MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
NEGOSIASI*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Tiba-tiba saja, sebuah portal muncul dan membuat mata semua anak langsung terfokus pada benda bercahaya biru tersebut. Perlahan, tulisan dalam bahasa Mitologi terlihat. Mulut semua anak bergerak membaca instruksi misi. Namun, seperti yang dikhawatirkan oleh para manusia dewasa, level 10 sangat mustahil dimenangkan.



"Makhluk itu besar sekali!" seru Vadim memekik saat sebuah tampilan dari wujud monster yang harus mereka kalahkan sangat besar bahkan terlihat kuat.


Aksi brutalnya ketika menghancurkan sekitar bahkan cahaya matahari sampai tertutup sosoknya, membuat tubuh semua anak mematung tanpa dikehendaki. Mata mereka melotot saat melihat monster tersebut mengalahkan musuh-musuhnya dengan kemampuannya mengendalikan air di lautan.


"Oag ingin membunuh kita dan sengaja agar gagal dalam misi! Ini tidak adil!" seru Rangga protes.


"Benar! Walaupun makhluk itu hanya satu, tapi dia seperti kumpulan dari ribuan makhluk yang ada. Tak mungkin bisa dikalahkan! Ini misi yang mustahil!" sahut Harun sependapat.


Praktis, Oag mendapatkan protes keras dari para peserta. Oag diam saja saat dirinya dikatakan curang, tak berperikemanusiaan (karena memang dia bukan manusia), kejam, dan hal-hal buruk lainnya. Petugas kembali melakukan tugasnya di mana anak-anak itu belum mendapatkan hadiah dari misi level 9.


"Awas! Menyingkir!" seru Kenta saat melihat tampilan dari portal tentang makhluk itu padam dan kini berubah menjadi seperti luapan air, tapi ada benda melayang keluar dari portal tersebut.


"Woah! Apa itu?" tanya Mandarin dengan mata melebar saat melihat ketigabelas senjata muncul dan kini melayang di hadapan mereka, tapi seperti direndam dalam lautan.


Mata semua anak saling melirik karena hal itu terlihat cukup mengagumkan bagi mereka. Terlebih, senjata itu memiliki warna berbeda-beda, tapi sejenis. Yakni, Trisula seperti kisah Dewa Poseidon penguasa lautan. Rex memberanikan diri memegang sebuah senjata yang melayang di depannya dengan warna bercorak hijau. Seketika ....



"Wah!" seru anak-anak lain ketika Rex berubah menjadi sosok menakjubkan. Mulut semua orang menganga lebar bahkan Rex sendiri sampai ikut kagum akan perubahannya.


"Ka-kau berubah, Rex!" seru Nicolas menunjuk sampai matanya melotot.


"Oh! Apa yang terjadi padaku?" tanyanya heran saat menyadari memiliki sayap naga di punggung warna hijau seperti ketika ia berwujud naga, memakai pakaian layaknya baju perang bersisik naga, pelindung kepala kokoh dari baja, sepatu tahan api, dan sebuah senjata trisula layaknya milik Dewa Poseidon.


"Apa yang kaurasakan?" tanya Lazarus penasaran.


"Hempf, aku ...," jawabnya terlihat bingung, dan tiba-tiba, "uhuk! uhuk!"


"Mulutnya mengeluarkan asap hijau beracun seperti saat menjadi naga! Jangan-jangan, kau menjadi semacam kesatria dengan wujud manusia campur naga! Kemampuan nagamu sudah menjadi satu dalam wujud barumu!" seru Czar menduga.


"Wah! Jika benar, itu akan sangat hebat! Aku penasaran dengan kemampuanku!" seru Timo yang ikut memegang senjata Trisula seperti milik Rex, tapi berwarna biru bercahaya seperti batu sapphire. Namun, hal aneh malah terjadi.


__ADS_1


"Ehh?" kejut semua anak hingga mata mereka melebar. Timo berubah, tapi terlihat janggal dengan wujud barunya.


"Hahahaha! Hahahaha!" tawa Nicolas terbahak saat melihat Timo berubah menjadi seekor Mermaid bukan Merman lagi.


"Apa-apaan ini!" pekik Timo kesal ketika melihat dirinya menjadi duyung perempuan, memiliki buah dada, tapi hebatnya ia bisa melayang di udara tanpa perlu air untuk mengubahnya.


"Wow! Kau seksi, Timo!" seru Kenta dengan tawa yang diselimuti air mata.


Timo kesal dan melemparkan Trisulanya begitu saja ke atas tanah. Namun, tampaknya baik senjata itu terlepas atau tetap digenggam, wujud anak-anak itu tak berubah. Tetap seperti itu. Semua anak tertawa terbahak karena merasa jika Oag sengaja melakukannya pada Timo. Padahal, kejadian yang sebenarnya adalah ....


Markas Oag.


"Kenapa hal ini bisa terjadi lagi?" tanya Oag terlihat geram meski emosinya masih tertahan.


"Tak ada kesalahan dalam sistem, Oag. Timo mendapatkan perubahan sesuai dengan peringkat level dan juga serum yang sudah dipilih sebelumnya," jawab petugas menjelaskan.


Di ruangan tempat ketujuh anak yang dibangkitkan.


"Ya ampun, Timo jadi bohay!" seru Jubaedah yang ikut tertawa karena baginya lucu. Semua anak sependapat, tapi Hihi terlihat serius akan sesuatu, karena hanya dia sendiri yang tak menunjukkan kegembiraannya.


"Hihi, kau kenapa?" tanya Jimmy penasaran seraya menghapus air mata yang menetes karena tertawa geli.


