
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Semua anak terpaku akan sosok yang tampak begitu kuat karena tubuhnya berotot, bertanduk dan garang.
Wujud seperti manusia, tapi memiliki mata tambahan di dahinya itu mulai melangkah perlahan menatap anak-anak manusia itu tajam.
"Kalian berteman dengan para makhluk dari Bumi?" tanya sosok itu dengan suara besarnya.
Praktis, anak-anak saling melirik karena bingung dengan pertanyaan tersebut karena tak tahu siapa yang dituju.
"Mm, siapa maksudmu?" tanya Rangga dalam wujud Minotaur.
"Kau! Kau, kau, kau, dan kau!" tunjuknya ke arah para makhluk mitologi di luar sel yang tak lain adalah anak-anak manusia. "Kalian para makhluk mitologi, tapi kenapa bisa berteman dengan para anak manusia? Apakah kalian memihak Oag? Oleh karena itu, kalian tak dihukum penjara seperti kami? Kalian penghianat!"
BRANGG!!
"Woah!" seru semua anak terkejut karena makhluk itu marah dengan suara menggelegar.
Rantai yang membelenggu pergelangan kedua tangannya sampai bergetar karena ditarik paksa.
Makhluk itu tampak marah, tapi sepertinya ia tak tahu jika para makhluk mitologi di depannya adalah anak-anak manusia yang bisa berubah wujud.
Saat Vadim akan menjawab, Gibson langsung menahannya. Hanoman itu melangkah maju tak terlihat takut di depan jeruji besi sebagai penghalang mereka berdua.
"Jadi ... kau pikir kami tak dipenjara karena memihak Oag? Memang kenapa? Apakah hal itu salah? Para anak manusia ini baik dan sangat bisa diandalkan," tegas Gibson seolah-olah ia memang serumpun dengan makhluk di depannya itu.
"Hahahaha!" tawa makhluk bertanduk itu yang membuat semua anak kembali terkejut. Gibson berdiri tegap menatap sosok besar itu tajam. "Oag pasti menjanjikan hal-hal menggiurkan pada kalian sehingga memihaknya! Oag itu bukan makhluk asli planet mitologi! Bahkan, dia itu dari planet lain, sama seperti para manusia Bumi. Pikiran mereka licik, hanya memikirkan kekuasaan, saling tikam, egois, dan sombong. Padahal, mereka tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kita! Lihatlah, mereka begitu kecil bahkan kita saja bisa memakan mereka!" seru makhluk itu yang terlihat begitu membenci manusia.
Semua anak tampak tegang mendengar penuturan makhluk besar itu.
"Apa kau tahu skema permainan Maniac?" tanya Gibson, dan makhluk itu mendengus keras, tapi mengangguk.
"Katakan. Aku ingin tahu. Apakah yang Oag katakan padamu denganku serupa atau tidak," pinta Gibson memancing.
Kening Laika dan lainnya berkerut. Sedang Lazarus yang paham, tersenyum miring dari tempatnya berdiri dengan wujud Centaur-nya.
"Anak-anak manusia lemah itu dituntut dalam permainan hidup dan mati hingga level 10. Mereka harus melawan para makhluk Mitologi terkuat seperti Hydra, Kraken, dan lainnya. Namun, dalam tiap level yang dimenangkan, mereka mendapatkan hadiah. Sedang kami? Itu tidaklah adil. Mereka mati, bisa dihidupkan kembali. Namun kami, jika sudah tewas tak lagi bisa dibangkitkan. Dari sini kita bisa melihat jika Oag memihak manusia! Dia tak memihak kaumnya yang jelas-jelas tinggal bersamanya di planet ini! Dan lihat yang ia lakukan. Semua makhluk yang tak sejalan dengan ideologinya akan dipenjara dan dihukum di tempat ini! Dialah monster sesungguhnya," geram makhluk itu yang membuat semua anak tercengang karena baru mengetahui hal tersebut.
Di markas Oag.
"Bagaimana ini, Jenderal? Oag masih dalam perjalanan kembali," tanya alien dengan tentakel warna merah menoleh ke arah satu-satunya manusia yang diberikan izin untuk memantau dan memberikan keputusan atas jalannya permainan.
__ADS_1
"Biarkan saja. Kita tak usah ikut campur. Biarkan anak-anak itu tahu. Mereka akan menjadi manusia dewasa suatu saat nanti. Momen seperti inilah yang dibutuhkan agar anak-anak itu bisa membuat keputusan meski terasa sulit," tegas sang jenderal dan para alien tersebut mengangguk paham.
Kembali ke Penjara Hades.
"Dia bilang, jika kita mati bisa dibangkitkan lagi. Apa aku tak salah dengar?" tanya Czar berbisik.
"Ya, aku juga mendengarnya dengan jelas. Jangan-jangan, yang diimpikan Jubaedah benar. Oh, ini sungguh melegakan," sahut Rex dengan wajah berbinar.
Gibson mengangguk pelan seolah usahanya untuk mendapatkan informasi tanpa harus bertemu dengan Oag berhasil.
"Hem, aku rasa ... dalam hal ini ada sedikit perbedaan antara yang kau ucapkan dan Oag sampaikan. Baiklah, akan aku pikirkan bersama dengan kaumku tentang hal ini," ucap Gibson tenang.
"Jika demikian, bunuh anak-anak itu. Tak ada gunanya kalian memihak mereka. Biarkan saja mereka merasakan kematian sementara. Toh, mereka akan bangkit lagi di planet-nya," ucap makhluk itu, tapi membuat anak-anak tersebut terkejut seketika.
