
Beberapa anak berhasil kembali ke gua seraya membawa bangkai dari para vampir yang telah mati karena asap beracun naga Rex saat itu.
Satu per satu, makhluk bersayap itu diceburkan dalam kolam beracun. Anak-anak tampak kesal karena misi itu telah merenggut Peter dan nyaris Laika. Beruntung, Laika masih bisa diselamatkan.
"Oh! Itu hadiahnya!" seru Tina menunjuk dengan penutup mata sudah dilepaskan karena berada dalam gua.
Sebuah benda muncul dari dalam air lalu terapung di atas permukaan air. Anak-anak melihat benda itu berbentuk bola seukuran bola tenis.
Mereka yang tahu jika air itu beracun tak berani mendekat apalagi meminumnya. Nicolas mengambil ranting pohon lalu menggunakannya untuk membuat gelombang dalam air agar bola-bola itu mendekat.
Ternyata, usahanya berhasil. Vadim ikut membantu dengan menjadi Pegasus. Ia terbang di atas kolam dan mengepakkan sayap kudanya agar bola-bola itu bergerak.
"Kerja bagus!" seru Lazarus memuji.
Timo menggunakan kerang penetral air untuk mencuci bola-bola itu sebelum dipegang kawan-kawannya.
Satu per satu dari mereka yang telah berhasil, memegang bola-bola dengan nama tertulis pada permukaan.
"Bola ini untuk apa?" tanya Rocky bingung karena bola itu berwarna transparan dan tak bisa dibuka. Di dalamnya pun tak terdapat benda apa pun.
"Hei! Ada petunjuk!" seru Bara menunjuk permukaan kolam yang menampilkan tulisan bercahaya.
"Selamat. Kalian berhasil menyelesaikan misi level 4. Bola dengan nama pemain tak bisa diberikan kepada orang lain. Simpan bola itu sebagai tiket keluar kalian usai menyelesaikan misi level 10 untuk kembali ke Bumi," guman anak-anak membaca bersamaan.
"Woah! Bola ini? Bola ini tiket kita keluar dari permainan? Begitu?" tanya Bara langsung memekik.
"Ya, itu benar. Bola ini sangat berharga! Tidak boleh hilang!" seru Boas langsung menggenggam bola transparan itu erat.
Tiba-tiba, muncul sebuah portal di dinding gua. Senyum anak-anak terkembang. Namun tiba-tiba, "Harghhh!!
"Waaaa!" teriak anak-anak lantang ketika muncul vampir berwarna merah yang diyakini pemimpin dari para vampir di gua tersebut.
Anak-anak berlari ketakutan, tapi mereka mengamankan hadiah masing-masing. Namun ternyata, vampir itu tak mengincar mereka. Vampir itu terbang menuju ke portal seperti ingin kabur dari tempat itu.
Anak-anak terkejut saat mereka menyadari jika vampir itu memasuki portal bercahaya. Namun tiba-tiba, "HORRGHH!" erangnya lantang.
BRUKK!
Mata anak-anak melebar saat melihat sosok makhluk keluar dari dalam portal berwujud aneh, mungkin bisa dibilang seperti alien.
Makhluk itu tak lain adalah Oag, tapi mereka tak menyadarinya. Oag menusuk dada vampir merah itu dengan tangannya yang memiliki ujung runcing seperti pedang, tapi kemudian bisa berubah seperti tangan, tapi hanya memiliki beberapa jari.
Oag melemparkan vampir itu kembali ke dalam kolam beracun dan menenggelamkannya. Anak-anak tertegun karena vampir yang bagi mereka sulit untuk ditaklukkan tewas begitu saja oleh makhluk bertentakel yang sepertinya memiliki kekuatan itu. Seketika, portal itu menghilang.
"A-apa itu tadi?" tanya Vadim tergagap dan ketakutan.
"Alien?" sahut Pasha dengan wajah pucat.
"Makhluk itu seram, tapi sepertinya ... menolong kita. Lihat, dia membunuh ketua vampir itu dengan mudah," ucap Tina menunjuk ke dalam kolam dengan tangan gemetaran.
"Lalu kenapa portalnya menghilang?" tanya Mandarin bingung.
__ADS_1
"Entahlah. Kejadian hari ini banyak di luar nalarku. Aku tak bisa berpikir," sahut Ryan merasa bodoh seketika dan hanya mengedipkan mata.
