MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
LEMBUSWANA*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Anak-anak saling menyenggol tubuh kawan di sebelahnya usai melihat kejadian antara Czar dengan sosok hitam penghisap jiwa tadi.


Namun, tak ada satu pun yang berani bicara. Hingga mereka dipertemukan dengan cabang lorong lain, dan kali ini, mereka mengambil pintu ketiga karena belum menjelajah wilayah tersebut.


Rex dan lainnya segera menandai dinding lorong yang membawa mereka ke suatu tempat berbeda karena terasa udara bersemilir lembut tak pengap seperti yang sudah-sudah.


"Perasaanku saja atau seperti ada angin bertiup ya di tempat ini? Rasanya sejuk," tanya Mandarin yang melihat rambut panjang Azumi menari-nari.


"Ya, kau benar. Selain itu, seperti ada suara daun-daun bergesekan layaknya di hutan," sahut Timo, dan diangguki anak-anak yang setuju dengan ucapan dua kawan mereka itu.


Para remaja tersebut melihat cahaya terang di ujung lorong. Praktis, ketegangan kembali terasa karena mereka yakin, pasti ada kejutan lain dari penjara Hades yang menyimpan banyak misteri.


"Czar. Kau tak apa?" tanya Azumi cemas.


Czar menoleh ke arah gadis manis itu dengan raut wajah yang sulit untuk diungkapkan. Pemuda asal Rusia tersebut malah memalingkan wajah dan berjalan cepat meninggalkan kawan-kawan yang berada di sekitarnya.


"Dia kenapa sih?" tanya Rangga heran.


Bara mengangkat kedua bahu dengan bibir melengkung dan wajah malas saat melihat Czar kini berjalan di samping Gibson.


"Aku tak akan memaksamu untuk menceritakan pengalamanmu dengan sosok hitam itu entah apa sebutannya. Namun, fokus pada tujuan misi kita. Jangan gegabah karena kita satu tim. Aku ingin semua kawan-kawan kita lolos di level 7 ini. Oke?" pinta Gibson tegas, dan Czar mengangguk pelan dengan wajah masih terlihat pucat.


"Ryan! Selanjutnya makhluk apa?" tanya Nicolas tampak bersemangat.


"Masih ada Sphinx, Chimera, Cyclops, Harpy, Cockatrice, Argus, Kappa, Siren dan ... Lembuswana. Aku tak pernah tahu beberapa nama dari jenis makhluk-makhluk ini. Terlebih Lembuswana. Ini makhluk seperti apa?" tanya Ryan bingung yang kembali dalam wujud manusia seraya melihat buku catatannya.


"Lembuswana itu seperti— Itu!" seru Bara langsung menunjuk dan menghentikan langkah karena kaget.


"GOARRR!!"


Tiba-tiba saja, muncul sosok hewan besar seperti gajah, tapi dalam tubuh raksasa ketika anak-anak itu keluar dari pintu gua dan menemui wilayah seperti hutan belantara di tempat luas.


Semua anak panik dan terkejut. Gibson meminta teman-temannya segera menyingkir di mana makhluk tersebut ternyata tak dibelenggu seperti Satyr yang tadi mereka tangkap.



"Be-besar sekali," kagum Harun sampai matanya melotot saat ia bersembunyi di balik pohon.


"Ba-bagaimana kita menangkap dan membawa makhluk itu kepada sosok hitam? Pintu gua ini saja tak muat untuk membawanya keluar. Ini mustahil," ucap Lazarus kebingungan.


"Ukurannya saja sepuluh kali lipat dariku! Sekali injak, aku bisa mati!" sahut Rex yang tak menyangka dengan makhluk besar bersayap itu.


"Apa sebaiknya dia jadi pilihan terakhir saja? Kita cari target yang lain. Bagaimana?" tanya Lazarus menyarankan.


Gibson mengangguk setuju dan meminta kawan-kawannya untuk segera keluar dari wilayah tersebut. Mereka sepakat untuk kembali ke pintu masuk tadi.


