
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Mata Oag kini tertuju pada Leviathan yang menatap tajam dari tempatnya berdiri. Gibson masih berdiri di hadapan Oag di mana pemimpin Planet Mitologi itu menggenggam kunci hitam pemberiannya.
"Terima kasih, Gibson. Kutepati janjiku. Kuberikan kemenangan pada kalian," ucap Oag yang membuat semua anak melebarkan mata karena senang.
"Kami semua?" tanya Pasha semangat.
"Tidak. Hanya 13 anak saja. Kalian yang dibangkitkan kembali atas kesepakatanku dengan Hihi tidak termasuk dalam hitungan," tegas Oag, tapi membuat Jubaedah dan lainnya cemberut.
Tak lama, para alien sejenis Oag bercorak merah keluar dari portal yang digunakan Oag untuk mendatangi misi level 10. Mata semua anak melebar karena baru mengetahui jika ada banyak jenis seperti Oag. Sedang Tina dan lainnya yang pernah dibangkitkan sebelumnya terlihat biasa saja. Tiba-tiba saja, muncul sebuah portal lain. Alien bercorak merah itu meminta kepada anak-anak yang dibangkitkan untuk masuk ke dalam. Praktis, suasana duka kembali merundung hati ketiga belas anak yang menjadi pemenang.
"Kita pasti akan bertemu lagi. Ingat janji kita," ucap Vadim saat mendatangi Pasha.
"Ya. Aku akan menunggumu di Bumi, Vadim. Kau sudah seperti saudaraku," jawab Pasha langsung memeluk Vadim erat dengan mata berlinang.
Timo terlihat sedih karena harus berpisah dengan Tina. Namun, Tina meyakinkan kakaknya bahwa ia akan baik-baik saja.
"Kita akan memiliki petualangan baru saat di Bumi nanti. Aku sudah bukan gadis penakut seperti dulu," ucap Tina.
"Kalau begitu, saat kuajak berenang, kau harus mau ya. Janji?" sahut Timo seraya memberikan kelingkingnya. Tina mengangguk dengan senyum terkembang dan menyambut janji itu.
"Jangan lupa janjimu padaku, Kenta. Awas saja tak kau sampaikan saat mendapatkan hadiah. Rambutmu akan kucukur habis hingga kepalamu botak seperti Ayah Tora," ancam Azumi.
Namun, Kenta malah tertawa terbahak. Ia memeluk Azumi erat terlihat begitu menyayanginya.
"Kau sudah tak cengeng lagi, Azumi. Bahkan kau kini berani mengancamku. Aku sekarang tak bisa seenaknya menjahilimu," ucap Kenta yang membuat Azumi meneteskan air mata.
Sedang Rex dan Jubaedah. Keduanya menatap Bara tajam karena pemuda itu menyilangkan dua tangan di depan dada dan memasang wajah bengis. Rex sampai tak bisa mengungkapkan perasaannya karena terusik dengan kehadiran Bara. Padahal, ia dan sang kekasih sudah saling berhadapan.
"Pergi sana! Kenapa kau malah mengawasi kami seperti itu? Kau membuatku teringat akan Paman Eko," gerutu Rex kesal yang sudah menggenggam kedua tangan Jubaedah erat.
"Penasaran aja. Gombalan kaya apa yang bakal kamu ucapin ke Juby," jawab Bara dengan wajah tengil.
"Maaf ya, maaf ...," ucap Rangga seraya mendekap tubuh Bara dari samping lalu menyeretnya untuk menjauh
"Rangga! Woi! Ish! Mentang-mentang badan gede kaya banteng main angkut orang aja. Itu mereka kudu diawasi!" seru Bara tak bisa berkutik karena kalah ukuran dan kekuatan dari Rangga yang berwujud Minotaur.
"Tar begitu kita balik ke Bumi, Rangga bilang ke bapakmu buat cariin jodoh. Kamu nikah muda aja. Kayaknya hormonmu gak beres," ucap Rangga seraya menyeret tubuh Kesatria Garuda Bara.
