
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Akhirnya, waktu yang dinantikan tiba. Anak-anak yang sudah dipilih oleh Oag untuk ikut misi mengunjungi planet leluhur siap dilakukan.
Mereka dikumpulkan di sebuah tempat yang berada tinggi di atas awan. Anak-anak itu mengenakan pakaian serba putih dan tertutup kecuali bagian kepala.
Seekor alien berbentuk seperti Oag berdiri tak bicara apa pun sejak menjemput mereka dari ruangan kebangkitan.
Jimmy dan lainnya asyik mengobrol karena bagi mereka, tempat itu terlihat unik dan langit berwarna-warni seperti pelangi. Angin tak terlalu kencang dan bersemilir lembut.
Tiba-tiba, NGEKK!!
"Oh!" kejut Tina saat lantai besi yang dipijaknya terasa seperti bergetar.
Anak-anak itu segera merapat ke sebuah tiang untuk berpegangan. Ternyata, sebuah pesawat muncul dari bawah lantai besi.
Dua buah pilar menyangga sebuah lingkaran besi yang terpasang pada lantai kayu bagaikan portal.
Mesin pesawat itu seperti sudah menyala karena lampu biru pada tabung baling-balingnya memancarkan sinar.
Hanya saja, masih ada beberapa kabel terjuntai seperti belum dirapikan. Namun seketika, kabel-kabel tersebut tertarik ke dalam pesawat pada bagian bawah.
Anak-anak yang terkejut hanya saling melirik dalam diam.
Saat Pasha dan lainnya mendekat untuk mencari tahu tentang pesawat tersebut, tiba-tiba saja bagian atas benda terbang itu terbuka.
Lapisan kaca pelindung membuat sosok Oag serta empat makhluk sejenis terlihat jelas. Hanya saja, alien yang ikut bersama mereka kali ini bercorak merah.
Hihi dan lainnya terlihat tegang saat mata para alien tersebut melirik mereka tajam. Para alien itu sudah duduk di bangku masing-masing.
Pada bagian belakang, terdapat tujuh buah kursi kosong yang diyakini anak-anak itu tempat mereka duduk.
"Segera masuk dan kita akan berangkat," tegas Oag yang suaranya terdengar di kepala mereka seolah alien itu bisa merasuki pikiran.
"Kau dengar itu?" tanya Oscar menatap kawan-kawannya lekat.
"Ya. Mungkin dia menggunakan semacam telepati yang terkoneksi dengan pin besi di pelipis kita ini," sahut Hihi dengan wajah lugunya.
Jubaedah dan lainnya mengangguk karena sepakat dengan pemikiran Hihi yang lebih muda dari mereka.
Anak-anak itu berjalan mendatangi bagian belakang pesawat saat diarahkan oleh seekor alien yang menjadi pemandu.
Tak lama, muncul sebuah anak tangga dari besi dengan pintu terbuka seperti mempersilakan awak pesawat untuk segera masuk.
Hihi tak terlihat takut dan melangkah lebih dulu. Jubaedah dan lainnya segera menyusul lalu duduk di bangku sesuai nama yang telah tertulis di sana.
Begitu semua anak bersiap, penutup bagian atas berupa kaca kembali tertutup. Jubaedah dan lainnya tampak tegang saat melihat sekitar di mana pesawat itu terasa sempit.
Seketika, portal warna biru berbentuk lingkaran di depan pesawat menyala terang. Terlihat sebuah wilayah di balik portal itu meski tak begitu jelas.
Pilot dengan corak warna merah seperti menyebutkan beberapa kode kepada seseorang melalui sambungan komunikasi.
__ADS_1
Anak-anak terlihat tegang dan berpegangan kuat pada sandaran tangan di kursi mereka karena merasakan deru mesin semakin kencang seperti siap untuk lepas landas.
Benar saja, "Woah!" seru Bobby sampai matanya melebar saat merasakan pesawat yang ditumpanginya melayang.
