MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
ALIEN BAJAK LAUT*


__ADS_3

Serena yang merasa bersalah karena sudah membuat sang kekasih tewas, membawa jasad Gibson ke permukaan. Ia bermaksud untuk menguburkannya di pulau tengkorak itu.


Serena meletakkan tubuh Gibson di batuan karang dekat tepian dan menunggu matahari datang agar sosoknya bisa kembali.


Dengan wujud mermaid, ia bisa bernapas di daratan meski tak lama, tapi dengan wujud monster air, ia tak bisa berada di permukaan.


Wujud monster air Serena sangat rapuh jika berada di daratan. Ia akan mati kehabisan udara dan terik matahari yang akan mengeringkan tubuhnya dengan cepat.


Saat Serena dirundung kesedihan di dalam air, tiba-tiba ia melihat pergerakan dari permukaan. Wanita ikan itu mendengar suara seorang laki-laki yang terdengar panik.


Serena mencoba mengintip dengan mengeluarkan kepalanya dari air. Betapa terkejutnya, saat ia melihat Gibson kembali bangun dan terlihat takut akan sesuatu.


Pemuda itu langsung berdiri dan merangkak menaiki batuan karang menuju ke hutan seperti ingin menyelamatkan diri.


"Oh, Gibson ...," ucap Serena lirih terlihat bahagia karena kekasihnya selamat.


Padahal, wanita ikan itu sangat yakin jika pemuda tersebut tewas karena serangannya. Serena kembali menyelam dan tak sabar menunggu esok hari di mana ia pernah mengatakan pada Gibson untuk menemuinya di pantai.


Napas Gibson tersengal. Ia terlihat begitu ketakutan karena teringat akan kejadian terakhir yang menimpanya.


Pemuda itu terus berlari memasuki hutan gelap hingga akhirnya menghentikan langkah dan menyender pada sebuah batang pohon.


"Oh, aku ... aku masih hidup. Apakah ... aku tadi mati lalu hidup lagi?" tanyanya bingung dengan tubuh basah kuyup.


Gibson berusaha untuk menenangkan hatinya. Ia akhirnya bisa kembali berpikir jernih seraya melihat sekitar.


Gibson lalu kembali melangkah menuju ke tempat yang lebih tinggi. Ia melihat di atas bukit jika lautan luas masih terhampar di sekelilingnya.


"Ini masih malam. Dan ... agh, siaL. Aku lapar," ucapnya mengeluh seraya memegangi perutnya yang keroncongan.


Gibson lalu mencoba menyusuri sekitar pulau untuk mencari makanan di mana ia juga tak yakin, makanan yang akan ditemukannya nanti bisa membuatnya tewas atau tidak.


Hingga akhirnya, ia tiba di sisi lain dari pulau tersebut. Seketika, Gibson menghentikan langkah.


Ia mendengar ada suara di bawah kakinya memijak, seperti orang berbincang. Gibson tengkurap dan meletakkan telinganya di atas lantai seperti batuan karang itu.


"Oh! Ada seseorang di bawah sini, tapi ... bagaimana masuk ke dalam?" tanyanya bingung karena ia hanya melihat batuan karang di sekitar.


Gibson kembali bangkit dan mencoba mendatangi tempat yang belum ia jelajahi. Rasa laparnya tergantikan oleh keingintahuannya yang besar.


Saat ia memasuki hutan, tiba-tiba, "Woah!" serunya panik ketika melihat seekor makhluk sedang melintas di depannya dan hampir menabraknya.



Mata Gibson terbelalak lebar. Makhluk itu ikut menghentikan langkah saat menyadari jika ada makhluk lain di dekatnya.

__ADS_1


Makhluk yang berjalan dengan dua kaki dan dua tangannya itu mendekati Gibson seraya menyuarakan sebuah bahasa yang tak dipahami pemuda itu.


Gibson menelan ludah dan terus berjalan mundur meski matanya terkunci pada sosok itu. Hingga tiba-tiba, BRUKK!


"Hah?!" pekiknya langsung membalik badan. Mata Gibson makin melebar hingga mulutnya menganga ketika mendapati makhluk dengan jenis serupa, tapi warna corak berbeda karena sedikit keunguan menunjukkan gigi runcingnya. "AAAA!" teriaknya histeris.


Ternyata, teriakan Gibson terdengar oleh Serena. Duyung itu tampak panik dan berusaha untuk mencari tahu di mana keberadaan kekasihnya berada.


Serena mencoba berenang di bawah pulau dan menemukan sebuah terowongan menuju ke sebuah tempat. Serena terus berenang hingga ia melihat sebuah kapal yang berlabuh dalam gua.


Sayangnya, Serena yang takut dengan kapal milik manusia karena memiliki sejarah buruk ketika kaumnya pernah menghuni Bumi sebelumnya dan harus berhadapan dengan para manusia keji itu, membuat gadis ikan tersebut terpaksa meninggalkan gua.


Serena yakin, jika Gibson bertemu dengan para bajak laut yang mengendarai benda terapung tersebut. Serena tak ingin traumanya di masa kecil dulu akan merenggut nyawanya.


"Selamat tinggal, Gibson," ucapnya terlihat sedih dan berenang menjauh dari pulau tengkorak tersebut.


BRUKK!!


