MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
BERTEMU HEROS*


__ADS_3

Tentu saja, pernyataan Atala membuat Lazarus melebarkan mata. Pemuda itu terkejut sampai melangkah mundur bahkan hampir menabrak pohon di belakangnya.


Lazarus tampak kebingungan, sedang Atala terus melangkah dengan menebarkan senyum penuh pesonanya kepada pemuda yang menjadi dewasa tersebut karena ramuan ajaib.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Jangan ditahan, Pangeran Lazarus. Hal itu wajar dan sudah menjadi naluri bagi seekor Centaur," ucap Atala berbisik seraya menyentuh salah satu pundak keturunan Benedict itu saat mengitarinya.


Lazarus panik. Debaran jantungnya tak berhenti berdetak dan malah semakin kencang. Atala tersenyum manis dan terus memberikan sentuhan penuh gairah kepada pemuda itu.


Lazarus mulai terbuai hingga tubuh kudanya bergerak dengan sendirinya menyambut ajakan kawin itu. Atala bisa merasakan sambutan dari lawannya.


Keduanya saling mengelilingi dengan empat kaki memijak seperti melakukan lompatan kecil sebagai tanda jika pejantan dan betina itu siap melakukan ritual.


Sorot mata keduanya tak lepas dari pasangannya. Lazarus dan Atala saling berhadapan yang kemudian kepala keduanya saling bergesekan seperti menunjukkan cinta kasih.


Lazarus jatuh dalam pesona Atala. Kuda betina itu tampak dominan dalam mempraktekkan ritual tersebut.


Gadis cantik itu tak henti-hentinya menciumi Lazarus seraya memeluk tubuh kekarnya yang mendadak berotot.


Pemuda itu seperti sudah kehilangan kewarasan sebagai manusia seutuhnya. Lazarus mengambil alih dan mulai menunggangi gadis bertubuh kuda itu layaknya melakukan penyatuan tubuh.


Di markas Oag.


Mereka berbicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Oag?" tanya seorang petugas yang berjenis sama dengannya bercorak biru.


Oag diam sejenak ketika melihat Lazarus mulai membuahi. "Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Tak ada protokol untuk mengantisipasi kegiatan semacam ini. Biarkan saja. Aku penasaran, apakah puteri Atala akan mengandung atau tidak usai pembuahan ini," jawabnya tetap terlihat tenang.


"Baik. Pemantauan akan terus dilakukan," ucap petugas tersebut seraya melakukan pengawasan kepada seluruh anak yang masih bertahan dari semua misi.


"Oag!" seru sang Jenderal saat memasuki ruangan, tapi kemudian mematung saat melihat tayangan yang masuk dalam tangkapan matanya. "I-itu ... apakah itu Lazarus? Bagaimana bisa?" tanya sang Jenderal tergagap.


"Entahlah. Banyak dari sifat manusia yang belum kami pahami. Namun sepertinya, itu berhubungan dengan naluri hewan dari kaum Centaur. Ada apa?" tanya Oag tetap berdiri tegak dan menoleh pelan saat manusia itu malah terpaku di sampingnya.


"Oh! Para arkeolog menemukan jejak dari kapal terakhir dari planetmu. Sayangnya, kami tak bisa ke sana," jawab sang Jenderal yang membuat mata para makhluk bertentakel itu melebar seketika.


"Di mana?" tanya Oag langsung mendekat dan hal itu membuat sang Jenderal terkejut.


"Mm ... ada di Samudera Pasifik, tepatnya di ... Palung Mariana. Peneliti pernah mengukur jika kedalaman palung itu mencapai kurang lebih 11.000 meter. Anehnya, sepertinya ini karena fenomena alam. Sinyal itu tiba-tiba muncul beberapa saat yang lalu karena gelombang besar muncul berikut badai dan membawa bangkai kapalmu naik dari celah yang tak pernah dipetakan oleh manusia sebelumnya. Hanya saja, aku dan timku tak bisa ke sana seperti yang kubilang tadi karena ... kami tak memiliki kemampuan air seperti kalian, meski menggunakan kapal selam sekalipun," jawab sang Jenderal gugup.


Oag menyipitkan mata, tapi pada akhirnya tentakelnya bergerak seperti menunjukkan sebuah perasaan.


