MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MISI LEVEL 6 SELESAI*


__ADS_3


Mulut semua orang menganga lebar saat melihat perwujudan baru dari sang kapten bajak laut.


Para alien dibuat terkagum-kagum, sedang para gadis-gadis tersipu malu entah apa yang mereka pikirkan.


"Ganteng banget, Azumi," bisik Jubaedah menahan gejolak di hatinya.


"Iya," jawab Azumi balas berbisik seraya memegangi kedua pipinya yang merona merah.


Sedang Laika, tersenyum malu-malu saat sang kapten dengan dua sayap besarnya mulai turun perlahan dan dua kaki manusianya menapak di tanah.


"Ka-kapten?" panggil alien siput sampai tergagap.


Sang kapten membuka matanya perlahan. Ia terlihat gugup saat mengulurkan kedua tangannya ke depan yang kini memiliki jari dan kulit layaknya manusia.


Ia memegang wajah dan rambutnya yang hitam berkilau. Ia juga terlihat tegang saat dua sayap besar itu mengepak layaknya burung.


"Haha, hahahaha! Impianku terwujud!" teriaknya lantang dengan suaranya yang besar dan garang tak merubah sosok pribadinya.


"Jadi ... selama ini kau ingin menjadi manusia?" tanya Rog hingga matanya melebar.


"Bukan manusia biasa. Aku dari dulu selalu ingin terbang, mengarungi angkasa tak hanya lautan. Aku ingin melihat keindahan dunia dari atas langit. Oh, ternyata ... ini benar-benar terjadi," ucapnya terlihat begitu senang hingga tangannya gemetaran. Sang kapten jatuh bersimpuh dan menatap dua tangan manusianya lekat. "Oag tahu apa yang kuinginkan. Kali ini ... aku percaya padamu, Oag. Terima kasih," ucap sang kapten lalu memeluk dirinya sendiri terlihat begitu bahagia.


"Kalau begitu, sekarang giliranku!" sahut alien siput dan semua orang tampak penasaran dengan keinginan terdalamnya.


"Ngomong-ngomong, itu kotak bisa ngabulin semua harapan kita 'kah? Jumlah kita banyak banget loh. Kalau dijatah bagaimana sama si Oag?" tanya Bara yang membuat semua orang langsung saling melirik tajam.


Tiba-tiba, "Hei, kami yang lebih dulu! Ingat perjanjian!" seru Zorax karena tubuhnya didorong oleh Vadim hingga ia hampir jatuh ke samping.


"Kompas itu punyaku. Aku dulu baru kau!" sahutnya tak mau kalah dan segera mendatangi kotak tersebut.


Namun, BRUKK!!


"Agh!" rintih Vadim saat tubuhnya didorong dari samping hingga ia jatuh tersungkur di atas rumput.


"Jangan ingkar! Kalian yang bilang sendiri jika harta karun itu milik kami!" seru Rog marah berikut para alien yang kini mengepung kotak harta karun itu.


Tampak jelas, anak-anak yang ingin mendapatkan harta karun itu dan para alien bajak laut seperti berselisih.


"Hei! Ingat! Kita bukan anak-anak yang ingkar janji! Aku tahu kita semua memiliki keinginan. Namun, yang dikatakan oleh para bajak laut itu benar! Kita akan memberikan harta karun itu pada mereka. Kita harus menepati janji!" seru Gibson yang diangguki oleh Jubaedah, Laika dan Azumi.


"Jika kita memang masih memiliki kesempatan, itu adalah anugerah. Jangan egois," ucap Azumi terlihat sedih karena kakaknya ikut berebut.


"Sudahlah. Biarkan mereka mendapatkan apa yang sudah kita janjikan," imbuh Laika menatap Czar dan Vadim saksama.


Para anak laki-laki itu akhirnya mendengarkan ucapan dari kawan-kawan mereka. Para remaja itu lalu menyingkir meski masih terlihat kesal. Minos menatap kotak harta karun pengabul impian dengan saksama.


"Tanpa kotak itu, kau akan mendapatkan keinginanmu saat bergabung bersama kami, Minos," tegas sang kapten yang menyadari arah pandangan Elf tersebut.

__ADS_1


Minos mengangguk dan memilih untuk ikut menghindar agar tak tergoda. Akhirnya, para alien itu berdiri berurutan. Mereka secara bergantian meminta kepada kotak harta karun agar impian terwujud.


Satu per satu, para alien itu berubah wujud. Siapa sangka, para bajak laut itu ingin menjadi salah satu jenis dari makhluk Mitologi.


