MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
BATU*


__ADS_3


Kenta kali ini dipercaya untuk memimpin jalan karena sudah melihat langsung lokasi dari misi mereka berikutnya.


Kenta mengajak kawan-kawannya menuju ke sebuah lokasi. Anak-anak itu menaiki bukit hingga bertemu sebuah pohon yang Kenta maksud.


"Nah, itu! Kalian lihat gunung itu? Anak-anak itu disekap di baliknya. Kita hanya perlu mengikuti aliran sungai untuk tiba di sana. Aku rasa, mengikuti sungai adalah pilihan tepat sehingga tak takut kehausan dan kelaparan. Kita bisa mengkonsumsi ikan selama perjalanan. Bagaimana?" tanya Kenta yang berdiri di samping pohon seraya menunjuk rute petualangan berikutnya.


"Hem, aku rasa itu ide bagus. Ikan 'kan bagus untuk kesehatan, tinggi protein. Selain itu, ikan di Planet ini rasanya juga enak," sahut Harun sependapat.


Gibson meminta kawan-kawannya untuk mengangkat tangan jika mereka sepakat. Ternyata, semua anak setuju, Kenta terlihat senang karena idenya diterima.


"Oke, seperti diawal. Kita bagi menjadi 3 kelompok, tapi kali ini tanpa para kurcaci. Jangan bersedih, aku yakin jika kita akan bertemu dengan mereka lagi begitu misi-misi kita selesai dilakukan. Semangat!" seru Gibson selaku pemimpin kelompok.


"Semangat!" jawab anak-anak ikut mendukung.


Akhirnya, tiga kelompok itu berjalan beriring-iringan. Tampak keakraban diantara mereka karena terus mengobrol selama perjalanan.


Sesekali mereka beristirahat untuk minum dan menikmati camilan. Hingga akhirnya, kegelapan kembali datang.



Namun, Hihi menemukan tempat yang tetap terlihat terang karena ada sebuah pohon besar yang buah-buahnya memancarkan sinar kuning seperti lampu.


"Kata Hihi, buah dari pohon itu jangan dimakan. Buah itu beracun, kita bisa meledak," ucap Azumi yang membuat semua orang melebarkan mata seketika.


"Ingat, Vadim. Jaga tangan dan perutmu. Jangan tergiur. Namun sungguh, aroma buah itu enak sekali, wangi. Oh, sangat disayangkan," ucap Pasha menelan ludah.


"Kalau begitu makan saja. Aku penasaran melihat kau meledak dengan cairan kuning menutupi tubuhmu," sahut Mandarin, tapi membuat dua remaja gendut itu marah.


"Oke, cukup bercandanya. Sudah malam, kita berkemah di sini untuk malam ini saja. Esok hari, kita harus segera berangkat," ucap Gibson dan anak-anak mengangguk paham.


Gibson meminta agar para remaja pria membuat api unggun di tepian sungai seraya mengisi perut yang keroncongan. Anak-anak itu mengumpulkan kayu bakar di sekitar hutan dan menumpuknya.


Timo dengan sigap menangkap ikan untuk kawan-kawannya dibantu tiga gadis cantik untuk membersihkan isi perut hewan air itu.


Sedang remaja pria lainnya membakar ikan dan menyiapkan tempat untuk tidur dari perlengkapan yang mereka miliki dari temuan-temuan.


Sedang di tempat Bobby bersama anggota timnya berada.

__ADS_1


Anak-anak itu mengikuti Goblin yang memandu jalan dan mengajak mereka berkeliaran ketika malam menjelang.


Para Goblin menunjukkan jalan menuju ke sarang naga dan meminta agar anak-anak itu mencuri telur para naga.


Bobby yang telah sepakat demi mensukseskan misi, tak pikir panjang dari dampak yang akan ia lakukan.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi.


"Dari sini, kalian pergilah sendiri. Kami akan menunggu di tepi sungai. Kembalilah sebelum langit bercahaya terang," ucap salah satu Goblin dan tiga remaja itu mengangguk paham.


Bobby memandu jalan diikuti oleh dua kawan-kawannya. Para Goblin terlihat senang karena berhasil mengerjai tiga anak untuk memberikan keinginan mereka.


Saat Bobby dan dua kawannya menyusuri jalan setapak, tiba-tiba saja, anak-anak itu mendengar suara orang berlari menuju ke arah mereka dengan napas tersengal.


"Sembunyi! Sembunyi!" titah Bobby kepada dua kawannya seraya mendorong punggung mereka menuju ke sebuah batu besar.


Tiga anak itu berjongkok dan bersembunyi di balik batuan. Owen mengintip dan mendapati seorang anak keluar dari dalam hutan terlihat ketakutan hingga keringatnya bercucuran.


"Oscar!" panggil Owen lantang dan remaja gemuk berkulit cokelat itu pun menoleh. Seketika, senyumnya merekah.


"Owen!" jawab Oscar gembira seraya melambaikan kedua tangan.


Owen memberitahukan kepada Bobby dan Scott jika makhluk yang muncul bukan ancaman karena kawan mereka sendiri. Oscar berlari ke batu besar menemui teman-temannya.


