
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Vadim!" teriak Timo mulai tersulut emosi karena remaja gendut itu tak bangun juga.
Timo sudah siap menurunkan celana panjang yang selanjutnya celana dalaam. Timo serius dengan ancamannya untuk mengencingi Vadim. Namun, teriaknya ternyata membangunkan orang lain.
"Ada apa, Timo?" tanya Kenta seraya bangun perlahan dengan mata sayu.
"Oh, Kenta! Ma-maaf membangunkanmu," ucap Timo terkejut dan langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Kenta. Seketika, mata pemuda Jepang itu melebar seketika.
"Woah! Singkirkan jamurmu itu!" teriaknya histeris langsung memejamkan mata.
Timo yang bingung karena telunjuk Kenta menunjuk ke tubuh bagian bawah, membuat pemuda itu menundukkan kepala.
"Oh, aku lupa!" serunya yang dengan sigap menaikkan celananya lagi.
"Oh, Dewa. Aku akan mimpi buruk setelah ini," ucap Kenta terlihat shock meski matanya masih terpejam. Timo berlari ke arah Kenta yang masih duduk seraya mengelus dadanya.
"Kenta! Kenta!" panggil Timo yang membuat pemuda bermata sipit itu membuka matanya lagi, meski terlihat enggan melihat sahabatnya. "Gawat! Rusa bercahaya dan makhluk aneh berekor seperti tikus muncul! Kawan-kawan kita membagi kelompok menjadi dua untuk melawan mereka. Aku tak bisa berubah. Wilayah ini tak menguntungkan untukku. Jadi, aku diminta untuk mengawasi, tapi tak bisa sendirian. Mereka berada di dua sisi yang berbeda," ucap Timo yang membuat Kenta akhirnya menatap sahabatnya lagi.
Kenta dengan sigap berdiri dan meninggalkan tas serta topi mimpi yang terlepas dari kepalanya. Kenta yang sudah kembali pulih meski rambut bagian belakangnya terkikis dan belum tumbuh, segera mengikuti Timo ke tepi tebing.
"Lihat!" seru Timo seraya menunjuk ke sisi bagian Selatan tempat Rex dan kawan-kawannya berada. "Kau awasi di sini. Jika nanti mereka berhasil, segera kauambil darahnya ya. Aku ambilkan suntikan milik Vadim," pintanya.
Kenta mengangguk. Ia berdiri dengan sorot mata tajam melihat kawan-kawannya sedang berusaha menangkap makhluk tersebut dalam wujud Mitologi.
"Ah, ya. Aku ingat wujud itu. Salah satu buruan kita. Bagaimanapun, kita semua harus lolos misi level 9. Tinggal sedikit lagi, Azumi. Aku akan berusaha!" ucap Kenta mantap, dan tak lama, Timo datang seraya memberikan suntikan itu.
"Hanya saja, kau harus mengumpulkan empat suntikan berisi darah untuk makhluk berbulu cokelat itu. Sisanya, kauminta kepada kawan-kawan yang suntikannya belum terisi," ucapnya menjelaskan.
"Kenapa begitu?" tanya Kenta bingung. Timo menjelaskan perhitungannya dari jumlah suntikan yang didapat saat itu. Kenta akhirnya paham dan mengangguk tanda setuju dengan pemikiran kawannya. "Oke, aku mengerti. Serahkan padaku. Kali ini, kita tak boleh gagal dan harus lolos!" ucapnya mantap.
Timo mengangguk dan segera berlari ke sisi lain. Vadim yang masih pulas tertidur dan mendengkur, membuat Timo kesal setengah mati.
"Kau tetap akan kukencingi nanti. Lihat saja," gerutunya menatap Vadim sadis.
Timo dan Kenta melihat pertarungan itu dengan saksama dari atas tebing. Terlihat, dua kubu baik sisi Utara ataupun Selatan, gencar melakukan serangan demi bisa menangkap makhluk tersebut.
"Ryan! Kurung dia!" seru Rangga yang berhasil membuat makhluk seperti rusa unicorn itu terdesak karena mendapatkan serangan dari berbagai arah usai ia melakukan gerakan menyerang terlebih dulu kepada Czar.
"Heyah!" seru Ryan yang dengan sigap memanjangkan tangan kayunya untuk membuat sebuah kurungan layaknya kandang.
Ia bermaksud untuk memerangkap makhluk yang berubah menjadi sosok menyeramkan seperti induk dan bayinya kala itu.
"Dia akan melengking! Gunakan lumpur untuk menutup telinga kalian!" seru Czar lantang.