"Persiapkan keberangkatan. Kirim 'Tentakel Merah' untuk melakukan penelusuran. Kita harus cepat selagi para manusia tertidur. Kerjakan!" titah Oag yang membuat para petugas bercorak biru segera meneruskan pesan tersebut.


Sang Jenderal dan para arkeolognya diminta untuk mendampingi para makhluk dari planet Mitologi untuk mencari keberadaan kapal milik para pendahulu yang dipercaya oleh Oag, terdampar dan tak bisa kembali ke negerinya.


Sang Jenderal dengan sigap bersiap. Ia segera mendatangi timnya untuk menjalani misi.


"Akhirnya ... setelah sekian lama, akhirnya kami menemukanmu, Tuan," ucap Oag terdengar bahagia.


Sedang di tempat Lazarus dan Atala berada.


Usai melakukan ritual ala Centaur itu, Lazarus seperti kehilangan energinya. Sedang Atala, terlihat begitu puas atas keperkasaan kuda jantan itu yang membuatnya semakin menyukainya.


"Tidurlah, Pangeranku," ucap Atala saat membaringkan Lazarus di samping Boas yang sudah mendengkur dan terlelap dalam tidurnya.


Dengan cepat, Lazarus memejamkan mata dan tertidur. Sedang Atala, terjaga seraya memandangi langit yang berkilau indah dengan senyum terkembang.


Keesokan harinya, Lazarus terkejut karena Boas berteriak hingga membuatnya langsung membuka mata dan duduk di atas rumput.


"Apa? Apa?" tanya Lazarus panik.

__ADS_1


"Woah ... kau sudah berubah menjadi manusia!" seru Boas heboh. Lazarus yang merasa hal itu bukan masalah besar, kembali tidur karena ia merasa begitu letih tak seperti biasanya. "Kita harus melanjutkan perjalanan," ucap Boas karena Lazarus malah bermalas-malasan.


"Kakiku pegal sekali. Selain itu, aku bermimpi aneh, tapi ... tak usah dibahas," jawabnya dengan mata terpejam dan berbicara seperti orang mengigau.


"He? Mimpi? Aku selama berada di planet ini tak pernah bermimpi. Kau mimpi apa? Katakan padaku," pintanya memaksa, tapi Lazarus enggan bercerita dan menampik tangan Boas yang terus menggoyangkan lengannya.


"Sebaiknya kau isi energimu dulu, Boas. Jangan ganggu tuanmu. Biarkan ia tidur sebentar lagi," ucap Atala seraya membawa semangkuk berry beracun untuk ia santap.


"Tuanmu? Maksudnya ... Lazarus bosku begitu? Sejak kapan?" tanya Boas cemberut, tapi Atala diam saja tak menjawab bahkan memalingkan wajah seperti Boas tak sederajat untuk bicara dengannya.


Boas yang tak mau ambil pusing, memilih untuk segera menyantap bekal pemberian para Centaur untuk mengisi energinya.


Cukup lama Lazarus tertidur hingga akhirnya pemuda itu bangun saat mendengar pembicaraan di dekatnya.


Lazarus membuka mata dan terkejut karena tak mendapati Boas atau Atala di sekitarnya.


"Boas? Atala?" panggil Lazarus panik, tapi ia bisa mendengar suara sayup di dalam hutan.


Lazarus segera bangun dengan rambut berantakan dan beberapa potongan rumput di kepalanya.


Lazarus mengendap dan tertegun saat mendapati seekor Centaur jantan bertelanjang dada sedang berbicara dengan Atala menggunakan bahasa yang tak ia mengerti.


"Oh! Dia orangnya," ucap lelaki Centaur itu yang menyadari kehadiran Lazarus.


Pemuda asal Inggris itu terkejut dan akhirnya menampakkan diri karena baginya percuma saja bersembunyi.


Lazarus merapikan pakaian dan rambutnya di mana ia yakin jika centaur tersebut adalah Heros.



"Kau manusia," tegasnya, dan Lazarus mengangguk pelan membenarkan.


Mata remaja tampan itu melirik ke arah Boas yang berdiri mematung di dekat pohon terlihat pucat dan diam saja. Lazarus lalu melirik Atala dan gadis centaur itu tampak gugup akan sesuatu.