"Em, Timo? Bisa aku minum air beracun itu? Aku haus," pinta Nicolas yang mendekati kakak Tina dengan terhuyung karena ikut shock.
"Ah, ya," jawab Timo lalu menggunakan kerang ajaibnya untuk menetralkan air beracun. Nicolas tampak tak ragu saat minum seolah air itu tak memberikan efek kematian padanya. "Hahh, segar. Aku ingin mandi," ucap Nicolas yang kini merebahkan diri di atas tanah seraya menatap langit-langit gua.
"Aku juga mau mandi. Mungkin jika aku menemukan kolam, air kolam itu akan berubah menjadi hitam," sahut Harun, dan praktis, anak-anak terkekeh mendengarnya.
"Aku harus menjemput Gibson dan lainnya. Mereka belum menyelesaikan misi," ucap Czar yang kembali bangkit usai minum.
"Ya, kami ikut," sahut Boas dan lainnya yang memiliki kemampuan terbang.
Para remaja itu kembali terbang ke tempat Jubaedah berada. Saat mereka tiba, betapa terkejutnya ketika Rex sudah siuman meski masih terlihat lesu.
"Dia sudah sadar!" seru Boas gembira, terlebih Jubaedah yang menangis haru karena kekasihnya telah sadar kembali.
"Wah, lihat! Ada pelangi!" imbuh Kenta terlihat senang saat menatap lengkungan warna-warni itu.
Padahal langit masih gelap. Fenomena unik itu hanya bisa dibuat oleh Jubaedah yang mampu mengendalikan cuaca dan alam.
Rex yang masih lemah, naik ke punggung Vadim bersama Jubaedah. Laika naik ke punggung Czar, dan Gibson naik ke punggung Manticore Pasha.
Kenta, Boas, dan Bara membantu membawakan bangkai vampir agar kawan-kawan mereka bisa menyelesaikan misi.
Di perjalanan, Bara menceritakan hal mengejutkan saat di gua termasuk hadiah yang didapatkan.
"Wah! Benarkah?!" tanya Gibson sampai memekik dan anak-anak lainnya yang menjadi saksi kemunculan alien tersebut mengangguk membenarkan.
"Mungkin makhluk itu penjaga portal atau semacamnya," sahut Laika mengemukakan pendapatnya.
"Ha? Kaubilang apa? Kata-katamu aneh," tanya Bara bingung.
Pasha terlihat sebal dengan wajah singanya, tapi anak-anak yang paham mengangguk setuju.
"Kita akan istirahat dulu sebelum melanjutkan misi. Jujur, aku penasaran di mana kita berada. Karena, jika Kolor Hijau muncul, sudah pasti kita berada di Planet Mitologi. Anehnya, di Planet Mitologi, tak ada angin dan pergantian hari sepertinya normal. Sedang di sini, malam lebih lama," terang Gibson menganalisis.
"Wah, benar juga perkataan Gibson. Kita akan cari tahu melalui cermin Azumi. Kalian ingat, dia mendapatkan hadiah cermin ajaib seperti dongeng Snow White," sahut Boas.
"Ya, kau benar!" jawab Laika senang.
Jubaedah yang masih dirundung duka memilih diam menyimak seraya memeluk Rex erat dari belakang agar tak jatuh karena tubuhnya masih lemah.
Setelah semua anak berhasil kembali ke gua dan mendapatkan hadiah, Azumi kini dikerubungi oleh semua anak.
Mereka tahu instruksi penggunaan cermin ajaib itu. Harus ada pertukaran yang diberikan agar pertanyaan mereka dijawab.
"Kita beri cermin ini apa?" tanya Ryan bingung karena ia merasa tak memiliki benda berharga.
"Oh! Aku masih menyimpan daun esku. Kita tak jadi menggunakannya bukan?" tanya Harun seraya mengeluarkan sebuah daun dari saku celananya.
Anak-anak yang baru menyadari hal tersebut segera memegang daun mereka masing-masing.
"Tanyakan hal yang bermanfaat, Azumi," ucap Laika, dan gadis Jepang itu tampak gugup. Azumi menarik napas dalam.
