MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
HARTA KARUN IMPIAN*


__ADS_3

Rex dan anak-anak lain yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi makhluk Mitologi bersayap segera terbang menuju ke seberang sungai.


Timo yang penasaran dengan wujud dari monster air tersebut nekat menceburkan diri. Praktis, semua anak dibuat panik seketika.


BYUR!!


"Timo!" panggil Laika langsung melebarkan mata karen remaja asal Filipina itu mengubah dirinya menjadi Merman.


Jubaedah dan lainnya segera merapat karena melihat makhluk yang sempat muncul ke permukaan serta menunjukkan sedikit wujudnya itu seperti memiliki sirip.


Di dalam air, mata Timo ikut melebar. Ia melihat sosok kuda air yang diyakini adalah wujud dari Kelpie.


Timo melihat kawan-kawannya yang tercebur dalam sungai berhasil diangkat dan dibawa terbang oleh teman-teman bersayapnya.


Timo lega dan segera berenang menuju tepian untuk memberitahukan hal tersebut.



"Itu Timo!" panggil Harun langsung dengan sigap meraih tangan temannya itu yang masih dalam wujud manusia setengah ikan ke daratan.


Napas Timo tersengal dan membuat semua anak menatapnya tajam.


"Makhluk apa itu? Apa berbahaya?" tanya Mandarin terlihat waspada seraya mengarahkan pedang Elf temuannya ke arah sungai.


"Mm ... kalau tidak salah, itu Kelpie. Makhluk Mitologi dari negara Skotlandia dan Irlandia. Hanya saja, dia berbahaya atau tidak, itu yang aku tidak tahu," jawab Timo seraya mengeringkan ekor duyungnya.


"Oh, Juby pernah baca dongeng itu. Katanya, Kelpie makan orang loh. Serem! Jangan deket-deket air!" teriaknya histeris yang membuat semua anak langsung menjauh dari sungai besar tersebut.


Rex dan lainnya berhasil membawa terbang kawan-kawan mereka yang menceburkan diri di sungai entah apa yang terjadi.


Namun, hal itu membuat semua anak senang karena pada akhirnya berkumpul kembali.


"Oh! Kalian sudah di sini?" tanya Gibson dengan tubuh basah kuyup.


"Kenapa kalian malah berenang di air yang banyak monsternya itu? Timo melihat ada Kelpie! Kuda air yang makan manusia!" teriak Nicolas yang membuat mata Gibson dan lainnya melebar.


Sontak, anak-anak langsung lari terbirit-birit menjauh dari tepian sungai dan masuk ke hutan begitu saja.


Namun, saat mereka sudah di dalam, langkah anak-anak terhenti. Napas mereka tersengal dan terlihat lega karena sudah menjauh dari sungai.


"Hah, tadi ... kami menghirup udara dari hutan pelangi. Tiba-tiba, tubuh kami menjadi berwarna. Kami panik dan berusaha untuk menyembuhkannya, tapi tak berhasil. Hingga akhirnya, kami berpikir untuk menceburkan diri ke air. Siapa sangka, hal itu membuat kami pulih," ucap Azumi seraya memeras rambutnya yang basah.


Anak-anak lain yang mendengar hanya bisa melongo sembari membayangkan. Saat mereka sedang mengatur napas, tiba-tiba terdengar suara seperti orang berbincang dari dalam hutan.


"Eh, suara itu ...," ucap Kenta langsung berkerut kening.


"Itu para alien bajak laut! Mereka kembali lagi ke pulau sebelum tengah hari!" sahut Ryan yang diangguki anak-anak lainnya.


"Di mana mereka?" tanya Boas sampai berputar untuk mencari tahu asal suara.


Suara sayup-sayup dan tawa para alien terdengar makin jelas seperti mendekati anak-anak itu.


Para remaja tersebut berdiri menunggu kedatangan para alien dengan jantung berdebar.


Benar saja, "Oh!" pekik alien siput menunjuk sosok Bara yang melambaikan tangan dengan senyum kaku.


"Passttt ... kenapa kalian semua berada di sini? Jangan bilang kalian menemukan lokasi harta karun?" tanya Viper sang ular yang membuat kening semua anak berkerut.