Pesawat itu masuk perlahan ke dalam portal. Mata semua anak melebar dan fokus pada jendela yang terbuka di bagian depan, samping kiri dan kanan badan pesawat tempat para alien itu duduk.
Namun, saat memasuki portal, mata mereka menyipit hingga terpejam karena silau warna biru yang terpancar.
Hingga akhirnya, cahaya terang menyilaukan itu sirna. Mata anak-anak terbuka perlahan.
"Oh! Aku ingat tempat ini!" seru Jimmy saat ia dan timnya pernah menjalankan misi di planet yang dipenuhi oleh ubur-ubur serta makhluk pemakan daging.
"Kalau tidak salah, ini misi level 2!" seru Pasha.
"Ya, Juby inget! Di sini kalau gak salah Teddy tewas!" serunya.
"Ya, kau benar!" sahut Tina yang membuat anak-anak lainnya ber-Oh karena baru mengetahui hal tersebut.
Pesawat terbang melintasi planet tersebut dengan kecepatan sedang menuju ke suatu tempat di sisi lain.
Anak-anak terpukau saat sisi samping kiri dan kanan pesawat terbuka sehingga mereka bisa melihat keindahan planet tersebut dari balik kaca.
"Cantik ya," ucap Hihi dengan wajah berbinar.
"Juby paling suka sama planet permen," sahut Jubaedah.
"Planet permen? Apakah ... itu planet yang kalian ceritakan bisa menyembuhkan luka?" tanya Oscar antusias.
Namun seketika, senyum Jimmy memudar. "Sayangnya, aku tewas di planet itu. Aku ditangkap oleh penyihir yang entah dia ingin mengambil apa dariku. Mereka sangat kejam dan mengerikan," ungkap Jimmy yang membuat wajah semua anak serius seketika.
"Para penyihir itu tak sepakat dengan permainan Maniac. Mereka terobsesi dengan perubahan wujud kalian. Oleh karena itu, menangkap mereka menjadi misi kalian saat itu. Siapa sangka, banyak diantara kalian yang berhasil. Selamat," sahut Oag dari tempatnya duduk yang ternyata ikut menyimak pembicaraan anak-anak tersebut.
"Apakah ... para penyihir itu ingin mengambil kemampuan perubahan kami?" tanya Tina menduga.
"Hem, begitulah," jawab Oag singkat dan masih menghadap ke depan tak menoleh ke kumpulan anak-anak itu.
"Pantas saja mereka sangat berambisi untuk menangkap kita!" sahut Pasha.
"Hihi takut. Apa kita akan berkunjung ke Planet Permen juga?" tanya Hihi berkerut kening.
"Sayangnya demikian," jawab Oag yang membuat Hihi seperti akan menangis.
"Jangan takut. Kak Juby akan lindungi Hihi. Selain itu, kita dilindungi sama om Oag," jawab Jubaedah yang membuat kening Oag berkerut.
"Om?" guman alien itu terlihat bingung.
Saat anak-anak masih asyik mengobrol menceritakan pengalaman selama menjalankan misi, tiba-tiba ....
"Oag, kita memasuki portal kedua," ucap pilot seraya menekan sebuah tombol warna merah di sampingnya.
Seketika, seluruh bagian pesawat kembali tertutup. Bobby sampai terkejut saat jendela di sampingnya tertutup.
Padahal, dia sedang melihat hamparan hutan warna merah muda di bawahnya dengan beberapa ubur-ubur terbang melayang di atas permukaan.
__ADS_1
Pesawat kembali memasuki sebuah portal berwarna biru menuju ke planet lainnya. Seketika, mata anak-anak itu melebar karena masih bisa melihat dengan jelas melalui kaca jendela depan pilot.
"Kita di planet permen!" seru Tina riang.
"Om Oag! Buka kaca jendelanya dong!" pinta Jubaedah saat pesawat mulai melintasi permukaan planet tersebut.
