MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
KAMPUNG HALAMAN OAG*


__ADS_3

Anak-anak yang sudah puas menikmati makanan manis mulai mengantuk. Perlahan, mereka memejamkan mata saat pesawat yang ditumpangi melewati portal-portal di beberapa planet.


Seketika, suasana dalam pesawat hening dan sunyi. Oag memutar kursinya menghadap ke tujuh anak manusia yang kini tertidur pulas.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Baguslah," ucap Oag lalu memutar kursinya kembali menghadap ke depan di mana persinggahan terakhir planet yang terhubung dengan portalnya sudah berada di depan mata.


"Oag. Titik koordinat menuju ke planet leluhur sudah ditandai. Kita bersiap terbang ke luar angkasa," ucap pilot menginformasikan.


Oag mengangguk. Para alien tersebut terlihat tegang. Penjelajahan ke luar angkasa demi bisa bertemu dengan makhluk sejenisnya membuat para alien itu tak sabar untuk segera pulang ke kampung halaman.


"Kita bersiap meluncur. Dalam hitungan mundur. 10, 9, 8 ...," ucap pilot yang membuat Oag menajamkan mata menatap jendela di depannya saat pesawat yang ditumpanginya mulai mendaki dengan pesat. "3 ... 2 ... 1, meluncur!"


WUSS!!


Pesawat meluncur dengan cepat menuju ke atas langit meninggalkan planet terakhir yang terhubung dengan portal. Oag dan kelompoknya hanya pernah menjelajah sampai ke planet tersebut.


Sebuah planet di mana misi level 6 dilakukan ketika anak-anak terlempar ke dimensi lain. Ternyata, planet itu memiliki keunikan tersendiri karena campur tangan teknologi ikut serta di dalamnya.


Kamera pengawas Oag tersebar di seluruh planet yang berhasil mereka kuasai demi mensukseskan permainan Maniac ciptaannya.


Oag dan para ilmuwan melakukan penelitian di planet tersebut yang dinyatakan sebagai planet mati atau tak ada makhluk hidup tinggal di dalamnya.


Planet tersebut tandus dan tak bisa dihuni. Namun, Oag dan kelompoknya berhasil membuat planet tersebut untuk ditinggali, tapi hanya untuk jenis makhluk yang dinyatakan gagal saat penciptaan rekayasa genetik.


Akan tetapi, hasil penelitian yang dinyatakan berhasil akan diterapkan di planet-planet lain yang memiliki kehidupan.


Oag sengaja membuat anak-anak yang ikut dengannya dalam pengaruh hypersleep. Pin-pin yang terpasang di tubuh mereka, membuat anak-anak itu seperti mati suri.


Semua sistem dalam organ tubuh dilemahkan sehingga tubuh tak bekerja maksimal seperti ketika manusia dalam keadaan normal.


Rasa lapar, haus, dan ingin buang hajat mengalami penundaan selama perjalanan hingga tiba di planet yang dituju.


Selain itu, makanan manis yang diberikan oleh Oag dari planet permen, membantunya untuk memberikan nutrisi pada anak-anak selama tertidur.


Hingga akhirnya, perjalanan panjang yang membutuhkan waktu hampir 30 hari itu⁠—jika disamakan dengan masa di Bumi⁠—berakhir.


Mata Oag dan para alien yang ikut dengannya melebar saat mendengar tanda peringatan jika titik koordinat yang mereka tuju berbunyi nyaring.


"Itukah ... planet leluhur kita?" tanya salah satu alien dengan corak merah tampak kagum.


"Indah sekali," sahut alien lain sejenis.



"Akhirnya ... kita di rumah," ucap Oag dengan rasa haru menyelimuti hatinya.


Para alien tersebut merasa senang. Oag yakin jika informasi yang diberikan oleh makhluk dengan spesies campuran kala itu di Palung Mariana benar adanya.


Planet yang didominasi warna biru itu juga memiliki beberapa bulan yang mengelilinginya. Bahkan, terlihat sebuah bulan seperti memiliki pilar layaknya pemancar, tapi tidak aktif dan sudah ditinggalkan.


Planet tersebut juga dekat dengan sebuah bintang yang bercahaya terang layaknya matahari. Namun, Oag yakin jika mereka berada di sisi lain dari tata surya yang berbeda.


Perlahan, pesawat mulai memasuki atmosfir planet tersebut. Oag belum tahu ke mana tujuan dari persinggahannya karena koordinat yang diberikan oleh leluhurnya dari Bumi hanya sampai ke planet tersebut.


