
Di Penjara Hades. Planet Mitologi.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Czar tak bisa menutupi kesedihannya. Remaja itu menangis terisak hingga sesenggukan karena telah kehilangan teman perempuannya.
Semua anak masih shock atas kejadian tak disangka. Kali ini, kematian tragis ikut dialami oleh Laika bahkan terlihat begitu keji dan nyata karena kepalanya dipenggal.
"Ya Tuhan, dadaku sesak," ucap Ryan sampai memegangi dadanya seperti orang terkena asthma.
"Kau baik-baik saja, Ryan. Atur napasmu perlahan. Jangan bebani pikiran dan hatimu. Santai saja," ucap Timo menenangkan seraya memijat kepala remaja asal Swiss itu dengan dua tangannya.
Semua anak tampak terguncang. Mereka duduk dengan lesu menyender pada dinding penjara dan tatapan kosong. Seolah, ruh mereka melayang entah ke mana.
"Jika salah ... dia akan langsung mengeksekusi mati kita seperti Laika, begitu?" tanya Boas dengan wajah pucat.
"Kau melihatnya dengan jelas, Boas," sahut Lazarus yang kembali dalam wujud manusia dan berkeringat dingin.
"Hah, hah, mengerikan sekali. Aku takut sekali," ucap Bara seperti akan menangis hingga tubuhnya bergetar.
"Kakiku lemas. Aku tak bisa berjalan lagi. Aku menunggu di sini saja," ucap Azumi terlihat ketakutan.
Kenta berjongkok di samping sang adik yang memeluk kedua kakinya erat dan terlihat gemetaran.
"Aku minta maaf jika ini terdengar seperti paksaan, Azumi. Hanya saja, jika kita tak segera menyelesaikan misi level 7, kita akan terperangkap di tempat ini untuk selamanya. Jika kita tak mati dipenggal oleh sosok hitam itu, kita akan mati kelaparan. Dan usaha teman-teman kita yang telah tewas demi bisa kembali ke Bumi akan sia-sia saja," tegas Kenta menatap adiknya tajam.
"Aku takut ... aku takut sekali, Kenta ... aku tak bisa melanjutkannya lagi," jawabnya dengan air mata menetes di mata indahnya.
Kenta memeluk Azumi erat. Terlihat jelas, jika Kenta berusaha menenangkan sang adik yang diliputi ketakutan hingga ia menangis sesenggukan.
"Sepertinya ... akan sedikit sulit jika mengingat ucapan sosok hitam tadi. Dia bilang, makhluk yang dibawa Laika tadi kaum Faun. Wujudnya memang mirip dengan Satyr. Lalu ... bagaimana kita membedakannya?" tanya Rex terlihat bingung meski ia sudah dinyatakan berhasil pada misi sebelumnya.
"Aku dari tadi juga mencoba berpikir keras tentang hal itu. Aku memang pernah menonton beberapa film tentang makhluk mitologi. Hanya saja ... kukira Satyr dan Faun itu sejenis, tapi ternyata ... berbeda," sahut Vadim seraya memijat-mijat kepalanya.
"Oke. Katakan yang kau tahu tentang jenis makhluk itu, Vadim," pinta Gibson menatap tajam remaja gemuk asal Rusia tersebut.
__ADS_1
"Jadi begini. Entah memang jenis versi filmnya yang berbeda atau memang dua kaum itu memang dibedakan," ungkapnya mulai serius. Anak-anak menyimak dengan saksama. "Di film pertama yang kutonton, aku tak begitu ingat gadis itu menyebut sosok seperti yang dibawa Laika tadi Satyr atau Faun. Namun, sosok itu terlihat ramah, suka bermain seruling, suka bernyanyi, dan menari. Intinya, baik hati, tapi dia lemah," sambungnya.
"Oke. Lalu ... versi film lainnya?" tanya Mandarin menatap Vadim saksama.
"Nah, jenis satunya ini sedikit barbar. Mereka memang memiliki wujud serupa, hanya berbeda pada tingkah laku. Pada film kedua, Satyr ini memiliki kuku tajam pada jarinya. Ia menyukai pesta, meminum anggur dan tukang mabuk. Mereka licik, tapi cerdik. Lalu ... apa ya sebutannya. Mm, ah ... suka menggoda, suka main perempuan. Ya ... begitulah kurang lebih yang kupahami dari karakter manusia kambing itu di film yang kutonton. Dan ... aku lupa judul filmnya," imbuh Vadim malas.
"Tidak apa, Vadim. Penjelasanmu sudah sangat rinci bagiku," tegas Gibson.
"Ya. Mungkin benar yang dikatakan sosok itu. Jenis yang dibawa oleh Laika adalah Faun. Jika dibandingkan dengan film versi kedua yang dikatakan oleh Vadim, jelas-jelas hal itu bertolak belakang dengan sosok tadi," sahut Harun, dan semua anak mengangguk setuju.