Bara meraung-raung agar bisa meloloskan diri. Namun, cengkeraman dua tangan Rangga sungguh kuat. Ia memegangi dua kaki Bara saat pemuda itu berusaha melarikan diri dengan terbang. Anak-anak tertawa karena tak menyangka masih bisa melihat kawan-kawan lain menikmati hari terakhir di Planet Mitologi.
"Rexy mau ngomong apa?" tanya Jubaedah manja.
"Mm, apa ya? Rex lupa. Hiss, Bara sih ganggu aja," jawab Rex berdecak kesal.
__ADS_1
Jubaedah tersenyum karena baginya Rex sangat menggemaskan ketika marah. Jubaedah mendekatkan tubuhnya dan meninggalkan kecupan manis di bibir sang kekasih. Praktis, mata Rex melebar dan malah mematung saat Jubaedah tersenyum manis padanya.
"Sampai ketemu di Bumi, My darling," ucap Jubaedah seraya melambaikan tangan dan berjalan menuju portal.
Rex menatap Jubaedah dengan wajah kaku karena tak menyangka akan mendapatkan ciuman pertama dari sang kekasih. Rex tersenyum usai kesadarannya kembali ketika ditepuk oleh Harun di pundak.
"Bye, semua!" ucap Laika yang sudah berpamitan dengan Czar di mana hal tak terduga disampaikan oleh remaja Rusia itu jika ia menyukainya.
Tentu saja Laika terkejut, tapi juga senang. Anak-anak yang mendengar pengakuan Czar membuat wajah pemuda itu merona dan tersipu malu karena diledek.
"Baiklah. Peresmian kita berpacaran saat di Bumi ya. Awas saja jika bertemu nanti kau pura-pura lupa. Aku tak segan mengubahmu menjadi patung," ancam Laika saat Czar mengungkapkan perasaannya.
"Kemampuan Medusa-mu tak bisa digunakan di Bumi," ucap Czar bingung.
"Kata siapa. Akan kubuat kau menjadi manusia semen. Kujadikan kau patung hidup sebagai pajangan di depan rumah," jawab Laika berwajah garang.
Czar menelan ludah di mana ia merasa jika sang kekasih memiliki sisi lain tak lembut seperti biasanya. Namun, kecupan manis di pipi yang ditinggalkan Laika, sudah cukup untuk membuktikan jika gadis berkulit gelap itu juga menyukainya.
"Jangan lupa saat kita berkumpul di Kastil Borka nanti, kau berdandan keren. Keluarga Benedict dan Flame sangat fashionable. Aku yakin Hihi akan sangat cantik meski ia masih gadis kecil dan selisih umur kalian cukup terpaut jauh. Namun, jangan khawatir. Aku akan memujimu di depan Paman Jonathan dan Bibi Sierra. Mereka pasti merestuimu dengan Hihi," ucap Lazarus saat menjabat tangan Gibson.
Namun, putera One malah tergagap. Lazarus terkekeh lalu mendorong Gibson ke arah portal. Gibson tak bisa berkata-kata dan hanya mengangguk lalu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
"Kita akan bertemu lagi! Jangan lupa dengan kode kita!" seru Nicolas lantang.
"Yeah, 13 Demon Kids!" jawab semua anak serempak.
Tina dan lainnya melambaikan tangan kemudian memasuki portal yang diikuti oleh dua alien sejenis Oag bercorak merah. Seketika, portal itu lenyap dan membuat anak-anak kembali berwajah sedih. Namun, perbincangan antara Oag dan Leviathan dengan bahasa yang tak mereka mengerti membuat kening ketiga belas remaja itu berkerut.
"Oag ngomong apa sih? Bahasanya kaya orang sendawa gitu. Coba dia ngomong gitu depan Bapak, udah ditabok pasti," sahut Bara heran, dan semua anak mengangguk.