__ADS_1
"Cermin ajaib. Katakan padaku, di mana kami berada sekarang," pintanya lalu menjatuhkan daun es miliknya ke atas kaca dengan pantulan wajahnya itu.
Seketika, daun es itu seperti tenggelam dalam cermin. Wajah Azumi dari pantulan kaca bergerak sendiri. Azumi terkejut karena seperti memiliki kembaran, tapi wajahnya datar saat berucap.
"Kalian berada di Planet Mitologi. Planet ini memiliki dua sisi. Gelap dan terang. Sisi gelap memiliki waktu malam hari lebih lama ketimbang siang hari, begitupula sebaliknya," ucap cermin dalam wujud Azumi begitupula suaranya.
Tiba-tiba, Azumi kembali melihat dirinya yang bergerak sesuai ekspresinya.
"Ahh ... itu benar. Kalian ingat saat tinggal di rumah pohonku? Langit di sana seperti dibagi dua. Jika itu benar, planet ini sangat luas!" seru Vadim yakin.
"Oh, begitukah? Jika kita berada di Planet Mitologi, setidaknya, kita bisa kembali ke tempat-tempat yang dikenali sebelumnya," sahut Pasha.
"Kita kembali saja ke rumah pohon kalian. Bukankah saat itu, para kurcaci mengatakan jika mereka menunggu kita di sana?" tanya Mandarin mengingatkan.
"Ya, itu benar!" seru anak-anak lain sependapat.
"Baiklah. Kita akan pergi saat matahari muncul. Kita lelah dan harus istirahat. Rex juga belum pulih sepenuhnya," ucap Gibson dengan penampilan sudah berantakan.
"Keren! Permen ini sungguh mujarab!" ucap Jubaedah senang yang sudah kembali ceria dan sembuh dari lukanya. Ia kini sedang asyik berduaan dengan Rex menikmati permen.
"Sikap kalian berdua membuatku sakit mata. Kalian menikah saja! Tak perlu menunggu dewasa!" seru Bara emosi.
"Mana bisa? Kami masih anak-anak," jawab Rex seraya menerima suapan permen dari kekasihnya.
"Bisa saja. Sini, aku yang nikahkan!" sahut Bara yang membuat semua anak terkejut.
"Bagaimana caranya?" tanya Jubaedah bingung.
Tiba-tiba, Bara membuka tas Rex yang diamankan oleh Timo. Ada sebuah botol dengan cairan berwarna pelangi di dalamnya. Praktis, mata semua anak melebar.
"Ingat hadiah ini?" tanya Bara. Semua anak mengangguk. "Jika kalian benar berjodoh, kalian akan berubah wujud dan menikah. Ramuan ini akan membuat kalian dalam satu wujud yang sama sebagai makhluk Mitologi. Bagaimana? Ingin coba?" tanya Bara seraya menggoyangkan botol itu di samping wajah dengan senyum tengilnya.
Jubaedah dan Rex pucat. Mereka tampak gugup dan saling memandang.
"Aku penasaran. Cobalah," pinta Azumi dan diangguki anak-anak lainnya.
"Kalau kita gak jodoh gimana, Rexy?" tanya Jubaedah seperti akan menangis.
Beruntung, gadis itu tidak dalam wujud Mitologi. Anak-anak bernapas lega. Rex diam seperti ikut berpikir.
"Pasti berjodoh," jawab Rex yakin. "Buat seru-seruan aja. Lagian, nikah tanpa restu dari orang tua mana boleh. Kita 'kan di Planet Mitologi dengan semua hal gak masuk akal sedang terjadi. Mm, saran Rex, coba saja," sambungnya dengan senyum terkembang.
Jubaedah malah memajukan bibir bawahnya terlihat ragu, tapi Rex malah gemas karenanya. Ia mencubit hidung kekasihnya, tapi hal itu membuat anak-anak lainnya iri.
"Kelamaan! Dilarang mesra-mesraan kalau belum nikah!" seru Bara kesal dan langsung mendekati keduanya.
Rex dan Jubaedah terkejut saat dipaksa meminum ramuan itu. Keduanya sampai tersedak. Namun tiba-tiba, hal ajaib kembali terjadi.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
masih ada sisa koin. lumayan recehan walaupun kalau dijajanin juga gak bisa beli apa-apa wong 19 koin \= 800 rupiah. kwkwkw😆