"Kau ... menjadi seekor naga, Viper?" tanya Jubaedah seraya mendekat dengan sosok Lady Dragon.


"Saat aku melihat Rex berubah, rasa iri muncul dalam diriku. Selama ini, aku selalu mengagumi sosok para naga yang terlihat begitu hebat, terlebih saat mereka terbang di angkasa. Aku ingin seperti mereka. Wujudku yang dulu, membuat para makhluk Mitologi takut. Aku bahkan tak berani menatap diriku sendiri di cermin karena aku juga jijik," ucap Viper yang membuat semua orang terdiam.


Jubaedah mendekati Viper dan menyentuh wajah barunya sebagai seekor naga. Semua orang tersenyum karena tak menyangka, jika para alien itu selama ini tertekan dengan sosok mereka yang memang terlihat mengerikan, menjijikkan dan tak lazim.



"Semoga kau bahagia dengan sosok barumu, Viper," ucap Rex seraya mendekat.


Viper tersenyum dan mengangguk. Para alien yang ikut berubah dengan wujud lain berkumpul.


Minos perlahan mendekat terlihat gugup, tapi sang kapten tersenyum lebar lalu merangkulnya.


"Apakah ... kami masih terlihat seperti makhluk terkutuk, Minos?"


Elf jantan itu menggeleng. Ia membungkuk seperti memberikan hormat.


"Aku minta maaf jika selama ini salah menilai kalian. Saat itu, aku melihat kapal kalian di kejauhan ketika mencoba melawan Kraken untuk bisa ke pulau ini. Kala itu, aku dan para bangsa Elf juga membuat kapal untuk bisa menyeberang. Jujur, cara kami cukup licik saat itu. Ketika Kraken sibuk melawan kalian, kami mencoba untuk melarikan diri. Namun, siapa sangka, kekuatan monster bertentakel itu begitu dahsyat. Dengan mudahnya ia menghempaskan kalian. Kraken dengan sigap berbalik lalu balas menyerang kami. Aku juga sama seperti kalian. Saat kami tewas di lautan, kami hidup kembali, tapi berada di Pulau Pelangi. Saat itulah, aku sadar jika kami terkutuk," ucap Minos terlihat sedih.


"Namun, Kraken sudah dikalahkan. Seharusnya, kalian sudah tak dikutuk lagi. Kenapa tak mencobanya dengan meninggalkan Pulau Pelangi dan menuju ke Negeri Dongeng? Kami akan ikut dalam pelayaran untuk memastikannya. Bagaimana?" ujar Kenta antusias menyarankan.


"Aku juga tak masalah dengan hal itu. Aku ... ingin tahu tentang kutukan itu. Sungguh nyata atau tidak," sahut Mandarin, dan diangguki anak-anak yang lain.


Gadis berambut panjang itu terkejut ketika sang kapten menunjukkan sebuah botol dengan cairan warna biru bercampur putih di dalamnya. Laika menerima botol itu dengan kening berkerut.


"I-ini apa, Kapten?" tanya Laika bingung.


"Itu adalah darahku saat menjadi alien buruk rupa. Anggap saja sebagai kenang-kenangan dariku," jawab sang kapten yang membuat Laika malah tertegun karena tak menyangka hal itu.


"Ini juga untukmu. Ini adalah racunku saat menjadi sosok ular yang mengerikan," ucap Viper seraya memberikan botol berisi racun miliknya kepada Jubaedah.


"Te-terima kasih, Viper. Semoga, Juby gak lupa terus meminumnya," jawab Jubaedah terlihat ngeri atas hadiah kenang-kenangan itu.


"Mm ... apa ini?" tanya Rex saat Viper juga memberikan sebuah kain yang dilipat dalam bentuk persegi.


"Kulitku. Sebagai kenang-kenangan," jawabnya, tapi membuat Rex malah terpaku seketika.


"O-oke. Te-terima kasih, Viper. Akan ... kujaga dengan baik. Hem, yah, begitulah," jawab Rex kaku seraya memasukkan bingkisan perpisahan itu ke dalam tas.


"Ini ...," ucap Rangga saat ia mendapatkan sebuah botol bekas minuman keras, tapi isi di dalamnya kini menjadi kental seperti lendir.


"Yeah, itu lendirku. Siapa tahu berguna suatu saat nanti. Mungkin, ilmuwan di Bumi ingin mengembangkan spesies seperti kami," jawab alien siput yang berubah menjadi Minotaur tampak bangga.