Tiba-tiba saja, muncul pesawat mirip dengan gangsing yang dilihat oleh mereka saat Juby muncul di atas sebuah batu besar usai dibangkitkan kembali. Mata anak-anak itu menyipit ketika sinar putih menyorot tubuh mereka.
Seketika, "AAAAA!" teriak Boas saat tubuh mereka tersedot oleh sinar itu dan masuk ke dalam pesawat.
Entah apa yang terjadi, ketiga belas pemenang permainan Maniac tak sadarkan diri usai tubuh mereka masuk ke dalam pesawat. Semuanya gelap dan mereka melayang dalam ruangan hampa udara dengan mata terpejam.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Emph," keluh Mandarin saat ia membuka mata dan mendapati sebuah tempat yang membuatnya terkejut. Ia melihat sekitar dan tak ada satu pun kawan-kawan di sisinya. Praktis, Mandarin panik. Terlebih, dia sudah kembali dalam wujud manusia. Ia menggunakan tas warna hitam dan juga pakaian lengkap sama seperti ketika datang pertama kali ke planet Mitologi. "A-apa yang terjadi? Di mana aku?" tanyanya bingung seraya melihat sekitar.
Tiba-tiba, matanya menangkap sosok pria tampan yang pernah dijumpai pada sebuah kastil kala itu. Mandarin terkejut karena tak menyangka jika bisa bertemu lagi dengannya. Pria itu tersenyum dengan cahaya berkilau di sekitar tubuhnya.
"Selamat, Mandarin. Kau memenangkan 10 misi dari permainan Maniac. Kau ... siap dipulangkan ke Bumi?" tanyanya yang membuat mata Mandarin melotot.
"Sungguh? Permainan berakhir? Aku akan pulang?" tanyanya terkejut. Pria itu mengangguk. Mandarin terlihat senang dan seperti akan menangis. "Oh, hadiah! Katamu ... aku akan mendapatkan 10 hadiah sesuai dengan jumlah level. Jangan ingkar," tunjuknya tegas. Pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Ya, sebutkan. Kau berhak mendapatkan hadiah atas jerih payahmu. Hanya saja, jika permintaanmu dirasa mustahil, aku juga berhak menolaknya. Namun, kau bisa mengganti dengan hadiah lain hingga tergenapi 10 macam," ucapnya. Mandarin mengangguk paham.
Namun, Mandarin malah bingung. Ia seakan lupa 10 hal yang sudah ia ingat baik-baik ketika memenangkan permainan. Mandarin kesal dan menggaruk kepalanya dengan kasar. Pria tampan itu lalu mengeluarkan jam pasir yang ia letakkan pada sebuah batu. Kembali, mata Mandarin melotot.
"Waktu terus berjalan, Mandarin. Begitu pasir ini habis, permintaanmu hangus," ucapnya yang membuat mata pemuda itu semakin terbelalak lebar.
"Kau curang! Pasti nanti akan terjadi seperti dulu. Dari ketiga belas pertanyaan kami hanya bisa mengajukan 10!" serunya marah.
"Kau kehilangan satu permintaanmu," ucapnya pelan seraya melirik ke arah jam pasir yang terus bergerak.
Mandarin kesal bukan main, tapi ia tak mau rugi lebih banyak lagi.
"Oh! Ingatan! Aku ingin ingatanku dan teman-temanku tak dihapus selama di Planet ini!" serunya cepat meski panik.
"Jika kau menginginkan kau dan teman-temanmu, maka kau akan kehilangan semua jatah hadiahmu. Saranku, sebut satu saja. Mungkin kawanmu yang lain sudah memilih juga," ucapnya yang membuat Mandarin tak fokus karena pergerakan pasir itu.
"Oke! Biarkan aku dan Bobby tetap memiliki ingatan selama di Planet Mitologi!" serunya lantang.
"Permintaan diterima. Dua hadiah sudah diberikan," ucapnya lalu menjentikkan jari. Mandarin tersenyum lebar lalu kembali berpikir untuk hadiah selanjutnya.