Namun tiba-tiba, "GOARRR!"


BRAKK!!


"AAAA!"


"Azumi!" seru Kenta panik karena makhluk itu menyadari kedatangan para anak manusia tersebut.


Makhluk seperti gajah dengan tubuh raksasa dan memiliki sayap tersebut diyakini adalah sosok dari Lembuswana.


Makhluk tersebut memporak-porandakan wilayah tersebut dan mengakibatkan pohon-pohon di sekitarnya tumbang seperti terkena badai yang dahsyat.


"Kenta!" panggil Azumi lantang saat terkena hempasan angin kencang yang dibuat oleh Lembuswana yang sedang mengamuk.


Semua anak ikut panik dan berusaha berlindung di dekat dinding batu agar tak terkena dampak dari kerusakan hutan yang dibuat Lembuswana.


BRUKK! SRAKK!


"Agh!" rintih Azumi saat ia jatuh bergulung-gulung di atas tanah hingga tubuhnya kotor.

__ADS_1


"Bertahanlah, Azumi! Aku akan menolongmu!" seru Kenta yang segera berlari mendatangi sang adik saat Lembuswana itu beranjak ke wilayah lain dengan amukannya.


"Kau tak apa?" tanya Kenta cemas karena Azumi tampak berantakan.


Gadis Jepang itu mengangguk seraya memegangi tangannya yang sakit karena lecet.


Mandarin dan Vadim segera menyusul lalu membantu membopong Azumi agar menjauh dari serpihan pohon yang berserakan di tanah.


"Apa yang terjadi? Kenapa makhluk itu mengamuk? Kita bahkan belum melakukan apapun!" tanya Boas bingung dan terus berlindung saat makhluk seperti campuran beberapa hewan itu terus mengaum hingga seluruh pohon tumbang.


"Entahlah. Sebaiknya, kita segera pergi. Ayo!" ajak Gibson, dan semua anak mengangguk.


Namun tiba-tiba, "Oh! Apa yang terjadi? Kenapa kita tak bisa melintas? Ada dinding penghalang!" seru Timo panik.


Praktis, mata semua anak melebar. Mereka menggedor-gedor dinding tak terlihat itu ke arah lorong dan berusaha untuk mendobraknya.


Saat kebingungan dan suasana tegang menyelimuti hati anak-anak, lagi-lagi ....


"Woah!" seru Harun terkejut saat sosok hitam itu muncul di balik dinding tak terlihat.


Semua anak melangkah mundur dan kembali berkumpul.


"Bawa dia padaku. Pintu akan terbuka saat dia berhasil ditangkap," ucapnya begitu saja lalu menghilang.


"What? Apa maksudnya? Kita terperangkap sampai Lembuswana berhasil kita bawa begitu? Ini gila!" pekik Ryan panik.


Semua anak saling bertatapan. Gibson lalu meminta pada kawan-kawannya untuk mencari tempat perlindungan di sekitar wilayah tersebut, tapi Lembuswana harus tetap terpantau agar tak kehilangan jejak.


Saat mereka sedang mencari tempat aman untuk berlindung dan mengintai, tiba-tiba, "Hehehe!"


"Woah! Ka-kau ...," tunjuk Boas tergagap saat mengenali sosok makhluk yang duduk pada sebuah batang pohon menunjukkan ketengilannya.



Sontak, semua anak langsung melangkah menjauh. Mereka tak jadi memasuki sebuah gua yang tadinya akan digunakan untuk berlindung.


"Kau kaum Satyr," tegas Gibson, dan makhluk itu menjawab dengan seringainya.


Vadim tiba-tiba menarik tangan Gibson dan mengajaknya menjauh dari manusia kambing tersebut. Gibson menatap Vadim lekat yang tampak serius.