"Cari tempat aman untuk mendaratkan pesawat. Cek gravitasi, kadar oksigen, dan cuaca di planet ini. Kita awam dan tak tahu apa pun tentang kampung halaman ini," tegas Oag serius saat pesawatnya mulai menembus gumpalan awan tebal.


"Baik, Oag," jawab keempat alien tersebut yang sigap untuk mengoperasikan tombol dari tempat mereka duduk.

__ADS_1


Mata Oag menajam saat pesawatnya belum melihat daratan untuk mendarat. Jantung alien itu berdebar dan tak sabar untuk segera menginjakkan kakinya ke planet baru tersebut.


Hingga tiba-tiba, "Aduh ... lapar," keluh Pasha yang membuat para alien langsung menoleh ke arah bangku tempat anak-anak tertidur.


Pasha mengelus perutnya meski matanya masih terpejam. Kening Oag berkerut karena tak menyangka jika anak-anak itu bangun lebih cepat satu hari dari perkiraannya.


"Awas! Gunung!" teriak Pasha yang membuat mata para alien melebar seketika saat mereka menghadap ke depan.


Suara peringatan akan terjadinya tabrakan terdengar nyaring dan membangunkan semua anak-anak dari pengaruh hypersleep.


"Menghindar!" seru Oag lantang dari tempatnya duduk.


"AAAA!" teriak anak-anak histeris saat melihat pesawat yang mereka tumpangi akan menabrak sebuah gunung yang diselimuti oleh salju pada bagian atasnya.


Pilot berusaha untuk menghindar, tapi ....


BRAKKK!!


"AAAAA!" teriak anak-anak lagi saat mereka merasakan jika badan pesawat menghantam tubuh sisi kanan gunung dan membuat benda terbang tersebut berputar-putar di udara.


Oag dan para alien ikut tegang. Pilot dan para awak pesawat termasuk Oag berusaha untuk menstabilkan laju pesawat mereka lagi.


Hingga akhirnya, SRAKKK!! BYURR!!


"AAAA! Kita tenggelam!" seru Jimmy panik ketika pesawat mereka tercebur ke dalam genangan air yang berlimpah seperti lautan.


Namun, para alien itu tampak biasa saja menanggapi hal itu. Saat semua anak ketakutan dan panik, tiba-tiba saja pesawat tersebut perlahan naik ke permukaan.


Wajah tegang memudar seketika saat permukaan dari air tersebut terlihat berikut keindahan alam di sekitarnya.


"Bagaimana kondisi pesawat?" tanya Oag seraya melihat tanda merah berkedip pada tampilan layar di belakang sandaran duduk alien bercorak merah di depannya.


"Sayap sisi kiri retak, tapi bisa diperbaiki. Jangan khawatir," jawab alien bercorak merah selaku teknisi.


"Baik, Oag."


"Woah ... kita di mana?" tanya Oscar sampai melongo ketika jendela di sisi kanan kiri pesawat terbuka.


"Kita sudah tiba di tujuan akhir. Planet leluhurku," jawab Oag santai saat pesawat yang ditumpanginya melaju di atas permukaan air seperti kapal.


Wajah Jubaedah dan lainnya berbinar saat melihat keindahan planet tersebut. Pesawat berubah menjadi kapal untuk sementara waktu. Benda mengapung itu menjelajah tepian pulau untuk memindai sekitar.


"Bagaimana?" tanya Oag saat melihat kru pesawatnya sedang mencari tahu keadaan alam di planet tersebut.


"Planet ini memiliki oksigen, Oag. Kita dan para manusia bisa tinggal di sini. Hanya saja, gravitasi di tempat ini sedikit berbeda. Jika disamakan dengan wilayah yang pernah kita kunjungi sebelumnya, mungkin bisa dibilang seperti di Bulan," jawab alien bercorak merah menjelaskan.


"Pakaian yang dikenakan anak-anak bisa menyesuaikan dengan gravitasi sekitar. Itu bukan masalah besar. Laporan lain," ucapnya tenang.


"Kandungan air di lautan ini juga memiliki kadar garam yang tinggi. Namun, pemindai menganalisis dari gumpalan awan di atas langit jika terdapat mineral yang terkandung di dalamnya. Hujan diperkirakan turun di semua wilayah. Batuan di daratan mampu menyaring dan mengubah elemen dalam tiap tetesan air hujan untuk menjadi air murni yang bisa kita minum termasuk para manusia," imbuh alien bercorak merah di barisan kursi kedua sisi kanan Oag duduk.


"Bagaimana dengan sumber makanan?" tanya Oag seraya melihat keadaan sekitar dari balik jendela.


