
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Alat translator buatan ayahmu sangat hebat, Rex!" puji Vadim saat menggunakan benda itu sebagai salah satu fasilitas selama mengikuti jamuan.
Semua anak mengangguk setuju. Namun, ekspresi lain ditunjukkan pada lima anak Amerika yang terlihat sedih termasuk Oscar.
"Kalian kenapa?" tanya Boas heran.
"Sepertinya ... ingatan kami tak sebagus kalian tentang masa lalu. Maksudnya ... ketika Oma Vesper berjaya hingga ia jatuh sakit dan pada akhirnya meninggal. Kami tak pernah bertemu Vesper. Hanya pernah mendengar namanya," ujar Jimmy lesu—putera dari anggota Barracuda number 5.
"Aku juga tak pernah tahu jika beberapa dari paman-paman Barracuda diam-diam sudah memiliki keluarga dan anak. Aku tahunya saat kalian bercerita dan ayahku mengenali kalian. Sepertinya, orang tua kita memang menyimpan hal ini rapat-rapat," sahut Gibson. Jimmy dan Bruce mengangguk membenarkan.
"Kami pun tak saling mengenal sebelumnya. Namun, kita bertemu di Planet Mitologi. Mungkin sudah takdir," sahut Rocky—putera dari Martin dan Natalie. Anak-anak mengangguk sependapat.
"Ayahku memang jarang pulang. Ibu hanya mengatakan jika Ayah bekerja di kapal, tapi ... aku tak pernah tahu jika Ayah adalah seorang mafia," jawab Bruce berbisik selaku putera dari anggota Barracuda number 6.
"Namun, aku senang. Meskipun kita keturunan mafia, tapi Ayah bilang itu adalah profesinya di masa lalu. Setelah Oma Vesper tiada, orang-orang yang masuk dalam jajarannya kini menjadi warga sipil. Bukan penjahat yang melawan militer pemerintah lagi. Buktinya, kita hidup tenang tanpa gangguan selama ini. Benar kan?" imbuh Peter—putera dari Agent X. Anak-anak setuju dengan hal itu.
Padahal kenyataannya, tidak demikian. Para mafia senior itu sangat pintar dalam menyembunyikan kegiatan ilegal di hadapan publik, pemerintah bahkan keluarga.
"Aku saja tak menyangka jika ayahku malah orang kepercayaan keluarga Boleslav selama ini," timpal Oscar dengan wajah cemberut.
"Ya, aku bisa melihat saat beberapa orang dewasa tadi menyalami ayahmu. Mereka kaget karena katanya kau tak mirip dengannya. Maaf, bukan menyinggung soal ras. Mungkin karena ibumu berkulit hitam jadi tak ada yang menyangkanya," imbuh Czar.
"Bagiku nama ayahmu unik. Red," sahut Laika, dan anak-anak lain mengangguk setuju.
"Hanya saja, aku tak ikut saat proses penghapusan memori di Grey House. Ternyata Ayah melakukannya sendiri. Tega sekali," jawab Oscar terlihat sedih.
Semua anak diam dan seperti bisa merasakan kekecewaan dalam diri remaja gemuk itu.
"Aku pun demikian. Ayahku ternyata menghapus memoriku yang berhubungan dengan dunia seram itu. Bukankah sekarang kita sudah menjadi satu koloni? Bahkan, aku rasa ini bukan kebetulan. Nama para mafia itu dulunya Demon Heads dan memiliki 13 anggota dewan tertinggi yang menjabat sebagai pemimpin para mafia di suatu negara. Memiliki satu ketua dan yang kutahu, orang itu adalah Vesper, tapi sebelumnya ada banyak lagi," bisik Teddy.
"Oh ya? Kau tahu dari mana?" tanya Mandarin penasaran.
"Tadi saat aku mencari kamar mandi, aku tersesat. Aku tak sengaja masuk ke ruangan dan tempat itu seperti sebuah museum yang menyimpan banyak foto serta benda-benda unik lainnya. Aku menemukan sebuah buku bersampul hitam dan ada tulisan tentang itu. Saat aku berpikir untuk membawanya, kudengar ada suara orang berbincang masuk ke ruangan. Aku cepat-cepat keluar takut ketahuan," jawabnya berwajah tegang.