"Ikut aku. Akan kita putuskan begitu tiba di sana," jawab pria bertubuh kekar layaknya pejuang.


Lazarus mengangguk dan mengikuti Heros yang berjalan di depan. Namun, Lazarus merasa sikap Atala lain.


Gadis itu terlihat murung dan diam saja bahkan tak berani menatapnya. Lazarus bingung, tapi memilih untuk fokus pada misinya.


"Wow! Apa itu?" tanya Lazarus terkejut begitupula Boas.


Dua remaja itu berdiri berdampingan di depan sebuah pohon yang memiliki wajah.



"Hidup kalian akan ditentukan dari jawaban 'Pohon Kebijaksanaan'. Jika dia mengatakan hal-hal yang dirasa ancaman bagi kaum Centaur, kalian akan mengakhiri perjalanan misi kalian di sini," jawab Heros dengan sorot mata tajam dan sebuah pedang ia tarik dari celah batang pohon di sampingnya.


"Wow! Wow! Kau akan membunuh kami?!" pekik Boas panik.


"Tergantung. Selain itu, aku tak pernah menyukai manusia," tegasnya.


Lazarus dan Boas ketakutan. Atala terlihat bingung dalam bersikap, tapi ia hanya bisa diam seperti tak memiliki kuasa untuk menolong mereka.


Lazarus dan Boas saling bertatapan. Hingga akhirnya, keduanya mengangguk pelan terlihat yakin akan sebuah kesepakatan.


"Baiklah, kami setuju. Namun, jika kami dianggap bukan ancaman, kau harus membantu kami untuk menemukan kawan-kawan kami. Raja dan Ratu Centaur Selatan mengatakan hal itu sebelum kami datang kemari," tegas Lazarus.


Heros mengangguk pelan dalam diam. Ia lalu mengarahkan pedangnya ke wajah pohon dan meminta kepada dua anak manusia itu mendekat.


Jantung Lazarus dan Boas berdebar kencang tak karuan. Mereka gugup saat seekor burung hantu seperti membidik mereka dari salah satu celah mata pohon besar itu.


Lazarus dan Boas bersama-sama meletakkan salah satu telapak tangan mereka ke hidung pohon tersebut. Seketika, "Hatchim!"

__ADS_1


BRUSSHH!!


Lazarus dan Boas sampai memejamkan mata saat pohon tersebut bersin. Daun-daun kering di sekitarnya berterbangan karena terpaan angin kencang dari lubang hidung besarnya.


"Semoga dia tak butuh tisu karena aku tak punya," keluh Boas seraya menyingkirkan daun-daun yang menempel di tubuhnya.


"Oh! Manusia!" seru pohon tersebut dengan suaranya yang besar.


"Ha-halo, Pohon Kebijaksanaan," sapa Lazarus sopan seraya membungkuk sedikit.


"Hem, aku bisa merasakan aura yang berbeda darimu. Kau seperti sudah digariskan untuk menjadi penguasa, seperti para pendahulumu. Kau anak yang beruntung," ucap Pohon Kebijaksanaan yang membuat senyum Lazarus merekah.


"Lalu ... bagaimana denganku, Tuan Pohon?" tanya Boas penasaran dengan wajah berbinar.


"Hem, kau. Kau berbeda dengan si bangsawan ini. Sebaiknya, kau perbaiki hubungan dengan ayahmu. Kau bertikai dengannya. Aku tahu jika sifat manusia muda memang suka membangkang, memberontak, dan tak suka dikekang. Hanya saja, ayahmu sangat menyayangimu. Kau sepertinya saat muda dulu. Jangan kecewakan dia dengan mengulang masa lalunya yang buruk. Hal itu akan menyakiti hatinya," jawab Pohon Kebijaksanaan yang membuat Boas membisu seketika.


"Kau bertengkar dengan ayahmu?" tanya Lazarus menatap kawannya lekat, tapi Boas memalingkan wajah. "Apakah karena itu, kau tak membangunkan ayahmu?" tanyanya lagi dan Boas mengembuskan napas panjang.


