MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
HAMPIR TEWAS*


__ADS_3


Sedang di tempat Mandarin berada.


"Oke. Aku ... sendirian, dan kini ... ada sebuah planet besar di depan mataku. Lalu ... ada burung, dan ... gerbang atau entahlah itu disebut apa. Intinya ... AKU TAK TAHU BERADA DI MANA!" teriak Mandarin pada akhirnya usai ia mencoba merangkai kata-kata dan menggunakan logikanya.


Mandarin tampak kesal. Setelah ia terpisah dengan kawan-kawannya karena sebuah badai, pemuda itu mencoba untuk menyusuri sekitar.


Namun, tempat itu seperti tak memberikan petunjuk apa pun untuknya. Mandarin kini menemukan sebuah gerbang batu dan memasuki wilayah di seberang seolah tak peduli akan bahaya apa pun yang ditemuinya nanti. Mandarin seperti pasrah pada takdirnya.


"Tak perlu di sini, semua orang pasti mati," ucapnya pesimis seraya mengayunkan pedang Silent Gold peninggalan sang ayah tanpa laser menyala.


Beruntung, perlengkapan dalam tas pemuda itu berhasil ia selamatkan karena terkait kuat saat digendong.


Mandarin terlihat cuek dan tak sadar jika ia sebenarnya sedang di awasi dari balik kabut tebal. Mandarin terus melangkah hingga ia melihat cahaya di kejauhan.


Seketika, ia merasakan sebuah harapan datang. Mandarin segera berlari kencang menuju ke arah cahaya tersebut, tapi saat sudah dekat, "Wow!" serunya lantang dan langsung menghentikan laju larinya seketika.


Mata Mandarin melebar saat melihat seekor makhluk seperti kucing, tapi dengan wujud tak biasa.


Mandarin menelan ludah dan tangannya yang menggenggam pedang dengan sigap mengarahkan ke kucing-kucing berbulu putih.


Hewan-hewan bertanduk dan memiliki cakar layaknya burung pemangsa itu mengepungnya, hingga pemuda tersebut terperangkap.



"Oke, oke. Firasatku tak bagus karena kalian seperti jenis hewan karnivora. Jadi ... berniat untuk memakanku? Kita lihat saja, apakah kalian bisa mencabikku dengan kuku-kuku tajam mengerikan itu," ucap Mandarin seraya berputar perlahan dan mengarahkan pedangnya ke delapan kucing aneh yang membidiknya.


"EERRR ... MIAW!" erang salah satu kucing saat ia tiba-tiba melompat ketika Mandarin memunggunginya.


Praktis, pemuda itu terkejut karena hewan itu berhasil naik ke atas ranselnya.


"Agh!"


Mandarin berputar dan berusaha mengambil hewan tersebut dengan tangan kirinya, tapi cakar hewan itu malah mencabik kulit tangannya.


"Arghhh! Aggg!" erang Mandarin langsung mendapatkan luka di punggung tangan.


Pemuda itu merintih kesakitan. Terlebih, kucing-kucing buas lainnya langsung menerkamnya hingga tubuh Mandarin tertutup oleh hewan-hewan itu.


"MIAW!"


KRAUK!


"HARGHHH!" erang Mandarin saat gigi-gigi tajam makhluk-makhluk keji itu menggigit tubuhnya yang tak berlapis kain tebal.


Mandarin berdarah dengan luka robek dan cakaran di beberapa bagian tubuh. Mandarin kesulitan melawan karena tangannya yang menggenggam pedang dilukai hingga senjata tajam itu terlepas dari genggamannya.


BRUKK!


"Agg! Harghhh!"

__ADS_1


Mandarin mengerang dan kini bergulung-gulung di tanah. Ia mencoba untuk melepaskan hewan-hewan yang berambisi untuk memangsanya.


Saat Mandarin merasakan kesakitan luar biasa di tubuhnya, tiba-tiba ....


"Heyah!"


DUAKK!!


"Maw!" rintih salah seekor kucing bertanduk saat sebuah batu mengenai tubuhnya.


Kucing itu langsung menoleh saat menyadari ada manusia lain yang menyerangnya.


"Pergi!" teriak remaja bertubuh gemuk yang terlihat tak takut saat melempari kucing-kucing itu dengan batu dalam genggaman.


Mandarin yang tak melihat jika ada orang lain datang menolongnya, tetap berusaha melepaskan cakaran kucing-kucing bengis yang menancap di tubuhnya.


DUAK! DUAK! DUAK!


"Didi! Sasa! Serang!" seru Vadim lantang seperti mengomandoi sesuatu yang terlihat berlari kencang dari balik kabut.


"Rarrr!"


Seketika, muncul dua hewan seperti rubah dengan corak warna berbeda. Mereka berbulu tebal dan terlihat halus, serta memiliki tanduk di kepala.


Vadim mengambil pedang milik Mandarin dan menggunakannya untuk mengusir kucing-kucing bertaring itu.


"Aku tak segan melukai kalian! Kucing-kucing jahat!" teriak Vadim marah dan mulai mengayunkan pedang tajam itu ke arah kucing-kucing tersebut.


SRETT!


Kucing itu langsung ambruk dan berlari menjauh dengan darah berwarna kuning menetes dari lukanya.


Tampaknya, serangan Vadim dan dua makhluk penyimpan cadangan jiwa berhasil mengusir para kucing-kucing bermata kuning itu.