Rangga tak menjawab dan hanya meringis. Ia tak enak hati jika menolak. Ia memasukkan benda itu dalam tasnya dengan senyum paksa sebagai ucapan terima kasih.

__ADS_1


Ternyata, para alien memberikan kenang-kenangan kepada anak-anak yang dipilih oleh mereka seperti Gibson, Lazarus, Timo, dan Vadim.


"Yah, mungkin terlihat menjijikkan, tapi siapa tahu bermanfaat selama digunakan di Bumi," ucap alien siput yang membuat anak-anak enggan berkomentar meski wajah mereka miris membayangkan berubah wujud seperti sosok para alien itu.


"Baiklah, para pemalas. Kita pergi tinggalkan pulau terkutuk ini!" seru sang kapten dengan ucapan lantang.


"Yeah! Wohoo!" jawab anak-anak serempak.


Saat mereka akan meninggalkan lokasi harta karun, tiba-tiba, "Woah! Portalnya muncul!" seru Czar menunjuk sebuah lingkaran bercahaya di dalam ruangan seperti hutan tersebut.


Mata semua orang menyipit. Namun, anak-anak itu sadar jika misi level 6 mereka telah berhasil dilakukan. Tampak wajah bahagia muncul di paras para remaja itu.


"Selamat, kalian berhasil menyelesaikan misi level 6. Masuklah ke portal untuk melanjutkan misi level 7. Hadiah misi level 6, masing-masing dari kalian akan mendapatkan ramuan untuk menyembuhkan diri dari luka dan racun. Satu orang satu botol. Selamat berjuang hingga level terakhir. Oag."


"Oag menuliskan namanya! Ini tak pernah terjadi sebelumnya!" seru Timo sampai melebarkan mata.


Tiba-tiba saja, muncul beberapa botol dari dalam portal yang melayang ke arah anak-anak. Mandarin dan lainnya segera menerima botol ramuan tersebut dengan wajah berbinar.


Mereka terlihat senang karena ramuan itu akan sangat menolong untuk menghadapi pertempuran selanjutnya entah akan melawan siapa.


"Terima kasih, Oag!" seru Jubaedah terlihat senang seperti mendapatkan kado ulang tahun.


Anak-anak lainnya ikut berteriak berterima kasih. Minos dan para mantan alien tersenyum. Mereka akhirnya merelakan anak-anak itu untuk berpisah tak jadi ikut ke negeri dongeng.


"Sampai jumpa lagi, anak-anak manja. Semoga, kalian bisa kembali ke Bumi dengan selamat. Dan ingat, ceritakan kisah petualangan kalian selama di sini. Buat orang-orang itu tak percaya jika kalian sudah berubah menjadi pribadi yang kuat!" ucap sang kapten yang membuat semua anak mengangguk mantap.


"Ya! Selama di sini, aku merasa sudah tak cengeng lagi. Aku menjadi berani dan kuat. Meski jujur, aku masih sering takut, tapi ... aku yakin jika sudah berubah!" ucap Ryan yang diangguki semua anak karena merasakan hal yang sama.


"Pergilah. Jaga diri kalian. Semoga, sukses hingga level 10," ucap Minos dengan senyuman.


Nicolas dan lainnya mengangguk mantap. Mereka melambaikan tangan dan satu per satu memasuki portal dengan senyum terkembang. Perlahan, portal menghilang. Para bajak laut itu saling memandang dengan senyum tipis.


"Ayo! Perjuangan kita masih panjang. Kita sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Sekarang, kita tempuh kehidupan baru! Akhirnya, kita bisa bergabung dengan para makhluk Mitologi lainnya. Tak akan ada yang menghina kita lagi karena sosok mengerikan alien terkutuk!" ucap sang kapten lantang.


"Kau masih memiliki misi untuk mengantarku, Kapten," ucap Minos mengingatkan.


"Tak usah kau ingatkan aku tak mungkin lupa dengan janji yang pernah kuucapkan. Ayo berangkat!" jawabnya garang.


Minos tersenyum dan berjalan mengikuti para bajak laut di belakangnya. Minos menoleh ke arah kotak harta karun yang tiba-tiba saja lenyap tak ada di tempatnya lagi.


Minos terkejut, tapi bisa merelakan benda itu karena harapannya untuk bisa bergabung dengan para Elf lainnya dan meninggalkan Pulau Pelangi akan segera terwujud.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Uhuy makasih tipsnya untuk diriku😆Lele padamu. Jangan lupa rate bintang 5 bagi yang belum ya LAP💋


__ADS_2