"Yang jelas, banyak kejadian aneh menimpa kami sampai menewaskan Pasha," tegas Vadim.


"Apa katamu? Pasha tewas?!" tanya Ryan memekik.


"Apakah ... awan hitam dengan petir menggelegar yang kulihat kemarin karena tragedi tersebut?" tanya sang kapten melirik Jubaedah.


Anak-anak yang berada di lokasi kejadian mengangguk dengan wajah sedih. Ryan, Azumi, Kenta, Gibson dan para alien bajak laut tampak terkejut.


"Bagaimana bisa?" tanya Rog terlihat penasaran.

__ADS_1


"Kami ... diserang para Elf. Beruntung Jubaedah dan lainnya datang. Mereka berhasil membunuh para Elf jahat itu, termasuk Lady mereka," jawab Nicolas seperti akan menangis lagi.


Mata sang kapten menyipit. Ia mendekati Jubaedah dengan langkah cepat dan langsung mengambil tombak yang dibawa gadis manis itu. Jubaedah terkejut, tapi membiarkan hal tersebut.


"Apakah ... ini senjata si Lady Elf? Apa kau ... sungguh membunuhnya?" tanya sang kapten, dan Jubaedah mengangguk pelan. "Hahahaha! Kalian dengar itu? Para Elf sombong dan angkuh itu telah mati! Hahahaha!" tawa sang kapten yang disusul oleh semua alien seperti tampak senang karena kematian bangsa bertelinga runcing itu.


"Kalian benar-benar makhluk terkutuk!" teriak seseorang tiba-tiba yang muncul dari dalam hutan dan mengejutkan semua orang.


"Oh! Dia masih hidup!" seru Mandarin menunjuk Elf jantan yang dipanggil Minos oleh Lady Elf kala itu.


Serempak, baik anak-anak atau para alien langsung mengarahkan senjata ke tubuh Minos. Namun, Elf tersebut seperti tak peduli dengan ancaman tersebut dan berwajah sedih.


"Bunuh saja, aku sendirian di sini," ucapnya dengan pandangan tertunduk.


"Kau sendiri karena kaummu yang mencari gara-gara terlebih dahulu. Kami sudah katakan jika hanya ingin mencari harta karun, tapi kalian menghalangi. Bahkan, sampai membunuh Pasha dengan kejam! Rasakan kesendirianmu atas kejahatan kaummu!" ucap Harun terlihat marah besar hingga napasnya memburu.


Lazarus dan lainnya berusaha menenangkan kawan mereka yang diliputi dendam serta kebencian itu. Minos meneteskan air mata, tapi dengan cepat menghapusnya.


"Aku minta maaf. Kuakui ... kami memang bersalah. Namun, bukankah kita sekarang sudah impas? Kita kehilangan orang-orang yang dicintai karena permainan gila ini," ucap Minos kembali terlihat tegas.


"Oh ... kau menyalahkan Oag?" tanya Zorax si alien bajak laut.


"Bukankah nasib kalian sama sepertiku? Kita semua dikutuk! Sejak aku membuka mata, aku sudah berada di pulau ini. Tak bisa pergi dan terpaksa tinggal untuk bertahan hidup hingga ratusan tahun lamanya. Kraken membuat kami tak bisa meninggalkan pulau. Banyak makhluk buas dan juga jebakan mematikan di pulau ini. Pulau yang diberi nama pelangi karena terlihat indah, sebenarnya adalah pulau terkutuk! Kini, hanya tinggal aku sendiri dari jenisku," ucapnya terlihat marah.


Semua orang menatap Minos saksama entah apa yang mereka pikirkan.


"Sepertinya ... itu tidak benar. Seingatku, ada Elf lain di planet Mitologi. Buktinya, Nicolas bisa berubah menjadi Elf betina," sahut Bara terdengar lugu.


"Ah, benar. Setahuku memang ada Elf. Para kurcaci pernah bercerita tentang mereka. Jika kau bisa kami temukan dengan para kurcaci, mungkin kau bisa bergabung dengan kelompok Elf lain dari wilayah yang berbeda. Kau belum tahu saja," sahut Vadim.


