MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
HUTAN AJAIB*


__ADS_3

Mandarin mengikuti ajakan Azumi dengan memintanya untuk tidur di atas pohon. Pemuda itu awalnya ragu, tapi melihat keberanian gadis Jepang yang baru dikenalnya, membuat pria itu ikut bersemangat untuk menjalani hari-harinya selama berada di tempat yang tak dikenal itu.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Hati-hati," ucap Azumi saat membantu Mandarin naik ke atas batang pohon yang tak terlalu tinggi. "Aku tahu kau pasti kurang nyaman, tapi ... aku rasa tidur di tempat yang lebih tinggi lebih aman. Aku khawatir jika ada hewan buas yang akan menyerang kita jika berada di daratan," ucap Azumi seraya melihat sekitar.


Mandarin mengangguk setuju. Azumi memposisikan batang pohon itu seperti menaiki kuda.


Ia memeluk batang pohon besar seperti sebuah guling seraya menatap wajah pria yang masih terlihat takut berada di atas pohon.


"Selamat malam, Mandarin," ucap Azumi dan pemuda itu mengangguk dengan mengembangkan senyuman.


Mandarin mengikuti cara Azumi tidur dengan memeluk pohon. Mandarin menatap wajah ayu Azumi sebagai pengantar tidur. Perlahan, keduanya tidur terlelap.


Keesokan harinya, Azumi bangun lebih dahulu. Ia merasakan semilir udara hangat dan silau dari cahaya matahari yang menyelinap diantara daun-daun di balik pohon tempatnya berteduh.


"Oh!" serunya saat mendapati Mandarin masih tertidur pulas bahkan mendengkur seraya memeluk batang pohon. Azumi terkekeh. Ia melihat sekitar. Ternyata, tempat itu sama indahnya saat di pagi hari.


"Mandarin, hei, bangun. Mandarin," panggilnya seraya menggoyangkan lengan kawan prianya itu.


"Ha? Woah!"


BRUKK!


"Mandarin!" seru Azumi karena Mandarin langsung jatuh dari atas pohon begitu membuka mata. Azumi segera turun untuk menolong Mandarin yang jatuh terlentang terlihat kesakitan. "Kau tak apa? Maaf ya," tanyanya merasa bersalah.


"Uhuk, yeah, argh, pinggangku," keluhnya seraya memegangi pinggangnya yang sakit.


Azumi membantu pria itu untuk duduk perlahan. Gadis cantik itu lalu duduk di belakang pemuda tampan tersebut dan memintanya untuk mengangkat kaosnya.


"Kau mau apa?" tanya Mandarin menatap Azumi saksama.


"Kau bilang sakit. Biar aku lihat. Aku khawatir ada memar atau semacamnya. Aku bisa sedikit ilmu pengobatan," jawabnya terdengar jujur.


Mandarin terlihat gugup, tapi ia mengangkat kaos belakangnya perlahan meski terlihat malu. Azumi meraba punggung dan pinggang perlahan, tapi Mandarin malah terperanjat dan langsung berdiri. Azumi bingung.


"Aku ... sudah lebih baik. Lihat! Aku sehat!" ucapnya dengan senyum terkembang dan malah melompat-lompat.


Azumi terkekeh. Ia mengangguk pelan lalu ikut berdiri seraya membersihkan pakaiannya. Keduanya melihat sekitar di mana cahaya hangat matahari mulai menerangi kawasan hutan itu.


Hingga tiba-tiba, terdengar suara seperti gadis kecil terkekeh. Mandarin dan Azumi saling memandang. Mata mereka lalu memindai sekitar hingga tubuh mereka berputar.


Tiba-tiba, "Hihihi!"


"Oh! Mandarin!" seru Azumi menunjuk dengan mata melotot lebar.


Mandarin membalik badannya dan melihat arah telunjuk Azumi. Sebuah kerlipan melintas diantara pepohonan seperti ada yang terbang diantaranya.


"Apa itu? Kupu-kupu?" tanya Azumi menebak.


"Terlalu besar. Bahkan aku yakin jika ada kakinya," jawab Mandarin yang ternyata ikut melihat sosok yang terbang dengan cepat.


Lagi-lagi, suara tawa itu kembali terdengar. Azumi semakin yakin jika ada makhluk lain di hutan itu. Namun ia berharap, semoga makhluk tersebut tak berniat untuk memangsa mereka.

__ADS_1


"Aku melihatnya! Itu peri!" seru Mandarin menunjuk dengan mata terbelalak.


Praktis, Azumi membalik tubuhnya dengan cepat dan ikut mendapati makhluk yang disebut peri itu.


"Kejar dia!" seru Mandarin yang langsung berlari kencang.


Azumi dengan sigap melangkah dengan menerobos semak belukar mengikuti Mandarin yang sudah lebih dulu di depannya.


Hingga akhirnya, langkah mereka membawa ke sebuah hutan dengan semak yang lebih rendah dan banyak rerumputan serta jalan setapak.


Keduanya kembali berhenti karena sosok peri dengan warna kehijauan itu menghilang dari tangkapan mata mereka. Dua remaja itu berdiri saling memunggungi, dan berputar untuk mencari sosok makhluk itu.


"Hihihihihi!"


"Itu dia!" tunjuk Azumi karena kali ini, peri itu muncul secara terang-terangan di hadapannya seperti mengajak bermain peta umpet. "Hei! Hei! Kau ingin bermain ya?" tanya Azumi riang.


Mandarin berlari mengikuti Azumi. Hingga akhirnya, langkah mereka berhenti saat melihat peri itu menampakkan dirinya dengan jelas.



"Woah ... dia cantik sekali," ucap Azumi kagum dengan menjaga jarak karena khawatir jika peri hutan itu takut padanya.