"Oh ... jadi kau yang menyelinap masuk? Kau beruntung karena teknisi sedang memperbaiki kerusakan pada sistem sensor otomatis detektor pengenal. Jika tidak, kau sudah tewas terpanggang dan membunyikan alarm di seluruh kastil. Jadi ... sudah tahu banyak ya?" sahut seseorang yang membuat anak-anak itu tersentak dan pucat seketika.
"A-Ayah," ucap Teddy gugup saat Dominic datang seraya membawa segelas wine.
"Jauh-jauh kau sengaja kuungsikan bahkan kututupi keberadaanmu dari para mafia lain termasuk Nyonya Vesper meski ia curiga padaku. Ternyata ... kau malah membongkar jati diri ayahmu sebenarnya," ucapnya dengan wajah datar. Teddy tertunduk.
"Percuma kaututupi. Mereka sudah tahu tentang kita," sahut Casilda seraya berjalan mendekat dengan seorang gadis manis seumuran Hihi yang digandengnya. Dominic tak lagi berucap. Ia memilih menghabiskan wine.
__ADS_1
"Mommy," panggil Teddy saat Ibu tirinya datang.
Casilda tersenyum seraya mengusap kepala anak lelaki dari hasil hubungan gelap Dominic dengan wanita Honduras. Dominic memilih untuk menikahi Casilda dan dikaruniai satu anak perempuan. Saat Ibu Teddy meninggal, Casilda meminta agar Teddy ikut tinggal dengan mereka. Namun, kehidupan mafia yang penuh ancaman, membuat Dominic enggan dan memilih puteranya tetap tinggal di Honduras untuk diasuh rekanan berikut puteri mereka. Namun, usai Vesper mendeklarasikan agar kekaisaran Demon Heads dan The Circle diakhiri, Dominic baru berani menunjukkan putera dan puterinya di hadapan para mafia.
"Oh ya, boleh kutahu? Aku tadi sempat mendengar cerita dari kalian. Hanya saja, jika kalian saling mengenal selama di luar angkasa sana, kenapa hal itu tak terjadi pada Neil, lalu ... putera dan puteri Tora lainnya, serta anak dari Sakura dan ... masih banyak lagi. Kenapa hanya kalian?" tanya Casilda penuh selidik.
"Awalnya, aku juga tak tahu jika Hihi adalah Serenity. Selama ini, aku tak pernah bertemu dengannya. Aku hanya tahu nama dan fotonya saja. Itu pun saat ia masih bayi," sahut Lazarus.
Casilda dan Dominic mengangguk pelan karena hal itu memang sengaja disembunyikan oleh keluarga Benedict dan Flame demi keselamatan anak mereka.
"Kami juga tak bertemu dengan mereka selama di Planet Mitologi. Kami saja bisa menjadi kelompok besar karena tak sengaja. Kami bergabung untuk menyelesaikan misi hingga tak terasa terkumpul banyak anak," sahut Rangga.
"Dari sekian ribu anak yang bertanding, hanya 13 yang lolos. Yakni aku, Vadim, Harun, Rex, Timo, Bara, Rangga, Boas, Mandarin, Ryan, Kenta, Lazarus, dan Czar," ujar Nicolas.
"Lalu ... Gibson, Teddy, Serenity dan lainnya?" tanya Dominic ikut menimpali.
"Mereka tewas saat menjalankan misi level," sahut Timo. Dominic dan Casilda terdiam selama beberapa saat.
"Tewas? Akan tetapi ... Teddy hidup berikut yang lainnya ada di sini. Mereka bukan hantu 'kan?" tanya Casilda terlihat bingung.
"Semua anak yang tewas dalam permainan di Planet Mitologi akan dihidupkan kembali di Bumi. Teman-teman yang meninggal dan tergabung dalam kelompok besar Demon Kids, masuk daftar yang kami minta agar ingatan selama di Planet Mitologi dipertahankan. Lalu ... ingatan yang sengaja kalian coba hapus dikembalikan," sahut Harun.
Casilda dan Dominic berwajah serius seketika. Mereka hanya mengangguk pelan entah apa yang dipikirkan. Namun, pada akhirnya dua orang dewasa itu beranjak seraya mengajak anak perempuan mereka setelah dirasa cukup mendengar kisah anak-anak tersebut.