"Pemindai melihat ada banyak spesies yang belum pernah dijumpai dan diteliti oleh kita sebelumnya. Namun, ada beberapa jenis yang sudah dikenali oleh database dan bisa kita konsumsi. Termasuk penghuni laut di bawah pesawat kita. Jenis ikan-ikannya bisa kita makan dan sudah tercatat dalam database. Hal ini membuktikan jika leluhur memang pernah kemari sebelumnya karena ada data-data yang sudah dimuat," sambung alien dengan corak merah duduk di bangku tengah depan Oag pada barisan kedua.


Oag tersenyum tipis. Ia merasa jika planet itu memang tempat kelahirannya. Pesawat yang mengapung di atas lautan itu terus mengitari bagian luar pulau.


Terdapat pulau-pulau lainnya dengan keanekaragaman bentuk dan kondisi iklim. Meski demikian, baik alien jenis Oag atau para manusia bisa hidup di sana.


Saat semua orang sedang mengagumi keelokan planet tersebut, tiba-tiba terdengar suara raungan besar dari dalam hutan di sebuah pulau dengan warna hijau menyejukkan mata.

__ADS_1


"Apakah ada raksasa? Suaranya besar sekali," tanya Jimmy terlihat takut seketika.


"Pindai asal suara itu," titah Oag.


Alien yang duduk di bangku paling kiri mengangguk siap dan segera mencari tahu asal suara tersebut.


"Ditemukan," ucapnya mantap.


Pilot terlihat sigap saat mengarahkan kemudi ketika petunjuk arah diberikan oleh alien yang duduk di belakangnya.


Pesawat bergerak ke sisi kanan dari pulau yang sedang mereka jelajahi bagian luarnya. Hingga tiba-tiba, sebuah pergerakan besar terlihat dari balik rimbunan pepohonan.


"Apa itu? Seperti ada hewan besar di dalamnya. Dinosaurus?" tanya Hihi dengan mata membulat penuh.


"Kita bersiap. Tepikan pesawat," titah Oag.


Pilot segera menepikan pesawat mereka yang kini berubah menjadi layaknya kapal karena memiliki pelampung pada bagian bawah.


Dorongan jet dan baling-baling tambahan di bagian bawah pesawat membantu benda itu melaju cepat serta mampu bermanuver di atas air.


"Kalian, turun denganku," pinta Oag seraya menekan sebuah tombol dari samping dudukkannya sehingga sabuk pengaman di tubuh anak-anak itu terlepas secara otomatis.


"O-oke," jawab Pasha gugup.


Anak-anak berdiri berjejer di belakang Oag terlihat tegang. Mereka diberikan sebuah tas dan juga helm transparant selama menjelajah.


Pakaian mereka tertutup rapat karena Oag masih khawatir jika cuaca di planet tersebut masih belum bersahabat dengan anak-anak manusia tersebut.


"Gravitasi sudah disesuaikan dengan pakaian mereka, Oag. Siap ditugaskan," ucap alien corak merah dari tempatnya duduk.


"Bagus. Segera perbaiki pesawat selama aku menjelajah," tegasnya berdiri tegap.


"Baik, Oag," jawab empat alien tersebut serempak.


Anak-anak terlihat tegang karena kali ini misi mereka berbeda dari sebelumnya.


"Lihat jam tangan di pergelangan kiri kalian," tegas Oag yang berdiri gagah menunggu pintu di buka.


"Ya. Ini apa fungsinya, Om Oag?" tanya Jubaedah seraya melirik jam tangan sejenis di pergelangan tangan kawan-kawan lainnya.


"Jika jam tangan itu bergetar dan lampu merah menyala, itu berarti kalian dalam bahaya. Segera kembali ke pesawat. Jangan khawatir tersesat karena seluruh perlengkapan yang kalian kenakan sudah terkoneksi dengan sistem di pesawat begitupula para petugas," terang Oag.


"Oke, oke. Lalu ... apa lagi?" tanya Jubaedah sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Jangan berisik dan jangan berulah. Ini bukan wilayah kekuasaanku. Kita tamu. Tunjukkan sopan santun kalian seperti yang dilakukan oleh para manusia di Bumi," jawabnya melirik Jubaedah tajam.


"O-ke," jawab Jubaedah gugup.


PIP! GREKK!


Akhirnya, pintu besi pada bagian belakang pesawat terbuka. Wajah anak-anak itu berubah ceria saat melihat keindahan sesungguhnya dari planet tersebut.


Oag melangkah lebih dulu sebagai pemimpin jalan. Sedang empat alien lainnya, menunggu di pesawat untuk mengamankan tim yang berada di lapangan dari jarak jauh sekaligus memperbaiki pesawat.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



uhuy makasih tipsnya. lele padamu. kwkwkw😆


__ADS_2