MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
TANGISAN JUBAEDAH*


__ADS_3

Di saat anak-anak sedang fokus untuk melanjutkan misi level 7 di Gerbang Hades, Oag dan para alien yang sepakat untuk berkunjung ke planet kampung halaman, terpaksa meninggalkan planet Mitologi sementara waktu.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Lalu ... bagaimana dengan para anak manusia itu?" tanya sang jenderal menatap Oag lekat.


"Aku hanya pergi bersama tim 'Tentakel Merah'. Sisanya tetap berada di sini. Bagaimanapun, permainan Maniac harus diselesaikan sesuai kesepakatan," tegas Oag yang berdiri dengan gagah.


"Lalu ... kapan kalian kembali?" tanya arkeolog wanita berambut sebahu dan berkacamata.


"Dogo menginformasikan padaku jika koordinat yang dikatakan oleh leluhur menempuh waktu sekitar 1 bulan perjalanan dari planet Mitologi," jawab Oag menjelaskan.


"Tak bisakah kalian pergi menggunakan portal seperti sebelum-sebelumnya?" tanya arkeolog wanita dengan rambut digelung ke atas dan memiliki aksen Inggris yang kental.


"Portal hanya bisa digunakan jika pernah dikunjungi sebelumnya. Sedang portal dibuat pertama kali ketika para Dewa menemukan planet Bumi. Dalam perjalanan ini saja, kami sudah menandai beberapa planet yang pernah kami kunjungi sebelumnya agar jarak menuju ke planet leluhur lebih dekat. Jika tidak, mungkin sekitar 1 tahun baru tiba di planet asal kami," jawab Oag tenang.


"Oh, maksudnya ... kau menggunakan portal-portal di planet-planet yang pernah dikunjungi anak-anak pada misi-misi sebelumnya? Seperti saat kalian menemukan makhluk-makhluk aneh semacam ubur-ubur yang bisa terbang itu?" tanya sang jenderal memastikan, dan Oag mengangguk membenarkan.


"Ah, kami mengerti. Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah dan semoga misimu sukses, Oag," ucap arkeolog pria berambut cokelat terlihat paling muda diantara yang lain meski berkacamata.


Namun, Oag malah menatap para manusia itu lekat.


"Kata siapa aku hanya pergi dengan kaumku? Kalian akan ikut bersama kami menuju ke planet leluhur," tegasnya yang membuat mata sang jenderal melebar karena tak menyangka jika diajak.


"Ka-kau mengikutsertakan kami? Apa tidak masalah?" tanya sang Jenderal sampai tergagap.


"Kenapa? Kau takut?" tanya Oag berkerut kening.


"Bu-bukan begitu. Hanya saja ... kami terlalu tua untuk melakukan perjalanan. Selain itu, kami juga harus mengawasi para generasi muda yang sedang berjuang menyelesaikan misi. Kami tak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Aku penasaran dengan hasil akhirnya," tegas sang Jenderal.


Oag diam terlihat serius, tapi hal tersebut membuat para manusia cendikiawan itu gugup.


"Hem, baiklah. Ucapan kalian memberikanku ide yang bagus. Bagaimana jika, anak-anak yang menang misi level 7, kuberikan hadiah tambahan untuk ikut dalam ekspedisi menemaniku menggantikan kalian," ucapnya yang membuat mulut sang jenderal menganga.


"Ma-mana bisa begitu? Ka-kau—." Namun, Oag menunjukkan keseriusannya karena melotot tajam pada para manusia itu. "Ba-baiklah. Aku rasa ... anak-anak itu akan senang. Kalau begitu ... kau harus menunggu mereka menyelesaikan misi level 7. Hal itu sedang berlangsung. Mereka sedang memasuki dunia bawah," tegas sang jenderal menunjuk pada layar.


Mata Oag langsung beralih pada pergerakan sekumpulan anak-anak yang memulai misi untuk mencari rantai pembelenggu Cerberus.


"Hem, baiklah. Selain itu, jenis pesawat yang akan kami gunakan juga harus dimodifikasi. Hal itu membutuhkan waktu," tegasnya, dan para manusia dewasa itu bernapas lega.