Praktis, mata Minos melebar seperti tak percaya dengan hal tersebut. "Benarkah yang kalian katakan jika ada Elf lain di planet ini selain di Pulau Pelangi? Kalian tak bohong?"


"Ya, aku kenal satu kelompok Elf di negeri dongeng. Mereka yang selama ini memberikan rum pada kami dengan bertukar hasil tangkapan ikan. Aku bisa mengantarmu ke sana jika kau sungguh ingin meninggalkan pulau ini," ucap sang kapten yang membuat Minos sampai tersentak.


"Kau akan mengajakku berlayar meninggalkan Pulau Pelangi dan bergabung dengan Elf lain?" tanyanya terlihat tak percaya.


"Memang ... di negerimu, kami dikisahkan seperti apa?" tanya alien bertanduk seraya mendekat.


Rangga menelan ludah terlihat takut karena ditatap tajam oleh para alien tersebut.


"Mm, yah. Mereka ... suka main perempuan, berjudi, lalu ... berkata kasar, jorok, suka membunuh dan berburu harta karun," jawab Rangga gugup seraya mengingat-ingat sosok bajak laut sepengetahuannya.


"Siapa yang membuat kisah buruk seperti itu tentang kami? Akan kucongkel matanya dan kumakan!" geram Rog yang ternyata membuat alien lainnya tersulut emosi.


"Tapi melihat reaksi kalian ... mirip-mirip dikit sih," sahut Bara, tapi membuat sang kapten melotot tajam padanya. Bara langsung memejamkan mata karena takut.


"Oke, tenang-tenang. Urusan di Bumi biarlah terjadi di Bumi saja. Kita berada di planet Mitologi di mana banyak hal berbeda dari pemikiran kami sebelumnya," ucap Gibson menengahi. Semua orang menatap remaja lelaki itu saksama. "Sebaiknya, sekarang fokus pada tujuan kita sekarang," tegasnya.


"Yah, harta karun," ucap Viper dengan seringainya.


"Oh! Kompas Juby! Viper, balikin!" teriak Jubaedah langsung menyodorkan tangannya dengan wajah sebal.


"Tidak bisa. Kompas itu menunjukkan jalan kepada kami menuju harta karun!" tolak sang kapten.


Napas Jubaedah menderu, tapi hal itu tak membuat semua orang takut karena ia dalam wujud manusia.


"Begini saja. Kita gunakan kompas itu untuk menemukan harta karun. Setelah ditemukan, kembalikan pada kami. Pasha sudah mengamanatkan kompas itu pada Jubaedah, meskipun dulunya milik Vadim," tegas Rex, dan semua anak yang berada di lokasi kejadian saat itu mengangguk setuju.


"Aku sengaja meminjamkan kompasku kepada kawan-kawan karena percaya pada mereka. Sayangnya, benda itu bukan milikmu. Aku mendapatkannya dari hadiah menyelesaikan misi dan hal itu tidak mudah karena hampir merenggut nyawaku juga. Berikan pada Jubaedah jika sudah selesai," tegas Vadim terlihat serius.


"Hah, baiklah," jawab sang kapten tampak kesal.


Semua orang kini mengikuti langkah sang kapten yang mengikuti petunjuk jarum kompas menuju harta karun.


Minos baru tahu jika Elf wanita yang pernah ia jumpai adalah Nicolas dalam sosok remaja laki-laki tampak kecewa.


Namun, keduanya terlihat akrab saat Nicolas memberitahukan beberapa hal tentang kemampuan Elf ketika ia memiliki kemampuan tersebut dalam wujud Mitologi.

__ADS_1


Semua orang terpaksa berlari kecil karena mengejar waktu sebelum tengah hari. Mereka tahu jika para alien tersebut akan terseret ke kapal.


Hingga tiba-tiba, jarum kompas tersebut berputar-putar seperti kehilangan arah di tengah hutan.


"Apa yang terjadi? Apa kompasnya rusak?" tanya sang kapten saat melihat jarum tersebut tak berhenti bergerak.


"Oh! Itu tandanya kita sudah sampai di lokasi!" sahut Laika lalu meminta kompas itu.


Jubaedah segera mengambilnya dari tangan Laika dan menyimpannya karena takut kehilangan benda berharga itu.


