MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
PREDATOR BARU*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Oag tampak pasrah atas keinginan mutlak anak-anak tersebut. Bagaimanapun, Oag merasa jika tujuh anak-anak itu sudah berperan banyak dalam misi untuk menguak masa lalu leluhurnya.


Selain itu, cara berpikir anak-anak yang simpel, tak berbelit dan rumit layaknya manusia dewasa, membuat Oag cepat mengambil keputusan tanpa ragu seperti yang sudah-sudah.


"Sepertinya wilayah ini memiliki penghalang sinyal secara alami. Aku tak bisa menghubungi pusat. Kita harus segera kembali ke pesawat karena belum diketahui kapan hari gelap. Selain itu, kita juga belum tahu keadaan sekitar saat malam datang," ucap Oag serius, tapi membuat semua anak bergidik ngeri seketika.


"Om Oag jangan ngomong gitu dong. Juby takut nih," ucap Jubaedah yang membuat Hihi langsung merapatkan tubuhnya ke gadis asal Indonesia itu.


"Kita pergi," tegas Oag, dan semua anak mengangguk setuju.


Mereka segera keluar dari ruangan tempat mereka berkumpul. Alien kecil yang mengantarkan mereka mengikuti di belakang.


Namun, saat mereka menuju ke pintu tempat masuk tadi, tiba-tiba alien kecil tersebut seperti mengerang tampak ketakutan layaknya ada bahaya mengancam.


Oag langsung menghentikan langkah. Ia melebarkan kedua kakinya dan merentangkan tangan. Praktis, anak-anak yang mengikutinya di belakang terkejut seketika.


"Ada apa, Om?" tanya Jimmy bingung karena tubuh Oag yang memiliki corak biru seperti menyala.


Benar saja, PIP-PIP! PIP-PIP!


"Oh, jam tanganku bergetar dan ... suara apa ini?" tanya Tina bingung ketika helm yang ia kenakan berbunyi layaknya alarm dan jam tangannya menyala merah.


"Kembali ke ruangan tadi dan halangi jalannya! Cepat!" titah Oag yang membuat mata semua anak melebar.


"Oag!" seru Bobby menunjuk pada jendela pesawat saat terlihat segerombolan makhluk mendatangi pesawat dengan wujud seperti campuran spesies.



"Seram sekali! Lari!" seru Oscar dan diikuti anak-anak yang lain.


Namun, teriakan mereka membuat para alien jenis predator itu menyadari keberadaan anak-anak manusia tersebut.


"Erak! Erak!" lengking salah satu alien dengan kepala langsung menoleh ke arah pesawat.


Alien kecil tersebut tampak panik. Hihi mengajak alien seperti Oag itu untuk ikut dengan mereka.


Sedang Oag, terlihat sigap seperti akan melakukan sesuatu untuk melindungi anggota kelompoknya.


"Om Oag!" panggil Pasha saat akan masuk ke ruangan.


"Sembunyi. Pakaian kalian memiliki sistem keamanan. Baju itu akan melindungi kalian dari serangan makhluk buas," tegas Oag.


Pasha mengangguk dan segera masuk ke ruangan. Anak-anak saling bahu-membahu menutup pintu dengan meletakkan benda-benda sebagai penghalang.


Alien kecil tersebut tampak panik dan malah menyerukan suara seperti melakukan panggilan berulang-ulang.


"Jangan berisik. Nanti kita ketahuan," ucap Hihi cemas karena alien itu berlari ke sana kemari.


Anak-anak semakin ketakutan mengingat jumlah makhluk yang tampak menyeramkan dan berbahaya itu cukup banyak.


BRANG! BRANG! BRANG!


"Oh! Apa itu?!" pekik Jimmy langsung menghentikan aktivitasnya saat akan memindahkan sebuah papan besi dengan Pasha membantunya.


Bobby mengintip dari celah penghalang yang mereka buat karena penasaran. Suara benda keras dan raungan begitu santer layaknya ada pertarungan di luar ruangan tersebut.


"Harrrghhh!"

__ADS_1


"AAA!" teriak Bobby langsung melangkah mundur dengan tergesa saat melihat salah satu alien pemangsa itu sudah memasuki pesawat.


