MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
DICULIK*


__ADS_3

Timo dan lainnya berlari mengejar Tina yang wujud manusianya kini terperangkap dalam tubuh serigala.


Tina terlihat sedih dan terus berlari. Namun dengan sigap, Gibson berhasil menghadangnya.


"Tina, stop!" teriaknya lantang yang berlari lebih cepat dari yang lain.


Tina terlihat begitu sedih dan pada akhirnya berhenti berlari. Timo dan Oscar berhasil mengejar meski napas mereka tersengal.


Tina roboh seakan kakinya tak kuat untuk memijak tanah lagi. Gibson mendatanginya perlahan lalu berjongkok di hadapannya.


"Maafkan sikap Kenta. Kauharus memakluminya. Orang tuaku pernah berkata. 'Kita tak bisa memaksakan semua orang untuk menyukai sikap dan ucapan kita. Tiap orang diciptakan berbeda. Pilihanmu, kaumenjadi orang yang bijak atau menjadi seorang pendendam'. Jadi ... kau termasuk golongan yang mana?" tanya Gibson menatap wajah serigala Tina yang tampak sedih.


"Aku ... aku tidak tahu," jawabnya lesu.


Gibson duduk di samping Tina seperti menemaninya bersedih di tepian sungai. Tina menatap Gibson saksama memandangi aliran sungai di hadapannya.


"Aku juga ingin pulang, Tina. Aku merindukan ayah ibuku. Jujur, aku bukan tipe anak yang berbakti dan menurut. Aku sering membangkang. Aku sering membuat kedua orang tuaku marah hampir setiap hari. Entah kenapa, bagi mereka setiap perbuatanku seperti salah. Namun, setelah aku terpisah dari mereka, aku mulai menyadari. Kedua orang tuaku bersikap demikian agar aku menjadi pria tangguh dan bisa mengatasi masalah yang nanti menimpaku. Biasanya, kedua orang tuaku selalu ada saat aku tak bisa menyelesaikan masalah-masalah itu. Kini, aku sendiri. Aku harus berjuang dengan kemampuanku untuk membuktikan jika aku bukan anak yang cengeng," ucapnya tiba-tiba menceritakan kisah hidupnya.


"Sepertinya ... orang tuamu sangat kolot," ucap Tina berpendapat. Gibson mengangguk pelan seperti membenarkan.


"Ya, wajar jika seperti itu. Jalan hidup kami keras. Tanggungjawab yang harus dipikul ayah dan ibuku banyak. Suatu saat nanti, aku yang akan menggantikan tugas mereka. Oleh karena itu, aku dipersiapkan sejak usia dini. Ayah dan ibuku, selalu mengingatkan hal itu padaku setiap saat. Aku ... sampai bosan mendengarnya," ucap Gibson cemberut. Tanpa disadari, senyum Tina terukir.


"Kau kini merindukan omelan mereka?" tanya Tina dan Gibson tersenyum dengan anggukan.


"Kau pendengar yang baik, Tina," ucap Gibson menoleh ke arah gadis serigala itu dan Tina tertunduk terlihat malu. "Kau menjadi seekor serigala berhati mulia seperti yang dikatakan oleh kurcaci. Aku yakin, jika kau termasuk golongan orang bijak. Jadi ... jangan diambil hati jika nanti ucapan Kenta, Nicolas dan Harun menyakitimu. Kau bisa 'kan?" tanya Gibson.


Tina menundukkan wajah, tapi pada akhirnya mengangguk. Gibson terlihat senang dan memeluk kepala serigala Tina yang memiliki bulu halus itu.


"Jujur! Aku dari dulu ingin sekali memelihara serigala, tapi tak diizinkan oleh orang tuaku. Katanya, serigala itu bukan hewan peliharaan. Jadi, jangan tersinggung ya, jika nanti aku akan sering memelukmu," ucapnya yang membuat Tina terlihat canggung seketika.


Timo dan Oscar mendekat ke arah keduanya. Tina akhirnya bersedia kembali berkumpul dengan kawan-kawan dari tim kakaknya.


Saat mereka kembali, Kenta, Nicolas dan Harun sudah tertidur pulas. Tina mendatangi Kenta yang tidur dengan posisi terlentang. Ia melihat Azumi, dan gadis cantik itu menatap serigala berbulu putih saksama.


Tina berbisik di telinga Azumi dan gadis itu mengangguk seperti setuju akan sesuatu. Azumi bersiap dengan sebuah kain yang telah ia basahi dengan air sungai.


Semua anak diminta diam tak membocorkan rahasia ini. Anak-anak yang masih terjaga termasuk para kurcaci dan Hihi, melihat gerak-gerik Tina seperti akan melakukan sesuatu.

__ADS_1


SLUP! SLUP!


"Emph!" keluh Kenta karena merasa jika mata dan kepalanya yang sakit seperti dijilat hingga basah.


Tina segera beranjak pergi dan pura-pura tidur di sebelah Timo. Kenta membuka mata dan melihat Azumi memegang sebuah kain dalam genggaman.