Dengan sigap, anak-anak itu menyumpal telinga mereka dengan lumpur setengah kering agar tak terkena dampak dari lengkingan rusa yang mulai terpojok. Rusa itu tak bisa kabur setelah Ryan mengurungnya dalam sebuah kandang persegi dari jari-jari tangan kayunya.
"Iiikk! Iiikkk!"
__ADS_1
"Harghhh!" erang Ryan yang ternyata tak bisa menutup telinga karena dua tangannya sibuk.
Bara yang melihat Ryan kesakitan hingga dua kaki pohonnya jatuh berlutut, segera terbang dengan membawa lumpur di dua tangannya.
"Bertahanlah, Ryan!" seru Bara yang dengan sigap menutup telinga Ryan dengan lumpur.
Ryan masih mengerang kesakitan. Bara bertahan dengan memegang dua telinga kayu Ryan menggunakan dua tangannya. Ryan berusaha agar tangannya yang menjadi pagar tak runtuh dan membuat buruan mereka kabur.
"Lumpur ini berhasil meredam lengkingannya. Hebat!" seru Nicolas senang.
Hanya saja, lengkingan itu ternyata membuat tim lain terkena dampak karena tak mengetahui hal tersebut. Timo dan Kenta ikut merasakan akibatnya. Hebatnya, Vadim yang tertidur pulas seperti tak terusik akan suara lengkingan yang menyakiti pendengaran itu.
"Arghhh!" erang Mandarin yang langsung roboh saat akan melawan makhluk berbulu cokelat di hadapannya.
Tim Rex dibuat tak berdaya karena makhluk tersebut terus melengking. Anak-anak berubah menjadi manusia akibat serangan mematikan tersebut. Namun, hewan berkulit cokelat itu seperti bisa melawan lengkingan. Tiba-tiba saja, kepala makhluk yang tampak keriput karena tak ada bulu tumbuh di sana, bisa masuk ke dalam leher dan membuatnya seperti tanpa memiliki kepala. Tim Rex terkejut meski mereka berusaha menahan rasa sakit di dua telinga mereka.
"Arghhh! Telingaku berdarah!" seru Rex menggelepar di atas lumpur kering.
"Minum ramuan Oag! Cepat!" seru Boas yang berusaha untuk mengambil botol itu dari dalam tas.
Anak-anak terlihat begitu tersiksa hingga mereka tak sanggup membuka mata. Wajah para remaja itu berkerut menahan sakit dan telinga berdarah. Ternyata, lengkingan makhluk itu membuat Nicolas sadar jika kawan-kawannya di sisi lain terkena dampak karena Timo mengerang kesakitan di atas tebing. Nicolas dengan sigap menarik anak panahnya.
SHOOT! JLEB!
"Oh!" kejut Rangga saat melihat anak panah Nicolas berhasil mengenai leher makhluk itu ketika menyuarakan lengkingannya dengan kepala mendongak.
"Lagi, Nico!" seru Bara yang masih bertahan dengan posisinya untuk menutup telinga Ryan karena Tuan Pohon terlihat lesu dan belum bisa berdiri.
Nicolas menghujani rusa itu dengan anak panahnya. Ujung tajam itu berhasil membuat rusa tersebut ambruk meski belum tewas.
"Ambil darahnya, cepat!" seru Czar yang bergegas kembali ke wujud manusia agar bisa mengambil suntikan dalam tas.
Ryan kembali berubah menjadi manusia begitupula anak-anak lain. Tiga dari mereka segera mendatangi rusa yang sekarat itu ketika sosoknya kembali seperti semua. Darah warna putih berhasil memenuhi tiga buah tabung sebelum akhirnya rusa itu memejamkan mata tanda ia sudah kehilangan nyawanya.
"Hah, hah, kita berhasil!" seru Rangga senang yang berjongkok di samping makhluk itu dengan suntikan berisi darah putih kental.
"Hahahaha, yeah!" teriak Nicolas ikut senang dengan tangan terangkat ke atas.
"Oh! Bagaimana dengan teman-teman kita? Apakah mereka baik-baik saja? Kita harus segera memeriksanya!" tanya Czar panik.
Segera, Czar dan Bara terbang terlebih dahulu. Mereka mendatangi Timo untuk menyerahkan suntikan agar diamankan. Namun, Timo dan Kenta kembali terluka. Bara dan Czar bergegas meminumkan cairan milik Oag yang tersisa agar dua kawannya selamat.
"Kami berhasil!" ucap Czar senang usai Timo membuka mata lagi meski telinganya berdarah.
"Yey," ucapnya lemas dengan senyuman.