Oag terkejut. Praktis, tawa semua orang baik para manusia dewasa atau anak-anak lenyap. Hihi seperti tahu jika dirinya diawasi dari balik dinding. Para alien bercorak merah dan biru melirik pemimpin mereka yang balas menatap Hihi tajam dari tempatnya berdiri.


Tiba-tiba saja, Oag melangkah. Para cendikiawan manusia terkejut saat alien bertentakel itu memasuki ruangan. Seketika, Oag muncul dari balik dinding tepat di hadapan gadis asal Perancis itu. Semua anak terkejut dan melangkah mundur, tapi Hihi tetap berdiri tegak seperti sudah mengetahui pergerakan itu.


"Negosiasi? Tentang apa? Kau berani mengajak kesepakatan denganku? Paham risikonya?" tanya Oag menatap Hihi tajam.


"Jangan lupa, Om Oag. Kau bisa kembali pulang ke Planet Mitologi karena bantuan kami. Jika saja saat itu kami tega, kau akan ditinggalkan di Planet leluhur dan membiarkanmu tewas. Bagaimanapun, kau harus menyadari pentingnya keberadaan kami," tegas Hihi yang membuat para manusia dewasa kagum akan keberaniannya.


"Hem, gadis itu boleh juga," ucap sang Jenderal lalu duduk di sebuah kursi batu.


Para cendikiawan lain ikut menyimak dengan serius. Sedang Jubaedah dan kawan-kawannya memilih diam untuk mengetahui maksud Hihi atas rencana yang tak dibicarakan terlebih dahulu.


"Baiklah. Katakan," ucap Oag tenang.


"Mereka akan mati jika hanya 13 orang saja. Lawan kali ini bisa menggugurkan semua peserta. Katakan padaku, jika kalian tak mendapatkan pemenang dari permainan Maniac, apa yang akan terjadi pada kami dan Bumi?" tanya Hihi serius.


Oag menyipitkan mata. "Menurut perjanjian dengan leluhur, para anak manusia yang masuk dalam portal akan menetap di Planet Mitologi sampai akhir masa hidupnya, tanpa kemampuan berubah wujud. Bila kalian tewas, tak ada pembangkitan karena tubuh asli kalian berikut nyawa yang terkandung adalah yang sesungguhnya, bukan kloningan seperti yang terjadi saat melakukan permainan," jawabnya yang membuat mata Hihi dan keenam anak lainnya melotot.

__ADS_1


"Lalu ... bagaimana nasib orang-orang dewasa?" tanya Hihi terlihat panik.


"Mereka akan kami hidupkan dan membiarkan melanjutkan hidup tanpa anak-anak di sisi. Jika mereka melahirkan dan memiliki anak lagi, akan kami ambil. Terus seperti itu hingga ramalan tiba dan melakukan tugasnya. Misi kami adalah mengamankan generasi penerus muda, bukan para manusia dewasa yang tamak," tegasnya.


"Kau memisahkan kami dengan orang tua? Tega sekali!" seru Pasha marah.


"Bagaimanapun, kalian tetap akan mati. Manusia dewasa atau anak-anak, tak berumur panjang layaknya kami dan para makhluk Mitologi. Setidaknya, anak-anak tak perlu terkena dampak dari bencana kiamat yang ditimbulkan oleh orang-orang serakah di masa mendatang. Jika tetap di Bumi, kalian akan mati dengan mengenaskan. Namun di sini, peluang hidup lebih menjanjikan," ucap Oag, tapi membuat wajah semua anak tegang.


"Bukan kau yang memutuskan hidup kami! Jika kiamat memang datang, biarkan saja! Setidaknya, aku mati bersama keluargaku, bukan dengan makhluk-makhluk Mitologi! Aku ingin pulang dan berkumpul bersama keluargaku! Kembalikan kami!" seru Tina meluapkan amarahnya.


"Ya, itu benar! Kami yang menentukan hidup! Kau bahkan bukan Tuhan!" seru Bobby.


Lagi, Oag menerima hujatan dan makian dari anak-anak. Hihi menatap Oag dengan sorot mata tajam. Kali ini, Oag seperti tak bisa menahan emosinya.


Seketika, "Argh!" erang Jubaedah dan lainnya saat tiba-tiba saja tentakel pada dagu Oag memanjang seperti sulur dan mencekik leher mereka.


Para manusia dewasa terkejut akan aksi tak terduga dari pemimpin Mitologi. Saat sang Jenderal akan nekat masuk ke dalam, dirinya ikut ditahan oleh para alien sejenis Oag. Ilmuwan lainnya tak bisa menolong karena mereka juga diancam. Namun, Hihi yang tak melakukan protes dibiarkan oleh Oag.


"Negosiasi! Bukankah itu kesepakatan kita diawal? Lepaskan teman-temanku dan kita berunding!" tegas Hihi seraya menunjuk Oag.


Gadis itu terlihat gugup setelah melihat kawan-kawannya sampai terangkat tinggi hampir menyentuh atap karena tentakel Oag mencekik leher mereka. Oag menatap Hihi tajam dan melepaskan cengkeramannya.


BRUKK! BRUKK! BRUKK!


"Argh!" erang Scott dan lainnya saat mereka jatuh dari atas dengan sangat keras.


Anak-anak itu merintih karena tubuh yang sakit. Hihi menoleh sekilas lalu kembali fokus pada alien di depannya.


"Jangan buang waktu, dan hati-hati dengan ucapanmu, Hihi. Atau kau akan bernasib sama seperti mereka," ancam Oag dengan sulur mulai merayap di leher gadis itu.


Hihi tampak tegang, tapi berusaha untuk tenang. Ia mengangguk pelan meski sulur tentakel Oag melingkar di lehernya, siap menjerat.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Uhuy dapat tips😍 Besok ada sedekah lagi gak ya. Kwkwkw ngarep🤭


__ADS_2