Di dunia bawah. Gerbang Hades. Planet Mitologi.


Gibson membagi kawan-kawannya menjadi beberapa tim karena mereka kini fokus untuk mencari keberadaan rantai besi yang akan digunakan untuk menjinakkan Cerberus.


Mereka yang mulai bisa berpikir layaknya seorang petarung, menggunakan akalnya sebelum bertindak tak gegabah seperti dulu.


"Bagaimana, Juby?" tanya Vadim serius.


"Kita udah di jalan yang bener. Kompas masih menunjuk arah rantai tersebut berada. Hanya saja ...," jawabnya dengan wujud Lady Dragon dan kompas dalam genggaman.


"Hanya apa?" tanya Rex menatap kekasihnya lekat.


"Di sini panas banget. Juby gerah. Berasa mandi keringet," keluhnya seraya mengipasi tubuhnya dengan telapak tangan.


"Aku tiup ya," jawab Rex seraya memberikan angin segar ke leher kekasihnya langsung dari mulut.


"Nah, nah, mulai. Bara ceburin kalian ke sungai lava loh," tegas putera Biawak Putih kesal.


Namun, Jubaedah dan Rex malah terkekeh. Mereka sengaja bergandengan tangan dan selalu berjalan bersama di dekat bara. Terlihat jelas Bara seperti kesal dengan sikap dua pasangan muda itu.


"Hehehe, sabar, Bar. Nanti kalau udah di Bumi, kamu bisa pilih siapa aja. Ada Shena, Kairin, Nayla, dan masih banyak lagi temen-temen cewek kita yang lebih cakep dari Juby!" seru Rangga menasehati.


Bara mengangguk seraya mengelus dada. Sedang kawan-kawan lainnya hanya bisa menahan senyum sembari terus berjalan di atas tanah berbatu yang terlihat gersang, usai mereka meninggalkan reruntuhan kastil Hades.


"Oh! Jarumnya berputar-putar tak tentu arah! Besi itu pasti ada di sini!" pekik Czar saat melihat jarum kompas tersebut.


Praktis, semua anak langsung bersiaga. Mereka berpencar seperti arahan Gibson ke empat penjuru.


Tim Utara beranggotakan Gibson, Azumi, Kenta, dan Mandarin. Sedang tim Selatan beranggotakan Lazarus, Vadim, Laika, dan Czar. Lalu tim Timur beranggotakan Rex, Jubaedah, Bara, Timo dan Rangga. Tim Barat beranggotakan Boas, Ryan, Harun, dan Nicolas.


Anak-anak itu harus menahan panasnya api dan lava di sekitar. Mereka juga harus berhati-hati karena lava-lava itu berpijar dan bisa mengenai tubuh mereka jika tak berhati-hati.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba, "Oh! Aku merasakan ada yang mendekat!" ucap Nicolas dalam wujud Elf yang mengejutkan anggota timnya.


"Hei! Hati-hati! Kata Nico— Huwaaa!" teriak Harun yang peringatannya terhenti saat ia menoleh ke belakang dan mendapati seekor harimau dengan lava berpijar di tubuh seolah itu menjadi bagian dari dirinya.


"Goarrr!" erangnya dengan mulut menyala berisi lava panas dan membuat asap muncul saat ia mengaum.



"AAAA!" teriak Azumi histeris, tapi segera diamankan oleh para lelaki yang jadi satu tim dengannya membentuk benteng.


Harimau itu muncul dan menatap anak-anak manusia itu saksama seraya terus mengaum. Azumi dan lainnya ketakutan seraya melangkah mundur masih dalam kelompok masing-masing.


"Gi-gimana cara kita ngalahin dia?" tanya Bara langsung pucat.


"Di sini tak ada air. Lawan dari api adalah air!" jawab Timo seraya melihat sekitar.


"Oh! Bagaimana dengan persediaan air minum kita? Bisakah kita gunakan?" tanya Rex memberikan usulan.


"Kau gila?! Itu akan membuat kita kehausan. Aku saja berhemat sampai kita menemukan mata air lain, malah mau dipakai untuk menyiram harimau itu. Aku tidak rela!" sahut Rangga menolak, tapi diangguki oleh anak-anak yang lain.


