
Malam itu. Anak-anak bermalam di tempat mereka menemukan Kenta dan dua kawannya. Meski Kenta belum bisa melihat dengan jelas, tapi pendengarannya cukup baik.
Mereka saling berbagi pengalaman seraya mengelilingi api unggun dan menikmati makanan hasil temuan mereka.
Anak-anak itu sepakat untuk melanjutkan perjalanan dengan tujuan ke sarang naga keesokan harinya. Para kurcaci dipercaya sebagai penunjuk jalan.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Oke, aku siap," ucap Ryan dengan buku dan pulpen dalam genggaman.
Ryan kini ditunjuk sebagai sekretaris dalam kelompok tersebut. Ryan duduk bersimpuh terlihat seperti anak baik di atas rumput.
Kelompok Azumi menemukan banyak perlengkapan dan perbekalan saat menelusuri jejak telur naga yang dicuri sebelumnya.
"Hallo, aku Harun dan aku sudah mendapatkan hadiah dari misiku. Aku bisa berubah menjadi Yeti dengan bulu warna putih ini," ucapnya seraya menunjukkan isi buntalan kain yang selalu ia masukkan dalam saku celana.
Semua anak mengangguk paham. Ryan dengan cepat menuliskannya.
"Oke. Aku Nicolas, salam kenal. Panggil saja Nico. Mm, aku ... belum mendapatkan misi. Begitupula Kenta," sambung Nicolas ramah dengan duduk bersila. Semua orang melirik Kenta yang menunjukkan senyum tipisnya.
"Aku Gibson. Aku juga belum memiliki misi," sambungnya singkat dengan dua kaki ditekuk ke depan dan dirangkul dengan kedua tangannya.
"Aku Timothy. Panggil saja Timo. Aku sudah mendapatkan misi dan bisa berubah menjadi Merman," jawabnya gugup.
"Wow! Merman? Maksudmu ... duyung?" tanya Nicolas kagum dan Timo mengangguk dengan senyuman. "Aku ingin lihat. Ada sungai di situ. Nyemplung cepet!" serunya semangat.
PLAK!
"Adoh!" teriak Nicolas garang karena kepalanya dipukul Harun dengan tangan kanannya. Semua anak terkekeh.
"Norak. Dikira sirkus. Bayar. Punya duit gak?" sahutnya galak. Nicolas langsung berwajah masam seraya mengelus kepalanya yang sakit.
__ADS_1
"Sepertinya, kelompok kita rame ya. Ceriwis," sahut Jubaedah dengan senyum terkembang. "Eh aku dong," sahutnya menunjuk dirinya sendiri. Para pria mengangguk pasrah. Azumi hanya tersenyum karena baginya Jubaedah lucu. "Namaku Jubaedah, panggil aja Juby. Aku dan Ryan udah dapat misi, tapi belum dikerjain soalnya gak tau di mana nemuin si embak rambut ular itu," ucapnya memonyongkan bibir.
"Embak rambut ular? Siapa?" tanya Azumi mengerutkan kening.
"Medusa," jawab Rex, Gibson, dan Timo bersamaan.
"Ha? Medusa!" seru anak-anak kompak saat mendengar nama itu. Para kurcaci ikut melebarkan mata karena terkejut, termasuk peri Hihi.
"Kalian akan mendapatkan misi untuk mengalahkan Medusa?" tanya Kurcaci topi biru dan Ryan mengangguk.
"Kalau tidak salah, kami diminta membutakan Medusa. Ya begitulah kira-kira," jawab Ryan santai, tapi membuat tegang semua orang. "Apa kalian tahu, di mana sarang Medusa?"
Para kurcaci itu menggeleng cepat terlihat takut, termasuk Hihi yang bersembunyi di balik tubuh Azumi.
"Hempf. Sayang sekali," sambung Jubaedah sedih. Suasana hening seketika tak ramai seperti tadi. "Eh, jangan diem aja. Lanjutin dong. Azumi gimana?" tanya Jubaedah memecah keheningan.
Azumi yang merasa namanya dipanggil langsung duduk dengan manis. Kenta menoleh ke arah adiknya yang memegangi tangannya, tapi Mandarin terlihat tak senang dengan keakraban dua orang di sebelahnya itu.
