MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
UNICORN*


__ADS_3

Mandarin memegang sulur pohon kuat sebagai talinya. Kakinya memanjat dengan sigap seperti orang yang sedang panjat tebing.


Hihi terbang di samping Mandarin untuk memastikan kawan barunya itu selamat sampai ke puncak.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Oh! Ada ruangan di atas sini, Azumi!" seru Mandarin seraya melangkahkan kaki kirinya ke arah papan yang ia maksud.


Azumi terlihat tak sabaran saat sosok Mandarin hilang, tapi ia bisa mendengar derap langkahnya di atas.


"Bagaimana?" tanya Azumi terus mendongak dan menggunakan tangan kirinya sebagai penutup layaknya topi karena banyak debu yang berjatuhan dari atas.


"Wah! Ini seperti rumah pohon! Tempat ini bisa dijadikan untuk mengintai! Seperti menara! Hutan ini sangat luas dan indah, Azumi. Naiklah ke atas! Hati-hati!" jawab Mandarin lantang.


Mata Azumi berbinar. Ia segera naik ke atas mengikuti cara seperti yang Mandarin lakukan. Hingga akhirnya, langkah Azumi berakhir saat Mandarin datang menjemput dengan memberikan tangannya. Azumi segera meraihnya dan naik ke papan.


"Woah! Indah sekali!" seru Azumi kagum karena pemandangan hijau di hadapannya begitu menyejukkan mata.


Terlihat jelas, di mana sungai mengalir dan ada sebuah kolam yang terlihat jernih tak jauh dari mereka berada. Nampak beberapa pohon yang memiliki buah segar serta burung-burung terbang melintas meski bentuknya unik.


"Bagus ya. Sepertinya, kita akan cocok untuk tinggal di sini. Bagaimana?" tanya Mandarin dengan mata berbinar. Azumi mengangguk setuju. Hihi terlihat senang dan terbang berputar-putar.


Azumi dan Mandarin kembali turun untuk segera menyiapkan kebutuhan selama mereka tinggal di tempat itu.


Keduanya keluar dari rumah pohon di dampingi oleh Hihi untuk mencari kayu bakar serta mencari papan untuk membuat tanda keberadaan mereka berdua.


Keduanya sepakat menuju ke sungai. Hihi menjadi pendamping setia dua remaja itu. Tuan Pohon sudah pergi entah ke mana karena sosoknya tak terlihat saat mereka keluar dari jasad ayahnya.


Saat mereka tiba di tepian sungai, mata Mandarin dan Azumi terbelalak seketika. Mereka melihat seekor kuda putih yang memiliki tanduk. Keduanya bersembunyi di balik semak, mengagumi sosok hewan cantik itu.



"Itu ... unicorn? Woah, indah sekali. Ternyata, cerita itu benar," ucap Azumi senang.


Mandarin dan Azumi malah asyik melihat kuda itu saat menikmati air sungai yang jernih seraya mengibaskan rambut putihnya yang panjang. Kuda itu nampak berkilau.


Ternyata, tak hanya satu unicorn. Azumi dan Mandarin menoleh dan mendapati seekor unicorn lain sedang berlari dari dalam hutan.


Kuda ajaib itu memiliki tanduk lebih panjang dan terlihat runcing. Hewan mengagumkan dengan tubuh dan rambut berwarna putih, berlari kecil menuju ke sungai.



"Woah! Yang itu lebih gagah," ucap Mandarin berbisik. Azumi mengangguk setuju.


Ternyata, kuda-kuda bertanduk itu muncul dari berbagai wilayah di hutan. Azumi dan Mandarin makin terkagum-kagum.


Praktis, sekitar sungai langsung dipenuhi oleh kuda-kuda berwarna putih. Hihi ternyata juga ikut bersembunyi, tapi ia berada di atas pohon.


"Mandarin, aku ingin mengelus mereka," ucap Azumi penuh harap.

__ADS_1


Mandarin berkerut kening. "Mm ... aku tak yakin, Azumi. Kuda-kuda itu mungkin terlihat cantik, tapi tanduknya terlihat tajam dan runcing. Aku khawatir mereka malah melukaimu," jawabnya berpendapat.


"Kita coba saja dulu," pintanya memaksa.


"Bagaimana jika kita ambil air sungai dulu saja? Bukankah tujuan kita untuk membersihkan rumah? Kita harus bersiap sebelum malam datang. Kita bisa mencoba mendatangi para unicorn itu esok hari. Bagaimana?" tawar Mandarin memberikan nasehat.


Azumi terlihat sedih, tapi mengangguk. Mandarin sudah membawa dua buah tempurung kelapa yang diberikan oleh Hihi untuk membawa air.


Keduanya mengendap perlahan karena tak ingin membuat panik kumpulan hewan yang terlihat berkilau itu. Mandarin dengan sigap mengisi dua tempurung itu dengan air.


Namun, Azumi malah terbengong. Saat Mandarin akan memberikan tempurung yang sudah terisi air penuh, Azumi yang melamun tak melihat benda tersebut dan menumpahkannya.


"Eh?"


DUK! BYUR!


Praktis, semua kepala unicorn menoleh ke arah dua anak manusia yang sedang berjongkok dengan tempurung kelapa di tangan mereka.


"Run!" seru Mandarin saat unicorn yang memiliki tubuh paling besar dan tanduk paling panjang mengangkat kedua kakinya dengan lengkingan seperti memandu unicorn lainnya untuk menyerang mereka.


"AAAAA!" teriak Azumi lantang saat keduanya dikejar oleh sekumpulan unicorn tersebut.