Azumi melambaikan tangan kepada peri yang terbang melayang dengan pakaian dan sepatu berwarna hijau seperti daun.


"Hihihihi!" tawanya lagi yang terbang berputar-putar di sekitar.


"Tetap waspada, Azumi. Aku khawatir jika dia berbahaya," ucap Mandarin, dan Azumi mengangguk pelan.


Peri itu terbang mendekat meski terlihat ragu. Azumi dan Mandarin kembali bergandengan tangan terlihat gugup.


"Hihihi!" tawanya lagi yang membuat Azumi tersenyum.


"Hai," panggil Azumi ramah.


Peri itu terlihat seperti tertarik dengannya. Azumi terkejut saat rambut panjangnya yang digerai, dipegang oleh makhluk itu dan dilihatnya saksama. Azumi menelan ludah.


Mandarin menatap peri itu tajam dengan tangan kanan siap pada gagang pedang Silent Gold miliknya.


"Hihi," ucap peri itu seraya menunjuk dirinya.


"Hihi?" sahut Azumi mengulang. Peri itu mengangguk pelan. "Namamu Hihi? Aku, A-zu-mi," jawab Azumi mengeja.


"Mimi?" ulangnya.


"Ya, boleh. Mimi. Mimi," jawab Azumi tak keberatan jika namanya berganti. Mandarin terkekeh.


Peri itu lalu menatap Mandarin dan terbang mendekat, tapi Mandarin malah melangkah mundur menghindar yang membuat peri itu kembali terbang menjauh seperti takut.


"Hei, hei!" panggil Azumi karena kawan barunya bersembunyi di balik batang pohon.


Azumi langsung menoleh ke arah Mandarin dan menatapnya tajam. Mandarin menelan ludah dan meringis kaku.


"Aku tak bermaksud menakutinya. Yang ada, dia yang menakutiku," jawab Mandarin membela diri. Azumi menyipitkan mata.

__ADS_1


"Hihi, kemarilah. Hihi, sini," panggil Azumi mengayunkan tangan meminta peri itu agar kembali padanya.


Perlahan, peri yang diyakini bernama Hihi, terbang mendekat ke arah dua manusia yang ditemuinya hari itu.


Hihi terlihat takut dan tetap menjaga jarak dari Mandarin. Pemuda itu, tersenyum paksa karena Azumi meliriknya sadis.


"Dia Mandarin. Kau bisa memanggilnya ... em," ucap Azumi diam sejenak untuk berpikir. "Oh! Riri! Panggil dia Riri!" sahut Azumi seraya mengelus kepala Mandarin dengan senyum terkembang.


"What? Riri? Itu nama perempuan!" serunya garang. Namun lagi-lagi, Azumi melotot padanya. Kini, wajah cantik itu sirna saat Azumi menunjukkan sosok lain dari dirinya. Mandarin menelan ludah. "Oke. Hai, aku ... Riri," ucap Mandarin melambaikan tangan dengan terpaksa.


"Riri?" panggil peri itu dan Mandarin mengangguk. "Riri? Mimi?" ulang peri itu lagi. Mandarin dan Azumi mengangguk bersamaan.


Peri itu terlihat senang dan bertepuk tangan. Ia terbang ke sana kemari dengan kerlipan muncul seperti bayang-bayangnya.


Azumi dan Mandarin terlihat kagum karena baru pertama kali melihat peri seperti yang ada di dongeng-dongeng pengantar tidur.


Azumi mengajak Mandarin mengikuti peri tersebut karena Hihi seperti ingin menunjukkan sesuatu.


Cukup jauh mereka berjalan hingga memasuki sebuah tempat dengan banyak kabut berwarna kebiruan, tapi terlihat teduh.


Mereka melewati banyak bunga-bunga yang bermekaran dengan indah dan sungai mengalir jernih di salah satu sisinya. Dua insan itu terlihat senang karena tak menyangka ada tempat seapik itu.


Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah tempat yang terlihat lebih rapi. Ada pagar besi yang telah usang dan tangga batu seperti memasuki pemukiman.


Azumi dan Mandarin saling memandang terlihat kaget, tapi mereka penasaran.



Azumi memberanikan diri menaiki tangga batu itu diikuti Mandarin di belakangnya. Mereka memasuki padang rumput dengan banyak tumbuhan beraneka ragam, jamur-jamur ukuran besar, dan bunga-bunga cantik di sekitarnya.


"Hihi?" panggil Azumi karena peri itu menghilang saat mereka berdua memasuki wilayah tersebut.


Azumi terlihat gugup karena tempat itu sepi. Mandarin kembali menggandeng tangan Azumi karena ia juga merasakan ketakutan yang sama seraya terus melangkah perlahan.


"Kita ... bukan sengaja ditinggal di tempat indah ini untuk menjadi santapan atau semacamnya 'kan?" tanya Mandarin gugup.


"Ih, jangan menakut-nakutiku!" seru Azumi kesal, tapi ia sungguh ketakutan. Gadis itu merasa seperti di perhatian oleh pohon-pohon besar di sekitarnya.


Hingga tiba-tiba, "Hoamph ...."


"AAAAA!" seru Azumi yang membuat mata Mandarin dan pohon itu ikut melebar seketika.


Azumi dan Mandarin langsung jatuh ke belakang dengan pantat sebagai alas. Mata keduanya melotot dengan napas tersengal.


Mata mereka terfokus pada sebuah pohon besar yang bergerak layaknya manusia dengan bola mata menyala hijau sedang menatap keduanya saksama.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


Uhuy tengkiyuw tipsnya😍 Jangan lupa votenya ya💋 Trims dukungannya semoga ceritanya tetap seru. Lele padamu❤️



__ADS_2