Keesokan harinya usai pertemuan akbar.
Beberapa mafia akan kembali ke negara masing-masing setelah menikmati jamuan makan malam tanpa anak-anak. Mereka menginap semalam di Kastil Borka. Selain untuk mengenang Vesper, Kai, dan berkunjung ke makam para mafia besar yang dikuburkan di pekarangan Kastil, mereka juga menyempatkan untuk membahas bisnis tanpa melibatkan anak-anak. Sedang para Demon Kids, di mana mereka mendeklarasikan nama kelompok yang mirip dengan masa kejayaan Demon Heads, mengadakan pertemuan tertutup, meski kali ini Ayah dari Rocky—Martin—ikut serta karena melihat perubahan perilaku dalam diri anaknya. Martin antara percaya dan tidak percaya dengan cerita puteranya. Ia memilih untuk mengawasi dan tak ingin merusak imajinasi sang anak seperti saran dari sang isteri.
"Hem, jadi ... hadiah apa yang kalian minta kepada sosok berparas tampan bak malaikat itu?" tanya Martin terlihat santai yang duduk di sebelah Rocky seraya melihat kumpulan anak-anak yang duduk berderet pada meja panjang salah satu ruang pertemuan di Kastil Borka.
Anak-anak saling melirik. Mereka sudah berjanji untuk tak menceritakan lebih detail tentang petualangan di Planet Mitologi kepada orang dewasa lainnya, cukup pada Sandara saja.
"Aku meminta menjadi kaya raya di masa depan, Paman!" seru Ryan.
"Kau sudah kaya. Kau keturunan Giamoco. Kau tahu hal itu?" tanya Martin, dan Ryan mengangguk. Namun, Martin malah terkejut. "Kau tahu?" tanyanya mengulang seraya menatap Ryan lekat.
"Salah satu hadiah yang kuminta adalah, aku ingin tahu tentang ayahku Adrian Axton. Selama beberapa hari ini, mimpi-mimpi aneh datang padaku. Namun, aku cukup yakin jika itu adalah kenangan orang-orang yang mengenal ayahku. Aku tak menyangka jika ternyata, Ayahku ... ya begitulah," jawab Ryan terlihat bingung dalam mengutarakan.
"Ayahmu kenapa?" tanya Bara penasaran, termasuk Martin sampai menyipitkan mata.
"Ia sampai dijuluki Casanova karena memiliki banyak wanita. Namun, ia hanya mencintai ibuku Nandra. Hanya saja bagiku tetap aneh. Ayahku tak menikahi ibuku, tapi memintanya untuk melahirkanku. Ah, aku tak mau cepat-cepat dewasa. Kehidupan orang dewasa membingungkan. Aku sedikit menyesal meminta agar mengetahui ayahku Axton seperti apa. Namun, sudah kuputuskan. Aku akan menjadi pria hebat seperti Ayah Rohan. Jika dibandingkan, perilaku Ayah Rohan lebih baik ketimbang Ayah Axton," jawab Ryan dengan lincah berkisah.
Martin sampai melongo karena ia tak menyangka jika Ryan sampai tahu hal itu. Jantungnya malah berdebar. Ia menatap para remaja di depannya satu per satu terlihat serius seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Oia, kembali ke permintaan hadiah atas kemenangan kalian tadi. Kaya raya bukan? Memangnya ... setelah kalian menjadi orang sukses, kaya raya dan berkuasa, apa yang akan dilakukan?" tanya Martin penasaran.
Semua anak diam. Mereka ragu untuk mengatakan tentang bencana di masa depan. Para remaja itu malah saling melirik.
"Oh, Ayah! Bisa berikan kami nasihat? Baiknya ... saat kami dewasa nanti, usaha apa yang bagus agar perekonomian cepat stabil? Maksudku ... anggap saja ... terjadi bencana perang yang dahsyat. Orang-orang kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal. Mereka ketakutan dan kelaparan. Bayangkan saja, kami orang-orang kaya yang bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Menurutmu ... jenis usaha apa yang cocok kami lakukan untuk membantu para manusia yang kesusahan itu?" tanya Rocky menatap sang Ayah lekat.