Vadim menatap Jubaedah lekat dan mempercayakan benda miliknya pada kawan perempuannya itu.


"Jaga baik-baik, Juby," pinta Vadim, dan Jubaedah mengangguk mantap.


Czar dan lainnya mencoba mencari di sekitar tempat mereka berdiri. Jarum kompas tersebut mengarahkan lokasi harta karun di antara mereka, meski sosoknya tak diketahui.


"Wujud harta karun itu seperti apa?" tanya Mandarin bingung sampai ia mendongak untuk melihat ke atas pohon.


"Aku juga tak tahu. Tak pernah ada yang tahu dan menemukan harta karun itu sebelumnya," sahut Minos yang ikut mencari.


Gibson diam sejenak saat semua orang sedang mencoba mencari sesuatu yang dirasa mencurigakan. Mereka berharap, benda temuan itu adalah harta karun tersebut.


"Em, Kapten. Katamu, harta karun itu bisa mengetahui apa yang kita inginkan tanpa harus diucapkan. Apakah ... itu benar?" tanya putera One menatap sang kapten bajak laut saksama, dan alien tersebut mengangguk. "Anggap saja batang kayu ini adalah harta karun itu. Cobalah kau minta dengan sangat agar permintaan terdalammu dikabulkan. Kita coba saja," pinta Gibson, tapi membuat wajah sang kapten berkerut.


"Memang terdengar gila, tapi ... tak ada salahnya mencoba. Ayolah!" sahut Bara yang pada akhirnya dilakukan oleh sang kapten.


Alien dengan wujud seperti ikan hiu martil tersebut menggenggam batang pohon tersebut dengan mata terpejam terlihat seperti begitu mengharapkan sesuatu.


Suasana hening dan semua orang tampak penasaran dengan yang akan terjadi.


Tiba-tiba, "Lihat!" pekik Timo yang mengejutkan semua orang karena muncul sebuah rumah pohon dengan pintu terlihat dan jalan setapak berbatu di sana.



Sontak, semua orang segera bergegas mendatangi rumah pohon itu. Sang kapten membuka pintu kayu tersebut dan masuk ke dalam tanpa ragu.


"Woah!" seru semua orang kagum karena ternyata dalam rumah pohon itu sangat luas.


Mata sang kapten langsung tertuju pada sebuah kotak hitam yang tergeletak di atas pasir.


Para alien bajak laut lainnya mengikuti langkah pemimpin mereka yang kini bersimpuh di depan kotak dengan ukiran tersebut.



"Mungkinkah ... ini harta karunnya? Apa yang kauminta, Kapten? Hingga muncul rumah pohon ini?" tanya alien siput menatap sang kapten yang tersenyum lebar saat memegang kotak itu.


"Itu ... bukan masalah besar. Aku ... hanya ingin impianku terwujud," ucap sang kapten dengan wajah sendu seperti akan menangis.


"Itu pasti kotak harta karunnya! Ayo, Kapten, buka! Bukankah kau sudah sangat lama menginginkannya?" tanya Czar yang membuat sang kapten mengangguk pelan dengan senyuman.


Semua orang terlihat tegang saat sang kapten memejamkan mata seraya memegang penutup kotak hitam tersebut. Suasana hening kembali terasa dengan jantung berdebar kencang.


Tiba-tiba, "Woah! Kotaknya terbuka!" seru Kenta karena muncul sinar terang dari dalam kotak itu.


Silau cahayanya membuat mata semua orang terpejam, tapi tidak dengan sang kapten yang seperti menantang cahaya itu.


Saat cahaya itu hilang, mata semua orang melebar. Praktis, orang-orang itu dibuat terkejut akan perubahan yang terjadi pada sang kapten.


"Ka-kapten?" panggil alien dengan corak warna ungu tampak gugup melihat perubahan dalam diri pemimpin mereka yang sudah tak berwujud alien lagi.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Makasih tipsnya untuk diriku❤️ Kwkwkw. Ya ampun lele lelah sekali jadi baru bisa up 1 eps tiap hari dulu ya. Doain aja cepet sehat dan kembali semangat lagi. Amin. Tengkiyuw lele padamu💋


__ADS_2