
Duka mendalam merundung hati semua anak yang mengenal sosok Pasha. Hujan dan gemuruh guntur mengguyur wilayah tempat remaja gemuk itu berpulang.
Tubuh yang basah seolah bukan masalah besar bagi kawan-kawan Pasha. Mereka masih memeluk sosok Manticore-nya yang telah mengeras bagaikan patung.
"Sebaiknya kita segera kuburkan Pasha lalu mengobati luka-luka kalian," ucap Rex seraya menyentuh punggung Jubaedah lembut.
Sang Lady Dragon mengangguk pelan. Rex mengajak semua kawan-kawan lelakinya untuk membuat lubang kuburan Pasha menggunakan bekas pedang para Elf yang sudah tewas.
Mereka seakan tak peduli pada jasad-jasad yang hangus itu. Tubuh para Elf dibiarkan tergeletak begitu saja menjadi bangkai untuk disantap para penghuni Pulau Pelangi.
Perlahan, hujan mulai reda. Suara gemuruh rendah di langit juga meredup. Awan hitam memudar dan cahaya terang mulai menyelimuti wilayah itu.
Jubaedah masih terlihat sedih saat ia berjalan menjauh dan duduk di sebuah batu besar ketika teman-teman lelakinya sedang bahu membahu menggali tanah.
Jubaedah mengambil tombak yang digunakan Lady Elf untuk menusuk Pasha. Gadis manis itu menggenggam tombak itu erat yang kini ia gunakan sebagai senjatanya.
Jubaedah lalu beranjak untuk mengumpulkan bunga liar di sekitar hutan sebagai hiasan di kuburan Pasha nantinya.
Perlahan, sinar di langit mulai memudar dan digantikan dengan kegelapan. Anak-anak itu bergegas menimbun jasad Pasha dengan tanah dan menutup bagian atas menggunakan batuan sebagai pengingat lokasi remaja gemuk itu terbaring untuk terakhir kali.
Tak lama, Jubaedah datang dan menghias kuburan Pasha dengan bunga-bunga yang cantik. Semua anak berdiri mengelilingi kuburan Pasha seraya bergandengan tangan.
"Aku minta maaf karena datang terlambat dan tak bisa menolongmu, Pasha," ucap Timo kembali meneteskan air mata.
"Aku juga minta maaf karena menghilangkan kompasmu, tapi ... akan kudapatkan kembali untuk menemukan harta karun dan menyelesaikan misi kita," ucap Jubaedah sudah kembali ke wujud manusia, berikut para remaja lainnya.
"Aku juga minta maaf, Pasha, karena tak maksimal mengerahkan kemampuanku. Aku ... ternyata aku lemah," ucap Harun langsung menundukkan wajah tampak begitu menyesal.
"Doakan kami bisa menyelesaikan permainan ini sampai level 10. Aku sangat berharap ini hanya mimpi. Aku ingin kita berkumpul dan bertemu lagi di Bumi," ucap Mandarin dengan mata berlinang.
Semua anak mengangguk dengan mata terpejam seperti memanjatkan harapan tinggi dalam duka mereka.
Tiba-tiba, cahaya terang muncul di beberapa pohon. Kilauannya membuat mata anak-anak itu terbuka.
"Oh, apa yang terjadi?" tanya Nicolas langsung menghentikan tangisannya.
Semua anak terkejut dan langsung berkumpul merapatkan diri. Para remaja itu terlihat bersiap karena khawatir akan muncul pengganggu lagi yang mungkin saja ancaman bagi hidup mereka.
Timo dan lainnya segera merapikan perlengkapan lalu mengenakan tas ransel dalam gendongan.
Hingga muncullah sosok binatang dengan cahaya terang dalam gelapnya hutan dibarengi batang-batang pohon yang ikut bercahaya.
"Oh! Ada kijang!" seru Rangga menunjuk seekor hewan seperti kijang yang memancarkan cahaya putih di tengah gelapnya hutan.
Kijang itu diam saja di tempatnya berdiri, tapi matanya menatap anak-anak itu saksama. Para remaja itu saling memandang terlihat bingung dan merasa hewan putih tersebut bukan ancaman.