"Oke, aku ya. Namaku Daniel Mandarin. Aku sudah mendapatkan misi dan bisa berubah menjadi Ogre," ucapnya dengan senyuman. Anak-anak lain terlihat kagum sambil menganggukkan kepala.
"Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Gibson menunjuk Vadim dan Pasha yang asyik mengunyah makanan.
"Oh. Kami ... apa ya, kenapa aku jadi tak ingat?" jawab Vadim mengedipkan mata.
"Pegasus kalau tidak salah dan satu lagi Manticore. Namun, kami lupa dua makhluk itu diapakan. Aku juga lupa, yang mendapatkan misi Pegasus aku atau Vadim ya?" jawab Pasha ikut bingung.
Ryan terdiam untuk sesaat. Dia bingung menuliskannya. Akhirnya, Ryan menggambar sosok Vadim dan Pasha dalam tanda tanya besar di atas kepala mereka disertai tulisan Pegasus/Manticore. Ryan tak mau ambil pusing.
"Rex, kaubelum bercerita," sahut Timo dan pria berwajah Asia itu tersenyum tipis. Jubaedah menopang dagunya dengan kedua tangan. Rex tersipu malu.
"Cieee," celetuk Azumi yang membuat semua anak ikut menyorakinya.
"Jangan meledekku!" teriak Rex tiba-tiba garang, tapi wajahnya bersemu merah. Jubaedah terkekeh geli karena melihat calon pengantinnya saat dewasa nanti mengamuk.
__ADS_1
"Kita hanya tertawa. Kenapa kaujadi galak begitu?" tanya Gibson membela diri.
Rex memejamkan mata sejenak mencoba menahan emosinya. Anak-anak yang sudah tahu kedekatan mereka memilih diam.
"Aku sebenarnya telah menjalankan misi dan bisa berubah menjadi naga, tapi—"
"Woah! Dia bisa berubah menjadi naga!" seru Vadim langsung heboh. Mata semua anak melebar seketika karena kagum. Rex menggaruk kepalanya.
"Aku belum selesai bicara!" teriaknya lagi yang kembali emosi. Jubaedah hanya bisa tertawa gembira melihat kekasihnya marah-marah sedari tadi. "Denger dulu dong. Main srobot aja," sambungnya kesal. Pasha langsung menutup mulut kawannya rapat dengan wajah serius. Rex menghembuskan napas panjang. "Tapi ... aku enggan masuk portal kala itu. Aku berpikir, jika aku masuk portal, aku akan kembali ke Bumi. Namun ternyata, setelah melihat Timo berubah, portal itu hanya mengubah wujud kita saja, tak mengembalikan ke Bumi," sambungnya sedih.
"Yahh ...," tiba-tiba semua anak lesu seketika. Rex terlihat bingung, ia merasa seperti disalahkan karena tak masuk ke portal.
"Yang sabar ya, Rexy. Ini cobaan," ucap Jubaedah seraya mengelus kepalanya lembut, tapi Rex malah melirik Jubaedah tajam.
Gadis itu terperanjat terlihat takut dan langsung menurunkan tangannya. Anak-anak menahan tawa.
"Oia, soal Hihi. Dulu dia gadis kecil, tapi menjadi peri karena makhluk itu malah dimakan olehnya. Jadi, pastikan kalian tak makan makhluk-makhluk yang ada di sini atau kalian menjadi seperti Hihi, tak bisa kembali ke wujud manusia," celetuk Pasha menunjuk peri yang terlihat gembira dengan dunianya sendiri sedang mengejar kupu-kupu bercahaya.
Saat anak-anak asyik melihat tingkah laku Hihi yang seperti anak kecil, mereka baru menyadari jika kelima kurcaci yang ikut dalam kelompok mereka sudah tertidur lelap.
Akhirnya, anak-anak menutup acara api unggun malam itu. Tugas jaga pun mulai diberlakukan.
Malam itu, Harun dan Gibson berjaga. Siapa sangka, jika dua anak lelaki itu cocok. Mereka memiliki ketertarikan yang sama dalam dunia olahraga ekstrim.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy makasih dukungannya. Alhamdulilah Novel Monster Hunter menang lomba di MT juara 2. Lele padamu
__ADS_1