MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
SIREN MUNCUL*


__ADS_3

Kesedihan Satyr bisa dirasakan oleh Boas dan Gibson. Baru pertama kali mereka melihat Satyr menangis. Gibson ikut duduk di batu besar diikuti oleh Boas.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Memang kenapa kalau kau menjadi Faun? Kau tak berubah terlalu banyak, Satyr," tanya Gibson mencoba menenangkan.


"Aku akan mati di sini jika menjadi Faun. Selama kalian berada di penjara Hades, apakah pernah bertemu Faun sebelumnya?" tanya Satyr terlihat berusaha menahan tangisannya.


"Ya. Saat itu kami salah mengira. Hal itu membuat Laika tewas," jawab Boas sedih.


"Kemampuan seruling kaum Faun dan Satyr berbeda. Faun menenangkan dan membuat hati gembira, sedang musikku membuat orang tersiksa bahkan bisa membunuhnya. Aku selama ini bisa bertahan hidup karena kelicikan, kemampuan seruling, pengetahuan, dan keberanianku. Sedang Faun, bertolak belakang dengan semua hal yang dimiliki Satyr meski wujud kami hampir serupa," jawabnya menjelaskan. "Lebih baik aku bunuh diri ketimbang harus dalam wujud ini sampai akhir hidupku," sambungnya pesimis.


"Hei, hei, jangan gegabah. Kau tak seburuk itu. Kau belum mencari tahu hal-hal menakjubkan dengan wujud barumu. Saat kau memahami perubahanmu, kau pasti akan terbiasa. Kau 'kan hebat," ucap Boas seraya memegang tangan Satyr.


Makhluk setengah kambing itu seperti akan pergi ke suatu tempat sebab ia bergegas berdiri.


"Aku hebat saat menjadi Satyr, bukan Faun. Sejak dilahirkan, aku adalah Satyr, bukan Faun," tegas Satyr menatap Boas lekat.


Boas terlihat frustasi akan hal ini. Dari ucapan Satyr, makhluk itu terlihat seperti orang yang putus harapan, pesimis, tak percaya diri, dan mudah terhasut.


"Ada kami yang akan melindungimu. Sejak kita bertemu, kau sudah seperti pahlawan bagi kami, Satyr. Kau, percaya pada kami bukan?" tanya Gibson menatap Satyr lekat yang sudah tak menangis lagi meski wajahnya basah.


Satyr mengangguk pelan. Boas terlihat lega karena Satyr mulai tenang tak nekat untuk bunuh diri dan semacamnya.


"Aku ingin menanyakan satu hal. Apakah kau tahu, kira-kira Siren seperti apa yang harus kami tangkap mengingat jumlah mereka ada banyak?" tanya Gibson menatap Satyr lekat.


"Ya, mereka memang banyak. Mereka bernyanyi dan bersuara merdu. Hanya saja, jenis suara mereka berbeda-beda. Anggap saja seperti kalian para anak manusia. Kalian dari beragam jenis 'kan, suara kalian berbeda. Meski demikian, hal itu bisa diketahui dari perilaku paling menonjol diantara yang lain," jawab Satyr tenang dan kembali duduk di atas batu.


"Menonjol? Mm, buah dadanya?" tanya Boas seraya memegang dadanya yang rata.


Kening Satyr dan Gibson berkerut.


"Bukan. Contohnya di kelompok kalian. Gibson paling menonjol karena dia pintar, tangguh, dan bijak. Sedang lainnya, hampir mirip. Oh, berbeda juga dengan Vadim. Dia gemuk dan suka makan, mudah mengenalinya. Namun Siren, makhluk bersayap yang harus kalian tangkap untuk dibawa ke sosok hitam, aku ... tidak tahu," jawab Satyr yang membuat Gibson dan Boas terkejut.


"Kau tak tahu?" tanya Boas mengulang. Satyr menggeleng.


"Bukankah aku pernah cerita jika tak berani dekat-dekat dengan mereka? Oleh karena itu, saat melihat kumpulan Siren berada di wilayahnya, aku langsung kabur menyelamatkan diri. Aku tak mau mati konyol karena dimakan makhluk cantik, tapi jenis pemangsa itu," tegas Satyr yang kini berbicara dengan lembut dan pelan, tak sombong seperti dulu.


"Ini akan sulit," keluh Gibson seraya menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Aku minta maaf tak bisa membantu kali ini," jawab Satyr terlihat sedih seraya memangku tas topi pemberian Azumi.


"Tak apa. Kami pasti akan menemukan solusi seperti yang sudah-sudah. Hem, aku lapar, apakah ... masih ada makanan?" tanya Gibson menatap Boas seraya mengelus perutnya.


"Ya. Kami menyisakan ikan bakar untuk kalian berdua. Tinggal dihangatkan lagi. Ayo!" ajak Boas seraya berdiri.


Satyr dan Gibson ikut berdiri lalu mengikuti Boas di belakangnya kembali ke api unggun. Mandarin lega karena kawan-kawannya baik-baik saja.


"Satyr," panggil Mandarin dalam wujud Ogre langsung berdiri menyambut kedatangan.

__ADS_1


"Aku kini Faun," jawabnya berwajah sedih.


"Ah, maaf. Namun, kami sudah terbiasa dengan panggilan itu. Tak apa 'kan? Bagiku kau tak berubah banyak. Hanya saja, ada hal yang kusuka dari perubahan sikapmu," jawab Mandarin menatap Satyr saksama.


"Apa itu?"


"Kau sudah tak banyak tingkah dan bersikap menyebalkan," jawabnya.


Gibson dan Boas terkekeh karena hal itu ada benarnya. Satyr diam menatap tiga anak manusia yang terlihat baik-baik saja dengan perubahannya.