"Oh! Ada tupai!" seru Nicolas menunjuk hewan yang ikut menatap kumpulan anak-anak itu di batang pohon.
__ADS_1
Tiba-tiba, tupai itu melompat dan mendatangi kijang tersebut lalu naik di atas kepalanya. Hewan bertanduk itu mengangguk-anggukkan kepala seperti memberi isyarat akan sesuatu.
"Ada yang mengerti bahasa kijang? Sepertinya ... dia menyampaikan sesuatu," tanya Rex menatap kawan-kawannya bergantian, tapi semua anak menggeleng.
Kijang itu lalu membalik badan dan berlari kecil. Semua anak masih berdiri diam, tapi kijang itu lalu menghentikan langkah dan kembali menoleh.
Mata para remaja itu melebar saat kijang tersebut menyentakkan kepala. Tupai itu ikut mengayunkan dua tangan kecilnya seolah mengatakan 'ikuti kami'.
"Entah ini hanya perasaanku saja atau ... kita diminta ikut dengan mereka?" tanya Harun ragu dengan pemikirannya.
"Hem! Juby juga yakin gitu! Ayo!" ajak Jubaedah langsung berlari mendatangi kijang tersebut seraya membawa tombak milik Lady Elf.
"Eh, Juby! Bagaimana jika itu jebakan atau tipuan?!" pekik Mandarin panik, tapi gadis manis itu tak menggubris.
Rex terpaksa mengejar kekasihnya dan ikut membawa pedang dari bangsa Elf yang telah mati.
Harun dan lainnya akhirnya mau tidak mau mengikuti Jubaedah serta Rex yang sudah berlari lebih dahulu.
Mereka ikut mengakuisisi pedang para Elf karena terasa ringan, tapi ternyata sangat tajam dan bisa bersinar dalam kegelapan.
Mandarin menoleh ke arah kuburan Pasha dan terlihat berat hati untuk pergi, tapi rasanya percuma jika tetap bertahan di tempat itu.
"Terima kasih, Pasha. Sampai jumpa," ucap Mandarin sedih dan pada akhirnya berlari mengejar kawan-kawannya agar tak tertinggal.
Siapa sangka, kijang bercahaya itu cukup gesit. Ia melompati batuan terjal dengan mudah sedang anak-anak itu kesulitan untuk melaluinya.
"Eh, tunggu! Ya ampun lincah banget sih larinya," keluh Jubaedah sampai terpeleset berulang kali karena jalanan licin akibat hujan yang mengguyur.
Terlihat, hewan itu berulang kali menghentikan langkah dan memakan dedaunan lalu kembali berlari kecil saat anak-anak tersebut mulai terlihat lagi.
"Kita jangan sampai terpisah lagi. Lupakan saja kita terbagi menjadi wilayah Utara atau Timur. Kita sekarang satu tujuan saja!" seru Nicolas, dan anak-anak itu mengangguk setuju.
"Hah, hah, kijang itu akan membawa kita ke mana? Sepertinya aku tak melihat wilayah ini saat terbang di langit," tanya Rex terlihat was-was seraya melihat sekitar.
"Semuanya siaga! Hati-hati jika ada musuh mengancam!" seru Rangga, dan semua orang mengangguk setuju dengan pedang dalam genggaman.
Jubaedah yang menjadikan tombak Lady Elf sebagai senjatanya, menjadikan tongkat tajam itu sebagai alat bantu ketika kesulitan mendaki.
Cukup lama mereka mengejar kijang tersebut hingga tiba-tiba, mereka menemukan aliran air sungai dan ada air terjun terlihat di sana.
Jubaedah dan lainnya tampak takjub. Anak-anak itu terpukau dengan keindahan malam bercahaya keungunan di tempat tak dikenal tersebut.
Namun, tiba-tiba saja, kijang dan tupai itu menghilang. Jubaedah dan lainnya bingung karena tak mendapati sosok itu di mana pun.
"Lihat, ada tangga dan perahu di sana! Apakah ... kijang itu bermaksud meminta kita naik perahu lalu menyusuri sungai?" tanya Timo seraya menunjuk temuannya.