Kening Martin berkerut. Ia ditatap tajam oleh para remaja yang seperti meminta pencerahan darinya.
"Hem. Banyak sektor usaha yang bisa dilakukan. Seperti ... ekspor-impor. Maksud Ayah, percuma memiliki persediaan pangan dan perlengkapan penunjang, tapi tak bisa didistribusikan. Dengan adanya fasilitas ekspedisi pengantaran barang-barang itu, semua wilayah bisa mendapatkan stok secara merata. Semakin banyak armadanya, semakin cepat pendistribusiannya," jawab Martin.
"Ah, ibuku memiliki usaha itu. Kalau begitu, aku akan menggeluti bidang itu saja," sahut Hihi, dan semua anak memberikan jempolnya.
Kening Martin makin berkerut. Pikirannya semakin berkecamuk karena melihat para remaja di depannya ini seperti sangat bersemangat untuk menata masa depan entah dengan tujuan apa.
"Lalu, kalau aku bagaimana, Ayah?" tanya Rocky seraya menggoyangkan lengan Martin.
"Kau? Mm ...," jawab Martin menggantung. Tidak mungkin kuminta Rocky untuk menjadi petani ganja. Aku sudah susah payah menutupi usaha ilegalku itu agar dia tak terkena imbas. Sialan, kenapa dengan anak-anak ini? batin Martin menggerutu.
Saat Martin dilanda kebingungan, Ivan Benedict masuk. Praktis, mata semua anak tertuju pada pria yang terlihat memiliki kharisma tersebut.
"Ayah!" panggil Lazarus.
Ivan mengembangkan senyuman sebagai jawaban. Namun, ketika Ivan menggerakkan dua tangannya dan muncul suara pada kalung di leher, semua anak tampak terkejut.
"Mm, jangan takut. Itu karena lidah ayahku terpaksa dipotong karena dulu memiliki penyakit. Ayahku dulu perokok dan peminum berat sehingga lidahnya harus dikorbankan agar tak menggerogoti organ lainnya. Namun, seorang ilmuwan jenius membuatkan kalung penerjemah ini. Kalung tersebut bisa membaca gerakan tangan dari bahasa isyarat yang dilakukan oleh ayahku," ucap Lazarus menjelaskan.
"Woah, itu keren, Paman!" puji Mandarin, dan Ivan tersenyum tipis.
Martin geleng-geleng kepala karena baginya, Ivan sangat pintar mengarang tentang lidahnya yang putus. Padahal, kenyataannya tidak demikian, tapi Martin memilih diam.
"Sepertinya kalian sedang membahas hal seru seperti melakukan rapat sungguhan. Apa yang kalian bicarakan? Aku bosan berurusan dengan orang-orang dewasa," tanya Ivan seraya menatap wajah para remaja itu satu per satu.
"Kalau begitu, Anda bergabung bersama kami saja, Paman! Kami butuh masukan. Anda 'kan orang hebat. Pasti memiliki banyak pengalaman usaha yang bisa dibagikan pada kami agar dapat diterapkan saat di masa depan," sahut Gibson dengan wajah gembira, tapi Ivan terlihat bingung. Pria berambut pirang itu melirik Martin, dan lelaki itu hanya menaikkan dua alisnya.
"Baiklah," jawab Ivan lalu duduk di samping puteranya—Lazarus.
Lazarus menjelaskan dengan detail tentang keinginan mereka untuk bisa menjadi pengusaha sukses di masa depan. Ivan terlihat kaget karena antusias dari sang anak karena hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Ivan merasa jika Lazarus sudah berubah tak seperti dulu lagi. Lazarus terlihat seperti dirinya ketika masih muda dulu, tapi tak terlibat dalam dunia hitam yang penuh dengan kekerasan. Lazarus lebih berwibawa. Cara bicara dan bersikapnya pun layaknya seorang bangsawan. Ivan tersenyum dengan rasa bangga dalam diam.
"Jadi ... menurutmu bagaimana, Ayah?" tanya Lazarus menatap Ivan lekat.
***
nulis apa ya~ bsk tamat gaes. makasih atas dukungannya selama ini. Lele padamu 💋
__ADS_1