
Baiklah, LIH udah tamat dan lele mau fokus tamatin Monster Hunter dan 4YM. Minggu depan lele akan publish King D. Trims sudah sabar menunggu. Makasih tipsnya untuk dirikuh. Maaf lahir bathin semua~ Lele padamu❤
---- back to Story :
Di sisi lain tempat Czar berada.
Pemuda asal Rusia itu ikut panik ketika tak mendapati kawan-kawannya di tempat tak ia kenal.
Namun beruntung, karena hewan penyimpan cadangan jiwa ikut bersamanya. Malah, hewan milik Laika juga.
"Ka-ka."
"Ya, aku tahu. Kita harus menemukan Laika dan lainnya. Aku merasa tempat ini sedikit berbeda dari yang sudah kulalui sebelumnya. Apakah ... kalian tahu kita berada di mana? Pernah ke sini sebelumnya?" tanya Czar kepada dua makhluk menggemaskan yang kini duduk di pundaknya.
"Zi-zi?" panggil hewan cadangan Czar dengan imutnya.
Czar hanya tersenyum karena ia tak mengerti dengan yang diucapkan oleh dua makhluk menggemaskan tersebut.
Pemuda bertubuh atletis itu berjalan penuh waspada menyusuri wilayah layaknya padang gurun dengan deretan gunung yang tampak di kejauhan.
Czar merasa beruntung karena langit cukup bersahabat meski ia merasa aneh karena langit seperti memiliki dua warna, biru tua dan jingga.
Hingga tiba-tiba, dua hewan penyimpan jiwa yang duduk di bahunya panik. Pemuda itu tahu jika hal buruk akan terjadi.
Benar saja, langit tiba-tiba bergemuruh dan warna biru yang meneduhkannya bergerombol membentuk sebuah pusaran besar layaknya tornado.
"Woah!" seru Czar tertegun saat ia merasa angin di sekitarnya menjadi kencang seperti menariknya.
Tanpa banyak bicara, Czar berlari menjauh ke sisi langit gelap karena pergerakan dari angin itu mulai menyentuh tanah hingga menggempur permukaan.
"Hah! Hah!" engah remaja itu berlari kencang.
Namun, ada hal yang aneh di sisi gelap. Tempat itu ternyata sungguh gelap dan tak terlihat apapun layaknya orang buta.
Czar panik karena ia khawatir jika tempat itu memiliki banyak jebakan dan bisa membunuhnya.
"Ba-bagaimana ini?" tanya Czar kebingungan. Dua makhluk yang duduk di pundak Czar tiba-tiba melompat dan berlari ke dalam kegelapan. "Hei! Kalian mau ke mana?!" teriaknya karena ia ditinggalkan begitu saja.
Namun perlahan, mata Czar menyipit saat ia mendapati sebuah cahaya dengan warna biru dari dalam kegelapan yang seperti ia kenal.
"Woah! Ka-kalian?" pekik suara dari balik kegelapan yang membuat mata pemuda Rusia itu melebar.
"Ryan? Kau 'kah itu?" tanya Czar memastikan.
"Ya. Kau siapa?" jawab suara tersebut.
Czar segera berlari ke arah dua tangan yang mengeluarkan cahaya kebiruan. Ryan terlihat senang dan ikut berlari ke arah pemuda Rusia tersebut.
Wajah keduanya tampak begitu bahagia karena akhirnya saling bertemu. Namun tiba-tiba, DUANGG!!
"Argh!" erang keduanya saat mereka akan berpelukan, tapi ternyata ada sebuah dinding penghalang tak terlihat.
Czar dan Ryan jatuh terlentang di tanah. Dua hewan yang ikut bersama Czar mendatangi pemuda berambut cokelat itu dan menaiki tubuhnya.
"Apa itu tadi?" tanyanya bingung seraya memegangi dahinya yang sakit.
"Czar! Aku tak bisa ke sana! Seperti ada dinding tak terlihat di depan kita!" seru Ryan yang kini berdiri di depan Czar, tapi ia seperti menyentuh sesuatu yang tak terlihat.
"Ini seperti ... saat kita berada di planet permen," sahut Czar, dan Ryan mengangguk setuju.
Czar segera bangkit dan mendekat. Dua remaja itu terlihat mencari celah atau solusi agar bisa masuk ke tempat kawannya berada.
Namun anehnya, dua makhluk penyimpan cadangan jiwa itu bisa menerobos begitu saja seolah tak ada penghalang diantara keduanya. Mata Czar dan Ryan melebar.
"Bagaimana bisa?!" pekik keduanya heran.
__ADS_1
Czar dan Ryan semakin bingung. Keduanya terlihat pasrah saat duduk saling berhadapan di atas tanah dengan dua hewan penyimpan cadangan jiwa ikut duduk di pangkuan mereka.