"Sembunyi, sembunyi," pinta Oscar yang membuat kawan-kawannya kembali sembunyi di balik batu. "Stt ... jangan berisik. Aku dikejar oleh seekor unicorn. Kuda itu gila! Dia ingin menusukku dengan tanduk runcingnya," bisik Oscar sampai matanya melotot.


Bobby, Owen dan Scott terkejut karena baru mengetahui hal itu. Mereka pun akhirnya bersembunyi saat mendengar suara langkah kaki kuda keluar dari hutan tempat Oscar muncul.


Jantung anak-anak itu berdebar saat merasakan kehadiran unicorn dari balik batu yang menutupi sosok mereka.


Benar saja, saat Bobby mengintip, muncul seekor unicorn seperti mencari keberadaan buruannya.


"Benar. Ada unicorn. Kita harus bagaimana?" tanya Bobby berbisik terlihat pucat.


"Oh, kuda itu mendekat. Kita harus bergerak," sahut Scott yang melihat jika kuda itu melangkah ke arahnya seraya mengendus.


Keempat anak itu merangkak di atas rumput menjauh dari wilayah tersebut. Mereka memanfaatkan batu-batu, semak dan pepohonan sekitar untuk menutupi sosok.


Cukup jauh mereka melakukan hal itu hingga melihat cahaya terang di balik semak. Bobby merangkak lebih dahulu memimpin tiga kawannya yang ketakutan karena diincar oleh unicorn.

__ADS_1


Namun, saat keempat anak itu telah memasuki wilayah bercahaya tersebut, unicorn itu berpaling dan pergi. Bobby dan kawan-kawannya lega. Mereka berbaring di samping kolam dengan napas tersengal.


"Agh, telapak tangan dan lututku sakit," keluh Scott menatap langit berwarna biru terang tak ada awan terlihat di sana.


"Wow! Tempat apa ini, Bobby? Indah sekali," tanya Owen saat menyadari jika di sekitar mereka ditumbuhi banyak jamur besar dan pohon dengan daun berwarna merah muda.


Praktis, keempat anak itu dibuat kagum karena keindahan tempat tak dikenal itu.



Keempat anak itu berdiri dan berjalan perlahan ke sekitar wilayah yang bercahaya terang dari jamur-jamur dan tumbuhan yang memancarkan sinar.


Namun tiba-tiba, wajah Owen berkerut. Ia berdiri terlihat tegang seraya melihat kedua tangannya yang seperti mati rasa. Ternyata, hal itu juga dirasakan oleh tiga anak lainnya.


"A-aku tak bisa menggerakkan kakiku," ucap Scott tergagap sampai matanya melotot dengan wajah tertunduk saat melihat kedua kakinya mendadak berubah menjadi berwarna abu-abu seperti batu.


"Oh! Apa yang terjadi? Tubuhku ... agh, tubuhku kaku!" tanya Oscar panik dengan napas tersengal.


Empat anak itu ketakutan dan berteriak karena kaki mereka tak bisa bergerak. Perlahan tapi pasti, mulai dari ujung kaki dan terus menjalar ke atas, warna abu-abu mulai memperangkap tubuh manusia mereka.


"Hah, Bobby! Owen! Oscar!" teriak Scott saat lehernya menjadi keras dan perlahan ia tak bergerak lagi.


"Agh! Tina!" teriak Bobby lantang seraya mendongakkan kepala.


Ternyata, erangan keempat anak itu menjadi suara terakhir bagi mereka. Tubuh mereka telah berubah menjadi batu karena menghirup udara beracun yang dihasilkan oleh tumbuhan jamur.


Bobby dan kawan-kawannya yang tak mengetahui hal itu terkena dampak dan terjebak menjadi manusia batu.


"Oh!" kejut Tina tiba-tiba membuka mata saat ia merasakan namanya dipanggil. Tina terbangun dari tidurnya dan melihat sekitar di mana kawan-kawannya telah tertidur lelap.


"Kau baik-baik saja?" tanya Kenta yang bertugas menjadi penjaga malam saat mendapati Tina bangun di antara Jubaedah dan Azumi yang mengapitnya.


Tina terlihat bingung, tapi mengangguk. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Kenta menatap Tina saksama di mana ia sedang menyerut sebuah dahan pohon yang telah tumbang untuk dibuat menjadi patung ukiran menggunakan belati Silent Blue milik Rex.


Berulang kali Kenta menoleh ke arah Tina seperti ingin memastikan hasil ukirannya. Entah sudah berapa lama remaja itu terjaga, hingga akhirnya senyum manisnya terbit seperti matahari yang mulai bersinar dan cahayanya menyelinap di balik rimbunnya dedaunan pohon.


Ia mengarahkan patung itu ke hadapan Tina di kejauhan dari tempatnya duduk. "Hem, sempurna," ucapnya memuji hasil karyanya di mana ia merasa jika patung kayu buatannya mirip dengan Tina yang tetap terlihat cantik meski sedang tertidur.


***

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2