"Kalian beruntung karena tak ada lagi yang membuat jengkel," sahutnya yang mulai bisa menerima perubahan.


Praktis, canda tawa terdengar malam itu di  sekitar api unggun. Anak-anak lainnya terlihat pulas dan tak terusik.


Keesokan harinya, semua anak yang sudah bangun dan sarapan terlihat siap untuk melanjutkan misi.


"Ingat strategi yang baru saja kusampaikan?" tanya Gibson berdiri di hadapan kawan-kawannya.


"Ya!" jawab anak-anak serempak.


"Jangan biarkan mereka bernyanyi. Jika hal itu sampai terjadi, kita gunakan strategi cadangan. Kalian siap?!"


"Ya!" jawab anak-anak semangat termasuk Satyr.


"Ayo berangkat!" ajak Gibson dengan pedang Elf dalam genggaman.


Anak-anak yang memiliki kemampuan terbang segera berubah wujud. Sedang Timo, sengaja berenang di sungai dan diawasi oleh Tuan Pohon serta Nicolas dalam wujud Elf di atas kepalanya.


Sedang Bara dan Boas, terbang sendiri mengapit Rex di kanan kirinya. Czar dalam wujud Griffin ditunggangi oleh Gibson, dan Vadim dalam wujud Pegasus ditunggangi Satyr.


Mereka mengikuti aliran sungai hingga menemukan air terjun besar yang tampak begitu indah, tapi sebenarnya adalah jurang kematian.


Menurut Satyr, semua makhluk yang jatuh ke air terjun tersebut sama saja mengantarkan dirinya ke Tartarus karena tempat itu terhubung.


Hanya saja, jika berhasil menemukan celah, tempat itu bisa membawa mereka keluar dari Penjara Hades, meskipun harus berhadapan dengan sosok hitam atau Chimera.



"Kita harus peringatkan Timo!" seru Gibson.


Saat Bara akan terbang mendatangi keberadaan Timo serta dua teman lainnya, tiba-tiba ....


"Gibson!" panggil seseorang lantang yang mengejutkan semua anak.


"Perasaanku saja atau ada yang memanggilku?" tanya Gibson bingung melihat sekitar, tapi tak tampak satu pun manusia atau makhluk Mitologi selain kumpulannya.


"Gibson!"


"Oh, aku juga mendengarnya! I-itu ...," sahut Bara ikut menoleh.

__ADS_1


"TIMO!" teriak Rex lantang saat melihat Timo berenang dengan cepat dan sesekali terlihat di permukaan, tapi sosok Merman-nya dikejar oleh para Siren yang terbang di atas seperti ingin menangkap dengan cakar burung mereka.


"Argh! Mereka tahu kedatangan kita!" seru Nicolas seraya terus melesatkan anak panah ke para Siren yang ikut menyerang sosok Tuan Pohon di sepanjang tepi sungai.


Ryan berlari kencang seraya menampik para Siren yang berusaha menyakiti sosoknya dan Nicolas.


"Semuanya, dengar! Kita bagi tiga tim!" seru Gibson lantang mengomandoi kawan-kawannya yang masih terbang di udara. Semua anak mengangguk dengan serius. "Bara, Boas! Kalian fokus selamatkan Timo! Jangan sampai ia terseret dan jatuh ke air terjun!"


"Siap! Ayo, Bara!" ajak Boas.


Bara dengan sigap menukik tajam dan terbang bersama sosok Peri Boas.


"Kenta, berubah! Usir para Siren yang mengusik Timo dengan semburan apimu. Bakar mereka!"


"Oke!" jawab Kenta yang dengan sigap melompat dari tubuh Rex dan berubah menjadi Phoenix.


Satyr hanya bisa diam di atas punggung Pegasus Vadim terlihat tegang saat menyaksikan anak-anak itu saling bahu membahu.


"Rex! Kau tahu yang harus dilakukan. Kerjakan!" titah Gibson lantang.


"Oke! Semuanya, pegangan!" seru Rex lantang dan dengan cepat menukik tajam.


Harun, Rangga dan Mandarin terlihat siap untuk berubah. Sedang Lazarus, tetap bertahan di punggung naga Rex dengan pedang Elf dalam genggaman.


"Vadim, Satyr, dan Czar! Pertajam penglihatan kalian. Kita bidik satu Siren untuk diserahkan pada sosok hitam. Jangan lengah dan terkecoh!" tegas Gibson yang mengamati pertarungan dari atas air terjun.


"Baik!" jawab mereka mantap.


Gibson dan Czar fokus melihat para Siren yang kini harus berhadapan dengan Boas, Bara, dan Kenta.


Sedang Satyr dan Vadim, fokus melihat ke arah kelompok naga Rex yang menyelamatkan Nicolas serta Tuan Pohon.


"Gibson, lihat! Ada satu Siren yang hanya bertengger di atas batu menyaksikan semua!" seru Satyr menunjuk ke arah seekor Siren yang tersenyum sinis.


"Itu pasti dia. Tangkap!" titah Gibson mantap.


"Ayo!" seru Vadim yang dengan sigap mengepakkan sayap Pegasus-nya.


Czar dengan sigap melesat dengan sorot mata terfokus pada makhluk setengah burung setengah manusia berjenis kelamiin perempuan itu.


Saat kelompok Gibson siap menyerang Siren tersebut, seringai wanita itu terpancar seketika. Praktis, mata Gibson melebar saat menyadari jika ini sebuah jebakan.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


uhuy makasih tipsnya diriku😘 abis dah brankas belom sempet rekaman lagi😩 ada yg mau nyumbang koin kah? kwkwkw ngarep😆


__ADS_2