Hanya saja, makhluk itu mampu menempel di dinding besi karena kuku tajam dari dua tangan dan dua tungkai berujung runcing bergerigi di atas punggungnya, membuat makhluk itu bisa menusuk sekaligus menembus logam.


Anak-anak dalam ruangan panik seketika. Lagi-lagi, teriakan mereka membuat keberadaan anak-anak itu diketahui oleh makhluk predator tersebut.


"Erak! Erak!" lengking makhluk yang menyadari keberadaan para anak manusia dalam ruangan tertutup.


"Juby udah kehilangan kemampuan! Juby gak bisa lindungi kalian!" ucap Jubaedah saat menyadari dirinya tak lagi bisa menjadi Lady Dragon.


"Ya, sama! Aku juga tak bisa! Bagaimana ini?" sahut Pasha panik karena ia tak bisa berubah menjadi Manticore.


"Bukankah kata Oag, pakaian yang kita gunakan bisa melindungi diri dari serangan. Kalau begitu, kita tak usah khawatir," sahut Tina mencoba menenangkan kepanikan.


"Itukan katanya! Lebih baik kita tetap melawan. Cari benda apa pun untuk menghalau para monster itu sebelum membunuh kita. Cepat!" titah Bobby, dan semua anak mengangguk setuju.


Anak-anak itu berpencar ke segala sudut mencari benda tajam sebagai pertahanan diri. Alien kecil itu masih terus melakukan panggilan yang membuat para predator semakin gencar mendobrak penghalang pintu yang dibuat anak-anak itu.


BRAKK!! BRAKK!! BRANGG!!


"AAAA!" teriak Hihi histeris saat salah satu makhluk predator itu berhasil meruntuhkan pertahanan tersebut.


"Woahhh!" seru anak-anak lain ketakutan, tapi mereka berhasil mendapatkan sebuah benda untuk melindungi diri.


"Heyahhh!"


DUAKK!!


"Errr," erang makhluk itu saat tubuhnya dilempar dengan sebuah onderdil pesawat yang sudah hangus oleh Oscar.


Mata Oscar melebar ketika ia berusaha melindungi Hihi. Remaja gemuk berkulit gelap itu ketakutan dan memepetkan tubuhnya ke dinding besi pesawat dengan wajah pucat.


"Jangan takut! Lempari dia!" seru Bobby memimpin.


Anak-anak yang berdiri melingkar di beberapa sudut ruangan, membuat predator itu kebingungan karena mendapatkan serangan dari segala arah.


"Pergi! Pergi dari sini!" teriak Jimmy yang terus melemparkan benda-benda temuannya ke arah alien predator tersebut.


Alien itu tampak marah hingga akhirnya ia membidik Hihi yang sedang mengambil sebuah benda untuk dilemparnya lagi.


"Eraaakkk!" lengking predator itu saat ia berlari kencang dengan dua kakinya mengincar Hihi.


"Hihi! Awas!" teriak Pasha hingga matanya melotot karena Hihi tak menyadari hal tersebut sebab ia membelakangi predator tersebut.


Saat Hihi menoleh dengan mata melotot karena melihat alien itu melompat dan siap menusuknya, tiba-tiba, "Hooorrghhh!!"


BRANGGG!!


"Oh!" kejut Oscar sampai matanya membulat penuh saat melihat bagian atap ruangan jebol karena alien jenis GIGANT-MARVELOUS muncul seraya meraung.


Hihi jatuh terlentang dengan mata terbelalak saat melihat alien bertubuh besar itu menginjak predator tersebut dengan salah satu kakinya.


"Hor! Hor!" seru alien kecil sambil mendongak ke atas terlihat senang karena kelompoknya datang.


Jubaedah dan Tina bergegas mendatangi Hihi lalu menariknya agar menjauh. Terlihat, para alien bertubuh besar tersebut melakukan perlawanan terhadap para predator.


"HOORRR!"


CRATTT!

__ADS_1


"Oh!" kejut Oscar ketika melihat mulut dari alien tersebut menyemburkan semacam tinta ke arah predator tersebut.