Para alien menahan tawa saat pemimpin mereka dipanggil oleh Jubaedah, dan malah ditirukan oleh anak-anak lainnya yang ikut memanggilnya dengan sebutan 'Om'.
Seketika, besi penutup jendela samping terbuka. Tampak jelas wajah Hihi, Oscar dan Bobby berbinar saat melihat indahnya planet yang dipenuhi oleh makanan manis.
"Oh, lihat! Tempat itu seperti sebuah perkampungan!" tunjuk Oscar ketika pesawat tersebut terbang secara perlahan seperti sengaja menunjukkan keaneragaman dari keindahan planet-planet yang mereka lewati.
"Sepertinya saat itu, kita belum sampai ke sisi ini ya?" tanya Tina, dan diangguki oleh anak-anak lainnya yang ikut dalam misi kala itu.
"Hei lihat! Ada hewan-hewan lucu berbulu!" seru Hihi menunjuk hingga matanya melebar.
"Itu Bubu! Eh, Juby gak yakin sih, cuma dia selalu bilang baba ... bubu ... begitulah," ucap Jubaedah berpikir.
"Mereka adalah Furnolomeius. Makhluk asli dari planet ini. Mereka berbulu, periang, tapi penakut. Suku Furnolomeius sebenarnya masih primitif. Mereka pemakan makanan manis. Hanya saja, makhluk-makhluk itu sedikit aneh. Mereka membangun rumah dengan makanan manis yang hidup dan tumbuh di sekitar dengan alami. Hanya saja, saat mereka lapar, mereka tak segan untuk memakan rumah sendiri. Hal itu terjadi berulang-ulang. Oleh karena itu, letak pemukiman suku Furnolomeius selalu berpindah. Mereka juga penjelajah, tapi semenjak para penyihir menguasai planet itu, mereka hanya berkutat di beberapa lokasi saja," ucap Oag menjelaskan.
"Tapi kan, kami sudah membasmi para penyihir itu," sahut Pasha.
"Ya, kalian benar. Oleh karena itu, suku Furnolomeius sangat berterima kasih. Mereka yang awalnya takut kepada manusia, kini sudah tak lagi. Kalian mengubah pola pikir mereka jika manusia itu tidak berbahaya," ucap Oag.
Wajah Jubaedah dan lainnya berbinar seketika.
"Bisa tidak kita singgah sebentar di planet ini? Aku penasaran," pinta Bobby penuh harap.
"Tidak bisa. Itu salahmu yang tak bisa bertahan sampai ke level ini," tegas Oag yang membuat wajah Bobby masam seketika. Jubaedah dan lainnya menahan senyum.
Namun tiba-tiba, Oag membuka sebuah kotak di samping kanannya. Mata anak-anak itu melebar ketika mendapati sekeranjang makanan manis ciri khas dari planet permen entah sejak kapan Oag menyiapkannya.
"Anggap saja cemilan sampai ke tempat tujuan. Jangan lupa, gosok gigi," tegas Oag saat membuat keranjang berisi makanan manis itu melayang dan mendatangi kursi tiap anak.
"Woah! Terima kasih, Om Oag!" seru Jimmy senang lalu mengambil sebuah permen berbentuk seperti tongkat di tangan kanan, dan tangan kiri sebuah cake.
Anak-anak lainnya melakukan hal yang sama. Mereka mengambil makanan yang disukai dan melahapnya dengan rasa nikmat luar biasa.
"Ini enak sekali!" seru Oscar sampai matanya berbinar.
"Jangan berisik dan nikmati perjalanannya," tegas alien itu saat membuat keranjang berisi makanan manis kembali ke kotak dengan isi sudah habis tak bersisa.
"Baik, Om Oag!" jawab anak-anak sumringah dengan makanan manis dalam genggaman dua tangan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Masih eps bonus dari play audiobook tapi udah yg terakhir ya😍
__ADS_1