"Ma-mana bisa begitu? Mana buktinya jika yang kauucpakan benar? Jangan sembarangan bicara!" pekik Timo kesal dengan sosok manusia-nya.
"Goarrr!" erang makhluk itu marah hingga raungan besarnya kembali membuat kaget semua anak.
Namun, hal itu dimanfaatkan olah anak-anak dalam wujud manusia.
"Kabur!" seru Bara, dan diikuti anak-anak lain dengan berlari.
"Mereka kabur! Tangkap dan bunuh mereka semua!" seru makhluk itu.
"Yeah! Sudah cukup kita mendukung dan melindungi anak-anak manusia itu! Bunuh mereka semua!" seru Rangga pura-pura bersikap kejam dan buas.
Para makhluk mitologi dari sekumpulan anak-anak itu langsung meraung dan berlari mengejar kawan-kawan mereka yang sudah berlari lebih dulu. Gibson ikut pergi dengan mengayunkan pedang Elf.
Makhluk mitologi yang tak diketahui jenisnya itu tertawa terbahak seperti bahagia karena usahanya berhasil untuk memprovokatori kaumnya.
Sayangnya, entah dia sadar atau tidak jika dirinya dibodohi oleh anak-anak manusia.
"Benar-benar anak-anak licik, tapi ... cerdik. Hem, sungguh generasi yang membanggakan meski harus kusesali karena mereka dari golongan para mafia pada zaman-nya," ucap sang jenderal antara memuji dan mengeluh.
Para alien sejenis Oag hanya beda jenis memilih diam tak berkomentar. Mereka fokus melihat perkembangan misi dari anak-anak tersebut yang belum berhasil membebaskan satu makhluk dari Penjara Hades.
Anak-anak berlari di sepanjang lorong menahan tawa karena berhasil mengelabuhi makhluk besar tersebut.
Hingga akhirnya, langkah Kenta terhenti dan diikuti anak-anak lainnya karena merasa lelah.
"Hahahaha. Entah kenapa, mendengar pernyataannya barusan, aku merasa lega," ucap Kenta senang meski napasnya tersengal.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Jika demikian, Pasha, Tina, Juby, dan lainnya tak meninggal sungguhan. Mereka sebenarnya masih hidup," sahut Mandarin lega.
"Jangan senang dulu. Masih ada hal mengganjal meski kabar ini menggembirakan," sahut Gibson yang berhasil menyusul bersama teman-teman mitologi-nya.
"Apa itu?" tanya Azumi penasaran.
"Jika benar yang tewas masih hidup dan mereka bisa dibangkitkan kembali, lalu ... kenapa Oag mencari peserta yang harus memenangkan hingga level 10? Pasti ada maksud dan tujuannya. Ini yang harus kita cari tahu," tegas Gibson.
"Lalu ... kita harus bagaimana?" tanya Ryan dalam wujud manusia.
"Kita tetap harus berjuang dan jangan sampai tewas sampai hal itu dibuktikan. Aku sangat menantikan bisa bertemu dengan Oag dan menanyakan semua hal yang mengganjal selama kita berada di planet ini," jawabnya mantap.
"Oke. Aku setuju. Kita jangan tergiur dengan yang diucapkan oleh makhluk tak dikenal itu. Kita harus berjuang dan jangan sampai mati," sahut Lazarus menekankan.
Semua anak mengangguk paham. Meskipun mereka berharap jika yang dikatakan oleh makhluk itu benar adanya. Bila mereka mati, bisa dihidupkan lagi di Bumi.
Gibson kembali memimpin kelompok tersebut untuk mencari penjara tempat Satyr ditahan, atau makhluk mitologi yang masuk dalam daftar. Sayangnya, Penjara Hades sangat luas dan banyak lorong bercabang.
Gibson meminta kawan-kawannya untuk menandai wilayah yang sudah dilewati menggunakan batu tulis seperti kapur agar mereka tak tersesat.
Hingga akhirnya, langkah anak-anak terhenti ketika mereka keluar dari sebuah pintu lorong dan menemukan wilayah lain.
"Ada penjara lagi?" tanya Boas terheran-heran.
"Aku rasa penjara yang kita masuki tadi belum semua dijelajahi, tapi sekarang ada penjara lagi. Kita harus bagaimana?" tanya Harun bingung.
Gibson melihat penjara lain yang tampak tak biasa karena mengapung. Jalan menuju ke sana juga melewati jembatan dari tulang yang panjang menjuntai. Tempat itu juga ditahan dengan rantai besar di beberapa bagian.
"Sebaiknya, kita kembali. Masih banyak lorong di tempat sebelumnya yang belum dijelajahi. Jika sudah semua, baru kita ke tempat ini lagi. Ayo!" ajaknya usai membuat keputusan.
Semua anak mengangguk setuju. Mereka mempercayakan Gibson untuk memimpin karena menganggap jika remaja itu mampu berpikir lebih kritis dan seperti tahu pilihan mana yang terbaik untuk dipilih.
Anak-anak itu kembali masuk ke bangunan sebelumnya yang berbentuk seperti menara. Mereka kini memasuki lorong lain yang belum dijelajahi untuk mencari para makhluk mitologi yang disekap demi menyelesaikan misi level 7.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
eps bonus dari tips denda lele gegara kirim stiker di gc wa family mafia. kwkwkw😆