"Hah! Hah! Hah!" engah Gibson ketakutan saat dirinya dibawa oleh para alien itu ke sebuah kapal yang dilihat oleh Serena dalam gua.


Gibson merangkak di atas geladak kapal dan melihat ada banyak makhluk dengan berbagai jenis sedang menatapnya tajam.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Capt! Kami menemukan anak manusia ini di hutan," ucap alien bercorak merah seraya mengelilingi pemuda tersebut.


Gibson mematung, tapi matanya tertuju pada makhluk yang tampak bercahaya dalam kegelapan malam.



Makhluk yang terlihat seperti tak memiliki tangan itu memerintahkan sesuatu kepada alien lainnya.


Seketika, tubuh Gibson terangkat saat salah satu alien menggunakan tangannya untuk mengangkat tubuhnya tinggi.


Gibson panik, terlebih ketika ia harus meminum sejenis ramuan yang tampak tak menjanjikan.


"Erghh! Tidak! Aku tidak mau meminumnya! Lepaskan aku!" teriaknya memberontak, tapi tangan alien lainnya dengan sigap membuka rahang Gibson kuat hingga pemuda itu tak berkutik. "Ohok! Ohok!"


Alien bertangan empat itu langsung menurunkan tubuh Gibson ketika pemuda itu sudah menelan habis cairan berwarna biru yang dituangkan ke mulutnya. Gibson batuk-batuk dan tersedak hingga wajahnya merah.


"Anak manusia. Siapa namamu?"


Praktis, Gibson langsung menaikkan pandangan. Ia terkejut karena kini mengetahui ucapan dari alien tersebut.


"Gi-Gibson. A-aku tahu yang kaukatakan. Apakah ...," jawab Gibson lalu melihat botol kosong yang sudah diminumkan padanya.

__ADS_1


"Kaupintar. Kau sendirian? Di mana kawan-kawanmu?" tanya alien bercahaya tanpa tangan itu.


"A-aku terpisah dengan mereka. Ka-kalian siapa?" tanya Gibson mulai tenang meski ia masih dalam posisi seperti berjongkok di atas lantai kapal.


"Kami bajak laut," jawab alien itu yang membuat mata Gibson melebar.


"Bajak laut?" tanya Gibson mengulang, tapi keningnya berkerut.


"Kami tahu yang kaupikirkan, Anak manusia. Kau pasti berpikir, jika bajak laut itu adalah orang-orang seperti kalian dengan pakaian aneh serta topi dan jenggot, dan ... benda-benda menjijikkan lainnya. Maaf, mengecewakanmu, tapi kau kini berada di planet Mitologi. Di sini, kami bajak lautnya," tegas seekor alien yang meneteskan lendir tiap ia bicara dari mulut bertaringnya.


Gibson menelan ludah dan tak berani berdebat. Hingga mata Gibson melebar saat ia menoleh dan menatap hewan-hewan yang ia kenali.


"Oh! Di mana kalian mendapatkan makhluk-makhluk itu?!" tanya Gibson menunjuk kurungan besi yang menyekap hewan-hewan penyimpan cadangan jiwa dan digantung dekat kemudi kapal.


Para bajak laut itu diam. Gibson terlihat bingung dan memberanikan diri berdiri meski ia dikelilingi oleh makhluk-makhluk menyeramkan itu.


"Hewan-hewan itu milik teman-temanku. Apakah ... kalian menemukan anak manusia lainnya? Jika ya, katakan mereka di mana? Kami harus segera berkumpul untuk menyelesaikan misi," tanya Gibson tegas.


"Anak ini punya nyali, Capt," ucap salah seekor alien dengan tanduk mencuat di kepalanya.


"Bawa mereka kemari," titah Kapten kapal tersebut.


Gibson tampak terkejut ketika seekor alien meninggalkan kerumunan dan berjalan layaknya siput, tapi bukan di lantai kapal, melainkan di tepi pagar dalam posisi miring karena kakinya berupa selaput itu bisa menempel meski mengeluarkan lendir.


Gibson gugup karena dipandangi oleh alien yang berjumlah 7 termasuk sang kapten. Hingga tiba-tiba, ia mendengar suara yang dikenalnya.


"Mandarin! Nico! Vadim!" seru Gibson langsung riang saat melihat tiga kawannya keluar bersama alien siput sedang membawa perabotan.


"Gibson!" seru ketiganya serempak dan langsung berlari, tapi CIITTT ... BRUKK!!


"Agh! Aduh ... sakit ...," keluh Vadim yang tiba-tiba tergelincir karena terkena lendir dari alien siput itu.


"Hei! Sudah kami bilang jangan jalan di lantai. Kau membuat kami jatuh berulang kali!" seru Mandarin kesal menunjuk alien siput itu.


Namun, makhluk itu tampak tak peduli. Ia malah berjalan di atas tubuh anak-anak yang menggelepar di atas lantai kapal hingga mereka terkena lendirnya.


"Iyekk! Kau menjijikkan!" teriak Nicolas hampir muntah karena kini tubuhnya tertutup lendir.


Para alien lainnya seperti tertawa karena tiga anak manusia itu tampak jijik. Gibson ikut jijik melihatnya dan memilih diam di tempatnya berdiri.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya untuk diriku lagi😆 Kwkwkw. Semoga up nya lancar. Amin. Selamat menikmati libur para LAP❤️


__ADS_2