"Hati-hati. Kaum Satyr itu licik. Jangan sampai kita rugi olehnya, meski dikatakan jika mereka memiliki banyak pengetahuan," ucap Vadim berbisik.


Gibson mengangguk paham dan kembali mendatangi Satyr tersebut yang tidak dibelenggu seperti makhluk sebelumnya.


"Kami tak memiliki barang berharga," tegas Gibson mewakili kawan-kawannya.


"Oh, benarkah? Coba kau buka tasmu. Aku ingin lihat," pintanya seraya melirik tas yang digunakan oleh Gibson.


Semua anak tampak waspada seraya melihat sekeliling jikalau ada Satyr lain yang sedang mengintai mereka di tempat tersembunyi.


Gibson tampak ragu, tapi pada akhirnya menurut. Ia berjongkok dan membuka isi tasnya perlahan. Satyr itu melebarkan matanya lalu menunjuk sebuah benda.


"Itu apa?" tanyanya melihat sebuah kain yang Gibson lipat.


"Ini selimut. Aku tak bisa memberikannya padamu," tolaknya yang dengan sigap menutup tasnya kembali karena selimut itu bisa membuat dirinya tak terlihat.


Satyr itu menatap Gibson lekat, tapi pada akhirnya tersenyum licik.


"Apa kau tahu tempat apa ini?" tanya Satyr tersebut seraya mengayunkan kaki kambingnya yang tergantung pada batang pohon.


"Penjara Hades," tegas Harun.


"Ya, itu benar. Namun, lihatlah tempat ini. Apa kalian tahu di mana sesungguhnya?" tanya Satyr tersebut seraya merentangkan tangan. Semua anak menggeleng. "Aku bisa memberitahukan banyak hal pada kalian. Asal, berikan aku imbalan yang bisa membuatku bertahan selama terkurung di tempat ini," imbuhnya.


Semua anak berkumpul seperti berdiskusi.


"Kita tak perlu tahu tentangnya. Kita memiliki cermin ajaib yang bisa menjawab semua pertanyaan," ucap Azumi.

__ADS_1


"Ah, kau benar, Azumi. Kau cerdas!" ucap Mandarin dengan mata berbinar.


"Oke, kita sepakat," tegas Gibson, dan semua anak mengangguk setuju.


Namun, saat mereka berbalik badan, "Hei!" seru Nicolas terkejut saat melihat makhluk bertanduk itu mengambil sebuah benda dari dalam tas milik Azumi. Praktis, mata semua anak melebar seketika.


"Dia mencuri barangku!" seru Azumi menunjuk.


"Jangan biarkan dia lolos! Tangkap!" titah Kenta.


Segera, Azumi berubah menjadi Unicorn. Kenta dengan sigap naik ke punggung sang adik yang berlari kencang dan perlahan, kakinya seperti menapak udara.


Kenta tampak kagum akan kemampuan sang adik saat ia mampu berlari di udara.


"Itu dia!" tunjuk Kenta yang mendapati keberadaan Satyr tersebut sedang berlari seraya membawa cermin ajaib milik Azumi yang akan digunakan untuk mencari tahu hal apapun selama di planet mitologi. "Berhenti! Pencuri!" seru Kenta marah.


Kenta bersiap dengan pedang Elf dalam genggaman tangan kanannya untuk menyerang Satyr tersebut.


Namun, pergerakan makhluk itu begitu gesit. Ia memanfaatkan pepohonan yang belum terkena dampak dari serangan buas Lembuswana dengan menyelinap diantaranya.


"Jangan sampai kehilangan jejaknya, Azumi!" seru Kenta.


Azumi terlihat fokus pada sasarannya, dan seketika, "Hah! Hah! Hah!" teriak Satyr tersebut terkejut saat tubuhnya tiba-tiba saja melayang di udara.


Satyr itu panik karena tubuhnya kini terbalik. Kenta dengan cepat merebut cermin itu dari tangan Satyr tersebut dan mengancam dengan mengarahkan ujung pedang tajam Elf ke tubuhnya.