"Mungkin saja. Ayo!" sahut Rex.
Segera, anak-anak itu menuruni tangga berbatu. Perahu tersebut juga telah dilengkapi sebuah lentera dengan cahaya hijau terang.
__ADS_1
"Jadi ... kita akan menyusuri sungai ungu ini?" tanya Harun memastikan.
"Ya. Mungkin kijang tersebut ingin menunjukkan sesuatu pada kita. Ayo!" sahut Nicolas yakin.
Satu per satu dari mereka menaiki perahu tersebut. Ada dua dayung kayu tersedia dalam perahu.
Rangga dan Rex bertugas untuk mendayung sampai nanti mereka lelah lalu digantikan oleh yang lain.
Selama perahu bergerak mengikuti aliran arus sungai, Nicolas, Mandarin, dan Harun yang terluka diobati oleh Jubaedah dibantu Timo.
"Sayangnya kita sudah tak memiliki permen ajaib lagi. Jika ada, kalian akan sembuh lebih cepat," ucap Timo merasa kasihan pada kawan-kawannya yang mengalami luka serius di tubuh meski tak menewaskan.
"Keberuntungan tak selalu berpihak pada kita, Timo. Masih bisa hidup sejauh ini sebuah keajaiban," ucap Nicolas yang menahan rasa sakit sejak berlari meninggalkan kuburan Pasha karena tak ingin tertinggal.
"Bagaimana dengan nasib kawan-kawan lainnya ya? Juby jadi cemas," tanya Jubaedah terlihat khawatir seraya membalut luka Mandarin di mana bekas anak panah yang menusuk lengannya masih mengeluarkan darah merah kebiruan.
"Doakan saja mereka baik-baik saja," ucap Mandarin dan diangguki oleh lainnya.
Di tempat Boas dan Bara berada wilayah Selatan Pulau Pelangi.
"Sudah malam. Dan ... kita belum menemukan petunjuk apa pun tentang harta karun itu. Bagaimana jika tak pernah ditemukan? Apakah ... kita akan terjebak di pulau ini untuk selamanya?" tanya Boas yang duduk di atas rumput tepi hutan seraya menatap langit bercahaya warna-warni seperti aurora.
"Hempf ... entahlah, Boas. Bara ngantuk dan mau tidur. Beberapa hari ini kita kurang istirahat. Sebaiknya kita menjaga energi dan memikirkan hal ini esok hari," jawab Bara dengan mata sudah terpejam.
Pemuda asal Indonesia itu merebahkan tubuhnya di atas rumput dengan tas sebagai alas bantal.
Boas ikut menguap dan mengangguk setuju. Saat Boas sedang menyiapkan alas tidurnya di atas rumput, tiba-tiba saja, "Woah! Bara! Bara! Lihat!" pekiknya yang membuat Bara langsung membuka mata karena kaget dan duduk.
Seketika, mata dua remaja lelaki itu membulat penuh saat tiba-tiba saja muncul jalan pelangi yang bersinar terang dan terlihat di atas rumput seperti menunjukkan arah ke suatu tempat.
Bara dan Boas saling melirik dalam diam meski wajah keduanya tegang.
"Mau melanjutkan tidur atau ... mengikutinya sebelum jalan pelangi itu hilang?" tanya Boas gugup seraya menunjuk jalan pelangi yang bersinar terang dalam kegelapan hutan.
"Jalan pelangi lah, gitu aja masih tanya. Ayo!" sahut Bara semangat dan segera mengemasi perlengkapannya.
Boas bergegas mengenakan tas ransel dan memadamkan api dari lentera yang Bara dapatkan di kastil tua kala itu bersama Tina.
Dua remaja pria itu berlari mengikuti jalan pelangi yang meliuk-liuk diantara celah batang pohon dalam kegelapan hutan di Pulau Pelangi.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Makasih tipsnya lele😍 Aku padamu😘 Kwkwkw😆 Jangan lupa vote vocer, poin dan koin ya. Rate bintang lima bagi yang belum, komen dan like di tiap eps. Tararengkyuw❤️