"Yeah! Pergi sana! Awas saja jika berani muncul lagi! Akan ku ... ku ... kugoreng kalian untuk cemilan makan malam!" serunya mengancam, tapi bingung sendiri dengan ucapannya.


Mandarin yang terluka parah hingga tubuhnya berdarah, tergeletak dengan napas tersengal dan tubuh gemetaran menahan sakit luar biasa.


"Mandarin!" panggil Vadim panik dan segera berlari mendatangi sahabatnya. "Oh! Bagaimana ini? Mandarin," tanya Vadim ketakutan dan malah menangis karena melihat kawannya sekarat.


"Vadim ... kaukah itu?" panggil Mandarin dengan mata sayu karena sudah kehilangan energi.


"Hiks, jangan mati, jangan tinggalkan aku," jawabnya langsung menangis sedih.


Mandarin tersenyum tipis dengan bibir mulai mengering. Mandarin berusaha untuk bertahan, tapi ia tak bisa bergerak karena sakit yang dideritanya.


"Jika aku mati, aku ... akan hidup lagi. Jangan khawatir, aku masih menyimpan setengah nyawaku di tubuh seekor hewan," jawabnya lirih dengan mata terpejam.


Namun, Vadim hanya bisa menangis. Ia tetap tak mau ditinggal sendirian. Dua hewan penyimpan cadangan nyawa milik Vadim dan Pasha berhasil mengusir para kucing.


Dua makhluk cantik itu mendatangi tubuh Mandarin yang tergolek lemas.

__ADS_1


"Didi?" panggil salah satu makhluk yang melihat tuannya memeluk Mandarin dengan hujan air mata.


Tiba-tiba saja, makhluk itu menjilat luka di tangan Mandarin. Vadim yang terlarut dalam kesedihan, tak menyadari jika liur dari hewan itu ternyata bisa menyembuhkan luka.


Hewan milik Vadim dan Pasha menjilat seluruh luka di tubuh Mandarin hingga semua darah tersebut menghilang. Luka robekan bahkan kembali tertutup.


Perlahan, napas Mandarin mulai tenang tak memburu lagi. Praktis, Vadim panik dan langsung menatap wajah kawannya lekat, tapi seketika, keningnya berkerut.


"Eh? Lukamu?" celetuk Vadim langsung menghentikan air mata.


Vadim lalu menoleh ke arah dua makhluk penyimpan cadangan jiwa yang menjulurkan lidah seraya menjilati telapak kaki mereka.


Vadim menatap luka di wajah Mandarin yang perlahan menutup dengan bekas liur di sana.


"Oh! Apakah ... kalian yang melakukannya? Kalian menyembuhkan Mandarin?!" tanya Vadim sampai melotot.


"Didi?" panggil makhluk berbulu lebat tersebut.


"Hahaha! Kalian hebat! Ini sungguh ajaib! Terima kasih!" seru Vadim senang dan langsung menggendong dua hewan itu dalam pangkuannya.


Dua makhluk tersebut tampak gembira karena ikut menjilati wajah Vadim yang masih basah karena air mata. Vadim menurunkan dua hewan itu kembali ke tanah dan menatap Mandarin lekat.


"Mungkin, ia harus beristirahat. Kalau begitu, kita pergi ke tempat yang aman," ucap Vadim seraya melihat sekitar.


Mandarin yang masih lesu, diminta berdiri. Namun, Mandarin yang bertubuh lebih tinggi darinya, membuat Vadim kesulitan untuk memapah.


Hingga akhirnya, Vadim nekat menyeret Mandarin dengan tas ransel ia jadikan alas punggung kawannya itu.


"Hehe, maaf ya, darurat," kekehnya merasa bersalah.


Mandarin yang seperti orang setengah sadar, terlihat biasa saja ketika Vadim menarik pundaknya yang diikat dengan tali menyusuri jalanan berkabut.


Dua hewan penyimpan cadangan jiwa, berjalan di samping kiri dan kanan Mandarin seperti melindunginya. Vadim sepertinya telah menemukan tempat aman untuk melindungi mereka di wilayah tak dikenal itu.


Sebuah dimensi lain yang berbatasan dengan wilayah berkabut dimasuki olehnya dengan cara, hewan penyimpan cadangan nyawa miliknya naik ke pundak.


Mandarin berhasil masuk karena hewan milik Pasha naik ke atas dadanya. Vadim langsung merebahkan diri di atas rumput di mana wilayah itu tampak asri dengan cahaya terang serta udara sejuk menenangkan jiwa.


"Hah ... lega," ucapnya dengan senyum terkembang menatap langit yang berwarna-warni seperti aurora. "Kita istirahat dulu, Mandarin, seraya menunggu kausadar dan pulih," ucap Vadim lalu memejamkan mata perlahan terlihat lelah.


Dua hewan penyimpan cadangan nyawa ikut merebahkan diri dengan gaya imutnya. Mandarin terlihat nyaman dengan kondisinya sekarang. Dua anak manusia itu tertidur di atas rumput hijau di sebuah wilayah tak dikenal.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Uhuy makasih tipsnya😍Lele padamu💋


Yang lain ditunggu sedekahnya ya. Yg gak bisa ngetips, jangan lupa like dan play audio book rekaman lele di novel Vesper karena secara tak langsung, kalian kasih tips di sana. Sistem menilai dari jumlah putar tiap epsnya.


__ADS_2