"Hahahaha! Oh, kalian sungguh berbeda dari manusia yang kuingat sebelumnya. Pasti ... Oag yang membuatmu bisa berubah wujud menjadi Unicorn. Menarik," ucap Satyr tersebut masih bisa berlagak padahal tubuhnya terbalik di udara.


"Sepertinya semua makhluk yang berada di dalam penjara Hades sangat membenci Oag karena alien itu memihak kami para manusia," ucap Kenta yang kini mengamankan cermin sang adik di dalam tasnya.


"Itu karena dia tak memihak kami dan malah membela musuh! Pemimpin macam apa yang tak mendukung rakyatnya sendiri! Itu karena, Oag bukan makhluk asli planet mitologi!" jawab Satyr tersebut marah.


"Memangnya kau makhluk asli? Lihatlah dirimu. Kau setengah kambing dan setengah manusia. Kau hampir sama seperti kami. Hanya bedanya, kau digabungkan dengan hewan lain yang berada di Bumi. Kau pasti juga bukan makhluk asli mitologi. Kalian itu diciptakan oleh para dewa, dan kami sudah tahu itu dari kastil yang ditemukan saat menjalankan misi!" seru Azumi kesal.


"Penipu," geram Satyr tersebut menatap wajah Unicorn Azumi tajam.


"Kami tak bohong! Kami punya buktinya!" seru Ryan seraya menunjukkan ponselnya.


Mata Satyr tersebut menyipit, dan kini menyorot Ryan tajam. Azumi menurunkan Satyr tersebut bersama dengan dirinya dan Kenta.


Semua anak mengarahkan ujung pedang Elf ke tubuh Satyr tersebut jikalau makhluk itu mencoba untuk menyakiti mereka.


Ryan menunjukkan video hasil rekamannya selama di kastil tersebut. Praktis, mata Satyr itu melebar. Ia tampak shock dan menatap anak-anak manusia itu saksama bergantian.


"Masih ingin mengatakan kami penipu, ha? Kau itu yang sok tahu," ucap Rex kesal.


Satyr tersebut tampak bingung. Ia menggaruk rambutnya dengan wajah kesal lalu mendengkus keras.


"Aku masih tak percaya sebelum melihatnya sendiri. Bisa saja itu tipuan," ungkapnya masih menyombong dengan tangan melipat depan dada dan duduk bersila di atas tanah.


Anak-anak kesal setengah mati. Makhluk itu keras kepala dan banyak tingkah. Namun, hal itu membuat Lazarus jadi teringat akan pamannya yang memiliki sifat hampir mirip hewan bertanduk itu.


"Jangan hiraukan dia. Misi kita menangkap Lembuswana. Biarkan saja dia menguntit kita atau semacamnya. Buang-buang waktu dengan makhluk menjengkelkan ini," ucap Rangga ikut sebal.


Anak-anak lain mengangguk setuju. Mereka meninggalkan Satyr tersebut begitu saja dan berjalan menyusul Lembuswana yang sosoknya sudah berada jauh di depan entah menuju ke mana.


Azumi yang sudah kembali dalam wujud manusia menatap Satyr itu saksama. Ia mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya lalu memberikan pada Satyr tersebut. Kening Satyr itu berkerut.


"Ini adalah topi mimpi. Kurasa, kau lebih membutuhkannya dariku. Kenakan topi ini dan kau akan mengalami mimpi indah. Sampai jumpa dan ... jangan usik kami lagi," ucap Azumi seraya menyodorkan topi itu, tapi Satyr tersebut malah menampiknya.


Azumi menahan rasa jengelnya. Ia meletakkan topi itu di paha Satyr tersebut lalu pergi meninggalkannya bersama sang kakak yang melirik makhluk bertanduk itu tajam.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya diriku. Kwkwkw😆 Ditunggu sedekah koin dari para LAP lainnya ya. Lele padamu💋


__ADS_2