"Oke, tenang. Coba kita telaah," ucap Czar dan Ryan mengangguk siap. "Apa kau sendiri? Di mana hewanmu?"
"Sebelumnya aku tak di sini. Aku berada di padang savana dengan tumbuhan berwana jingga. Lalu, aku melihat harimau suuuu ... per besar mendatangiku. Aku yang kaget langsung pingsan. Saat kubangun, aku sudah berada di sini. Sungguh, tempat ini membuatku takut. Jika bukan karena tanganku yang bercahaya, mungkin aku sudah menangis sedari tadi," jawabnya seraya melihat kedua tangannya yang menjadi penerang.
Czar tersenyum. "Kau lelaki yang pemberani, Ryan. Jangan takut. Baiklah. Kalau aku, sejak awal datang memang sudah berada di tempat ini dengan mereka," ucap Czar seraya menunjuk dua makhluk yang bersamanya.
Ryan mengangguk pelan. "Aku belum menjelajah sekitar karena takut. Namun, dengan kau ada di sini meski kita tak bisa bergabung, tapi aku merasa lebih tenang," sahutnya. Czar mengangguk pelan.
"Di sana tadi ada badai topan. Wilayah itu terang. Aku lari ke sini karena tornado itu seperti mengejarku. Bagaimana jika kita berdua berjalan bersama ke sana meski berada di dimensi yang berbeda?" tawarnya.
Ryan mengangguk cepat dan dengan sigap berdiri. Ryan meminta hewan penyimpan cadangan Laika ikut bersamanya sebagai pendamping.
Czar mengizinkan dan dua remaja pria itu berjalan bersamaan menuju ke padang gurun di mana wilayah tersebut lebih terang.
Ternyata, tornado itu masih ada. Baik Czar ataupun Ryan tampak gugup dan tak berani mendekat.
"Czar! Bagaimana jika kita pergi ke pegunungan itu saja? Kita berjalan di tepian sampai ke sana menghindari tornado," tawar Ryan dan Czar mengangguk setuju.
Keduanya berjalan bersamaan menuju ke wilayah pegunungan dan berharap menemukan solusi agar bisa kembali bersama.
Sedang di tempat Harun berada.
"GOARRR!"
"Hah! Hah! Hah!" engah pemuda berkulit hitam saat dirinya kini harus berhadapan dengan seekor cacing monster yang diyakini adalah penguasa wilayah es tersebut.
Harun mengubah dirinya menjadi Yeti karena udara dingin yang mengusik. Sayangnya, Harun sendiri tanpa hewan penyimpan cadangan jiwa di sisinya.
"Besar sekali! Mengerikan!" ucapnya yang kini bersembunyi di balik batu besar.
Harun terkejut saat ia berusaha melintasi daratan es dan tiba-tiba, muncul makhluk buas tersebut. Harun panik dan segera berlari karena dikejar oleh hewan seperti cacing itu.
Harun berasumsi jika cacing itu sepertinya buta dan menggunakan kemampuan layaknya sensor untuk merasakan getaran dari permukaan yang dipijak oleh mangsanya.
Pemuda itu naik ke atas batu saat cacing itu terlihat bergerak menuju ke arahnya. Mata Harun terus fokus memindai sekitar agar tak dimangsa oleh hewan besar itu.
Hingga ia melihat jika cacing itu bergerak menjauh darinya. Harun heran dan dengan sigap menaikkan pandangan.
Seketika, matanya melebar ketika mendapati sosok unicorn yang berlari kencang di atas permukaan es dengan dua ekor makhluk penyimpan jiwa duduk di atas punggungnya.
"Azumi!" panggil Harun lantang.
Sayangnya, gadis cantik yang berubah menjadi kuda tersebut tak mendengar. Harun panik karena kini Azumi dikejar. Harun nekat turun dan ikut berlari mengejar di belakang cacing pada permukaan es.
"Azumi!" panggil Harun untuk kesekian kali yang berusaha untuk menyelamatkan adik dari Kenta karena ia seperti tak menyadari jika dibidik.
"GOAARRR!!"
"Ahhh!"
Azumi terkejut dan tubuhnya terhempas karena cacing tersebut muncul dari bawah permukaan es.
Azumi terlempar bersama dua makhluk yang duduk di punggungnya. Azumi menghantam batu besar hingga ia tak sadarkan diri.
Cacing itu bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah gadis Jepang tersebut, siap untuk memangsanya.
Dua hewan penyimpan cadangan jiwa terlihat menjaga Azumi dengan menjadi tameng dan terus mengerang.
"GOARRR!"
"HARGHH!" balas Harun dengan sigap melompat dan memanjat punggung cacing besar itu.
Harun terlihat tak takut jika dirinya terluka atau bahkan tewas karena berusaha melindungi Azumi. Dua makhluk penyimpan jiwa tampak senang saat Harun datang untuk menolong mereka.