Azumi meninggalkan tempurung tersebut termasuk milik Mandarin di sungai. Keduanya berlari tergesa karena kuda-kuda itu dengan gesit mengejar di antara celah pepohonan.


"Tinggal sedikit lagi, Azumi!" teriak Mandarin lantang yang berlari lebih dahulu menuju ke rumah pohon.


Azumi berlari sekuat tenaga. Keduanya panik karena tanduk para unicorn mulai diarahkan ke tubuh mereka seperti akan ditusuk.


CEKLEK!


KRAKKK!


"AAAAA!" teriak Azumi lagi saat mereka sudah menutup pintu. Ternyata, tusukan tanduk unicorn mampu menembus pintu kayu tersebut.


Keduanya melangkah mundur dengan panik karena melihat pintu tersebut seperti akan didobrak paksa.


Hihi masuk dari atas pohon dan meminta mereka untuk mengikutinya. Ternyata, ada sebuah lubang besar yang muat dimasuki mereka berdua.


Hihi meminta mereka mengikuti terowongan dari tanah itu. Dengan sigap, Azumi segera masuk dan merangkak, diikuti Mandarin di belakangnya dengan tergesa.


BRAKKK!!


Seekor unicorn berhasil masuk ke ruangan tersebut dan mencari keberadaan dua anak manusia, tapi tak ditemukannya.


Unicorn itu terlihat marah dan mendengus kesal. Kuda itu keluar dari rumah pohon dan berdiri gagah di hadapan kawanannya yang memandangi kuda tersebut seperti pemimpin mereka.


Mereka bicara bahasa Unicorn. Terjemahan.


"Para anak manusia itu sudah sampai di wilayah kita. Perketat penjagaan dan pastikan, mereka gagal dalam misi ini. Aku tak sudi jika harus tinggal berdampingan dengan para manusia keji itu," ucapnya garang.

__ADS_1


Para unicorn mengangkat kedua kaki mereka dengan suara lengkingan kuda. Terlihat para kuda itu seperti setuju dengan perintah pemimpin mereka.


Kuda-kuda bertanduk itu lalu berpencar seperti mencari keberadaan dua anak manusia yang disinyalir kabur dan bersembunyi di suatu tempat.


Azumi dan Mandarin terus merangkak mengikuti terowongan yang cukup panjang entah mengarah ke mana dengan Hihi berada di depan memandu jalan.


Hingga akhirnya, terlihat cahaya menyilaukan di ujung terowongan itu. Azumi dan Mandarin terlihat senang. Mereka bergegas agar segera tiba di tempat baru dan berharap keduanya selamat dari kejaran para unicorn yang terlihat marah itu.


"Hihihihi," ucap Hihi yang kembali terbang seraya menunjukkan sebuah rumah pohon yang lain.


"Woah," kagum Azumi seraya bangun perlahan diikuti Mandarin di belakangnya.



Mereka berdua melihat sekitar di mana tempat mereka berada sudah di luar hutan. Pemandangannya yang disajikan lebih menakjubkan. Bulan terlihat begitu besar, dan seperti terjadi pembagian cuaca di tempat tersebut karena dua pemandangan yang berbeda di sisi kiri dan kanan.


"Hihihi," ucap peri Hihi seraya mengajak keduanya untuk menuju ke sebuah rumah pohon dengan cahaya terang terlihat di dalamnya.


Azumi dan Mandarin saling memandang. Mereka berasumsi jika tempat itu sudah ada penghuninya.


Keduanya melangkah perlahan terlihat gugup karena terdengar suara seperti ada yang mengobrol di dalam rumah pohon tersebut hingga suara tawa mereka terdengar seru.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Ada manusia lain yang selamat, Mandarin," ucap Azumi menatap kawan barunya saksama.


"Ya. Sepertinya, mereka laki-laki. Ayo kita lihat," ajak Mandarin. Azumi dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke pintu dengan cahaya terang di dalam.


Benar saja, terlihat dua anak lelaki bertubuh gemuk sedang asyik berbincang dengan banyak makanan di sekitar mereka menggunakan bahasa yang tak Azumi pahami.


Sayangnya, wajah keduanya tak terlihat karena posisi mereka memunggungi Azumi dan Mandarin.


Hihi terbang mendekati dua remaja itu, dan praktis, suara tawa itu sirna ketika penghuni rumah menyadari jika ada tamu datang.


Tubuh dua lelaki itu langsung berbalik. Azumi terlihat gugup karena tampang mereka garang dan menatapnya serius.


"Oh!" tunjuk Mandarin ke arah dua pemuda yang terlihat bingung karena mereka seperti dikenali. "Pasha! Vadim!" teriak Mandarin lantang dengan wajah berbinar.


"Huwaaaa!" seru dua pemuda bertubuh gemuk itu langsung melompat dari kursi kayu yang mereka duduki.


Azumi bergegas menjauh karena baginya dua pemuda itu sedikit bar-bar. Azumi melihat dua remaja yang bernama Pasha dan Vadim, memeluk Mandarin erat seperti saling mengenal. Terlihat, tiga orang itu gembira karena bisa bertemu.


Perlahan, senyum Azumi terkembang. Ia senang karena ada anak lain yang selamat dan berharap, bisa menemukan lainnya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


Masih eps bonus dr tips Mak Ben❤️ Wah hari ini jadwalnya padat merayap uyy😵 Semoga suka ceritanya dan jangan lupa votenya lewat banner ya. Lele padamu💋


__ADS_2