Czar lalu merebahkan Timo lagi agar segera pulih. Sedang Vadim, masih dalam posisi nyaman tak terusik dengan kekacauan di sekitarnya.
"Vadim? Sungguh? Woah, kau memang luar biasa," sindir Czar geleng-geleng kepala karena tak habis pikir dengan teman gendutnya yang tak terkena dampak bahkan begitu nyenyak.
__ADS_1
"Czar! Mereka dalam bahaya!" seru Bara seraya menunjuk ke bawah tebing usai mengobati Kenta yang lagi-lagi terluka.
Czar dan Bara dengan sigap menukik turun ketika makhluk itu menyerang kawan-kawan mereka dalam wujud manusia.
"Jangan ganggu teman-teman kami!" seru Czar marah yang siap untuk menyerang hewan berbulu cokelat dengan sosok Griffin.
Hewan itu menyadari datangnya serangan. Ia dengan sigap mengelak menghindari serangan.
"Lazarus, kau tak apa?" tanya Bara mendatangi Lazarus yang terluka bagian tangan saat ia berusaha bertahan dengan pedang Elf dalam genggaman tangan.
"Hah, hah, ya. Makhluk itu sungguh kuat, dan ternyata, hah ... hah, bulunya bisa meruncing seperti landak. Hati-hati atau kau akan tertusuk. Aku sudah terkena serangannya, tapi tak membunuhku," jawab Lazarus dengan napas tersengal.
Bara terkejut lalu melihat tubuh Lazarus saksama. Ternyata, ucapan Lazarus benar. Bara melihat tas punggung Lazarus seperti terkena jarum runcing berwarna cokelat keemasan. Bara menduga, Lazarus menggunakan tasnya sebagai perisai saat makhluk itu melontarkan bulu jarumnya. Namun, lengan atas keturunan Benedict itu juga terkena jarum-jarum tersebut.
"Aww!" teriak Lazarus saat Bara dengan polosnya mencabut jarum seperti akupuntur itu.
"Ma-maaf. Jika tak dicabut, aku khawatir malah akan menusukmu lebih dalam lagi," ucap Bara seraya memegang sebuah jarum dalam apitan jari tangan.
Lazarus terlihat pasrah, tapi mengangguk. Pemuda itu berusaha menahan sakit ketika Bara mencabuti jarum-jarum itu satu per satu.
"Sudah belum?" tanya Lazarus sampai wajahnya berkerut.
"Woah, kau jadi berlubang. Pasti saat kau minum nanti, tubuhmu akan bocor," ucap Bara yang membuat Lazarus menatapnya keheranan.
Bara lalu mendatangi kawan-kawan lainnya yang menggelepar di atas tanah lumpur sedang dalam masa penyembuhan. Beruntung, tim Utara segera datang. Mereka dengan sigap melakukan serangan kepada makhluk yang ternyata memiliki kemampuan aneh saat menyerang.
"Harun, Harun, kau tak apa?" tanya Bara karena Harun sampai tak bisa bangun. Remaja berkulit hitam itu jatuh berulang kali saat akan berdiri.
"Kakiku sakit. Hah, hah," keluhnya.
Bara segera melihat kaki Harun. Ternyata, pemuda berkulit hitam itu juga terkena tusukan jarum dari serangan makhluk berbulu tersebut.
"Bara, kau masih punya ramuan Oag? Aku hanya minum beberapa tetes saja karena ternyata, botolku pecah," tanyanya.
Bara mengangguk dan segera berubah wujud menjadi manusia. Ia mengambil ramuannya dan meminumkan kepada Harun. Bara lalu mencabuti jarum-jarum itu. Sama seperti Lazarus, Harun mengerang kesakitan dan menahan dengan mencengkeram kuat tasnya. Hingga ia menyadari jika ternyata memiliki barang yang sepertinya berguna dalam situasi ini saat melihat isi dalam tas.
"Oh, itukan ...," ucap Bara saat melihat Harun memegang sebuah jubah berbulu.
Dua remaja itu saling memandang seperti satu pemikiran. Harun dengan sigap memasang jubah itu di punggung dan meminta Bara untuk membantunya berdiri. Seketika, keajaiban terjadi.
***
akhirnya bisa ngasih tips lagi biar bisa gajian bulan depan. kwkwkw. jangan lupa untuk vote poin, koin, vocer, like dan komen ya. bagi yang belum kasih rate bintang 5 segera ya karena cuma bisa 1x ditiap novel. tengkiyuw❤️
Yg nunggu up King D sabar ya. Lele udh setor dari jam10 malem tapi blm lolos review. Biasa MT kumat 😆
__ADS_1