"Oh! Maaf membangunkanmu, Kak Kenta. Wajahmu kotor, jadi ... aku bermaksud membersihkannya. Sudah, tidur saja lagi," ucapnya beralibi.


Kenta mengangguk seraya mengucek matanya. Ia yang sempat duduk itu, lalu kembali berbaring terlihat masih mengantuk. Saat ia memejamkan mata dan siap untuk tidur, seketika Kenta kembali membuka mata.


"Oh!" serunya lantang yang mengejutkan semua orang kecuali Nicolas dan Harun di mana dua remaja itu masih tertidur lelap.


"Ada apa?" tanya Azumi bingung.


"Oh! Aku ... aku bisa melihat lagi. Aku bisa melihat dengan jelas!" teriaknya gembira.


Azumi terlihat senang dan langsung memeluk kakaknya. Semua orang terlihat gembira, bahkan Jubaedah bertepuk tangan. Sedang Tina, berpura-pura tidur seperti bukan dia pelaku dari kesembuhan mata Kenta.


"Tina. Kau nanti ikut aku pulang ke Grey House ya," pinta Gibson yang malah membaringkan kepalanya di punggung serigala putih itu.


Jantung Tina berdebar. Timo diam saja melihat Gibson tidur di tubuh adiknya seperti tak mempermasalahkannya.


"Ya, kau cantik. Meski aku samar melihatmu saat itu, tapi aku sudah bisa menebak jika kau manis," jawab Kenta dengan senyuman.


"Ehem! Uhuk! Uhuk!" seru Rex di kejauhan, tapi membuat semua anak terkekeh geli.


Oscar yang tak tahu apapun diam saja duduk di sebelah Timo melihat keakraban dari kawan-kawan barunya.


"Hehe, hehe," kekeh Jubaedah langsung kembali ke sisi Rex saat kekasihnya itu memasang wajah sadis. "Cemburu ya?" ledek Jubaedah menyenggol lengan calon suaminya kelak.


"Au ah," jawabnya ketus seraya memalingkan wajah. Jubaedah memonyongkan bibir karena Rex bersikap tak acuh padanya.


Satu per satu, anak-anak mengenalkan diri setelah Kenta bisa melihat dengan jelas. Kenta terlihat senang. Sakit di kepalanya juga hilang, meski ia merasakan jika rambutnya basah saat ia mengusap dengan tangan kanannya.


"Jadi, atas nama Oscar dan Tina, aku meminta maaf sekali lagi. Jangan dendam pada mereka ya," pinta Timo, tapi Kenta hanya melirik Oscar dan serigala putih itu bergantian dengan wajah datar.


"Semua butuh waktu, Timo. Maaf, aku bukan tipe pemaaf seperti harapanmu," jawabnya ketus dan kembali berbaring melanjutkan tidur.

__ADS_1


Anak-anak lainnya pun tak ingin memaksakan hal itu. Satu per satu, mereka memilih untuk tidur karena esok pagi kumpulan remaja itu harus ke sarang naga sebelum telur-telur menetas.


Walaupun misi untuk menyembuhkan Kenta tak jadi dilakukan, anak-anak itu menepati janji kepada para kurcaci untuk mengembalikan telur naga kepada induk-induknya.


Saat semua anak tertidur lelap, mata Oscar terfokus pada 10 telur naga yang dijaga oleh para kurcaci dan dua anak bertubuh gemuk dalam tas ransel yang mereka dekap seperti guling.


Oscar yang tadinya ingin mencuri telur-telur itu tengah malam, mengurungkan niat karena ia juga merasakan letih setelah aksi pengejarannya.


Oscar menunda aksinya sampai mendapatkan peluang mengingat jumlah telur naga itu cukup banyak jika ia harus membawanya sendirian.


Di sisi lain.


Bobby mulai terlihat letih setelah semalaman menyusuri sungai dan tak menemukan satupun kawannya.


Ia akhirnya menyerah dan memilih untuk beristirahat di malam yang sudah larut meski langit bercahaya terang dengan warna-warna indah memanjakan mata.


"Aku lapar," ucapnya seraya memegangi perutnya yang keroncongan.


Bobby yang mengantuk, tertidur di tepian sungai menyender pada sebuah batu. Siapa sangka, ia diintai oleh sekumpulan makhluk yang seperti tertarik padanya. Saat Bobby mendengkur dalam tidurnya, tiba-tiba ....


"Emph!"


DUAKK! BRUKK!


"Org! Org!" Salah satu Goblin memukul kepala Bobby hingga anak itu pingsan.


Bobby dibawa oleh makhluk-makhluk itu dengan sebuah tongkat kayu. Kedua tangan Bobby diikat seperti sebuah hewan tangkapan dengan dua kaki terikat di kayu tersebut.


Tubuhnya tergantung lemah dalam keadaan tak sadarkan diri. Bobby di bawa ke sebuah gua tempat para Goblin berada.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy tengkiyuw tipsnya mbk Aju❤Sehat selalu, lele padamu💋


__ADS_2