Jubaedah diam seperti memikirkan sesuatu. Hingga tiba-tiba, ia memegang lengan Rex erat seraya menggoyangkannya.


"Ada apa?" tanya Rex menatap kekasihnya lekat.


"Tampar Juby!" pintanya yang membuat mata Rex melotot.


"Ha? Tidak mau! Nanti kau minta putus seperti kejadian waktu lalu!" tolak Rex langsung melepaskan cengkeraman Jubaedah di lengannya, tapi gadis manis itu kembali menarik lengan kekasihnya.


"Juby gak bisa tau-tau turunin hujan. Walaupun terdengar mustahil bin mustahal, tapi perlu dicoba!" jawabnya memaksa.


PLAK!


"Bara!" teriak Rex langsung melotot saat Bara malah menampar Jubaedah padahal bukan dia yang diminta.


"Katanya minta ditampar dan Rex takut diputusin. Kalau gitu, Bara aja. Bara dengan senang hati melakukannya. Sini, Bara tampar lagi," sahutnya semangat, tapi membuat Rex melotot tajam padanya.


"Bara!" teriak Jubaedah marah, dan seketika ....


KREKK! KREKK!


"Jangan marah! Kau harus sedih!" ucap Rex seraya mengelus punggung sang kekasih yang melotot tajam pada kawan Indonesia-nya itu.


Bara panik, dan Rangga dengan sigap menyingkirkan kawannya yang dikhawatirkan, sikapnya malah membuat keadaan mereka semakin genting.


"GOARRR!"


"Awas!" seru Gibson saat harimau lava itu mulai menyerang tim Barat.


Praktis, semua anak dibuat panik dan kocar-kacir seolah rencana matang mereka menjadi berantakan seketika.


Rex berusaha membuat Jubaedah bersedih dengan mengatakan hal-hal yang sebenarnya tak ingin ia lontarkan.


"Bayangkan papi Eko dan mami Dewi meninggal karena kamu gak pulang-pulang ke Bumi," ucap Rex yang membuat Jubaedah tertegun mendengarnya. "Bayangkan Rex mati di sini karena gak bisa ngalahin harimau api itu," imbuhnya yang membuat Jubaedah tersentak. "Apalagi kalau sampai temen-temen semuanya ikut tewas dan tersisa Juby seorang. Juby akan sendirian hidup di Bumi!" tambahnya yang membuat Jubaedah mulai berlinang air mata. "Bayangkan cuma bang Otong yang idup dan dia nyalahin Juby karena gak bisa nolong temen-temen selama menjalankan misi di planet Mitologi. Bang Otong maki-maki Juby dan Juby—"


"AAAA! Juby gak mau! Juby gak mau kalian semua mati!" teriak Jubaedah dengan mata terpejam dan air mata berlinang.


Seketika, terdengar suara gemuruh di wilayah yang dipenuhi lava tersebut. Harimau yang memancarkan hawa panas itu seperti ikut terkejut saat langit tiba-tiba saja menjadi gelap dengan petir mulai menyambar.


Udara yang tadinya terasa lembab, panas, dan seperti tak ada angin berhembus, tiba-tiba saja terasa dingin.


Benar saja, "Oh! Hujan! Turun hujan!" seru Ryan senang karena tak menyangka akan datang hujan di tengah wilayah lava tersebut.


Harimau tersebut tampak ketakutan, tapi anak-anak cerdik itu menyadari kelemahan dari makhluk tersebut.


"Dia takut air! Saatnya membalas!" seru Gibson mulai memimpin ketika gerimis mengguyur tempat mereka berkumpul.


Rex tersenyum saat melihat Jubaedah menangis seraya menyender pada sebuah batu besar sedang membayangkan ucapan dari sang kekasih terjadi.


"Serang!" seru Mandarin lantang yang merubah dirinya menjadi Ogre.


"GOARRR!"

__ADS_1


Harimau itu kini dikepung dari empat penjuru oleh semua anak. Nicolas berdiri pada sebuah batu yang menjulang seraya melesatkan anak panahnya. Namun, kulit harimau itu cukup tebal seperti sebuah lapisan batu.