Di sisi lain, anak-anak yang memenangkan permainan ikut diberikan pertanyaan oleh si pria tampan. Pria itu seperti bisa memperbanyak dirinya dalam satu waktu meski di tempat berbeda. Para remaja itu menyebutkan satu per satu keinginan mereka yang hampir mirip dengan Mandarin.
"Aku ingin Jubaedah juga mengingat semua hal yang terjadi di Planet Mitologi ini. Kebangkitannya dari kematian, misinya membantu Oag ke Planet leluhur dan ... ehem, ciuman pertamanya untukku," ucap Rex tersipu malu pada kalimat terakhirnya. Pria tampan itu menjentikkan jari sebagai tanda permintaan dikabulkan.
Hal sama juga diutarakan oleh Timo yang meminta Tina untuk tetap mengingat semua peristiwa mereka. Czar untuk Laika. Kenta untuk Azumi. Harun untuk Gibson. Lazarus untuk Hihi. Vadim untuk Pasha. Nicolas untuk Oscar. Ryan untuk Jimmy. Rangga untuk Bruce—salah satu kawan asal Amerika, Bara untuk Teddy—salah satu kawan asal Amerika, Boas untuk Peter dan Rocky—dua kawan asal Amerika yang tewas saat misi.
Saat para remaja itu sedang memikirkan hadiah berikutnya, si pria tampan memberikan sebuah penawaran yang mengejutkan di mana hal itu tak diketahui sebelumnya oleh para remaja tersebut.
"Aku sedang berbaik hati untuk memberikan penawaran ini. Saat kalian tertidur, memori otak kami baca. Maaf, jika tak sopan. Hanya saja, mungkin ini takdir. Dalam memori terdalam, ada beberapa kenangan di mana sebelumnya kalian yang menjuluki diri sendiri sebagai 13 Demon Kids memang sudah saling mengenal satu sama lain. Hanya saja, ingatan itu dihapus. Tak semua kenangan tersebut bisa kami kembalikan, tapi berhasil diselamatkan beberapa. Jika kau ingin, aku bisa menempatkan kenangan itu kembali dan mungkin ... bisa kau tanyakan pada Ayah Ibu tentang kebenaran hal itu," ucapnya yang membuat semua anak melongo meski mereka berada di beberapa wilayah yang berbeda.
"Kenangan yang terpendam, begitu?" tanya Nicolas. Sosok pria tampan itu mengangguk pelan.
Semua remaja diam. Para cendikiawan yang juga telah melihat rekaman kenangan itu tampak penasaran dengan keputusan mereka.
"Baik, kembalikan pada kami ingatan itu. Dan jika, nama kawan-kawan yang kusebutkan tadi juga memiliki ingatan itu, kembalikan padanya. Akan kami cari tahu saat di Bumi nanti," ucap semua anak serempak seperti satu pemikiran.
Si pria tampan mengangguk dan menjentikkan jari sebagai salah satu hadiah. Namun, Vadim dan lainnya baru sadar jika secara tak langsung ia sudah meminta 4 hadiah pada pria tampan tersebut.
"Agh! Kau sengaja ya! Awas saja jika saat kukembali ke Bumi dan ingatan terpendam itu tak muncul, aku akan menuntut ganti rugi!" seru Vadim kesal karena merasa dibodohi.
"Aku tak curang, aku hanya membantu karena kulihat, kalian akan membutuhkan ingatan itu di masa mendatang untuk menolong Bumi yang sekarat," ucap si pria tampan yang membuat beberapa anak ketika mengutarakan keluhannya langsung mengerutkan kening.
"Aku tahu apa keinginanku selanjutnya," ucap Lazarus mantap, dan si pria tampan menatap keturunan Benedict lekat.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya 😍 lele padamu. jadi cemangat buat cepet selesein novel ini fan tamatin yg lain biar g punya utang sebelum lahiran😁