"Dia pria yang egois. Selalu sibuk dan mengatakan jika yang dilakukannya untuk keluarga. Apanya yang keluarga? Dia jarang pulang dan lebih sering menghabiskan waktu di kantor. Dia bahkan sering ingkar untuk menemaniku saat akhir pekan. Aku membencinya," jawab Boas terlihat marah dengan pandangan teralih, tapi seperti akan menangis.


Lazarus diam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ayahku juga demikian, tapi pamanku Jonathan mengatakan. Hal itu terjadi jika kita tak mengatakan apa yang kita mau dan rasakan. Awalnya aku juga menganggap nasihat itu sebagai omong kosong, tapi ... aku juga kesal karena ayahku seperti tak memahamiku. Akhirnya, kucoba untuk bicara padanya. Siapa sangka, ucapan pamanku benar. Kata ayahku, 'Kenapa kau tak mengatakannya? Ayah bukan seorang cenayang yang bisa memahami isi hatimu. Namun, ayah senang karena kau jujur dengan perasaanmu. Mulai hari ini, berjanjilah jangan ada rahasia diantara kita. Oke?' Ya, begitulah kira-kira. Rasanya, aku lega karena setelah itu, sikap ayahku berubah," ucap Lazarus yang membuat Boas menatapnya lekat.


"Kau ... bicara pada ayahmu tentang isi hatimu, begitu?" tanyanya memastikan, dan Lazarus mengangguk pelan.


Boas diam sejenak dengan pandangan tertunduk, tapi kemudian senyumnya terbit. "Baiklah, aku akan bicara padanya saat sudah kembali ke Bumi nanti."


"Haha! Bagus, Boas! Itu baru namanya semangat!" puji Lazarus seraya menepuk pundak sahabatnya kuat.


Heros diam menatap dua anak manusia itu saksama. Pohon Kebijaksanaan juga terlihat senang.


Ia berdendang hingga kepalanya bergoyang-goyang. Hewan-hewan di sekitarnya ikut menari bersamanya. Senyum Atala ikut terkembang.


"Sepertinya, kalian bukan ancaman," ucap Heros lalu memasukkan kembali pedangnya ke dalam celah pohon.


Lazarus, Boas dan Atala terlihat lega. Mereka lalu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan kepada Pohon Kebijaksanaan.


Pohon yang memiliki wajah itu seperti kembali tertidur karena memejamkan mata dan berhenti bergoyang.


"Tempat ini sungguh ajaib. Aku mulai menyukai tempat ini. Akan sempurna jika ada ayah ibuku juga," ucap Boas gembira.


"Tidak! Tak boleh ada manusia dewasa di tempat ini!" seru Heros tiba-tiba yang mengejutkan dua anak manusia itu.


"Kenapa? Kudengar kau memiliki pengalaman buruk dengan manusia. Bisa kau ceritakan?" tanya Lazarus penuh selidik.


Heros memalingkan wajah, meski terlihat gelisah. Atala diam seperti tak ingin ikut campur.


"Manusia dewasa rakus. Mereka haus kekuasaan. Berambisi dan ingin menjadi penguasa. Mereka tak bisa mengendalikan ketamakan. Tak berhati nurani dan akan terus menjajah sampai rasa dahaga akan kekuasaan mutlak diakui oleh kaumnya," jawab Heros dengan napas menderu.


"Ucapanmu seperti kau pernah mengalami perang yang sangat brutal. Apakah dugaanku benar?" tanya Lazarus penuh selidik.


Heros berjalan mendekat dengan sorot mata tajam ke arah keturunan Benedict itu. Lazarus tampak gugup hingga kepalanya mendongak karena ukuran tubuh Heros lebih tinggi dan besar darinya.


"Kaupikir, kisah para dewa, kaum centaur, minotaur dan sejenisnya, berasal dari mana? Sebutan Mitologi berasal dari mana? Ilmuwan kalian? Salah, itu semua dari kami karena kami pernah berkunjung ke Bumi hingga kami memutuskan, Bumi tak layak untuk dihuni oleh kaum seperti kami. Tempat itu, neraka," ucapnya yang membuat mata Boas dan Lazarus melebar seketika.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy makasih tipsnya😍 kuy yang lain ditunggu ya biar kita berbagi ss. kwkwkw. lele padamu💋

__ADS_1


__ADS_2