"Panahku tak bisa menembusnya!" seru Nicolas dengan tubuh mulai basah.


"Sama! Senjataku tak bisa menembus kulitnya!" sahut Lazarus yang gagal menusuk perut harimau itu dengan pedangnya dalam wujud Centaur.


"Senjata tajam tak bisa membuatnya mati! Kita harus bagaimana?!" seru Czar yang cakar burung elangnya juga tak menggores sedikit pun tubuh harimau tersebut.


"Oh, aku tahu! Kalian semua menyingkir!" seru Rex yang langsung dengan sigap melangkah ke depan.


Semua anak melihat pergerakan Rex yang merubah wujudnya menjadi naga.


"Dia akan menyemburkan asap beracun! Semuanya, pergi dari sini!" titah Gibson dan para remaja itu bergegas berlari menjauh.


Timo dengan sigap menarik tangan Jubaedah. Gadis manis yang terkejut karena tiba-tiba diajak berlari membuat hujan perlahan reda dan kembali menjadi gerimis.


"Jangan berhenti nangis dan bersedih atau Rex sungguh akan mati!" seru Laika yang membuat Jubaedah malah menghentikan tangisan saat melihat Rex berhadapan satu lawan satu dengan harimau itu.


"Horrghh!" erang Rex dalam wujud naga hijau ketika ia menyemburkan asap beracunnya ke hadapan harimau itu.


Jubaedah berdiri mematung saat melihat harimau tersebut terkena dampak dan sosoknya tak terlihat.


Seketika, senyum Jubaedah terkembang. Rex bergegas menjauh dari asap buatannya itu karena keberadaan harimau itu tak terlihat.


Saat Rex membalik tubuhnya, "GOARR!!"


KRAUKK!!


"HARRGHH!"


"REXY!" teriak Jubaedah ketika harimau itu muncul dari kepulan asap pekat dan melompat ke tubuh naga Rex.


Kulit Rex tercabik dan membuat naga hijau tersebut mengerang kesakitan. Jubaedah melepaskan genggaman tangan Timo dan berlari kencang ke arah sang kekasih yang berusaha melawan harimau itu seorang diri.


"Jangan sakitin Rex!" seru gadis manis itu lantang.


"Juby! Jangan!" teriak Laika karena kepulan asap hijau masih menyeruak dan harimau itu terlihat beringas.


"Harrghhh!" erang Rex saat leher naganya digigit oleh harimau lava itu.


Mata Jubaedah melotot lebar dan terus berlari. "Jangan sakitin Rexy!" teriaknya marah dengan kedua tangan diayunkan mengarah ke tubuh harimau lava itu.


Rex yang terluka parah karena serangan buas harimau tersebut, tergeletak tak berdaya di tepi sungai lava.


Harimau itu melihat kedatangan Jubaedah dan kini beralih untuk menyerangnya.


"Juby ... jangan ...," ucap Rex lirih dan mengubah dirinya menjadi manusia lagi meski dalam keadaan lemah.


Namun, Jubaedah tak menghiraukannya. "Hiyahhh!"


"GOARRR!"


CRETTT! DUWARRR!


"Juby!" teriak Lazarus melotot dan membuat semua anak tercengang ketika melihat sebuah petir menyambar harimau itu ketika melompat untuk menyerang Jubaedah. Harimau itu tersengat dan meledak.


Namun, puing ledakan di tubuhnya yang bercampur antara batu panas dan lava mengenai tubuh gadis itu.


Jubaedah menggelepar di atas tanah dengan erangan kesakitan karena tubuhnya terkena luka bakar.


"Juby!" seru Rex berusaha bangkit meski tubuhnya ikut terluka dan berdarah.


Semua anak panik dan berlari kencang mendatangi Jubaedah yang menangis dan membuat langit kembali bergemuruh disertai guyuran hujan lebat.


"Hiks, sakit ... sakit ...," rintihnya dengan tubuh bergetar hebat saat kulit di tubuhnya mengelupas dan mengeluarkan asap.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya dari para LAP yang pada play audio book lele. dapet 2 bonus eps nih. cuma satunya lele kasih besok ya. hari ini pegel beud. lele padamu❤️


__ADS_2