Predator itu langsung terhuyung dengan tubuh terselimuti tinta warna hitam. Alien berkuku tajam itu melengking seperti kesakitan saat tubuhnya tiba-tiba saja mengeluarkan asap.


Mata anak-anak melebar ketika melihat kulit predator itu seperti melepuh dan akhirnya meleleh.


Anak-anak menyingkir saat predator tersebut akhirnya ambruk setelah mendapatkan serangan dari kaum GIGANT-MARVELOUS.


"Hor! Hor!" panggil alien kecil seraya mendongak ke arah atap yang sudah jebol.


Alien besar itu langsung menjulurkan tentakelnya untuk mengambil alien kecil tersebut.


Jubaedah dan lainnya hanya bisa berdiri memepet dinding ketakutan saat alien-alien bertubuh raksasa itu pergi dari bangkai pesawat tersebut meninggalkan mereka.


"Om Oag? Om Oag di mana?" tanya Jimmy panik.


Segera anak-anak itu bergegas keluar dari ruangan. Mata mereka melebar saat melihat Oag tergeletak dan mengalami luka seperti terkena tusukan pada beberapa bagian tubuhnya.


"Om Oag!" seru anak-anak panik dan bergegas menghampirinya.


"Hempf, aku tak apa. Cepat bawa aku kembali ke pesawat. Aku sudah menandai rute kita sampai ke tempat ini. Ikuti arahan pada jam tangan kalian," ucap Oag terlihat pucat dengan darah warna biru tampak jelas dari lukanya.


"Oke! Oke!" jawab Pasha panik.


Namun, tubuh Oag yang besar dan tinggi, membuat anak-anak itu kesulitan membawanya.


"Kita pakai lempengan besi dari dinding pesawat saja untuk membawa om Oag. Bagaimana?" tawar Hihi.


"Ide bagus, Hihi. Oscar, ayo!" ajak Bobby, dan kawan satu timnya itu bergegas mengambil lempengan yang terkelupas untuk membaringkan Oag.


Pasha dan Jubaedah berinisiatif menggunakan kabel-kabel yang terjuntai sebagai tali untuk menyeret lempengan besi tersebut.


"Lempengan ini harus dilubangi, tapi menggunakan apa?" tanya Pasha bingung.


"Oh, Hihi tahu!" sahut gadis manis itu bergegas kembali masuk ke ruangan tempat mereka diserang tadi.


Tak lama, Hihi datang seraya membawa cairan hitam dari tubuh predator yang telah tewas itu dengan sebuah tongkat besi.


Anak-anak tersenyum karena bagi mereka, Hihi cukup cerdas meski terkadang histeris ketakutan.


Hihi mengambil cairan itu menggunakan tongkat besi yang ia temukan dengan tergesa karena besi tersebut ikut meleleh. Namun, usaha Hihi berhasil.


Oscar, Pasha dan Bobby dengan sigap mengikat kabel-kabel itu pada lubang yang dibuat oleh Hihi untuk menyeret lempengan besi tersebut.


Tina dan kawan-kawannya lalu mengangkat tubuh Oag untuk direbahkan. Oag terlihat tak berdaya dan wajahnya pucat.


"Ayo!" ajak Bobby dan anak-anak mengangguk siap.


Bobby, Oscar, Pasha, Jubaedah, Jimmy dan Tina menarik kabel-kabel itu layaknya kuda di bagian depan di salah satu bahu mereka dengan sekuat tenaga.


Sedang Hihi, menjaga Oag di bagian belakang tak ikut menarik seraya mengawasi sekitar.


Alarm adanya ancaman bahaya sudah tak terdengar lagi meski jejak para raksasa itu terlihat di padang gersang tersebut, termasuk bangkai-bangkai para predator yang telah tewas dengan tinta hitam melelehkan tubuh mereka.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya diriku❤️ Selamat hari raya Idul Adha bagi yang merayakan. Ada yang hari ini dan besok ya? Kalo besok lele gak up harap maklum karena bumil sibuk olah-olah daging biar makin bohay. Kwkwkw lele padamu💋


__ADS_2