam genggaman tangannya. Semua alien tampak serius, hingga tiba-tiba ....


"Kapten! Jarumnya bergerak!" seru alien siput seraya mendekat.


"Apa yang kauminta, Kapten? Apakah ... lokasi harta karun?" tanya Rog menatap sang kapten lekat.


"Mari bersiap untuk menjelajah saat esok menjelang, Kawan-kawan! Aku sudah mendapatkan lokasi harta karun yang selama ini kita cari. Kita akan pergi begitu fajar menyingsing. Hahaha!" tawa sang kapten gembira dan semua alien ikut bersuka cita.


Sang kapten menggenggam kompas itu erat dan terlihat, sebuah senyuman terbit di wajahnya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Wokeh makasih tips koinnya lele😍 Aku padamu😘 Kwkwkw ditunggu sedekah koin temen2 lainnya ya😆Tengkiyuw❤️


__ADS_2