Perlahan, Azumi tersadar saat dua hewan itu seperti berusaha untuk membangunkannya.
__ADS_1
"Emph," keluhnya saat mengangkat kepala kudanya meski masih terlihat lesu. "Oh! Ha-Harun?" kejutnya yang langsung melebarkan mata saat melihat Harun berpegangan kuat pada tanduk-tanduk yang mencuat dari tubuh cacing es itu.
Azumi segera berdiri dengan empat kakinya dan melihat dengan saksama usaha Harun untuk melumpuhkan cacing tersebut.
"Mimi! Mimi!" seru hewan cadangan nyawa melompat-lompat di atas permukaan es seperti ingin menyampaikan sesuatu.
Azumi diam menatap hewannya saksama. Hingga ia sadar jika dirinya adalah seekor unicorn tak sekedar kuda biasa.
"Oh! Kau benar! Aku adalah kuda ajaib. Seingatku, unicorn adalah hewan yang memiliki kemampuan sihir. Namun, bagaimana aku mengeluarkan sihirku?" tanya Azumi bingung seraya melihat tanduknya yang runcing.
"Mimi! Mimi! Mi ...."
Mata kuda Azumi kini terfokus pada hewan miliknya saat ia tiba-tiba saja diam dengan mata terpejam.
Seketika, tanduk besar tumpul milik hewan miliknya itu bercahaya. Gadis Jepang itu tampak terkejut, tapi ia mengamati gerak-gerik hewan berbulu putih itu seperti mengajarkan padanya untuk menggunakan sihir.
"Ah! Aku mengerti! Akan kucoba!" seru Azumi mantap dan memposisikan diri dengan gagah. Ia menguatkan keempat kakinya dan fokus pada tanduk runcingnya.
Azumi memejamkan mata dan menarik napas dalam. Harun terus berusaha untuk melawan cacing itu meski ia juga tak tahu bagaimana melumpuhkannya.
Tiba-tiba saja, mata Harun teralih pada sebuah cahaya yang muncul dari tanduk Azumi. Mata Harun melebar ketika ia melihat tubuhnya bisa melayang seperti terbang di udara.
Harun terkejut, terlebih ketika cacing itu tak bisa menggapainya karena ia berada di tempat yang tinggi.
"Hahaha! Kau hebat, Azumi!" seru Harun senang karena ia bisa terbang di atas langit.
Namun, pandangan Harun kembali kepada Azumi karena dirinya kembali diincar oleh cacing monster itu.
Dua makhluk penyimpan setengah jiwa terlihat senang dan melompat-lompat di atas permukaan es sehingga getarannya menarik perhatian monster tersebut.
"Azumi!" seru Harun panik. Namun, pemuda itu melihat kesempatan. Harun menggerakkan tubuhnya seperti orang berenang menuju ke arah Azumi yang masih memejamkan mata. "Azumi! Buka matamu!" pintanya lantang.
Seketika, mata Azumi terbuka. Ia terkejut melihat monster cacing dengan buas mendatanginya dengan cepat.
Azumi panik, tapi tiba-tiba, "Ahh!" teriaknya kaget saat tubuhnya ditangkap oleh Harun hingga ikut melayang.
"Fokus pada kekuatanmu, Azumi! Kau bisa membawa kita pergi dari sini!" seru Harun.
Azumi mengangguk, tapi ia baru menyadari jika dua hewan yang ikut bersamanya masih berada di permukaan es.
Beruntung, Harun melihat dua makhluk kecil itu sedang berlari kencang menyelamatkan diri.
"Bawa aku ke sana, Azumi!" pinta Harun.
Azumi memfokuskan bidikannya. Dengan cepat, Harun terbang di atas tubuh cacing monster yang berusaha mengejar dua makhluk malang tersebut.
"Azumi!" teriak Harun.
Azumi melebarkan mata dan meringkik layaknya kuda dengan Harun masih memegangi tubuhnya.
Seketika, dua hewan itu melayang ke atas langit. Azumi dengan sigap menukik dan mengarahkan dua hewan itu ke punggung Harun.
"Yeah! Kita berhasil, Azumi! Kau luar biasa!" pujinya.
Azumi tampak senang. Ia lalu menggerakkan keempat kakinya dengan kuat layaknya sedang berlari.
Tubuh Harun perlahan turun dan kini duduk di punggung Unicorn Azumi dengan dua hewan di pundaknya.
Harun tampak kagum saat ia melihat kemampuan Unicorn yang ternyata bisa berlari di udara.
"Ini keren sekali! Wohooo!" seru Harun gembira hingga dua tangannya terangkat ke atas.
Mereka berhasil meloloskan diri dari cacing monster yang siap memangsa hidup-hidup.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1