Czar yang masih diliputi kesedihan diam saja, meski semua anak yakin jika remaja tampan itu ikut mendengarkan.
"Kita harus jeli dan berhati-hati. Jangan sampai kita melakukan kesalahan dan berakhir seperti Laika. Sungguh, aku ikut merasa bersalah karena terlalu senang dan malah menyemangatinya untuk segera membawa makhluk itu menemui sosok hitam. Semoga ... Laika tak membenciku," ucap Nicolas sedih.
"Laika tak akan menyalahkan dan membencimu. Dia gadis yang baik," ucap Czar tiba-tiba yang membuat kepala semua anak menoleh padanya. Nicolas tersenyum dengan anggukan.
"Baiklah. Setidaknya ... kita kini memiliki petunjuk tentang perbedaan Satyr dan Faun. Jadi ... siapa yang siap untuk melanjutkan misi dan segera menyelesaikannya?" tanya Gibson menatap kawan-kawannya bergantian.
"Kali ini, biar aku yang maju," jawab Ryan mantap.
"Kau yakin, Ryan? Bagaimana jika nasibmu seperti Laika?" tanya Azumi tampak pesimis.
"Aku mendukungmu. Ayo! Aku temani," sahut Timo, dan diangguki para remaja lelaki lainnya yang ikut berdiri mulai menunjukkan semangat juangnya lagi.
Kenta mengulurkan tangan ke arah sang adik dengan senyuman. "Ayo. Aku sudah berjanji akan melindungimu."
Azumi meraih tangan sang kakak dengan ragu, tapi pada akhirnya menyambut uluran itu. Gibson terlihat senang karena teman-temannya sudah mulai bisa mengolah emosi dalam diri sehingga tak terlarut dalam kesedihan.
Mungkin, karena sudah mengalami banyak hal buruk dan kehilangan dengan cara mengejutkan.
"Ayo, Czar. Demi Laika," ajak Gibson seraya memberikan tangan kanannya.
Czar menatap Gibson lekat. Namun, pemuda itu enggan meraih tangan kawannya. Semua anak tampak bingung saat Czar berjalan sendirian seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada memasang wajah kesal.
Semua anak hanya bisa saling memandang seperti tahu jika kawan mereka itu masih marah atas kejadian yang menimpa Laika.
__ADS_1
"Biarkan saja. Namun, kita harus terus mengawasinya. Ayo, kita ikuti langkah Czar ke mana pun dia pergi," bisik Mandarin, dan semua anak mengangguk setuju.
Kenta dan lainnya terus memberikan tanda di mana kali ini, mereka memilih lorong kedua dari depan.
Suasana sedikit berbeda di mana penjara itu seperti memiliki wilayah khusus dengan tumbuhan di sekitarnya. Bahkan, tak ada sel di sana.
"Apakah ... kita masih berada di penjara? Kenapa lebih mirip seperti tanah lapang dengan beberapa tumbuhan di sekitar?" tanya Boas bingung seraya berputar melihat sekitar.
"Ya. Tempat ini aneh. Apakah ... para tahanan dilepas? Jika ya, kita dalam bahaya! Semua bersiap!" seru Gibson langsung mengubah dirinya menjadi Hanoman kembali.
Anak-anak segera berubah kecuali Timo, Kenta dan Rex. Semua anak membentuk formasi melingkar dengan tiga anak manusia tanpa wujud mitologi berada di tengah-tengah.
Tiba-tiba, SRAKK!!
"Hahahaha!" seru seekor makhluk dengan wujud seperti Faun sebelumnya, tapi dia tampak berbeda.
Praktis, semua anak dibuat terkejut dan langsung menjauh dari sosok yang diyakini adalah Satyr.
"Wu-wujud itu ...," ucap Bara tergagap dengan pedang Elf dalam genggaman tangan.
"Nah! Seperti itu sosok yang kulihat di film satunya. Yang aku bilang suka minum anggur, dan sebagainya," ucap Vadim dengan tubuh Pegasus melindungi tiga kawannya yang tak berwujud mitologi.
Anak-anak mengamati makhluk itu saksama yang terlihat agresif dengan mata merah menyala seraya membawa seruling dan berkuku tajam.
"Dia Satyr. Aku yakin 1000 persen," ucap Ryan mantap dengan sosok Tuan Pohon menjaga barisan belakang.
"Baiklah jika kau telah yakin, Ryan. Ayo tangkap dia," tegas Gibson.
Namun tiba-tiba, "Czar!" seru Rangga lantang karena Czar tiba-tiba terbang dengan wujud Griffin seperti siap melawan Satyr tersebut.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE
Masih eps dari denda lele😆 kwkwkw